
Mereka semua sudah duduk disofa. Masih hening, tak ada yang buka suara. Sedangkan Detrick masih asik memeluk pinggang sang ibu menyembunyikan wajahnya yang pasti sangat amburadul. Ditrian hanya bisa menelan kekesalan melihat istrinya di monopoli.
Tidak ada yang berani buka suara sebelum Bryanskara memulai. Tatapan Bryanskara seperti memberikan tuntunan kepada Detrick untuk menjelaskan semuanya namun Detrick diam. Bibirnya keluh, ia taka akan bisa mengatakan kalau Fiona pergi meninggalkan nya karena kebodohan yang dimiliki
Akhirnya semua orang disana menatap Michael dengan tatapan yang menuntut juga. Michael menghela nafas panjang sebelum bercerita. Ia terlebih dahulu melihat sang tuan muda, apakah dizinkan atau tidak. Setelah mendapatkan anggukan Michael pun mulai bercerita
" Nona Fiona hilang 3 hari yang lalu." Ucap Michael. Tak mendapatkan respon apapun dari orang-orang disana, Michael pun melanjutkan ceritanya.
Setelah bercerita, Leticia, Ditrian dan juga madam Emma menatap Detrick dengan tatapan terkejut. Bagaimana bisa Detrick menuduh Fiona berselingkuh? Gila yah? Pikir mereka
Sedangkan Bryanskara hanya diam. Ia memang sudah mengetahui masalah yang menimpa sang cucu dari bawahannya. Ingat bukan! Bryanskara adalah orang yang serba tahu, apalagi urusan yang menyangkut orang-orang disayangi nya
" Kau bodoh yah! Bagaimana bisa kau menuduh Fiona!" Geram madam Emma. Dua kali pertemuan dengan Fiona membuat madam Emma langsung menyukai wanita mungil tersebut. Jujur saja, ia pernah berharap Carl lah yang menjadi kekasih Fiona
" Detrick, nak apa itu benar? Fiona sangat baik loh. Ibu yang baru dua kali bertemu bisa tahu kalau Fiona tak akan melakukan hal yang bisa membuat mu marah." Tutur Leticia lembut berbeda dengan madam Emma
" Kau bisa cemburu, tapi setidaknya ikutkan akal sehatmu juga. Semuanya adalah salahmu. Mungkin kalau aku yang Jadi Fiona, sudah ku gampar kau." Sungut Ditrian. Ia kesal melihat sang putra yang memperlakukan orang yang ia cintai seperti wanita murahan.
Michael manggut-manggut mendengar semua perkataan dari pria dan wanita paruh baya disana. Ia setuju, karena memang seharusnya seperti itu. Sedangkan Callin hanya diam, ia tak mengenal siapa Fiona. Dan semakin kesini ia semakin tidak mengerti.
Apa ada yang aku lewatkan? Pikir Callin
" Tapi, hubungan nya dengan Carl apa?" Madam Emma yang tadi mendengar dengan seksama cerita Michael sama sekali tak dapat mengambil kesimpulan akan keterlibatan anaknya
" Anak mu yang mengirimkan foto-foto perselingkuhan Fiona. Gara-gara dia aku jadi salah paham." Mengepal tangan, Detrick kembali geram.
" Kau yang salah. Menuduh cucuku begitu saja! Memangnya siapa kau! Pilihan bagus Fiona meninggalkan mu." Sarkas Bryanskara. Sepertinya ia sejenak Lupa kalau pria amburadul di depannya adalah kekasih Fiona
" Ayah.." Leticia tentu tak terima anaknya dihina-hina oleh orang-orang disana. Walaupun ia juga begitu gemas ingin memasukkan kembali anaknya itu kedalam rahim, agar saat keluar setidaknya sikapnya bisa sedikit berubah.
" Apa kakek tahu, keberadaan Fio sekarang?" Menatap sang kakek dengan tatapan datar, dengan sedikit di bumbui tatapan memelas
Bryanskara berdiri " Cari sendiri!" Ketusnya lalu melangkah pergi dari sana.
Detrick mengusap wajahnya. Ia menyugar rambut ke belakang " Saatnya Bekerja Michael." Ujarnya kemudian lalu berdiri
" Kau mau kemana?" Suara sang ayah menghentikan langkah Detrick
Tanpa berbalik " Mencari kekasihku."
" Kau tidak akan menemukan nya dengan usaha mu sekarang. Bujuklah kakekmu agar memberitahu kannya padamu."
Detrick hanya diam dan melanjutkan langkah " Tunggu, nak." Seru Leticia. Wanita paruh baya tersebut bangkit menghampiri sang anak
" Jaga kesehatan mu. Jangan lupa makan." Mengelus lengan Detrick lembut. Detrick mengelus tangan sang ibu
" Tenang saja, bu." Setelah mengatakan hal tersebut ia kembali melanjutkan langkah. Leticia hanya bisa melihat sendu putra nya. Ingin menyalahkan anaknya namun ia tak tega.
