
Sebuah mobil mewah memasuki kediaman Eren. Enhart turun dari dalam mobil dengan gagah di ikuti oleh Sky. Keduanya berjalan memasuki rumah keluarga Eren. Rumah yang seharusnya sangat dirindukan, namun entah mengapa bagi pria itu sama sekali tidak ada sedikitpun kerinduan.
" Tuan muda." Seru beberapa pelayan saat melihat sang tuan muda yang sudah hampir 15 tahun tidak pernah pulang karena mengurus karirnya di luar negeri. Yang tidak diketahui apakah itu, bahkan orang tuanya sekalipun tidak mengetahui pekerjaan Enhart.
Enhart tersenyum menyapa mereka semua " Lama tidak berjumpa semua." Sky dibelakang hanya tersenyum mengikuti bosnya
Langkah Enhart terhenti saat mendengar suara pertengkaran di ruang tengah. Ia sangat mengenal suara tersebut, suara ayah dan ibunya. Mereka terdengar adu cek cok yang cukup menegangkan
" Gara-gara rencana mama semuanya jadi hancur." Terdengar suara Edward yang memekik
" Apa?! Bukannya papa juga menyetujui rencana ini. Bahkan papa Sangat mendukung." Suara Margareth tak kalah tinggi
" Mama juga tidak tahu kalau Geo mempunyai masalah dengan keluarga Reventoon." Suaranya mulai merendah. Kebangkrutan yang sekarang melanda keluarga Wijaya juga berdampak pada perusahaan keluarga Eren.
Dimana yang seharusnya memberikan keuntungan tapi malah kerugian yang didapat kan. Enhart menghela nafas " Karma untuk mereka." Singkatnya lalu melanjutkan langkah " Reventoon?." Ia cukup terkejut mendengar nama keluarga yang sangat berkuasa tersebut disebut
" Apa saya harus keluar tuan muda?." Tanya Sky, ia merasa tidak enak harus melihat pertengkaran keluarga
Enhart sedikit berpikir, ia tiba-tiba mendapat ide " Pulanglah ke apartemen, aku bisa menyusul nanti." Lalu kembali melangkah.
" Baiklah. Tapi jangan terlalu berlebihan tuan muda." Sky tidak ingin sang tuan muda menjadi anak yang durhaka kepada orang tuanya sendiri. Tapi, kalau situasi nya sudah tidak dapat dikondisikan Sky pun ikut angkat tangan.
Enhart kembali menghentikan langkah lalu berbalik sembari tersenyum seperti biasa " tenang saja." Berbalik dan melanjutkan langkah, sedangkan Sky pun pamit undur diri
Hingga sampai di ruang tamu " Ma.. pa.. " Sapa Enhart kepada kedua orangtuanya yang sedang bertengkar hebat, untung tidak terlihat luka fisik
" Enhart." Seru mereka berdua melihat anaknya yang sudah 15 tahun tidak pulang-pulang. Niat Edward dulu mengirim Enhart keluar negeri saat masuk SMA hanya sampai selesai kuliah, tapi siapa sangka putra satu-satunya tidak juga pulang-pulang, bahkan yang lebih parah tidak pernah menghubungi mereka.
" Apa kabar, ma.. pa.." sapa kembali Enhart
Margareth langsung memeluk Enhart " Baik. Kamu sendiri bagaimana?."
Enhart membalas pelukan sang ibu " Baik juga." Melepas pelukannya " papa bagaimana?." Melihat kearah ayahnya yang sedari tadi hanya memperhatikan
" Rupanya kau masih hidup." Ketus sembari menatap sinis
Enhart hanya tersenyum. Entah ia harus membenci kedua orang tuanya atau tidak setelah apa yang mereka lakukan. " Aku hanya mengikuti keinginan papa untuk keluar negeri."
Edward berdecak " Sampai kau lupa jalan pulang." Memilih kembali duduk
" Siapapun akan lupa jalan pulang, kalau tempatnya pulang seperti ini." Sindir Enhart. Ia tidak takut akan kemarahan sang ayah, lagipula apa yang ia katakan benar dan juga kemarahan yang pernah Edward perlihatkan saat Enhart menolak untuk keluar negeri melanjutkan sekolah tingkat atas lebih parah
" Kau.."
" Pah.. sudahlah. Enhart sudah pulang, kenapa kalian tidak bisa akur sih." Omel Margareth sembari menarik tangan Enhart untuk duduk di sofa. Melihat jas mewah yang digunakan putranya membuat Margareth menebak-nebak pekerjaan sang putra sekarang. Mungkin saja bisa membantu perusahaan, pikir Margareth yang bahkan tidak mempunyai kerinduan dengan sang putra
" Ada apa kau kemari." Sarkas Edward
" Pah.." tegur Margareth sembari mengedipkan sebelah mata sembari matanya melirik ke jas yang digunakan anaknya membuat pria paruh baya tersebut hanya tersenyum tipis.
