Terjebak Hasrat Majikan

Terjebak Hasrat Majikan
Aku seorang bangsawan


__ADS_3

Satu Minggu sudah berlalu setelah pernikahan Yang katanya sederhana tersebut. Kini Fiona tengah berada di mansion, sedangkan suaminya sudah berangkat ke perusahaan. Satu Minggu pernikahan nya berjalan, kehidupan Fiona benar-benar berwarna.


Wanita itu kini berada di dapur membuat makan siang untuk sang suami. Detrick masih tidak ingin makan jika bukan buatan nya. Dan dengan senang hati Fiona memasak untuk kekasih hatinya


Sambil bersenandung kecil, Fiona mengemasa bekal yang akan di bawanya. Ia selalu memasak makanan yang sehat, empat sehat lima sempurna ala Fiona.


Setelah itu ia pun membersihkan badan. Setelahnya ia langsung berangkat ke perusahaan.


Di perjalanan, Fiona masih memikirkan tentang pekerjaan nya yang sempat ia tagih kepada kakaknya dulu namun ia juga masih belum bekerja.


'padahal aku ingin bekerja. Setidaknya ijazah ku tidak akan sia-sia aku dapatkan' ia tidak mungkin mengorbankan pendidikan nya begitu saja. Masih teringat jelas perjuangan Fiona untuk membiayai kuliahnya.


'nanti aku katakan pada suamiku saja' lanjutnya dalam hati. Tiba-tiba wajahnya merona mendengar ia mengatakan panggilan suami. 'aku tidak menyangka akan menikah dengan nya. Padahal dulu aku pernah berlutut dihadapannya agar dibiarkan hidup, sekarang malah dia yang berlutut di hadapan ku agar tidak pergi' menggeleng kecil mengingat pertemuan pertamanya dengan Detrick


Saat sedang asik melamun, tak terasa mereka sudah sampai di perusahaan Dbr Kingdom. Supir pribadi Fiona segera memarkirkan mobil di basemen.


Dengan membawa paper bag berisi bekal makanan yang sudah ia buat, Fiona melangkah masuk kedalam perusahaan. Semua orang menunduk hormat saat melihat Fiona datang. Mereka sudah tahu maksud istri sang CEO datang siang-siang seperti ini.


Seolah seperti kebiasaan, Fiona menyempatkan diri untuk mampir di bagian resepsionis. Melihat dua orang wanita yang bekerja disana.


" Selamat siang, nona." Ucap kedua orang tersebut.


Fiona tersenyum " Siang. Bagaimana kabar kalian hari ini? " Tanyanya. Pertanyaan yang selalu ia tanyakan setiap hari


" Baik nona. Bagaimana dengan anda? "


" Tentu saja aku juga baik." Ucap Fiona " Baiklah aku naik dulu." Memperlihatkan paper bag tersebut


" Eh! Nona tunggu dulu, tuan Detrick..__"


" Sayang.." suara barinton seorang pria dari arah pintu membuat Fiona langsung menoleh dan tersenyum manis.


" Hai.. selamat siang, tuan." Ucap Fiona dengan menunduk hormat.


Detrick tersenyum tipis lalu melangkah cepat menghampiri istrinya " Selamat siang juga, nona." Mencium punggung tangan Fiona membuat orang-orang yang melihatnya tersenyum malu-malu. Bahkan ada yang berteriak dalam hati melihat Tingkah manis dua orang tersebut.


Fiona terkekeh " Anda dari mana, tuan? "


" Bagaimana kalau kita ke tempat yang lebih nyaman, nona."


" Baiklah."


Detrick mengulurkan tangan dan sedikit menunduk " Izinkan saya menggandeng tangan nona sampai ke ruangan saya."


Fiona tersenyum lalu mengulurkan tangan menyambut tangan Detrick " Dengan senang hati." Ucapnya. Mereka pun berjalan menuju lift dengan bergandengan tangan.


Semua karyawan yang melihat hal tersebut langsung teriak begitu lift tertutup. Mereka tak tahan melihat keromantisan pengantin baru tersebut


" Kyaaaa mereka sangat romantis.."