__ADS_1
Michael mengikuti dari belakang sang tuan muda. Ditrian bangkit lalu menghampiri Leticia " Tenang saja. Dia sudah dewasa, pasti sudah bisa mengetahui yang benar dan salah."
.........
Allen membantu Carl untuk bangun dan bersandar di pan ranjang " Hati-hati tuan muda Carl." Membantu Carl
" Kau terlalu kaku Al." Seru Carl yang sudah duduk dan menyandarkan punggung di pan ranjang
Allen terkekeh " kau sangat berbeda dengan kakakmu." Padahal Allen lebih suka jika Carl bersikap seperti dirinya sendiri tidak perlu meniru Detrick yang dingin
Carl mendengus mendengar perkataan Allen " Terserah aku ahkk.." sudut bibirnya terasa perih akibat pukulan Detrick tadi
" Hati-hati... Aku kira tuan Detrick akan membunuhmu." Terkekeh di akhir kalimat
Carl berdecih. Ia tak menyangka sang kakak akan memukulnya, padahal sudah terpampang jelas dalam bayangan nya kalau Detrick akan memeluk dan berterima kasih padanya. " Apa segitu berharga nya wanita itu." Gumam Carl. Entah mengapa ia jadi merasa bersalah
Allen menghela nafas. Merapikan barang-barang nya " merasa bersalah saja tidak akan menyelesaikan masalah. Bantu tuan Detrick untuk mencari Fiona. Dan ingat!" Menghentikan ucapan lalu menatap tajam Carl
" Jangan menampakkan wajah mu di hadapan tuan Detrick sekarang. Kau bisa-bisa digantung." Sembari menaikkan telunjuk di depan wajah babak belur Carl
Carl menunduk " aku kira aku akan mati."
'nah itu tau. Makanya jangan cari masalah sialan!!' ingin sekali Allen berteriak dan memaki atas apa yang dilakukan Carl. Namun hal itu tak mungkin ia teriakan di mansion utama Reventoon. Allen juga sedikit tahu tentang Fiona, sudah beberapa kali mereka bertemu dan Allen bisa tahu bagaimana sifat wanita itu
.........
Hari demi hari dilewati Detrick di dalam kamar tanpa ada niatan untuk melanjutkan hidup. Setelah mengetahui bahwa Fiona tidak berselingkuh, membuat Detrick semakin bersalah.
Keterpurukan dan rasa bersalah Detrick semakin besar saat mengetahui bayi yang dikandung Fiona sudah meninggal. Sehari setelah Detrick memukul Carl, Michael mencari tahu untuk apa Fiona di rumah sakit.
Dan betapa terkejutnya saat mengetahui apa yang telah dialami Fiona, yang mana semakin membuat Detrick merasa bersalah. Kekasihnya Pergi, dan bahkan anaknya juga ikut pergi selamanya. Menangis.. menangis.. hanya itu yang dilakukan, tapi itu semua tak akan menyelesaikan masalah.
Michael melangkah kan kaki masuk kedalam mansion Detrick. Ia langsung menuju ke kamar sang tuan muda. Detrick sudah tak sanggup lagi keluar kamar. Yang dilakukan hanya berada didalam kamar dan meratapi semuanya.
Orang-orang Detrick masih berusaha mencari keberadaan seorang Fiona walaupun tak menemukan titik terang. Mereka tak akan berhenti sampai Fiona ketemu, kalau mereka berhenti sudah dipastikan seorang Detrick Reventoon juga akan berhenti hidup di bumi
Tok.. tok.. tok..
Michael mengetuk pintu kamar sang tuan muda. Setiap pagi pasti akan ia lakukan, walaupun selalu tak dapat hirauan dalam kamar. Setidaknya Michael ingin memberitahukan kepada Detrick bahwa masih ada orang yang berpihak padanya
" Tuan muda, apa anda masih betah berada didalam." Seru Michael sembari mengetuk pintu
Brakk..
Yang ke 39 kali akhirnya terdengar " Syukurlah anda baik-baik saja tuan." Setelah mengatakan hal tersebut Michael pun pamit.
Yap begitu lah cara Michael mengetahui secara langsung apakah sang tuan muda baik-baik saja atau tidak. Tidak sopan memang, tapi mau bagaimana lagi. Entah barang yang mana lagi yang dilemparkan Detrick. Mungkin semua isi kamar sang tuan muda sudah kosong.
