
" Carl. Terima kasih karena sudah mengakui perbuatan mu." Ucap Fiona bijak
Sontak perkataan Fiona membuat semua terkejut. Sejak kapan Fiona menjadi sangat baik? Setahu mereka, Fiona bukanlah orang yang dapat memaafkan orang yang sudah mencelakai nya begitu saja.
Sedangkan Carl langsung tersenyum senang. Ahh kenapa dulu dia sangat bodoh dan mengatakan Fiona adalah wanita yang tidak baik.
" Aku juga sudah memaafkan mu, tapi bukan berarti semua perbuatan mu itu benar. Tetap saja salah." Lanjutnya kemudian
Bahkan Detrick sampai mengerutkan kening menatap tak percaya kepada sang istri " Sayang, Fio kamu baik-baik saja 'kan." Ia takut Istrinya kemasukan sesuatu yang membuat wanita tersebut menjadi sangat baik bak malaikat
Fiona tertawa kecil. Ia langsung bisa tahu hanya melihat wajah suaminya yang seakan tak percaya dengan dirinya sekarang. Dam rupanya bukan hanya Detrick saja, namun beberapa orang disana juga menatap dengan tatapan yang sama seperti Detrick
" Aku hanya ingin hidup tenang." Ucap Fiona dengan helaan nafas. Hidup dengan membawa dendam bukanlah hal yang baik, malah itu akan menimbulkan penyakit. Pikir Fiona
" Lagipula, aku juga belum menepati janjiku pada mu, Carl." Seru Fiona membuat mereka semua menatap kearah Carl yang masih berlutut
Janji? Janji apa lagi, pikir mereka semua
" Hmm pertama-tama aku sekali lagi ingin berterima kasih atas bantuan mu di mall saat itu. Kalau tidak ada kamu, mungkin aku akan tinggal disana untuk memilih dasi." Perkataan Fiona membuat Carl dapat mengingat janji yang wanita itu sempat katakan kepadanya
Detrick kembali merangkul pundak sang istri dan membawanya semakin dekat dengannya " Dasi? Untuk apa? "
" Ohh sebenarnya dasi itu ingin aku berikan sebagai hadiah untuk mu, tapi tidak sengaja aku menghilangkan nya." Detrick manggut-manggut mendengarkan. Lagipula dasi yang dipilihkan adiknya belum tentu akan digunakan
" Jadi, sebagai ganti dari permintaan maaf mu tadi. Aku akan menganggap nya impas kalau kamu juga memaafkan aku yang melanggar janjiku."
Carl tersenyum mendengar hal tersebut " Tentu saja." Jawab nya. " Tapi lain kali kita harus melakukan nya sekali-kali." Lanjut Carl
Fiona mengangguk " aku tunggu undangan mu."
" Janji apa, Fio? " Tanya Enhart yang sudah dari tadi kebingungan
" Janji balas budi karena sudah membantu ku dengan makan siang bersama." Jawab Fiona polos. Mendengar jawaban yang keluar dari bibir seksi istrinya, membuat Detrick menatap tajam kearah Carl 'kurang ajar! berani-beraninya mengajak Fiona makan siang bersama'
Madam Emma tersenyum lalu ia pun beranjak dan duduk di samping Leticia " Syukurlah kamu ingin memaafkan perlakuan bocah itu." Ucap Emma yang baru saja duduk
Fiona hanya tersenyum. Carl masih ditempatnya yang terlihat berlutut di depan Fiona, namun sekarang Carl menselojorkan kakinya dan bersandar di meja.
Callin yang sejak tadi diam dan bahkan masih berdiri di tempatnya ikut duduk di samping sang istri " Tunggu dulu. Sepertinya aku mulai paham dengan semua ini." Melihat situasi sekarang membuat Callin dapat menarik sebuah kesimpulan
Menarik nafas dalam " Jadi, kekasih Detrick adalah Fiona yang ini bukan Fiona yang lain." Ucap Callin
Kecuali Fiona, mereka semua menyerngit heran. Dilihat dari perkataan Callin, sepertinya Callin mengenal Fiona. Tapi, bagaimana bisa? Pikir mereka
Fiona cengengesan " Heheh bos Cal, lama tidak berjumpa. Siapa sangka rupanya bos Cal juga bagian dari keluarga Reventoon. Sebenarnya sudah dari tadi aku ingin menyapamu, tapi tidak ada waktu yang tepat." Menggaruk tengkuk
" Hahaha sudah kuduga." Timpal Callin tertawa
" Tunggu dulu, jadi kamu sudah mengenal Fiona, Cal? " Tanya Emma disamping Callin yang terlihat terkejut. Bukan hanya Emma tapi semua orang disana pun sama dan menuntun meminta penjelasan, bahkan Bryanskara yang tahu segalanya juga ikut terkejut
" Fiona itu adalah mantan karyawan di restoran ku dulu." Ucap Callin mulai menjelaskan " Tapi, setelah satu tahun bekerja, Fiona memundurkan diri." Lanjutnya. Terlihat kecewa saat mengatakan hal tersebut
" Itu benar. Bos Callin adalah pemilik restoran tempat ku bekerja sebelumnya. Tapi aku sama sekali tidak tahu, bos Callin juga bagian dari Reventoon." Timpal Fiona
Mereka semua manggut-manggut nampak mengerti. Memang yah, dunia sangat sempit
__ADS_1
" Jadi Fiona yang kalian maksud adalah dia. Hahhh seandainya aku tahu lebih awal." Menghela nafas panjang
" Memangnya kenapa kalau papa tau lebih awal? " Tanya Carl yang masih duduk di lantai menyandarkan punggung di meja
" Aku akan melakukan ini."
