
Detrick mengusap pipi sang istri dengan sangat lembut. Di kecupnya beberapa kali pipi Fiona. Ia sungguh gemas melihat pipi Fiona yang semakin hari semakin chaby.
" Hmm euhhh." Lenguh Fiona.
Detrick mengecup seluruh wajah sang istri " Selamat pagi, sayang." Sapa Detrick dengan senyum tipis
Fiona mengulas senyum " Pagi." Balasnya. Ia masih belum membuka seluruh mata. Fiona kembali memejamkan mata lalu memeluk tubuh sang suami
Detrick membalas tubuh istrinya yang masih polos akibat pergulatan mereka semalam " Bangun sayang." Bisik Detrick
Fiona melenguh lalu mendongak " Aku masih mengantuk." Ucap Fiona manja lalu kembali memejamkan mata
Detrick Terkekeh " Aku mau berangkat kerja. Bangun yuk." Detrick dengan sabar membangunkan istri tercintanya dengan tutur kata yang lembut
Fiona mendengus. Ia membuka mata lalu mengusel-usel hidung di dada bidang Detrick " Apa kamu harus pergi sayang? " Melihat dengan tatapan memelas
Detrick tersenyum gemas " Kalau kau tidak mau, aku tidak akan pergi."
Wajah Fiona langsung berbinar " Benarkah? " Tanyanya dengan bersemangat
Detrick mengangguk " Tentu saja." Ucapnya
" Hehe asikkk." Kembali membenamkan wajah di dada Detrick " aku malas bangun. Hmm aku ingin tidur saja sepanjang hari." Seru Fiona
Detrick menaikkan sebelah alis " Benarkah? Kau tidak menyesal 'kan." Senyuman yang mengembang di bibie Detrick tentu adalah senyuman mesum
" Tentu saja. Tapi hanya tidur, Tanpa melakukan apapun." Seperti mengetahui isi pikiran suaminya yang selalu mengarah pada selangkangaan.
Detrick terkekeh. " Baiklah aku mengalah. Mandi yuk." Ajak Detrick
Fiona mendengus, padahal tadi dia sudah bilang akan tiduran sepanjang hari. Namun melihat Detrick yang sudah membujuknya beberapa kali untuk mandi akhirnya Fiona menurut.
Mereka mandi dan tidak melakukan apapun. Fiona merasa tubuhnya tidak baik-baik saja " kepalaku pusing." Ucap Fiona yang kini ada di gendongan sang suami setelah mereka mandi
Detrick tentu khawatir " Apa kita ke rumah sakit saja sayang? " Fiona menggeleng
" Tidak perlu. Mungkin hanya sakit biasa." Ucapnya
Detrick dengan sangat lembut mendudukkan tubuh istrinya. Ia mengecup kening istrinya lalu turun ke bibir manis istrinya. Lalu masuk kedalam walk closet. Tak lama Detrick kembali dengan pakaian kasual, ia juga nampak membawa pakaian untuk sang istri.
" Sini aku pakaikan, sayang." Ucap Detrick yang sudah duduk di samping Fiona dan hampir membuka jubah mandi Fiona
Fiona menahan tangan sang suami " Tidak. Biar aku yang melakukan nya."
Detrick menggeleng " Kamu sedang sakit sayang. Biar suami mu ini yang melakukan nya." Tegas Detrick membuat Fiona terdiam tak berani membantah.
Detrick nampak memakai 'kan pakaian istrinya dengan telaten dan sangat lembut. Beberapa kali Detrick meneguk salivah nya melihat tubuh istrinya yang sangat menggugah selera. Namun tidak bisa ia santap.
Setelah selesai, Detrick sempat mencium seluruh wajah istrinya " Kamu istirahat saja yah. Aku mau keluar dulu." Hendak berdiri namun ditahan oleh Fiona
" Kamu mau kemana? Jangan pergi kerja yah." Pinta Fiona dengan wajah yang memelas. Entah mengapa ia tidak ingin Detrick pergi ke mantan kekasihnya, siapa lagi kalau bukan pekerjaan nya.
