
Pagi hari, Detrick yang lembur di perusahaan terpaksa bangun pagi-pagi untuk melanjutkan pekerjaan agar tidak lembur lagi.
Di tengah mengobrak-abrik isi komputer didepannya. Tiba-tiba pintu dari luar diketuk " Masuk." Sahut Detrick
Ceklek..
Deon masuk kedalam " Selamat pagi menjelang siang tuan Detrick." Sapa Deon terlebih dahulu menunjukkan sikap hormat kepada sang atasan
Detrick menghentikan aktivitasnya. Ia mendongak melihat Deon, seorang ob yang dipercaya walaupun sempat mengkhianati nya " Ada apa?."
Deon maju memberikan sebuah amplop besar berwarna cokelat " Ada kiriman untuk anda tuan. Saya dapat dari satpam dibawah, dan pak Michael yang menyuruh saya membawa ini kepada anda."
Detrick menerima amplop besar tersebut lalu menaruhnya di samping komputer " siapa yang mengirimkan nya."
" Kata satpam, dia hanya menyuruh memberikan kepada anda, tuan."
" Keluarlah." Titah Detrick. Deon menunduk sedikit lalu pamit keluar.
Detrick melanjutkan pekerjaannya. Tanpa membuka amplop tersebut. Namun sayang, Tatapan nya selalu mengarah ke amplop tersebut. Ia penasaran, siapa yang mengirim kannya? Dan apa isi nya?
Di hentikan jari-jari tangan yang Sentiasa menari di atas komputer, lalu beralih mengambil amplop berwarna coklat tersebut. Di bukanya amplop itu. Detrick menarik sebuah kertas didalamnya.
Mata pria tersebut membulat sempurna. Di remas amplop beserta apa yang ada didalamnya.
Prang...
Di sisi lain
Fiona memasuki perusahaan. Sontak semua karyawan yang tidak sengaja dan memang sengaja ada di loby menundukkan kepala saat Kekasih dari CEO masuk kedalam.
Fiona hanya tersenyum menanggapi. Ia buru-buru masuk kedalam lift. Ada yang harus ia perlihatkan pada sang kekasih dan yakinlah hal ini pasti akan menjadi berita yang dapat menjungkir balikkan kehidupan Fiona, entah itu hal baik atau mungkin sebaliknya
Saat sudah sampai di depan ruangan Detrick, kening Fiona mengerut melihat Michael beserta Iden yang sedari tadi mengetuk-ngetuk pintu ruangan
" Tuan Detrick.. tolong buka pintunya." Teriak sekali lagi Michael
" Tuan Detrick. Anda baik-baik saja didalam kan. Tolong berikan jawaban." Timpal Idenhf
Fiona memiringkan kepalanya, menatap heran dengan kedua pria dewasa tersebut " Ada apa ini?."
Suara wanita yang dapat merubah seorang Detrick Reventoon menjadi lebih manusiawi, pikir mereka. Sontak keduanya menoleh melihat Fiona " Nona. Tolong katakan pada tuan Detrick agar membuka pintunya." Ucap Michael. Ia terlalu khawatir akan keadaan sang tuan muda
" Memangnya kenapa dengan Detrick?."
" Kami juga tidak tahu. Tiba-tiba terdengar barang pecah didalam. Bahkan cctv di rusak sama tuan Detrick." Jelas Iden tak kalah khawatir.
" Nona coba anda yang ketuk terlebih dahulu. Takutnya syndrom tuan Detrick kambuh."
'dan aku yang jadi sasaran' ingin sekali Fiona berteriak seperti itu, namun ada yang harus ia beritahu kepada sang kekasih, semoga saja semuanya bisa kembali terkendali
Fiona maju sampai tepat didepan pintu. Di ketuknya pintu tersebut " Sayang... Buka pintunya, ini aku.." teriak sedikit Fiona
Tik..
Bunyi kunci pintu terbuka. Mereka semua bernafas lega " Baiklah aku masuk."
" Terima kasih nona." Seru keduanya. Fiona hanya mengangguk lalu membuka pintu.
Ceklek...
__ADS_1
" Sayang.." panggil Fiona menutup pintu. Matanya membulat melihat keadaan dalam ruangan.
Meja kaca yang Sentiasa selalu didepan kursi kebesaran Detrick hancur berantakan, semua dokumen-dokumen luluh lantah diatas lantai. Komputer yang selalu digunakan Detrick ikut luruh kelantai
Mata Fiona semakin membulat tatkala melihat tangan sang kekasih yang berdarah. Di lantai pun darah tak luput terlihat
" Detrick apa yang terjadi?." Tanya Fiona khawatir. Detrick hanya diam memandang datar kearah kekasih kecilnya
Fiona perlahan-lahan mendekati Detrick " kenapa kamu diam saja? Hei?." Memegang lengan sang kekasih, namun yang dipegang hanya diam tak menggubris bahkan melihat dingin nan datar Fiona.