__ADS_1
" Dengan begitu tuan Detrick akan keluar kamar untuk mencari barang-barang yang lain." Angan-angan Michael pun bertambah
" Bagaimana pak Michael?" Pak Ziel tiba dengan sebuah nampan yang berisi makanan
" Syukurlah tuan Detrick masih bernafas." Ujar Michael. Pak Ziel menghela nafas panjang mendengar nya.
Padahal tanpa melakukan hal tersebut, pak Ziel bisa memberitahukan nya sendiri. Setiap jam makan, pasti pak Ziel lah yang di izinkan Detrick untuk masuk kedalam kamar. Mungkin Detrick sudah muak melihat kelakuan sekretaris nya yang sudah hampir ketularan Sura, si sekretaris blak-blakan plus kurang ajar
" Baiklah kalau begitu saya masuk terlebih dahulu." Setelah mendapatkan anggukan, pak Ziel pun masuk kedalam kamar sang tuan muda meninggalkan Michael yang juga ikut pergi dari sana untuk mengurus pekerjaan yang ditinggalkan Detrick selama ini
Pak Ziel menatap iba kepada sang tuan muda yang tengah duduk dilantai dan bersandar di pinggir ranjang dengan keadaan yang amburadul. Rambut Detrick mulai memanjang, bukan hanya rambut namun jambang serta kumia pria tersebut pun mulai lebat.
Kondiri kamar Detrick lagi-lagi hancur bak kapal pecah. Padahal pak Ziel selalu membersihkan nya setiap pagi, tapi saat pagi lagi pasti selalu kembali berantakan.
Menaruh nampan tersebut di atas meja, pak Ziel menghampiri sang tuan muda " silahkan makan sarapan anda, tuan muda." Memunduk lalu kembali membersihkan kamar Detrick yang bak kapal pecah.
Tatapan pak Ziel melihat piring serta gelas yang pecah di sekitaran pintu. Setiap pagi piring dan gelas kaca tersebut lah yang di lempar Detrick.
'maaf pak Michael, sepertinya angan-angan anda tidak akan terkabul' Karena barang-barang didalam tak akan pernah habis
Tapi setidaknya pak Ziel bersyukur karena piring dan gelas tersebut sudah kosong, yang artinya Detrick selalu memakan makanannya. Setelah membersihkan kamar sang tuan muda, Pak Ziel pun keluar dari sana.
Sudah beberapa kali pak Ziel membujuk tuan mudanya untuk keluar kamar tapi tetap tidak berhasil. Bukan hanya pak Ziel namum semua orang yang dekat dengan Detrick, kecuali Bryanskara tentunya. Sepertinya pria tua itu benar-benar ingin menghukum Detrick karena sudah memperlakukan Fiona dengan semena-mena.
Carl pun juga sudah datang. Dengan keberanian yang dikumpulkan selama satu Minggu, Carl datang meminta maaf bahkan sampai sujud-sujud, namun tak dapat respon daro Detrick. Pria yang tengah putus asa tersebut seakan mati rasa.
Saat pak Ziel keluar dari kamar sang tuan muda, ia sangat terkejut saat tak sengaja berpapasan dengan Bryanskara yang entah sejak kapan berada di mansion
" Tuan besar." Seru pak Ziel segera menunduk hormat. Pak Ziel dulunya adalah butler di mansion utama Reventoon, tapi setelah Detrick mempunyai mansion sendiri, Detrick menyuruh pak Ziel untuk ikut ke Mansion nya. Tanpa bisa dibantah pak Ziel hanya mengangguk dan mengikuti keinginan sang tuan muda, apalagi pak Ziel dan Detrick memang cukup dekat.
" Lama tidak bertemu, Ziel." Seru Bryanskara " bagaimana kabarmu?"
" Lama tidak bertemu tuan besar. Kabar saya baik. Bagaimana dengan anda?" Walaupun ia terkejut namun tak ayal sapaan dari orang yang pernah ia layani tetap dibalas
" Baik juga." Menepuk pundak Pak Ziel " Kerja bagus. Sekarang serahkan kepada ku." Setelah mengatakan hal dramatis, tanpa mengetuk pintu Bryanskara masuk kedalam kamar sang cucu dan kembali menutup nya
Pak Ziel tersenyum melihat Bryanskara telah tiba. 'akhirnya tuan muda akan keluar' yah dia yakin tentang hal ini
Melangkah menjauh " semoga nona Fiona juga cepat ketemu." Walaupun sebenarnya ia sudah tahu kalau Bryanskara pasti sudah mengetahui keberadaan kekasih tuan mudanya.
.
.
TBC
Jangan lupa tinggalkan jejak. like komen dan votenya 😘 banyakin hadiah nya juga biar othor tambah semangat nulis nya ✌️
__ADS_1
...klik tanda love dibawah ini 👇...