Sedangkan Enhart menaikkan sebelah alis. 'apa aku segitu tidak berharga nya' apa ia harus senang dengan tingkah kedua orang tuanya yang hanya menganggap anak-anak nya sebagai alat dan hal itu membuat Enhart jadi alasan membencu kedua orang tuanya, atau sedih dan kecewa melihat kelakuan orang yang selama ia kecil dianggap sangat berharga dan dihormati malah menampilkan sikap yang sangat rendah?
Memang yah, jodoh adalah cerminan diri sendiri
__ADS_1
" Tidak apa-apa ma." Memegang lembut tangan sang ibu sembari tersenyum manis seperti biasa. Sedangkan Margareth nampak lega dan ikut tersenyum
'kau tumbuh menjadi sangat tampan nak. Mungkin beberapa anak temanku cocok untuk mu' belum apa-apa tapi wanita ini sudah membicarakan hal yang tidak pasti.
Tatapan Enhart beralih melihat sang ayah " Aku hanya ingin mengunjungi orang tuaku." 'orang yang sudah membuangku disaat-saat susah dulu' mengatakan nya saja sedikit membuat Enhart sakit
" Cih. Memangnya apa yang kau bawa kemari? Dilihat dari pakaian mu sepertinya kau sudah dapat pekerjaan yang bagus." Meneliti tampilan Enhart dari atas sampai bawah. Semua yang terdapat di tubuh sang putra semuanya bermerek
" Papa tidak berubah yah, masih sama seperti dulu." Menampilkan senyuman manis
Edward malah tersenyum licik " lebih bagus seperti ini, daripada berpura-pura baik dan malah terlihat munafik." Melirik istrinya, dan yang diberikan lirikan melotot kepada sang suami
Enhart Terkekeh, ada rasa sedih dibalik kekehannya " aku hanya seorang pegawai biasa di sebuah perusahaan yang kecil. Jas dan pakaian ku sekarang dipinjamkan oleh bosku untuk aku gunakan menemui papa dan mama. Mending tidak perlu berpura-pura 'kan." Pura-pura berwajah sedih.
" Ck kalau begitu untuk apa kau pulang kalau hanya jadi beban." Edward kembali memberikan tatapan sinis. Terdengar pula decapan lidah di samping Enhart
'kalian berdua memang tidak berubah' diam-diam tersenyum smirk
" Jadi apa aku salah bila aku pulang kerumah ku sendiri." Menampilkan wajah sedih
" Keluar dari sini. Kau lupa dengan apa yang aku katakan 15 tahun yang lalu padamu." Mengusir anaknya sendiri tanpa rasa ragu atau bersalah sama sekali
Margareth hanya diam tanpa membantu. Ia juga kecewa dengan pekerjaan sang putra sekarang. Padahal sudah 15 tahun lamanya namun tak ada yang berubah " kamu bisa tinggal, tapi." Seru Margareth
Sontak kedua pria itu melihat Margareth " Kamu harus menikah dengan salah seorang anak sahabat mama." Setidaknya mereka bisa mendapatkan keuntungan dari pernikahan kan
Senyum Edward langsung mengembang " Sepertinya itu ide yang bagus." Langsung mengerti maksud sang istri
Enhart hanya mengelum senyum dalam hati. Yang benar saja, kedua orang tuanya Memang hanya memikirkan keuntungan semata " aku tidak masalah, tapi memang nya anak sahabat mama mau sama aku yang hanya seorang pegawai biasa?." Ia akan mengikuti permainan kedua orang tuanya
" Tidak. Bukannya hal itu tidak akan bertahan lama." Melihat jam tangannya " Aku harus mengantar bos ku." Padahal dirinya sendiri yang bos
" Ck pergilah."
.........
Detrick langsung memeluk tubuh Fiona 'ck kenapa aku bisa Sangat merindukan kannya' melepas pelukan lalu mengelus kepala Fiona " Turunkan papannya."
Fiona yang tadi sempat bengong karena tiba-tiba di peluk akhirnya sadar. Ia segera menurunkan papan yang di pegangnya " Kenapa kamu memelukku?." Sempat-sempatnya ia bertanya
" Memangnya kenapa kalau aku memeluk kekasih ku sendiri." Sembari tersenyum licik
Blush...
Wajah Fiona yang putih langsung memerah " Ehem.. be.. benar juga yah."
Detrick terkekeh " Ayo." Menarik tangan Fiona menuju ke mobil yang sudah menunggu mereka.