Sama seperti saat mereka berdua bertemu pertama kali.
" Apa kau diserang sayang?." Entah karena homon kehamilan, Fiona sama sekali tidak peka akan keadaan. Diserang? Yang benar saja! Tidak ada peluru yang terlihat melubangi jendela, dan juga tak ada seorang pun disana kecuali mereka berdua
" Oh benar juga ada yang ingin aku beritahu." Tersenyum lebar memperlihatkan gigi putih nya
" Tapi sebelum itu kamu harus diobati terlebih dahulu. Tunggu yah aku panggil Michael. Nanti aku panggil Kak Deon juga untuk membersihkan ruangan mu." Hendak pergi dari sana dengan tampanh yang sangat santai seperti tidak ada yang terjadi
" Tidak perlu!." Suara datar nan dingin tersebut menusuk gendang telinga wanita yang sekarang di diagnosa sedang hamil muda. Namun, karena hormon kehamilan nya ia sama sekali tidak peka terhadap keadaan.
Dengan sangat santai, Fiona berbalik " Baiklah. Oh yah ada yang ingin aku beritahu padamu. Aku yakin kehidupan kita akan berbeda setelah kamu mengetahui nya." Mencari sesuatu dari dalam tas
Detrick hanya diam memperhatikan. Bahkan untuk sekedar pindah seinci tak ia lakukan. Hanya sebuah amplop coklat beserta dengan isi nya yang entah apa, berada di tangan besarnya. Dimana sudah terpenuhi dengan darah.
" Ah ini dia. Coba lihatlah." Menarik tangan Detrick yang kosong lalu menaruh amplop tersebut
" Bukalah. Jangan terkejut yah." Terkekeh di akhir kalimat
Lagi, Detrick hanya diam memandang datar Fiona. Membuat wanita hamil tersebut mencebik " Ck sini biar aku yang buka." Merebut kembali amplop tersebut
" Nah coba lihat.... Jen.. jen.. jeng... " Memperlihatkan lebar-lebar keraha Detrick sebuah gambar hasil usg beserta dengan sebuah tes pack bergaris dua
Senyuman Fiona langsung surut " Tunggu jangan-jangan kamu tidak mengerti." Menghela nafas lesu di akhir kalimat.
Dengan membusungkan dada, Fiona berdehem " Baiklah biar aku yang beri tahu." Seperti sudah ahlinya.
" Aku... Aku... Hihihi.. aku hamil..." Memekik di akhir kalimat. " bagaimana? Kamu terkejut kan. Ada bayi kita di dalam perutku." Mengelus perut nya sendiri dengan tersenyum hangat
" Siapa?."
" Hmm apa?." Tanya Fiona melihat kekasihnya yang sama sekali tidak memperlihatkan rasa senang lain dengan dirinya membuat Fiona mulai merasa aneh
" Siapa ayahnya?."
" Ayah? Tentu saja kamu. Memangnya siapa lagi. Inikan anak kita berdua." Ia seperti sudah mulai peka dengan keadaan.
" Tunggu dulu jangan-jangan kamu tidak percaya." Menggeleng keras " ini anak kita." Lirih Fiona yang sudah menahan tangis
" Jangan bohong! Katakan siapa ayahnya hah!!." Bentak Detrick
" A.. apa maksud mu... Ini anak kita sayang.." meraih tangan Detrick namun langsung ditepis kasar.
Brukk..
Fiona terjatuh akibat dorongan Detrick yang tidak disengaja " Jangan bohong! Jelaskan. Siapa ayahnya." Sentak Detrick masih dengan nada tinggi
Fiona yang luruh dilantai menggeleng keras dengan air mata yang sudah membasahi pipinya. Ini tidak seperti yang dibayangkan. Respon yang seharusnya diberikan Detrick harusnya bahagia dengan memeluk erat tubuhnya dan mengelus-elus perut rata yang terisi baby didalam.
" Bukannya kamu tidak keberatan kalau aku hamil. Kenapa sekarang kamu harus menjatuhkan harapan ku!." Pekik Fiona di akhir kalimat
__ADS_1
Detrick terdiam. Memang benar, ia sendiri yang mengatakan pada kekasihnya bahwa dia tidak akan keberatan apabila ada baby didalam perut sang kekasih. Tapi " Itu jika anak ku." Suara Detrick tambah dingin. Hatinya sakit melihat air mata yang keluar dari kelopak mata Fiona
Deg...
