
Detrick yang sudah sampai ke tujuannya, tidak langsung istirahat tapi ia lebih dulu menemui rekan bisnisnya untuk mempererat hubungan antar bisnis.
Ia baru pulang ke hotel saat tengah malam. Selesai membersihkan badan, ia duduk di balkon hotel yang memperlihatkan keindahan kota sembari mengisap batang tembakau nya.
" Gadis bodoh itu sedang apa yah." Gumam Detrick. Entah mengapa ia tiba-tiba merindukan sosok gadis mungil tersebut. Dimana dirinya yang selalu mendekap tubuh kecil Fiona. Dan aroma tubuh Fiona yang harum selalu membuatnya candu
Di ambilnya ponsel yang menganggur di atas meja balkon. Detrick hendak menelpon Fiona
Di sambungan pertama, tidak di angkat. Sepertinya Fiona sedang berada di panggilan lain " Siapa yang di telepon nya malam-malam." Melihat sambungan ponsel
" Apa mungkin pria jelek itu. Ck awas saja kau." Ia tiba-tiba naik darah hanya dengan memikirkan Fiona yang masih berhubungan dengan mantannya
Ia sekali lagi menelpon Fiona, dan syukur lah kali ini di angkat.
" Ha..._"
" Sudah aku bilang! Aku tidak ingin hadir di acara pertunangan mu. Undang makhluk gaib sana, sama-sama satu server 'kan kalian." Suara cerocos dari seberang telepon terdengar membuat Detrick mngertukan keningnya.
'sebenarnya dengan siapa dia menelpon tadi'
" Makhluk gaib? Oh.. kau sudah tidak sayang nyawa kamu." Jawab Detrick
Terdengar yang di seberang terdiam lalu terdengar suara kutukan Fiona terhadap dirinya sendiri, membuat Detrick mengulum senyum
" Tu.. tuan Detrick." Ucap Fiona dari seberang, terdengar jelas bahwa sekarang ia pasti sedang gemetar
" I.. itu tadi sa.. saya cu.. cuman bercanda.. i.. iya.. saya kira ta.. tadi orang lain yang te.. telpon." Lanjut nya
Sekali lagi, Detrick mengulum senyum. Ia terkekeh kecil, sungguh hanya Fiona yang bisa membuat Detrick berekspresi seperti sekarang ini
" Apa yang sedang kau lakukan." Ucap Detrick
" Saya sedang mengerjakan skripsi saya, tuan." Jawab Fiona jujur
Hening....
Tidak ada yang berbicara padahal telpon masih tersambung jelas.
" Hmmm tuan, apa perjalanan anda menyenangkan?." Tanya Fiona dari seberang
Sekali lagi, Detrick mengulum senyum " Hmm seperti itulah." Jawabnya. Ia memang menunggu gadis yang ada di negeri jauh sana berbicara terlebih dahulu
" Syukurlah, semoga anda pulang dengan selamat." Yang di seberang tampak semangat membuat Detrick juga ikut semangat
Tok.. tok.. tok..
" Masuk." Sahut Detrick, dan tak lama kemudian Michael datang membawa beberapa dokumen
" Ada apa?." Tanya Detrick kepada Michael, sambungan telepon masih tersambung dan tentu Fiona masih bisa mendengar semuanya dengan jelas
" Ini proposal yang di berikan oleh tuan Killian tadi, tuan." Ujar Michael
__ADS_1
Dengan kode jari, Detrick menyuruh Michael untuk menaruh dokumen tersebut ke atas meja
" Tapi tuan, proposal ini harus selesai di periksa sampai besok pagi."
Detrick berdecih, ia masih ingin berteleponan bersama Fiona tapi Michael malah mengganggu nya.
" Emm tuan, sepertinya anda sibuk. Kalau begitu kita sudahi sambungannya terlebih dahulu." Ucap Fiona hati-hati
" Hmm." Dan tut... Detrick memutus sambungan telepon
" Ck! Ganggu." Menatap sinis Michael lalu dengan kasar ia mengambil dokumen yang di bawa Michael
'ah.. rupanya tuan sedang menelepon dengan Nona Fiona. Pantas saja dia marah' Hanya bisa tersenyum canggung saat di berikan tatapan sinis nan tajam oleh sang bos.
Sedangkan di seberang lautan yang jauh di sana, seorang gadis kembali melanjutkan membuat skripsi nya.
Ia nampak fokus setelah tadi di berikan kekesalan oleh penelpon pertama dan kecanggungan serta ketakutan di penelpon kedua.