Detrick memegang tangan Fiona lalu tersenyum " tidak. Aku hanya keluar ke dapur sebentar." Menunduk lalu melumaat bibir Fiona lembut " aku suka kamu manja seperti ini sayang." Menempelkan keningnya dan kening Fiona
Fiona tersenyum " Aku tidak di suka di manja."
" Aku tahu." Detrick pun pergi dari sana. Sedangkan Fiona membaringkan tubuhnya.
Tak lama kemudian Detrick masuk dengan Allen " Sayang kamu tidak apa-apa." Seru Detrick berlari menghampiri sang istri yang sedang tertidur.
Fiona membuka matanya " Aku baik-baik saja. Kepalaku yang sedikit pusing dan aku seperti akan mual." Ucapnya dengan lesu
" All cepat, periksa istriku." Seru Detrick kepada Allen. Detrick tak bisa membendung rasa khawatirnya walaupun di hadapan Fiona ia seperti tidak terlalu khawatir tapi beda jika dibelakang. Ia langsung menghubungi Allen untuk datang.
Fiona Langsung duduk " All? Sejak kapan kamu ada disini? "
__ADS_1
Allen tersenyum " Baru saja, Fiona. Aku kesini karena dihubungi suamimu. Sini aku periksa dulu yah."
Mau tak mau Fiona akhirnya mengangguk walaupun sebenarnya ia merasa tidak perlu diperiksa. Allen dengan tangan yang sedikit gemetar memegang tangan Fiona.
" Ada apa All? Tangan mu gemetar. Kau baik-baik saja? " Tanya Fiona yang merasa tangan Allen yang memegangnya gemetar
Allen tersenyum kaku " aku baik-baik saja." Jawabnya 'bagaimana aku bisa baik-baik saja. Coba lihat wajah suami mu Fio!! Dia seperti akan membunuhku!!' pekik dalam hati
Memang, Detrick menatap tajam Allen yang dengan leluasa memegang tangan istrinya.
Allen mencoba untuk bersikap profesional. Setelah memeriksa detak jantung Fiona, bibirnya melengkungkan senyuman. Allen kemudian berdiri dan berbalik melihat Detrick
" Aku belum bisa memastikannya, tapi dari pemeriksaan menandakan kemungkinan besar Fiona sekarang sedang hamil." Ucap Allen dengan senyuman lebar
Detrick tersentak begitupun Fiona " Apa? Benarkah? " Tanya Detrick dengan wajah yang berbinar senang
Allen yang pertama kalinya melihat wajah menyeramkan Detrick menjadi cerah seperti itu mengangguk canggung " I.. iya." Ucapnya kemudian.
Fiona pun tak kalah terkejutnya. Air mata hampir menetas di balik matanya, ia akan mempunyai anak lagi? Benarkah? Hal yang sama sekali tidak ia duga. Detrick segera menghampiri Fiona dan memeluk tubuh istrinya.
Dikecupnya Beberapa kali wajah Fiona " Kita akan punya bayi lagi sayang." Serunya dengan bersemangat
Fiona mengangguk dengan tersenyum " Iya."
Allen pun tak kalah mengembangkan senyumnya. Ia berdehem saat melihat Detrick dengan khidmat menikmati bibir Wanitanya. 'aku jadi nyamuk disini'
Deheman Allen menghentikan Detrick dan menatap tajam kearah dokter tampan tersebut " Emm agar bisa memastikan nya, bagaimana jika mengetesnya menggunakan tes pack terlebih dahulu? " Mengalihkan pembicaraan saat melihat tatapan tajam Detrick
" Testpack? Alat apa itu? " Tanya Detrick yang memang tidak tahu. Allen mengulum senyum melihat wajah kebingungan Detrick.
Fiona hanya tersenyum " Baiklah. Sayang, Tolong ambilkan benda panjang di dalam laci." Ucap Fiona. Ia memang sering memeriksa apakah ia hamil atau tidak. Fiona benar-benar tak sabar ingin mempunyai anak lagi.