Tanpa menunggu Michael membuka pintu mobil, Detrick langsung membukanya terlebih dahulu lalu mendorong pelan tubuh Fiona diikuti oleh dirinya yang ikut masuk saat melihat wanitanya sudah benar-benar duduk nyaman didalam.
Lain halnya dengan Michael yang tadi dirinya sudah akan membuka pintu mobil untuk sang tuan muda tapi di dahulu tuan mudanya sendiri 'haisss orang kalau jatuh cinta memang merepotkan orang-orang disekitarnya. Yah tapi aku juga ikut senang' menutup pintu mobil untuk sang tuan muda lalu memutar tubuh masuk kedalam mobil di samping kursi kemudi
" Bagaimana kabarmu?." Tanya Fiona basa-basi
__ADS_1
" Baik." Singkat Detrick seperti biasa. Ia menatap Fiona lekat dengan wajah datar namuan seakan menuntut sesuatu
Fiona mengalihkan pandangannya. Ia jadi salah tingkah ditatap lekat-lekat dengan mata yang tajam " Hmm a.. apa aku melakukan kesalahan?." Tanyanya tanpa melihat wajah Detrick
" Menurutmu?." Suara rendah namun mampu membuat bulu kuduk Fiona berdiri
'sebenarnya ada apa? Ayolah Fio... Pekalah sedikit' batin Fiona menutup mata mengingat-ingat hal apa yang dilupakan nya
'ah.. jangan-jangan' mengambil sesuatu didalam kantong kursi mobil. " Mana yah.." gumamnya
" Ah dapat." Mengangkat sebuah paper bag kecil " tenang saja aku sudah menyiapkan hadiah seperti yang kamu suruh." Memperlihatkan paper bag tersebut dengan wajah yang bangga
Detrick mengangkat sebelah alis 'menggemaskan' " Memangnya kapan aku menyuruhmu menyiapkan hadiah."
'cih pura-pura tidak tahu lagi' memutar bola matanya " Ini terimalah." Menyodorkan langsung paper bag tersebut mengenai dada Detrick " Walaupun tidak seberapa tapi aku memilih nya dengan memikirkan mu." Mengalihkan pandangan
Pria berpawakan tampan nan tegas dan sngat rupawan bak pahatan mengulum senyum. Ia menerima paper bag tersebut lalu membukanya " Apa ini." Mengeluarkan sebuah gantungan ponsel berkarakter burung berwarna merah yang selalu marah dalam serial kartunya
" Gantungan ponsel." Ucap Fiona dengan semangat. Entah mengapa ia merasa sangat bangga akan hadiahnya " Aku juga punya. Tapi berwarna merah muda, pasangan dari si merah." Memperlihatkan ponsel yang tergantung gantungan kunci
" Ini untuk pasangan?."
" Hmm mungkin." Balas Fiona polos membuat Detrick benar-benar gemas. Yang tadinya ingin protes karena hadiah yang didapat hanya sebuah gantungan ponsel yang kekanak-kanakan, namun melihat wajah polos sang kekasih dan juga rupanya gantungan nya sepasang membuat kekesalan Detrick menguap
" Baiklah kali ini aku Terima." Memasang di ponselnya. Jika sekarang ada yang bisa membuka Hati Detrick, pasti terlihat ladang bunga yang sedang bermekaran sekarang. Hadiah pertama berupa barang yang diberikan oleh sang kekasih, pasti akand dijaga dengan sangat baik
Fiona tersenyum memperlihatkan rentetan giginya " Lucu khhihihi." Sekarang ia benar-benar seperti seorang anak-anak
" Aku sudah mendengar nya tapi, kenapa kamu bisa semanja ini sekarang, hmm." Mencubit pipi Fiona gemas. Ia juga bisa melihat pipi sang kekasih yang semakin besar
" Auchhh ti.. tidak. Sejak kapan aku bersikap manja." Memegang tangan Detrick yang ada di pipi
" Hmm memangnya sekarang kamu tidak sedang manja." Mengapit kedua pipi sang kekasih
" Hmm benarkah? Aku tidak merasa aneh akhir-akhir ini." Memonyongkan Bibir memikirkan tingkah laku nya akhir-akhir ini. " Perasaan sama saja."
Supir yang di depan hanya bisa menghela nafas panjang 'aku percaya deh nona'
Detrick langsung mengecup bibir Fiona " kamu ingin aku makan Sekarang disini hmm." Mengangkat sebelah alis dengan tatapan menggoda.
Blushh..
" A.. ti.. tidak. Jangan mengatakan omong kosong." Membuang wajah kesamping
Detrick tergelak " Kamu benar-benar menggemaskan."
.
.
TBC
Jangan lupa tinggalkan jejak. like komen dan votenya 😘 banyakin hadiah nya juga biar othor tambah semangat nulis nya ✌️
__ADS_1
...klik tanda love dibawah ini 👇...