
Masih dalam posisi seperti itu, tiba-tiba tanpa ada ba bi bu pintu kamar terbuka dengan sangat Cepat menimbulkan bunyi yang cukup keras
" Cepat! Tuan Detrick se..__" Michael terbengong di ambang pintu melihat pemandangan di depannya. 'eh! Apa yang terjadi. Aku dimana? Aku siapa?'.
" Ada apa Michael? Cepat lah masuk, aku harus memeriksa tuan mu..__" Seorang pria dengan balutan jas kebanggaan berwarna putih serta menenteng sebuah tas datang dari belakang Michael, ia juga ikut membatu melihat pemandangan di depannya
" Apa aku salah masuk kamar?." Gumam Pria tersebut
" Ah! Eh.. eh.. pa.. pak Michael. A.. anda sudah datang." Terkejut saat melihat Michael datang, ia tidak bisa mendorong tubuh Detrick yang sekarang memeluk erat tubuhnya 'hiks akhirnya.. penyelamat ku..'
" Tu.. tuan, pak Michael sudah datang. I.. itu.." Ucapnya terbata-bata. Ia terlalu gugup dan malu. Ini pertama kalinya Fiona di peluk oleh seorang pria dengan posisi yang seintim ini, apalagi sekarang mereka ada di atas ranjang dan di saksikan oleh orang lain
" Hah!? Apa?." Menatap tajam Fiona
" A.. anu.. i.. itu.. pak Michael sudah datang." Ujarnya mencoba untuk tidak membalas tatapan tajam Detrick
Detrick berdecak " Keluarlah, tidak ada yang sakit disini." Sahut Detrick santai lalu menenggelamkan wajah nya kembali ke dada Fiona
" Ehem..." Michael mencoba untuk kembali bersikap profesional saat ia tersadar dari keterkejutan nya " Bagaimana jika anda melepaskan pelukan anda terlebih dahulu dan di periksa tuan." Ujar Michael
'kening nona Fiona juga nampak berdarah'
Fiona mengangguk cepat " Benar yang di katakan Pak Michael. Sebaiknya anda di periksa terlebih dahulu." Ia benar-benar bersemangat 'aku yakin anda pasti akan menyelamatkan saya.. hiks... Pak Michael..' Ia bahkan tersenyum senang mendengar penuturan Michael
" Dan anda bisa memeluk nona Fiona setelah di periksa." Lanjut Michael
Fiona kembali mengangguk cepat " Be... Eh! Ehhhhhh!!." Menatap tak percaya Ke arah Michael.
'Pe.. pengkhianat...' Menatap tajam Michael
" E.. ehem...." Pura-pura tidak melihat tatapan tajam Dari gadis yang ia korbankan
" Ba.. bagaimana tuan?." Tanya kembali Michael, sebisa mungkin ia kembali bersikap profesional
Detrick berdecak " Baiklah!." Ketusnya
'sebenarnya apa yang baru saja terjadi' Dokter itu nampak berpikir keras. " Ehem.. baiklah tuan muda, saya akan memeriksa anda." Mendekat ke arah ranjang
" Ehm tuan.. apa anda bisa melepaskan saya." Tanya Fiona. Karena Detrick yang tadi sudah menyetujui untuk di periksa tak melepas Fionda dari pangkuan nya
" Tidak! Cepat periksa aku. "
" Ba.. baik tuan muda." Ujar Dokternya yang ber name tag Allen tersebut
Dengan canggung Allen memeriksa tangan Detrick " Apa saya di mata anda normal tuan?." Tanya Allen
__ADS_1
" Tentu saja. Aku sudah bilang 'kan, aku baik-baik saja kali ini." Ucap Detrick ketus dan menenggelamkan kembali wajahnya ke dada Fiona
Keadaan kembali canggung, Allen melepas tangam Detrick. Sedangkan Fiona? Jangan di tanya lagi, kalau ada lubang semut ia ingin di sembunyikan disana saja kali ini
" Hmm tapi, bagaimana bisa anda tenang kembali tanpa obat penenang?." Tanya Michael. Biasanya Detrick akan mengamuk dan ketakutan sampai di beri obat penenang, atau sampai Detrick kelelahan dan tertidur sendiri
" Entahlah! Keluar lah!." Detrick masih ketus. Ia sangat nyaman menenggelamkan wajahnya di dada gadis muda di pelukannya ini.
Sebenarnya Detrick sudah tahu apa yang membuatnya tenang tanpa obat penenang, namun ia terlalu gengsi untuk mengakuinya
" Kalau begitu saya permisi tuan." Ujar Michael sedikit menunduk
" Saya juga permisi tuan muda." Timpal Allen
'eh! Jangan keluar dulu. Tolong aku...' Memberi tatapan memelas ke kedua pria yang sedang berdiri disana. Ia bahkan menggelengkan 'kan kepalanya keras
Michael dan Allen saling pandang, jujur saja mereka iba dan juga mereka ingin meminta penjelasan tentang apa yang sedang terjadi kepada Fiona. Apalagi melihat kening Fiona yang terluka semakin membuat mereka tak tega
" Ck! Keluar!." Sarkas Detrick
Glek...
'dasar tuan muda! Ambil kesempatan dalam kesempitan! Enak 'kan makan dada gadis muda' Monolog Allen dalam hati. Sebenarnya hal ini yang juga selalu mengganggu pikirannya dari tadi
" Ba.. baik tuan." Mereka berdua pun pergi dari sana meninggalkan Fiona yang menangis dalam hati
Setelah kedua orang itu menutup pintu, kini tinggallah Fiona dan Detrick.