" Sangat manis.."


" Pasangan termanis abad ini..."


" Pasangan paling terfavorit ku.."


Mereka bersahut-sahutan berteriak. Michael yang ada disana menutup telinga mendengar teriakkan para karyawan. 'anda benar-benar sangat suka pamer, tuan' Setelah nya ia lalu masuk kedalam lift yang lain.


Setelah duduk manis di sofa, Fiona kembali menatap suaminya " Kamu dari mana? " Tanya Fiona menaruh paper bag di atas meja


" Mengunjungi anak kita." Ucapnya membantu Fiona menyusun makanan


Tangan Fiona berhenti bergerak. Ia menatap Detrick dengan lekat. " Hmm ada apa? " Melihat Fiona yang sedang menatapnya dengan tatapan sendu


" Apa kau sering kesana, sayang? "


" Selalu. Setiap pagi aku akan pergi, bukankah anak kita juga kesepian? Aku hanya ingin menemaninya walaupun sebentar." Menggenggam tangan Fiona yang sudah bergetar menahan tangis


Fiona memejamkan mata sejenak agar air matanya tak turun. Ia tidak ingin selalu cengeng jika dihadapkan dengan sosok anaknya yang sudah pergi


" Benarkah? Bagaimana kamu bisa tahu tempatnya? " Secara, makam anaknya tidak dia berikan batu nisan atau apapun itu kecuali gundukan tanah dan juga bunga yang selalu ia taburkan. Akhir-akhir ini Fiona memang tidak pernah lagi mengunjungi makam anaknya

__ADS_1


" Memangnya apa yang tidak aku tahu." Tersenyum sombong


Fiona mengerlingkan mata malas " Bukannya dulu kamu tidak bisa menemukan aku, sayang? " Bibirnya melengkungkan senyuman licik


Detrick Terkekeh, ia tak akan bisa marah atau pun kesal pada istrinya sekarang. Ia malah gemas melihat istrinya yang seringkali menggodanya.


" Jangan salahkan aku. Salahkan kakek yang menyembunyikan keberadaan mu."


" Baiklah... Baiklah.. kamu yang menang." Mengangkat tangan menyerah. " Ayo kita makan."


Detrick mengangguk lalu mencium pucuk kepala Fiona. Mereka pun makan dengan saling suap, hanya sesekali. Fiona tak terlalu suka di ganggu saat makan. Bahkan untuk saling suap pun ia selalu menganggap hal itu mengganggu. Namun, tentu Detrick akan selalu bisa membuat Fiona menuruti nya.


..........


Jam makan siang pun masuk, Rani menyimpan peralatan pembersih nya di tempatnya. Ia kemudian masuk kedalam ruang istirahat para ob/g dan mulai memakan makan siangnya sambil menonton drakor kesukaan.


Para ob/g yang lain juga tengah istirahat memakan makan siang mereka. Suasana ramai seperti biasa, tak ada yang aneh. Rani memakai headset bluetooth agar bisa mendengar suara dari film yang ia tonton dan tidak akan mengganggu orang lain.


Ceklek..


Keadaan yang tadinya ramai seketika menjadi sunyi saat melihat siapa yang masuk. Semua orang Langsung berdiri dan menunduk hormat.


Fiona hanya tersenyum saat mendapatkan sambutan seperti itu lagi, ia sudah mulai biasa. Apalagi saat ia sudah menjadi istri sah dari Detrick, ia semakin dihormati.


Matanya menyapu segala penjuru dan melihat Rani yang memunggunginya sambil masih menonton dan memakan makanannya. Rani tidak sadar akan kedatangan Fiona karena memakai headset.


Fiona tersenyum jahil lalu Pelan-pelan berjalan mendekati Rani. Ia menaruh telunjuknya di depan bibir saat beberapa orang mencoba menyapanya. Mereka yang hendak menyapa mengangguk sembari mengulum senyum melihat tingkah Fiona.


Orang-orang disana menghitung dalam hati.


1...


2..


3...