Tuk..
" Auhhc." Menjitak dahi sang putra
Mengelus dahinya " Papa." Protes Carl
" Dasar anak nakal! Wanita baik-baik di ganggu." Carl cengengesan mendengar penuturan sang ayah. Rupanya wanita yang ia musuhi adalah sekutu keluarganya.
Dari awal ia memang tidak mempunyai kesempatan untuk menang. 'bisa di ejek Sura, kalau tahu'
.........
Keluarga Wijaya dan Eren sekarang benar-benar di ambang kehancuran. Perusahaan Geo juga sudah bangkrut akibat serangan yang diberikan oleh Detrick dan di perparah dengan bantuan Carl.
Sedangkan keluarga Eren yang memang di ambang hancur, dan hanya bergantung pada perusahaan keluarga Wijaya pun akhirnya hancur sehancur-hancurnya. Seorang keturunan bangsawan di kejar-kejar rentenir akibat hutang yang menumpuk.
Media pencarian pun sangat banyak mengangkat berita tentang hancurnya keluarga Eren dan perusahaan Wijaya yang bangkrut. Acara pertunangan Dua keluarga itu pun di beritakan telah putus.
" Hahhh ini semua karena kamu, Erin! Seharusnya kamu jangan mengganggu Fiona lagi! " Bentak Edward. Mereka sekarang mengunci diri didalam rumah. Rentenir terus berdatangan membuat mereka sekeluarga takut keluar rumah. Bahkan rencananya mereka ingin keluar negeri, namun terhalang biaya
Erin mencebik. Hari-hari nya selalu diberikan ultimate oleh ayahnya atau pun ibunya " Ck! Bukan aku. Tapi Geo! Dan juga, kita semua yant selama ini menyiksa Fiona, kenapa malah aku yang di timpahkan semua kesalahan! " Suaranya tak kalah ia tinggikan.
Tiba-tiba dari arah depan rumah, terdengar suara keributan yang membuat ketiga orang tersebut terdiam lalu saling pandang dengan wajah yang bertanya-tanya.
Margareth memutuskan untuk mengintip dari balik jendela. Di singkapkan gorden, ia dapat melihat sebuah mobil eskalator dan beberapa orang yang terlihat memakai topi berwarna kuning. Mata Margareth membulat sempurna. Ia menganga, dan tak tahu harus apa.
" Siapa mereka! " Suara Edward menggelear. Ia menggeram kesal melihat orang-orang tersebut yang seperti akan menghancurkan rumahnya
Tok.. tok.. tok..
Pintu terdengar diketuk. Terdengar pula suara orang yang memanggil. Erin yang kebetulan berada di samping pintu segera membuka pintu setelah mendapatkan anggukan dari sang ayah.
Ceklek...
" Siapa kamu? " Tanya Erin melihat seorang pria paruh baya dengan memakai jas sembari membawa sebuah map tepat berada di depan
Pria tersebut tersenyum " Silahkan keluar dari rumah ini. Karena rumah ini akan dihancurkan, dan akan dibangun dan di renovasi ulang." Seru pria tersebut dengan santai
Sontak, perkataan pria berjas hitam tersebut membuat ketiga orang disana melongo tak percaya. Siapa dia? Memangnya apa hak nya menyuruh mereka keluar dari rumah sendiri? Dan bahkan dia ingin menghancurkan rumah nya?
Edward kembali marah " Siapa kamu! Punya hak apa kamu ingin menghancurkan rumah ku! " Bentaknya dengan suara yang sangat tinggi. Ia sudah marah kepada sang putri, ditambah lagi Dengan kedatangan pria paruh baya tersebut yang semakin membuat nya marah.
Pria tersebut tertawa, seakan-akan mengejek Edward, yang mana semakin membuat pria tersebut marah. Dengan Sangat percaya diri dan santai, ia menyodorkan sebuah map kepada Edward " Silahkan baca dan segera angkat kaki dari sini."
Edward mengambil kasar map tersebut. Dibuka dengan cepat isi dari map itu, Erin dan Margareth yang penasaran ikut melihat isi dari map itu. Mata mereka langsung membulat sempurna, wajah ketiganya menjadi pucat pasi
Pria berjas hitam itu tersenyum sinis " Bagaimana? Sekarang silahkan keluar dari rumah ini. Rumah ini sudah anda gadaikan dan sekarang tenggat waktunya sudah lewat." Sarkas pria tersebut
Edward Terdiam, karena banyak masalah yang ia hadapi membuat nya lupa akan rumah yang sempat ia gadaikan untuk membayar utang.
