
Sudah beberapa hari ini Detrick berada di luar kota. Ia akan menelpon saat pagi dan juga malam. Fiona juga kadang-kadang masih ke minimarket untuk bekerja, walaupun ia kadang malas namun tetap saja jiwa pekerja keras nya tak akan bisa hilang begitu saja
Hari ini Fiona sengaja untuk libur. Besok Detrick sudah pulang, jadi ia berencana untuk membelikan Detrick hadiah " Walaupun dari uang yang dikirimkan nya padaku." Terkikik geli
Fiona melangkah masuk kedalam sebuah pusat perbelanjaan terbesar di kotanya. Ia melihat-lihat beberapa toko-toko tempat barang branded di jual
Kakinya melangkah menuju ke sebuah butik yang cukup terkenal. Seorang karyawan menunduk hormat saat Fiona masuk. Seperti para pelanggan yang lain, Fiona melewati begitu saja dan mulai melihat-lihat beberapa kemeja dan juga jas
" Kira-kira beli yang bagaimana yah? Memangnya jas dan kemeja nya akan di pakai?." Tiba-tiba saja pemikiran seperti itu menyerang pikirannya. Bukannya di dalam walk closet sudah terlalu banyak jas dan juga kemena branded yang tak terhitung jumlahnya. Ia jadi sedikit ragu untuk membeli jas atau pun kemeja.
Wanita itu menghela nafas " Kenapa aku harus capek-capek melakukan hal ini. Padahal hanya dengan sekali jentikan semua barang-barang nya pasti sudah tersedia."
Ia mengingat saat kemarin dirinya menelpon dengan Detrick.
Flashback on
Malam itu Fiona sedang duduk di atas sofa sembari bermain ponsel. Ia melihat-lihat berita terkini, sebenarnya ia penasaran akan perkembangan dari perusahaan yang tengah Detrick urus, perusahaan yang diambang kebangkrutan.
Saat asik melihat-lihat, tiba-tiba ponselnya berbunyi. Ia menatap nama dari layar ponsel, dengan cepat Fiona mengangkat sambungan telepon tersebut
" Halo." Sapa Fiona terlebih dahulu. Ia tahu, yang diseberang tak akan mengatakan apapun sebelum ia berkata terlebih dahulu
" Apa yang sedang kau lakukan." Suara bas dari seberang selalu membuat Fiona rindu
" Hanya istirahat. Kamu? Oh yah kapan kamu pulang?." Tanya Fiona kepada Detrick
Pria yang terkenal akan kekejaman serta kedinginan nya, sekarang tersenyum cerah secerah mentari. Untung saja tidak ada yang melihat tingkah nya yang sama sekali tidak mencerminkan kepribadian seorang Detrick Reventoon " Aku baru sampai di hotel. Memangnya kenapa? Apa kau sudah rindu padaku?."
Fiona terlihat tersenyum malu. Entah mengapa akhir-akhir ini ia selalu seperti ini saat Detrick berbicara lembut padanya, rasanya didalam hati sudah tumbuh sangat banyak bunga
" Iya, aku merindukan mu." Lirih pelan Fiona sembari tersenyum malu. Ia menenggelamkan wajah di bantal sofa
Sedangkan Detrick bengong mendengar hal tersebut. Wajahnya tiba-tiba memerah. Ia tersenyum malu-malu, nampak seperti anak SMA yang sedang kasmaran. 'shitt dia sangat manis. Ahhkkk harusnya tadi aku sudah pulang' yang di bawah tiba-tiba bangun
" Ehem.. tunggu saja, lusa aku pulang." Mulutnya keluh untuk membalas perkataan manis Fiona. Ahh ia benar-benar sangat senang sekarang
Fiona tersenyum sumringah " benarkah?." Tanyanya dengan wajah berbinar
Detrick semakin tersenyum manis " Tentu saja." Sembari mencoba menenangkan bagian tubuh dibawahnya yang sudah berdiri. Ia ingin langsung masuk ke kamar mandi dan mengguyur tubuhnya menggunakan air dingin
" Tapi, aku ingin hadiah saat aku pulang." Lanjutnya membuat yang diseberang tiba-tiba menyurutkan senyuman nya, ia jadi bingung sendiri
'hadiah? Memangnya dia kekurangan apa?' batin Fiona " tapi Memang nya kamu masih butuh sesuatu?."
Detrick berdecak " pokoknya aku ingin Hadiah ku saat aku pulang nanti." Menekankan perkataan nya. Tidak ada yang bisa membantahnya sekarang
Fiona menghela nafas halus " baiklah." Setelah sedikit mengobrol lagi, akhirnya sambungan terputus. Fiona merebahkan diri di atas sofa sembari melihat langit-langit kamar
" Hitung-hitung keluar jalan-jalan."
