
Fiona sampai di depan ruangan Detrick, dan disana sudah ada Michael yang berdiri sembari menenteng sebuah paper bag
" Anda sudah datang nona." Ujar Michael
" Ada yang bisa saya bantu, pak?." Tanya Fiona
Michael menyodorkan paper bag tersebut " Berikan ini pada tuan Detrick."
Fiona menerima paper bag tersebut " Ini makan siang?." Tanya Fiona dengan wajah berbinar. Ia tidak sabar untuk memakannya juga
" Iya." Singkat Michael
" Baiklah, saya masuk dulu." Fiona pun mengetuk pintu, setelah mendapatkan jawaban dari dalam ia pun masuk
" Permisi tuan." Ujar Fiona kembali menutup pintu
" Masuklah. Sajikan di atas meja." Karena sudah biasa, Fiona pun menyajikan makanan tersebut di atas meja.
Setelah semuanya tersaji, Detrick menghentikan aktivitasnya lalu berdiri melangkah ke sofa di mana di sana sudah ada Fiona yang duduk manis dengan makanan di atas meja
Detrick ikut duduk di samping Fiona. Ia melirik Fiona yang sedari tadi tidak mengalihkan pandangannya dari makanan di depan meja
" Awas air liur mu."
Sontak Fiona mengusap mulut nya " Ma.. maaf tuan."
Detrick terkekeh geli melihat tingkah Fiona " makanlah." Setelah itu mereka pun makan siang bersama seperti biasa
Seperti biasa pula, Fiona sama sekali tidak memikirkan gaya makannya. Apalagi hidangan yang ada di depannya semuanya adalah kesukaannya.
" Kau tidak kepedasan?." Tanya Detrick, ia menelan air liurnya sendiri melihat Fiona yang nampak sangat lahap memakan makanan berwarna merah di meja. Sedangkan makanannya sendiri tidak seperti itu
Mengunyah makanan sampai habis " Tidak tuan. Malah ini seperti kurang pedas." Ucapnya dengan nyengir
Detrick hanya geleng-geleng kepala melihat hal itu dan kembali melanjutkan makanannya. Ia tidak risih ataupun jijik melihat Fiona makan, malahan di mata Detrick, gadis cantik itu sangat menggemaskan
Setelah makan...
" Apa yang akan kau lakukan setelah ini?." Tanya Detrick setelah minum air putih
" Hmm seperti biasa, tuan. Saya tidak ada kelas hari ini, jadi saya akan ke minimarket untuk bekerja sambilan." Ucap Fiona membereskan barang-barang bekas makan nya di meja
" Tetap di sini hari ini. " Ucap Detrick tegas
Sontak Fiona menghentikan kegiatan tangannya " Apa? Di ruangan ini? Tapi, bagaimana jika ada karyawan lain yang melihat saya tetap ada di sini setelah makan siang berakhir." Ucap Fiona. Saat ini saja dia sudah ketar-ketir, bagaimana jika seterusnya di dalam sini
" Kalau begitu tetap lah di perusahaan ini, hari ini. Jangan kemana-mana!." Tegas Detrick
" Tapi kenapa tuan?." Akhirnya ia bertanya juga
Detrick memajukan wajahnya di depan Fiona " Bukannya yang di bawah sana masih perih?." Tanyanya dengan senyuman menggoda
Blush...
Fiona memalingkan wajah yang sudah memerah bak makanan yang tadi dia makan " Su.. sudah tidak terlalu." Lirih Fiona
" Oh.. jadi sudah tidak sakit." Detrick tersenyum licik lalu mendekatkan mulutnya di telinga Fiona " Bagaimana kalau kita mengulanginya lagi, di sini." Bisik Detrick, sambil meniup telinga Fiona
__ADS_1
Seketika Fiona meremang merasakan hembusan nafas sang bos. Wajahnya semakin memerah, ia segera mendorong pelan tubuh Detrick 'Gila!!! Dia sudah gila!!'