Setelah hampir dua jam berkutik di depan laptop, Fiona berniat untuk melanjutkan nya besok lagi. Ia sudah terlalu lelah
" Eughhhh." Meregangkan otot-otot punggung dan tangannya. " Ahh enak nya..." Ucapnya setelah meregangkan otot nya yang kaku tadi dan sekarang sudah lentur kembali
Ia melihat jam ponselnya " Baru jam 8 malam, hmm enaknya bikin apa yah?." Menaruh telunjuknya di dagu
Ia mengambil ponsel nya, lalu mulai men scroll kontak-kontak di ponselnya yang tak seberapa.
Tut.. Tut.. tut..
" Halo, Liana." Ucap Fiona saat telepon sudah tersambung
" Loha... Fiona. Ahhhk kamu dari mana saja baru menghubungi ku.." Pekik Liana di seberang
Fiona terkekeh " Maaf, aku selalu sibuk jadi tidak sempat buat telponan."
" Kalau sekarang kamu menelpon ku, berarti kamu sudah tidak sibuk 'kan." Yang di seberang terlihat bersemangat
" Hehe yah seperti itulah. Jadi aku ingin ke bar, bagaimana?."
" Wah.. iya.. iya.. cepatlah datang." Sahut Liana tambah bersemangat
" Baiklah, tunggu aku. Ingat! Aku datang sebagai pelanggan. Siapapkam wine yang paling bagus ahhahah."
" Hahahha asal ada uang, ada barang juga." Sahut Liana
Setelah sambungan terputus, Fiona bersiap-siap untuk ke bar tempatnya pernah bekerja paruh waktu saat malam hari
.........
Fiona masuk kedalam bar. Tampak dari luar bar tersebut tidak terlalu besar, bahkan terlihat sepi walaupun lampunya menyala.
Namun bagian dalam walaupun tak terlalu ramai, tapi setidaknya ada beberapa tamu dan juga musik klasik yang di mainkan
__ADS_1
" Hahh tempat yang sangat ku rindukan." Ujarnya sembari mencium aroma wine yang menyengat di dalam
Fiona duduk di salah satu bangku bar " White wine satu." Ujar Fiona
" Ah! Fiona. Selamat datang." Ucap Nia yang kini menggantikan tempat Fiona dulu sebagai bartender
" Halo bos." Ucap Fiona
" Bukan bos lagi." Menaruh white wine pesanan Fiona tadi. Nia ikut duduk di depan Fiona
" Bagaimana kabarmu?." Tanyanya
" Seperti yang kak Nia lihat, aku baik-baik saja." Ujarnya dengan tersenyum manis sembari meminum white wine yang sudah ada di depannya
" Apa bos mu tidak marah kamu datang kesini?."
" Te..__"
" Ahkk Fiona!!." Liana datang dan langsung memeluk Fiona
Fiona terhuyung ke belakang, untung saja tidak sampai jatuh " Hati-hati Liana, aku bisa jatuh."
Liana terkekeh dan melepas pelukannya " Maaf, aku tidak sengaja. Aku terlalu senang akhirnya bisa bertemu dengan mu lagi."
Fiona tersenyum lalu mengelus kepala Liana. Fiona memang sudah menganggap Liana sebagai adiknya sendiri.
" Bagaimana kabarmu?." Tanya Fiona
Dengan menampilkan senyuman di sertai dengan gigi putihnya yang tersusun rapi, Liana menjawab " Aku baik... Dan sepertinya kamu juga baik."
" Tentu saja."
Mereka bertiga kemudian bercerita satu sama lain, melepas rindu yang hampir dua Minggu terbelenggu.
Di saat Fiona asik melepas rindu, berbeda dengan seorang pria yang tidak henti-hentinya bergerutu dan mengutuk asisten nya yang selalu memberikan banyak pekerjaan kepada nya, seperti sekarang ini.
Detrick tidak henti-hentinya berdecih saat melihat Michael yang duduk di hadapannya membantu Detrick bekerja
" Cih! Kalau kau bisa mengerjakan semuanya, kenapa harus kau berikan padaku. Membuang waktu ku!." Lagi-lagi ia mengeluh
" Ini tugas untuk presider perusahaan, tuan. Jika memang anda ingin saya yang mengerjakan nya, maka jadikan saya presider perusahaan. Dengan begitu anda bisa bersantai sepuasnya." Jawab Michael.
Takut? Tentu, tapi karena sudah terbiasa Michael hanya menanggapi nya dengan santai
" Ck bisanya hanya menjawab saja!." Ketus Detrick dan kali ini Michael hanya diam.
Di jawab salah, mending ia diam saja 'kemana Pergi nya tuan Detrick Reventoon yang gila kerja!!' kali ini ia benar-benar merindukan sosok Detrick yang gila kerja di saat banyaknya pekerjaan seperti sekarang.
.
.
__ADS_1