Sedangkan di sisi laut yang jauh sana, Detrick yang baru saja sudah memutuskan sambungan telepon langsung berdiri dari kursi nya. Dengan langkah cepat ia masuk kedalam kamar mandi dan langsung mengguyur tubuhnya dengan air dingin. Biarlah malam ini tubuhnya minum air dingin
Di buka bajunya dan langsung di lempar di atas lantai. Ia mengusap wajah membayangkan Fiona dengan baju haram sedang duduk dengan gaya erotiss di atas kasur, di kepalanya ada sebuah pita berwarna peach.
Dengan gaya yang sensual, Fiona memanggil nya dengan mengatakan bahwa tubuhnya lah yang menjadi hadiah Detrick.
__ADS_1
Bruk..
Detrick memukul tembok kasar " Shitt dia sangat manis!." Menggigit jari, membayangkan wajah Fiona yang erotiss semakin membuat darahnya seakan-akan akan tumpah.
Flash back off
Walaupun mengeluh, Namun tak ayal tangannya tetap menjulur memilih beberapa jas disana. Dilihatnya label harga di salah satu jas yang di pegangnya
Glek...
" Bisa makan beberapa tahun aku dengan uang ini." Ia ingin geleng-geleng melihat harga yang tertera di labelnya namun ia sudah biasa. Apalagi sudah beberapa bulan ini dirinya tinggal di sebuah mansion yang amat besar dengan suguhan barang-barang branded membuat nya kebal akan barang mewah
" Mataku sudah kebal dengan cahaya ilahi dari barang mewah." Entah mengapa ia bangga akan hal ini
Tangan lentik tersebut kembali memilih jas, tak ayal juga tangannya berlabuh pada sebuah dasi " Hmm mungkin dasi lebih bagus yah. Apalagi dasi punya Detrick hanya ada 4 warna." Kalau bukan wanita hitam, navy, maron dan coklat tak ada lagi. Semuanya hanya warna gelap. Ia kembali Melihat beberapa dasi berwarna warni.
" Ada yang bisa saya bantu nona?." Seorang pegawai butik wanita datang menghampiri Fiona. Sedari tadi dia melihat Fiona yang seperti pusing memilih dasi atau pun jas
" Hmm sebenarnya aku bingung mau pilih warna yang bagaimana." Keluhnya. Melihat dasi yang berjejer berwarna-warni malah membuat nya pusing
Pegawai butik tersebut mengambil beberapa dasi berwarna gelap. Seperti hitam, biru, maron atau coklat dan abu-abu tua " Bagaimana dengan yang seperti ini, nona? Akan terlihat cool."
" Hmm." Memegang dagu nampak berpikir 'tanpa memakai dasi berwarna gelap pun dia sudah cool' Apalagi mengingat semua rata-rata warna dasinya sama dengan motif polos semua
Pegawai butik itu tak kehabisan akal. Saat melihat pelanggan yang menurut nya harus dihormati tak puas, segera ia memutar otak dan mencoba mengeluarkan semua kemampuan dagangnya
" Memangnya siapa yang akan menggunakan nya, nona? Mungkin saya bisa membantu. Atau, biasanya kekasih nona akan memadukan nya dengan jas model seperti apa?." Mengambil hati pelanggan dengan perkataan manis tentu harus bisa dan rata-rata hal ini berhasil
Dan sepertinya walau Fiona sekalipun, berhasil terjebak. Wajahnya memerah tersipu mendengar pegawai butik tersebut mengatakan kekasih. Ah.. apakah memang sangat terlihat? Pikir Fiona
Pegawai butik yang melihatnya semakin yakin akan argumen nya 'pasti memang benar untuk kekasihnya'
" Hmm biasanya dia memakai...." Melihat-lihat sekeliling dan " ah.. iya, jas dan kemeja yang seperti itu. Hmm persis seperti itu." Menunjuk setelan jas di sebuah lemari kaca
Mata pegawai butik tersebut membulat " Apa hari-harinya selalu seperti itu, nona?." Tanyanya tanpa sadar
" Tentu saja." Fiona hanya menjawab yang ditanyakan
Masih melihat sebuah lemari berisi beberapa jas dan juga kemeja yang ditunjuk Fiona " Apakah setiap harinya ganti namun tetap dengan model yang sama?." Masih bertanya
Fiona mengangkat sebelah alis mulai bingung namun tetap menjawab " Tentu saja. Tidak mungkin 'kan tidak pernah ganti." Jawabnya '*orang aku yang selalu menyiapkan*nya'
Seakan-akan ditimpa durian runtuh, rahang wanita tersebut hampir jatuh mendengar nya. Satu setelan jas dan kemeja tersebut di bandrol dengan harga sekitaran seharga satu mobil BMW atau Lamborghini, bahkan ada yang setara mansion tingkat 3 dengan luas tanah yang tidak main-main. Dan itu cuman satu setelan! Bagaimana kalau setiap hari ganti!!!?