__ADS_1
Tiba-tiba seorang pria lain datang menghampiri keempat orang tersebut. Pria tersebut hendak bertanya kepada pria yang tadi membawa map, namun niatnya urung saat melihat wajah Edward 'mirip' batinnya.
" Silahkan keluar dari rumah ini sebelum kami seret Kalian." Lanjut pria tersebut
" Tahan dulu." Ucap pria yang tadi baru datang. Mereka semua menoleh kearah pria tersebut. Edward beserta anak dan istrinya seakan mendapatkan angin keberuntungan. Sedangkan pria berjas hitam, mengerutkan kening
" Ada apa? "
Merogoh ponsel " Aku akan mengabari seseorang terlebih dahulu. Tahan sebentar." Setelah mengatakan hal itu, ia langsung menjauh dan terlihat sedang menghubungi seseorang.
Edward, Margareth dan juga Erin harap-harap cemas. Jika mereka diusir dari rumah nya maka keluarga Eren benar-benar akan hancur.
Tak lama kemudian pria tersebut kembali " Hentikan penghancuran nya." Ucap pria tersebut kemudian membuat ketiga orang disana tersenyum senang, sedangkan pria berjas hitam kembali heran.
Namun ia tak ingin ambil pusing, sebab pekerjaannya hanya disuruh untuk mengusir keluarga yang tinggal dirumah elit tersebut. Jika sang bos sudah mengentikan maka ia pun harus menurut.
" Kembalilah. Ada yang harus aku bicarakan dengan mereka." Pria berjas hitam tersebut mengangguk dan undur diri. Ia juga tak lupa menyuruh antek-antek nya untuk ikut pergi dari sana.
Setelah semuanya pergi, kini tinggallah keempat orang tersebut. Edward langsung pasang wajah manis " Terima kasih atas bantuannya." Ucap Edward
Pria tersebut menatap datar " Jangan berterima kasih padaku. Ini semua berkat Enhart, anakmu. Sudahlah sekarang kalian sudah tidak mempunyai hubungan dengan Enhart." Perkataan pria tersebut sontak membuat ketiga orang yang mempunyai hubungan darah dengan Enhart terkejut
" Enhart? Apa maksud mu? " Kenapa malah bawa-bawa nama Enhart. Pria yang tak berguna, pikir mereka
Pria tersebut terkekeh geli " Kalian berencana mengeluarkan Enhart dari keluarga Eren kan, dan hanya tinggal menunggu tanda tangan darinya." Dan tanpa sadar mereka mengangguk
" Enhart sudah mengabulkan keinginan kalian. Jadi, mulai sekarang Jangan mencari nya lagi." Berbalik ingin pergi. Namun ia tiba-tiba berhenti dan kembali berbalik " Oh yah, rumah ini adalah hadiah perpisahan Enhart. Dia tidak ingin ayah dan ibu yang sudah membesarnya harus Luntang Lantung di jalan. Dan berusahalah untuk bangkit sendiri. Walaupun itu tidak mungkin sih." Tertawa mengejek lalu kembali berbalik.
" Apa? Hei jelaskan..."
Kini tinggallah mereka bertiga " Jadi, sebenarnya apa yang sudah terjadi? " Tanya Erin membuka suara
" Hahhh entahlah. Sudahlah yang penting sekarang mungkin rentenir tidak akan mengejar-ngejar kita untuk sementara."
.........
Sedangkan di sisi lain, Enhart nampak membuang tubuh diatas sofa. Ia baru saja dihubungi oleh temannya yang mempunyai usaha di salah satu bank simpan pinjam.
Mengusap kasar wajah " Kenapa mereka tidak bisa berubah." Gumam Enhart menghela nafas.
" Setidaknya dengan begini, aku benar-benar bisa menghilangkan rasa tidak tega ku dengan mereka dan juga membalas budi." Ia tetaplah seorang anak yang sedikit berbakti, seandainya orang tuanya adalah orang baik-baik.
Sekarang ia sedang ada di apartemen. Seorang diri, biasanya ada Fiona namun sekarang adiknya sudah tinggal bersama suaminya. Sedangkan Sky juga mempunyai apartemen sendiri.
Bangkit lalu berjalan ke arah balkon apartemen. Terlihat lampu kelap-kelip yang menghiasi padatnya kota tersebut di malam hari. Ia mengingat masa lalu. Masa-masa dimana saat ia masih tinggal seatap dengan kedua orang tuanya, sungguh tidak ada kenangan manis yang terukir.
Semuanya hanya kenangan buruk dan menegangkan. Cara mendidik Edward dan Margareth sungguh diluar nalar. Bagaimana bisa seorang orang tua mengajarkan anaknya untuk menjilat ke penguasa? Hahh mengingat hal itu saja sudah membuat nya pusing
" Sudahlah! Semoga mereka bisa sadar dan belajar akan kesalahan." Walaupun mungkin sulit jika dilihat dari sifatnya keduanya.
.
.
TBC
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak. like komen dan votenya 😘 banyakin hadiah nya juga biar othor tambah semangat nulis nya ✌️
...klik tanda love dibawah ini 👇...