" Tu.. tuan... Sekarang anda sudah baik-baik saja, bagaimana jika anda melepaskan saya?." Tawar Fiona, ia kembali menggoyangkan pinggulnya merasa pegal dalam posisi seperti ini
" Ck aku bilang jangan banyak bergerak!." Ucap Detrick mengeratkan pelukannya
'Damnn! Lagi-lagi!' Ia sangat ingin mempertahankan posisi ini, tapi ia takut tidak dapat menahan hasratnya yang naik lagi.
Terpaksa Detrick melepas pelukannya dan turun dari ranjang.
" Tuan? Apa ada yang bisa saya bantu?." Tanya Fiona, heran melihat Detrick
" Tidak!." Singkat Detrick, tanpa melihat Fiona ia menjawab lalu meninggalkan Fionda dan masuk kedalam kamar mandi
Fiona mematung " Eh! Sebenarnya apa yang terjadi?." Bingung nya. Hingga suara guyuran air dari dalam kamar mandi menyadarkan Fiona dari kebingungan nya
" Apa tuan Detrick sedang mandi. Hmm." Gumamnya melihat sekeliling.
" Ah.. aku harus merapikan kamar yang berantakan ini." Memegang kepalanya dan turun dari atas ranjang dan mulai memunguti barang-barang yang berceceran di lantai
__ADS_1
Sedangkan Detrick terus mengguyur tubuhnya dengan menggunakan air dingin. " Cih memalukan!." Monolog nya mematikan shower. Ini pertama kalinya ia bernafsu melihat seorang wanita.
Ia mulai mengambil handuk yang tergantung di dinding kamar mandi. Adik kecilnya sudah tertidur kembali. " Ah.. wajahnya yang manis dan dadanya yang tidak terlalu besar.. Shitt!." Adik nya kembali bangun hanya dengan membayangkan wajah Fiona
" Apa aku panggil wanita malam." Gumam nya, tapi tiba-tiba terlintas bayangan wajah Fiona membuat niat Detrick terururung. Akhirnya ia lebih memilih berendam air dingin.
" Ck aku bisa mati kedinginan jika seperti ini." Gerutu nya.
Yah Detrick biasa memakai kupu-kupu malam untuk menyalurkan keperluan biologis nya. Tapi, ia sama sekali tidak pernah mencium bahkan memeluk pasangannya. Ia benar-benar melakukan hal tersebut hanya demi kesehatan semata.
Biasanya ia langsung menyodok pasangannya dari belakang tanpa foreplay terlebih dahulu. Walau begitu, para kupu-kupu malam pasti akan terpuaskan dengan milik Detrick yang besar, panjang nan gagah.
Apalagi Detrick memberikan bayaran yang sangat memukau.
Setelah berhasil menidurkan kembali adik kecilnya, ia keluar dari kamar mandi. Dan rupanya kamarnya sudah rapi dan bersih kembali bahkan sudah ada pakaian santai di atas ranjang
Detrick melangkah menuju bad size nya, ia mengambil pakaian yang ada di atas ranjang dan mulai memakai nya langsung disana. Setelah itu, ia celingak-celingukan mencari Fiona " Kemana gadis itu." Gumam Detrick
" Anda mencari saya tuan?." Tiba-tiba Fiona muncul di belakang Detrick sembari membawa sebuah nampan berisi makanan dan minuman. Ia tadi keluar untuk mengambil makanan
" Ck! Mengagetkan." Gerutu Detrick.
Fiona terkekeh kecil lalu meletakkan nampan tersebut ke atas meja.
" Berani-beraninya kau mengejekku."
" Eh! Mengejek? Saya tidak mengejek anda tuan." Refleks ia menjawab. Bagaimana bisa ia di tuduh mengejek
Kening Detrick mengerut melihat dahi Fiona yang nampak masih ada bekas darah. 'apa itu karena aku melempar ponsel tadi' Entah mengapa ia menjadi bersalah
Detrick menarik tangan Fiona " Duduklah." Ujarnya, dan mendorong pelan tubuh Fiona di atas sofa. Fiona hanya menurut dan duduk sesuai perkataan Detrick
Sedangkan Detrick terlihat mengambil ponselnya yang ada di atas nakas, Fiona yang memindahkan nya. Ia terlihat menelpon seseorang, setelah nya Detrick ikut duduk di samping Fiona. Ia menatap lekat wajah Fiona
" Ehmm tu... tuan, apa ada yang salah dengan wajah saya?." Memegang kedua pipinya. Ia malu di perhatikan oleh pria tampan seperti ini
Tidak menjawab, Detrick malah pelan-pelan mengurai rambut Fiona kebelakang telinga lalu tangannya menyentuh dahi Fiona " apa ini sakit?." Sontak saja pertanyaan seperti itu keluar dari mulut Detrick
" Ya? Ti.. tidak sama sekali." Gugupnya 'sakitlah..' sangat berbeda dengan apa yang di katakan dalam hatinya 'bisa di buang aku ke laut, kalau bilang sakit'
Ingin sekali rasanya Detrick meminta maaf, tapi jujur saja ia belum pernah mengatakan perkataan sakral itu kepada orang lain kecuali kakek atau ayah dan ibunya yang memang sangat di hormati
Detrick menghembuskan nafas kasar. Tiba-tiba pintu di ketuk
" Masuk." Sahut Detrick
__ADS_1
.
.