Detrick hanya mengangguk dan membuka laci tepat di samping tempat tidur. Lalu ia mengambil sebuah alat panjang yang nampak tak asing 'hmm bukankah ini benda yang sama yang diperlihatkan Fiona dulu' mengingat saat dimana Fiona datang ke perusahaan dan mengatakan bahwa ia hamil. 'jadi benda ini digunakan untuk itu toh' ia mengangguk sendiri melihat benda tersebut. Masih dia ingat testpack yang pernah Fiona perlihatkan dulu masih ia simpan.
" Yang ini 'kan." Memberikan Fiona tes pack tersebut
Allen terdiam melihat hal itu 'Fiona benar-benar hebat bisa mengendalikan seorang Detrick Reventoon'
Detrick membantu sang istri masuk kedalam kamar mandi lalu menguncinya dari dalam dengan cepat, tak sempat Fiona melayangkan protes. Detrick ingin menemani Fiona berada di dalam kamar mandi. Allen hanya bisa mengulas senyum
" Sudah bucin akut rupanya."
Tak lama kemudian, Fiona dan Detrick keluar dengan wajah yang berseri-seri. Fiona sudah menangis, sedangkan Detrick hanya tersenyum sembari menggendong sang istri. Setelah mengetahui Fiona hamil, Detrick langsung menggendong Fiona dan tidak membiarkan istrinya berjalan.
Dengan perlahan Detrick membaringkan tubuh istrinya diatas ranjang dengan sangat hati-hati. Dikecupnya seluruh wajah Fiona. Ia sungguh sangat senang mengetahui istrinya hamil.
" Tuan sebaiknya, Fiona dibawa ke dokter obygin untuk memeriksa kandungan nya." Ucap Allen yang sedari tadi hanya memperhatikan
" Kau benar." Detrick menyetujui tanpa melihat Allen
Allen yang mengerti pun mengundurkan diri " Kalau begitu saya permisi tuan."
" Terima kasih All." Kata Fiona yang masih berbaring, dimana terlihat Detrick yang sedari tadi mengelus perutnya dan mencium wajah Fiona
Allen mengangguk " Sama-sama." Ucapnya lalu ia benar-benar pergi dari sana.
Setelah cukup lama kepergian Allen, Detrick pun buka suara " Kamu istirahat disini saja yah sayang. Jangan pergi kemana-mana. Ada yang harus aku urus, hanya sebentar." Perintah Detrick dengan nada lembut namun memperlihatkan wajah datar yang artinya tidak boleh dibantah
Fiona mengangguk " Jangan lama-lama." Detrick Mengecup kening Fiona lalu keluar dari sana.
.........
Enhart sudah membawa Rani ke kontrakan. Ia akan menikahi wanita itu lalu membawanya ke apartemen.
Tidak langsung pulang, Enhart terlebih dahulu ke mansion Fiona. Ia harus mengatakan semuanya setelah itu ia baru bisa lega menikahi Rani.
__ADS_1
Di bawanya mobil tersebut dengan kecepatan yang sedikit tinggi karena sudah tidak sabar ingin segera bertemu dengan sang adik lalu menikahi Rani.
Mobil memasuki pekarangan mansion Detrick. Enhart segera turun dari mobil, ia menatap heran orang-orang yang masuk kedalam mansion dengan beberapa peralatan aneh " apa yang terjadi? " Gumam Enhart
Ia melanjutkan langkah masuk kedalam mansion dan berterimu dengan pak Ziel yang tengah mengatur orang-orang tersebut meletakkan barang yang dibawanya
" Pak Ziel." Sapa Enhart
Pak Ziel menoleh " Tuan Enhart? Ada apa? Apa anda mencari nona Fiona? " Tanya Pak Ziel melihat kedatangan Enhart yang tiba-tiba
Enhart mengangguk. Ia melihat sekeliling yang masih terlihat orang-orang membawa beberapa barang masuk kedalam sebuah ruangan " Apa yang mereka lakukan pak? "
Pria tua tersebut tersenyum " Tuan muda yang membelinya untuk kebutuhan nona Fiona agar, nona Fiona tak perlu repot-repot harus keluar dari mansion."