" Ma.. masih se.. sedikit sa.. sakit tuan, ja.. jadi... Emmm__"
" Pffhhh... Aku bercanda bodoh." Tertawa geli. Ia mengusap kepala Fiona
" Jadi? Bagaimana? Kau tetap akan di perusahaan hari ini 'kan." Menaikkan sebelah alisnya " Kalau kau tetap ingin pergi, maka jangan salahkan aku kalau harus memasuki mu lagi." Menaik turunkan alisnya, dan semakin maju mendekati Fiona
Sungguh Fiona sangat ingin menggampar wajah tampan nan menyebalkan di depannya ini. Untung saja Detrick bos nya, kalau tidak mungkin Fiona benar-benar sudah melayangkan sepatunya di wajah Detrick
Fiona memalingkan wajah berusaha meredam kekesalan serta wajah memerahnya, tangannya ia gunakan untuk menghalangi dada Detrick yang sangat dekat dengannya " Ba.. baiklah, hari ini saya akan ada di perusahaan dan tidak kemana-mana." Pekik Fiona
Detrick tersenyum menang lalu menarik diri. Ia kemudian berdiri dari sofa " Lanjutkan aktivitas mu." Ujarnya singkat dan kembali ke kursi kebesarannya melanjutkan pekerjaan.
Fiona mendengus pelan dan mulai membersihkan meja di depannya.
Setelah itu Fiona pun pamit dari ruangan tersebut " Saya permisi tuan." Ucap Fiona sedikit menunduk
Detrick hanya berdehem tanpa melihat Fiona. Setelah nya Fiona pun berbalik pergi dari sana, barulah Detrick mengangkat kepalanya melihat punggung Fiona. Punggung yang semalam ia lihat dengan telanjang, dan yang lebih mengejutkan nya di sana ada bekas luka yang panjang.
Sebenarnya Detrick terkejut melihat bekas luka yang sangat ketanda di punggung mulus nan putih Fiona. Bekas luka tersebut berbentuk panjang dan sepertinya itu berasal dari besi.
" Sialan." Gerutunya. Ia sempat mengecup punggung Fiona. Ia akhirnya menyuruh Michael untuk mencari latar belakang kehidupan Fiona sebelum di adopsi oleh keluarga Eren
Sedangkan Fiona yang keluar dari ruangan Detrick Langsung bertemu dengan Deon yang sudah lama hilang entah kemana
" Kak Deon?." Fiona terkejut melihat Deon yang sekarang ada di depannya, sepertinya ia ingin masuk kedalam ruangan Detrick
" Hai Fiona.. lama tidak berjumpa." Melambaikan tangan dengan senyuman manis
Fiona ikut melambaikan tangan dan tersenyum " Lama tidak bertemu juga, kak Deon."
Deon menggaruk kepalanya " Aku pulang kampung." Jawab Deon 'apa tuan Detrick tidak mengatakan nya pada Fiona yah' Setahu Deon, Fiona dan Detrick mempunyai hubungan yang istimewa.
Fiona manggut-manggut, ia tahu kalau perkataan Deon tak sepenuhnya benar, tapi dia juga tidak punya hak untuk mengurusi urusan orang lain. Apalagi ia juga malas mengurus masalah orang lain, padahal ia sendiri punya banyak masalah yang harus di pikirkan.
" Kalau begitu aku duluan yah kak." Pamit Fiona
Deon tersenyum " Iya, aku juga ada urusan dengan tuan Detrick."
Setelah nya Fiona benar-benar pergi dari sana. Ia turun melewati lift para karyawan, dan di dalam lift nampak ada beberapa karyawan. Dua wanita dan dua pria. Fiona berada di paling belakang dan di depannya ada dua wanita dan di depan dua wanita tersebut ada dua pria.
" Kau dari mana?." Tanya Salah seorang wanita berambut sebahu kepada Fiona
" Saya dari ruangan tuan Detrick." Jawab Fiona sopan
" Oh... Enak yah, cuman jadi Og tapi bisa keluar masuk kedalam ruangan tuan Detrick." Sindir salah satu wanita dengan rambut panjang
" Iya.. ya.. mending jadi Og saja. Lumayan bisa keluar masuk kedalam ruangan tuan Detrick." Timpal salah seorang lagi yang berambut sebahu
Fiona mendengus dalam hati " Kalau begitu, bagaimana kalau kita tukar pekerjaan. Biarkan saya menggantikan anda dan anda menggantikan saya." Seru Fiona dengan senyuman manis
Sontak kedua orang wanita itu melihat sinis Fiona. Gadis cantik yang berani-beraninya melawan perkataan nya. Tapi sekali lagi, yang di berikan tatapan sinis hanya tersenyum manis
Aura-aura permusuhan keluar dari tiga orang itu. Sedangkan dua pria yang ada di depan tak berani hanya untuk bergerak sedikit pun. Rasanya nyawanya juga terancam
Glek..