'orang kaya....' pekik pegawai tersebut. Ia semakin akan memperlakukan wanita di hadapannya ini dengan sangat baik
" Hmm nona? Apa kamu baik-baik saja? Ada apa, apa ada yang salah?." Memegang pundak pegawai wanita Tersebut
Tersentak kaget, pegawai wanita dengan name tag Karin segera berbalik dan tersenyum manis " maaf nona." Segera meminta maaf. Biasanya orang-orang kaya atau berada pasti akan langsung marah jika diabaikan.
Namun, Fiona bukanlah orang kaya ataupun berada. Ia hanya seorang wanita biasa yang tak sengaja bertemu dengan seorang pria terkaya di negaranya dan terkaya kedua di dunia. Kita kesampingkan untuk masalah dunia hitam
" Ah! Jangan dipikirkan. Tapi apa kau bisa membantu ku? Aku benar-benar pusing." Memperlihatkan beberapa dasi di tangannya
" Tentu nona." Ucap Karin tersenyum
__ADS_1
Fiona dan Karin pun mulai kembali memilih dasi yang sekiranya cocok dengan Detrick " Seandainya ada model." Gumam Fiona. Ia tetap tak bisa memutuskan
Tiba-tiba...
Bruk..
Seseorang menabrak pundak Fiona pelan " Ah.. maafkan saya." Seru seorang pria yang tadi menabrak Fiona
Fiona tersenyum " tidak masalah." Ujarnya. Ia meneliti tubuh pria tersebut dari atas sampai bawah. Sebelah alisnya terangkat, senyum tersungging di bibirnya
" Hmm ada yang bisa saya bantu nona?." Tanya pria tersebut saat mendapati Fiona menatapnya dengan intens 'cih. Sudah ku duga, dia langsung tertarik dengan pria tampan tanpa memikirkan perasaan kakak' geurutu Carl mencoba tersenyum kearah Fiona. Yap, Carl sengaja manabrak Fiona tadi, ia berpura-pura menjadi seorang pelanggan disana
" A.. ah.. ma.. maaf." Wajahnya memerah menahan malu kedapatan memandang wajah tampan di depannya
Carl menggeram kesal dalam hati. 'Apa bagusnya wanita ini sampai kakak sangat menyukai nya. Hanya wajahnya yang manis dan cantik' Dengusnya. Ia terkekeh kecil dari luar memperlihatkan bakat akting tingkat piala Oscar " Saya Memang tampan nona, tapi kalau dilihat wanita cantik terus saya juga bisa salah tingkah loh." Sembari mengeluarkan gombalan nya
Fiona terkekeh mendengar hal tersebut " Maafkan saya. Tubuh anda bagus, apa saya bisa minta tolong?."
" Tentu." Dengan tersenyum manis bak seorang anak yang mendapatkan permen
Sedangkan di sisi lain, Sura yang ikut bersama sang bos hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah tuan mudanya yang diluar akal 'siapa sebenarnya dia?' bertanya-tanya dalam hati melihat Tingkah manis sang tuan muda.
Dengan santainya Sura duduk di sebuah kursi tunggu di dalam butik tersebut menunggu dan memperhatikan kelakuan sang bos.
Kita kembali ke Fiona dan juga Carl
" Sebenarnya saya ingin membeli dasi untuk seseorang. Tapi bingung mau pilih yang mana." Tiba-tiba Fiona curhat
Carl mengangkat sebelah alis 'siapa yang akan dia berikan dasi? Apa mungkin kak Detrick? Tidak.. tidak! Kak Detrick 'kan masih ada diluar kota. Jangan.. jangan.. pria lain' pikiran liarnya tak bisa di hentikan
" Tubuh anda hampir mirip dengan tubuh orang itu. Jadi..." Menggantung ucapannya melihat respon Carl
Carl tersenyum 'akan ku bongkar wajah aslimu' " tentu nona. Dengan senang hati saya akan meminjamkan tubuh saya untuk menjadi model."
Fiona semakin tersenyum manis mendengar hal tersebut. Rupanya cukup mudah meminta tolong kepada orang asing, pikir nya
Sreggg
'manis' batin tanpa sadar Carl. 'eh! Astaga! Tidak.. tidak! Sihir apa yang digunakannya. Bisa-bisanya aku mengatakan hal memalukan seperti itu' segera menepis pemikiran nya sendiri
" Oh yah." Mengulurkan tangan " Fiona. Anda?."
Carl menerima uluran tangan Fiona " anda bisa memanggil saya Carl." Ucapnya tersenyum manis
Dan dibalas senyuman manis dari Fiona " tidak perlu menggunakan bahasa formal. Cukup panggil aku dengan nama."
" Baiklah." Ia juga tidak suka menggunakan bahasa formal. Apalagi di hadapan musuhnya sendiri
" Jadi, apa yang harus aku lakukan?."
.
.
TBC
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak. like komen dan votenya 😘 banyakin hadiah nya juga biar othor tambah semangat nulis nya ✌️
...klik tanda love dibawah ini 👇...