" Dor... " Teriak Fiona menepuk punggung Rani dengan kedua tangan.


Tawa Fiona dan orang-orang disana tak bisa tertahan. Mereka tertawa terbahak-bahak melihat Rani yang mengerucutkan bibir


" Puas? " Menaikkan sebelah alis melihat kearah wanita Tersebut


Fiona terkekeh " Puaslah." Mengangkat jarinya membentuk V " Maaf.."


Rani mendengus lalu kembali duduk. Fiona pun duduk di sampingnya " Apa yang kau makan? " Tanya wanita tersebut


Rani memalingkan wajah lalu memindahkan makanan keatas lutut sembari memunggungi Fiona. Ia akan pura-pura merajuk


" Hei... Kau pasti merajuk 'kan. Katakan padaku, kenapa kau merajuk? " Menggoyangkan lengan Rani


Rani tak menggubris dan tetap melanjutkan makan. Fiona menghela nafas pelan " Apa karena tadi aku mengagetkan mu? Okey, aku minta maaf. Aku tidak tau kau akan merajuk gara-gara itu." Semakin menggoyangkan lengan Rani


Rani mendengus, ia kemudian kembali menaruh piringnya di atas meja lalu berbalik melihat Fiona dengan wajah kesal " Hanya itu? Kesalahan mu yang lain kau tidak ingat? "


Fiona memiringkan kepala. Kesalahan yang lain? Maksudnya yang mana? Pikir Fiona. Rani yang gemas langsung mencubit kedua pipi Fiona " Kau hilang tanpa kabar selama beberapa bulan lalu kembali menjadi istri tuan Detrick. Bahkan kau sama sekali tidak mengundang ku." Ia sungguh gemas melihat temannya yang satu ini


Fiona menggaruk tengkuknya sambil terkekeh " Hehe maafkan aku. Banyak hal yang terjadi dan aku tidak bisa mengatakan nya."


Rani melepas cubitannya " Baiklah kali ini aku maafkan." Kembali melanjutkan makan nya.


Fiona tersenyum senang " Makasih bebz." Memeluk gadis itu dari samping dan mencium pipi Rani


" Hei.. lepaskan aku. Aku masih normal Fio! " Walaupun ia mengatakan hal itu, namun ia sama sekali tidak mencoba melepaskan atau pun menghindar saat Fiona memeluk dan mencium pipi nya.


Fiona melepas pelukannya " Kau memang yang terbaik."


Rani meminum air putih yang memang sudah ia sediakan dari sebelum makan " Jangan senang dulu. Aku memaafkan mu bukan berarti tak ada imbalan." Menaikkan sebelah alis dengan senyuman licik


Fiona memicingkan mata, menatap curiga " Apa? Kau ingin imbalan apa? "


" Gampang. Apa kau tidak punya kenalan pria yang tampan, mapan dan bercuan? Jika ada kenalkan aku."

__ADS_1


Fiona tersenyum " Tentu saja ada."


Mata Rani langsung berbinar " Benarkah? " Tanyanya. Fiona mengangguk sambil bersedekap dada


Rani semakin maju mendekati Fiona " Kalau begitu kenalkan aku." Ia sangat berantusias. Bisa jadi takdirnya akan berubah jika menikah dengan orang kaya


" Hmm memang nya kau yakin? Menikah dengan orang yang tak dicintai belum tentu membuat mu bahagia loh."


Rani yang mendengar perkataan dramatis keluar dari mulut wanita didepannya terkejut. Cinta? Fiona berbicara tentang cinta? Yang benar saja. " Hei? Kau benar-benar Fiona 'kan? " Menatap curiga


Fiona menepuk jidatnya " Tentu saja. Sialan! Aku hanya mengatakan yang sebenarnya." Geram Fiona


Rani terkekeh " Jadi kau menikah dengan tuan Detrick karena mencintai nya? Bukan karena harta nya? "


" Tentu saja karena aku mencintai nya. Tapi aku juga mencintai harta nya." Celetuk Fiona membuat mereka berdua Terkekeh geli


" Hmm aku tidak peduli dengan cinta. Asalkan aku bisa hidup tenang tanpa harus susah-susah cari uang aku sudah bahagia. Lagipula cinta tidak akan membuatku kenyang, cinta juga tidak akan membuat ku hidup lama." Ia berkata dengan nada yang lesu.