__ADS_1
'resiko berada satu lift dengan wanita'
'jadi orang tampan, rupanya tidak mudah yah'
.........
Dengan hati yang dongkol Fiona masuk kedalam ruang istirahat, dan di sana rupanya sudah ada Rani yang sedang bermain ponsel
Fiona duduk di samping Rani, ia menghela nafas kasar membuat yang di samping nya melihat heran Fiona. Padahal biasanya gadis penikmat gratisan itu selalu gembira jika baru keluar dari dalam ruangan sang bos karena habis makan siang gratis, tapi sekarang mengapa gadis penyuka uang itu tiba-tiba murung?
" Ada apa?." Tanya Rani meletakkan ponsel nya
" Huh! Orang-orang yang tidak ada syukur-syukur nya itu membuatku kesal!." Dengus Fiona
Rani tertawa " Dibawa santai saja." Ujar Rani, sepertinya ia tahu siapa yang di maksud Fiona
" Sudahlah! Tidak ada gunanya juga memikirkan mereka."
Kemudia Fiona pun mengambil ponselnya dan mulai berselancar di media sosial. Namun tiba-tiba...
" Fiona, tolong buatkan kopi susu satu. Dan bawa ke divisi Humas." Ucap senior Fiona
" Baik." Ia meletakkan ponselnya lalu berdiri " Aku kerja dulu." Rani hanya mengacungkan jempol nya serta mengangguk tanpa melihat Fiona namun asik ke ponsel.
Fiona pun pergi ke pantry untuk membuat kopi susu. Di ambilnya gelas lalu mulai membuat kopi
" Aduh.. perut ku kok sakit yah." Memegang perutnya
" Auchhh.. apa mungkin maag ku kambuh." Gumam Fiona masih dengan memegang perut nya. Ia duduk di salah satu bangku pantry dengan memegang perut serta memejamkan mata untuk menetralisir rasa sakit nya
" Ada apa, Fiona? Kamu tidak apa-apa?." Tanya Rani khawatir, ia yang tadi ke pantry karena ingin membuat minuman malah melihat Fiona yang tengah duduk sembari memegang perutnya dan terlihat kesakitan
Dengan perlahan Fiona membuka mata melihat Rani " Sepertinya maag ku kambuh." Jawab Fiona dengan tersenyum paksa
" Apa? Bagaimana bisa?." Panik Rani
" Mungkin karena tadi aku makan makanan yang sangat pedas." Jawab sekenanya. Perlahan rasa sakit nya sudah mulai hilang
" Kamu bawa obat maag?." Fiona menggeleng. Ia tidak terlalu memerlukan obat maag karena baginya untuk menahan rasa sakit tersebut adalah hal mudah, apalagi ia juga sudah terbiasa dengan rasa sakit fisik
" Astaga Fiona... Tunggu yah, biar aku suruh Aldy beli obat maag di apotik." Ujarnya dengan membawa-bawa nama salah satu ob yang cukup akrab dengan mereka
Fiona hanya tersenyum lalu berdiri " Tidak perlu, ini sudah baikan." Kembali membuat kopi
" Kamu yakin?."
" Tenang saja, sudah yah aku harus bawa Kopi ini dulu." Setelah mengatakan nya Fiona pun pergi berlalu meninggalkan Rani yang masih melihatnya dengan wajah khawatir
Sakit, jujur saja rasanya sakit. Tapi mungkin karena Fiona sudah terbiasa, rasa sakitnya tidak terlalu ia rasakan, hanya seperti gigitan semut biasa. Mungkin awalnya akan sakit karena seperti serangan kejutan, tapi jika sudah terbiasa hal itu sudah tidak terlalu sakit bagi Fiona.
" Yah walaupun kadang sakit dadakannya kembali." Gumamnya dan terus melangkah membawa kakinya menuju ke divisi Humas.
.
.
TBC
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak kalian. like komen dan votenya 😘 banyakin hadiah nya juga biar othor tambah semangat nulis nya ✌️