" Fiona? Memangnya Fiona kenapa? " Tidak mungkin 'kan Fiona akan dikurung di dalam mansion, pikir Enhart
" Nona Fiona sedang hamil, dan barang-barang ini adalah peralatan yang akan digunakan dokter pribadi kandungan nona Fiona untuk memeriksa kondisi tubuh nona Fiona." Jelas pak Ziel membuat Enhart melongo
Apa? Adiknya hamil?! " Tunggu, ja.. jadi Fiona hamil lagi? " Dengan senyuman pak Ziel mengangguk
Tak ingin membuang-buang waktu lagi, Enhart segera naik keatas lift untuk menemui sang adik.
.........
Fiona masih duduk di atas ranjang, disampingnya ada suaminya yang tengah memegang erat tangan nya sedangkan di depannya seorang wanita berjas putih.
Fiona sungguh dibuat terkejut saat tiba-tiba, Detrick hampir memindahkan semua isi rumah sakit kedalam mansion. Ia beralasan tidak ingin melihat Fiona harus pula balik ke rumah sakit hanya untuk pemeriksaan.
Alhasil, semua perlengkapan untuk pemeriksaan kandungan dan bahkan dokter beserta perawat didatangkan langsung oleh Detrick
" Kandungan nona sangat lemah. Sepertinya ini karena nona pernah pendarahan dan keguguran. Sebisa mungkin nona harus menjaga kesehatan tubuh anda." Memeriksa beberapa lembar kertas yang sedang ia pegang berisikan riwayat penyakit Fiona.
" Tapi semuanya akan baik-baik saja 'kan." Ia tidak ingin sampai membahayakan anaknya lagi
" Tenang saja tuan, semuanya akan baik-baik saja jika nona Fiona menjaga kesehatan nya dan tidak banyak pikiran."
Fiona mengangguk " Sudah berapa bulan dok? "
Dokter dengan name tag Ciara tersebut tersenyum " Baru 3 Minggu nona. Anda beruntung karena bisa mengetahuinya lebih awal. Di trimester pertama yang sangat rawan sebisa mungkin anda harus menjaga kandungan anda."
" Iya dok terima kasih. Jadi kapan saya bisa melakukan USG? " Bertanya dengan tidak sabar. Ia ingin segera melihat bayinya
Dokter Ciara melirik Detrick untuk mencari penjelasan. Detrick yang mengerti pun melihat istrinya dengan tatapan penuh cinta " Nanti yah sayang. Alatnya masih di pasang, nanti kalau sudah jadi kita lakukan USG kapan saja." Memang benar barang-barang yang dibawa tadi salah satu nya adalah layat monitor yang biasa digunakan untuk USG
Fiona hanya mengangguk, walaupun sedikit tidak mengerti. Ia tiba-tiba mengantuk dan ingin tertidur.
Dokter Ciara undur diri keluar dari sana. Sedangkan Detrick langsung berbaring di sebelah Fiona sembari tangannya mengelus perut rata sang istri dan beberapa kali dikecup. Sedangkan Fiona sudah terlelap
" Sehat-sehat yah nak. Jangan buat ibu mu tersiksa atau ayah akan balas nanti." Bisik Detrick lalu kembali mengecup perut istrinya.
Ia kemudian mensejajarkan tubuh dengan tubuh Fiona. Di pandangi wajah damai sang istri " Terima kasih sayang. Aku benar-benar mencintai mu." Mencium seluruh wajah sang istri.
Baru akan ikut terlelap, tiba-tiba dari arah pintu terdengar ketukan.
Tok.. tok.. tok..
.
.
TBC
Jangan lupa tinggalkan jejak. like komen dan votenya π banyakin hadiah nya juga biar othor tambah semangat nulis nya βοΈ
...klik tanda love dibawah ini π...
__ADS_1
Follow ig othorπ€π π \=> HimaSun_05