Fiona bangkit perlahan-lahan " Kamu pasti kelelahan kan sayang. Jadi kamu tidak bisa berpikir jernih, kita bicarakan baik-baik okey?." Suaranya berubah lembut. Suaranya yang seperti ini selalu berhasil meluluhkan hati sang pria
Detrick melemparkan amplop cokelat beserta gambar-gambar didalamnya " Katakan siapa ayahnya? Apakah yang ada masih muda atau yang sudah tua itu."
" A.. apa maksud mu?." Pelan-pelan Fiona mengambil apa yang dilemparkan Detrick tadi
" Ini... Tunggu sayang, aku bisa jelaskan. Memang benar ini aku tapi...__"
Darahnya langsung mendidih mendengar kalau memang benar kekasih nya yang ada di gambar tersebut. Dengan berbagai pria. Yang pertama terlihat kekasihnya bersama seorang pria muda di mall. Sangat terlihat jelas saat Fiona memasangkan dasi ke leher pria tersebut.
Di gambar lain memperlihatkan Fiona yang tengah memapah seorang pria paruh baya yang mabuk masuk kedalam kamar hotel. Siapa yang tidak akan salah paham saat melihat gambar-gambar tersebut?
" Keluar!!!." Teriak Detrick
" Apa? Tidak.. aku bisa jelaskan, ini tidak seperti yang kau lihat. Pria yang di mall itu hanya membantuku memilihkan dasi untuk hadiah mu, tapi dasinya hilang. Sedangkan pria yang di hotel aku hanya membantunya naik ke atas kamar." Fiona mencoba menjelaskan
Detrick tersenyum getir 'kenapa kau tidak bisa jujur. Siapa yang akan percaya dengan cerita karangan mu itu' apalagi pada orang yang sudah mengetahui sifat asli Fiona yang cuek dengan orang lain. Tidak mungkin Fiona ingin berdekatan dengan pria asing begitu saja, dan tidak mungkin juga Fiona akan membantu orang lain tanpa imbalan begitu saja, dan bukankah ada pegawa hotel yang bisa dimintai tolong? Pikir Detrick
" Keluar!!!." Masih berteriak
Fiona memegang lengan Detrick " Tidak. Kau salah paham." Dengan berderai air mata. Bukankah seharusnya sekarang mereka merayakan kehamilan Fiona? Kenapa jadi seperti ini?
" Aku bilang keluar!!." Mendorong tubuh Fiona dengan sedikit lembut. Ia tak tegas mendorong kasar tubuh Fiona, apalagi sekarang wanita itu tengah hamil
" Baiklah.. aku tunggu di mansion. Kita bisa bicarakan dengan kepala dingin." Fiona langsung berlari Keluar dengan kekecewaan yang mendalam namun tetap ia tahan. Dam berharap semuanya akan baik-baik saja.
" Nona Fiona.. bagiamana..__" Michael tak dapat meneruskan perkataannya saat melihat Fiona menangis.
" Iden kamu kejar nona Fiona. Aku akan memeriksa tuan Detrick." Tiba-tiba rasa gelisah mendatangi hati Michael. Iden hanya mengangguk, ia segera mengejar Fiona sedangkan Michael segera masuk kedalam ruangan.
Saat Iden ingin turun lewat pintu darurat, disebabkan lift yang sepertinya masih lama untuk terbuka. Tiba-tiba suara sang bos menggelar
" Keluar!!!."
Brak..
Prang...
Menghentikan langkah, Iden kemudian segera kembali ke ruangan Detrick. Ia melihat sang bos yang tengah mengamuk, Michael mencoba menenangkan namun beberapa kali terkena hantaman dan tendangan
" Pak Michael." Seru Iden
Michael yang tadi terhuyung ke belakang memperbaiki posisi nya " Apa yang kau lakukan. Cepat kejar nona Fiona." Sentak Michael dengan nada tinggi
" Tapi pak, sepertinya syndrom tuan Detrick kambuh. Kita harus menghubungi dokter." Iden tak kalah panik
" Cepatlah kalau begitu!." Iden pun segera menghubungi Allen selaku dokter yang menangani kasus Detrick.
.
.
TBC
Jangan lupa tinggalkan jejak. like komen dan votenya 😘 banyakin hadiah nya juga biar othor tambah semangat nulis nya ✌️
__ADS_1
...klik tanda love dibawah ini 👇...