Ia sudah lelah, lelah mencari uang untuk melanjutkan hidup. Tidak kah setidaknya tuhan memberikan rezeki untuk nya? Pikirnya


Fiona tersenyum lalu mengangguk. Benar apa yang dikatakan Rani, dulu Fiona juga berpikir seperti itu. Untuk apa ada cinta jika uang bisa membuat semua orang bahagia? Cinta tidak akan bisa membuat mu kenyang. Namun, saat ini ia sudah mengerti untuk apa cinta dalam suatu hubungan.


" Aku mengerti perasaan mu. Kau tau sendiri 'kan, dulu aku juga berpikir seperti itu. Tapi, tanpa cinta kau tidak akan bisa tenang, hubungan mu akan cepat kandas dan hambar. Lagipula bukannya cinta jyga yang yang membuat kita hidup? "


" Maksud mu? "


" Bercinta. Tanpa bercinta, kau tidak akan bisa jadi." Celetuk Fiona membuat Rani benar-benar ingin menjitak Fiona sekarang jika tidak mengingat identitas sahabat nya tersebut.


" Oh astaga Fio! Kau ini..."


" Tapi aku benar 'kan. Hubungan akan hambar tanpa cinta dan hanya mengandalkan harta. Aku sudah berpengalaman, tentu kau tahu itu." Rani terdiam mencerna ucapan Fiona.


Ia membenarkan, tapi tetap saja. Uang adalah segalanya.


" Oh yah sebenarnya ada yang ingin aku beritahu." Ucap tiba-tiba Fiona disaat Rani masih terdiam


" Apa? "


" Jangan terkejut, okey? " Memperlihatkan wajah manis


Rani memicingkan mata " Aku tidak akan terkejut. Lagipula memangnya berita apa yang lebih mengejutkan dari kau yang jadi istri tuan Detrick. Walaupun orang-orang sudah menduga." Mengingat bagaimana Detrick memperlakukan Fiona saat mereka masih menjadi sepasang kekasih


Fiona hanya memperlihatkan gigi putihnya yang berderet rapi " Tentu saja ada."


Rani berdecih " Kalau begitu cepat katakan."


" Kau ingat kita pernah membayangkan, bagaimana jika sebenarnya kita adalah anak orang kaya dan terpisah dari keluarga karena saat kecil kita di curi atau kejadian aneh lainnya." Rani mengangguk. Tentu saja ingat, ia bahkan berharap halunya bisa menjadi kenyataan.


Fiona berdehem " Dan kau tahu. Aku adalah orang yang sangat beruntung. Walaupun tidak seperti cerita khayalan kita, tapi aku benar-benar anak seorang konglomerat. Bahkan seorang bangsawan." Ucap Fiona menggebu-gebu


Rani terdiam " Tunggu? Kau tidak bercanda 'kan."


" Hei, apa gunanya aku bercanda. Aku sangat kesal karena harus banting tulang untuk mencari uang Padahal sebenarnya aku seorang bangsawan." Gerutu Fiona


Rani memegang kepala " Whatt!!!" Teriaknya membuat Fiona segera menutup mulut wanita tersebut


" Kau yakin? Ini nyata 'kan."


" Tentu saja."


" Jadi, kau benar-benar orang kaya? Walaupun tanpa menikah dengan tuan Detrick? " Tanyanya antusias, Fiona mengangguk


" Oh astaga, aku benar-benar bahagia. Selamat sayang.." dan mereka pun berpelukan layaknya Teletubbies.


.


.


TBC


Jangan lupa tinggalkan jejak. like komen dan votenya 😘 banyakin hadiah nya juga biar othor tambah semangat nulis nya ✌️

__ADS_1


...klik tanda love dibawah ini 👇...


__ADS_2