
Fiona Turun menggunakan lift dengan deraian air mata. Ia menyandarkan punggungnya di dinding lift. Tangannya kosong, tas beserta makan siang yang ia bawa terjatuh di ruangn Detrick
" Hiks... Padahal dia sendiri yang mengatakan akam menerima kalau aku hamil.. hiks.." pelan-pelan Fiona berjongkok menangis dalam diam
" Tidak!." Mendongak dan segera menghapus air matanya
" Aku yakin ini hanya kesalahpahaman. Dan juga sepertinya Detrick terlalu lelah, jadi tidak bisa berpikir jernih. Aku akan menjelaskan semuanya dengan sangat jelas saat sudah sampai di mansion." Mengangguk yakin.
Wanita itu meyakinkan dirinya bahwa semua pasti akan baik-baik saja. Ia yakin ini hanya sementara, ia akan mencoba menguatkan diri.
Fiona bangkit.
Plak..
Menampar kedua pipi " Ini tidak seperti kamu yang biasanya Fio! Semuanya pasti akan baik-baik saja!." Mengeluarkan semangat empat Lima nya
Ting...
Pintu lift terbuka. Sebelum keluar, Fiona menghapus air mata dan berlatih tersenyum profesional, bukankah itu salah satu keahliannya?
Wanita mengangguk semangat dan seperti biasa ia keluar dari dalam lift. Para karyawan yang melihatnya hanya tersenyum dan dibalas senyuman profesional dari Fiona. Mereka semua bingung dan heran melihat Fiona yang sudah akan pulang padahal biasanya kekasih dari sang CEO tersebut akan pulang bersama dengan kekasih nya.
Bukan hanya itu, terlihat di sudut mata Fiona yang memerah, dan jangan lupakan hidung Fiona yang putih nampak memerah seperti habis menangis. Namun, mereka tidak ingin ikut campur. Bisa-bisa kehidupan nya yang normal tercampur dengan berbagai hal yang menegangkan.
Wanita yang pura-pura tegar dengan senyuman palsu tersebut masuk kedalam mobil, dimana disana sang supir yang memang selalu siap sedia dan tidak akan meninggalkan tempat.
" Anda sudah akan pulang, nona?." Tanyanya tanpa melihat Fiona. Atas ancaman Detrick agar tak boleh sekalipun ia melirik kearah sang kekasih
Fiona berdehem untuk membuat suaranya terdengar seperti biasa " Iya, pak."
Tanpa banyak bertanya, supir mulai melajukan mobil menuju ke mansion. Dalam perjalanan Fiona hanya terdiam, ia mencoba untuk kembali meyakinkan diri bahwa semua akan berjalan dengan keinginannya. Ia menunduk mengelus perutnya yang masih rata " aku yakin semua nya akan baik-baik saja." Gumam kecil sembari Tersenyum manis
Dan sepertinya hal ini berhasil. Semakin mobil Menjauh dari perusahaan, semakin baik pula perasaan Fiona. Ia semakin yakin semuanya akan baik-baik saja.
Hingga tak lama kemudian, Fiona pun sampai ke mansion. Ia turun dari mobil dan langsung masuk kedalam kamar tanpa ingin berpapasan dengan pelayan.
Fiona duduk di pinggir ranjang " astaga. Gambar USG bayi ku sepertinya tertinggal di ruangan Detrick. Bagaimana ini? Bagaimana kalau Detrick membuang nya?."
Ia segera menggeleng cepat " Tidak.. tidak.. bagaimana pun bayi ini adalah anaknya. Dia tidak akan sejah... Ah! Dia 'kan jahat." Menepuk jidat. Lalu membaringkan tubuhnya
" Biarlah. Lain kali aku pergi periksa lagi."
.........
Detrick sudah diamankan di dalam ruangan pribadi nya. Kini Michael, Iden dan Deon tengah membersihkan ruangan yang nampak acak-acakan. Allen sudah kembali ke rumah sakit untuk memeriksa beberapa pasien nya.
Terlihat Deon sibuk dengan beling-beling yang berserakan di atas lantai. Iden bersama Michael merapikan barang-barang dan dokumen-dokumen yang berserak di lantai.
" Eh! Apa ini." Gumam Michael mengangkat sebuah map coklat, berisikan beberapa gambar.
" Ini? Tidak mungkin 'kan. Bagaimana mungkin nona Fiona selingkuh." Gumam nya lagi
" Pak Michael. Coba anda lihat ini." Seru Iden memegang sebuah map coklat persis yang dipegang Michael
" Apa itu?." Iden menyerahkan sebuah hasil USG serta tes pack. " Apa mungkin nona Fiona hamil, pak?." Tanya Iden
__ADS_1
Michael terdiam " Entahlah. Yang paling penting sekarang cari keberadaan nona Fiona." Titah Michael. Ia kembali sadar akan Fiona. Dan untuk Gambar-gambar yang memperlihatkan Fiona selingkuh, ia sembunyikan terlebih dahulu.
" Nona Fiona sekarang berada di mansion tuan Detrick, pak." Lapor Iden. Walaupun ia tidak jadi mengejar Fiona, namun bukan berarti ia akan lepas tangan begitu saja. Iden sudah menyuruh Beberapa anak buahnya untuk mengikuti kekasih sang CEO tadi.
" Bagus."
Mereka kemudian kembali membersihkan ruangan Detrick. Deon hanya diam tak berani angkat bicara. Iden dan Michael terpaksa turun tangan membersihkan ruangan sang bos, sebab hanya mereka yang di percaya, selebihnya tidak. Dan memang sudah peraturan tidak boleh ada yang masuk kedalam kecuali orang-orang tertentu.
Di tengah membersihkan, Michael tak bisa berhenti memikirkan mengenai gambar-gambar yang di temukan berserakan dan juga kejadian tadi
'bisa jadi nona Fiona benar-benar hamil. Tapi, kenapa syndrom tuan Detrick kambuh? Seharusnya tuan Detrick bahagia 'kan. Apa mungkin, tuan Detrick menyangka nona Fiona selingkuh? Tapi apa mungkin?' batin Michael bertanya-tanya
Kembali melihat gambar-gambar yang ada di tangannya sekarang 'dilihat dari beberapa foto ini, terlihat jelas seperti nona Fiona main di belakang tuan Detrick. Tapi, kenapa aku tidak bisa percaya. Akan aku cari tahu' menurut Michael, tidak mungkin seorang seperti Fiona yang pernah berlutut untuk dibiarkan hidup malah membangunkan sisi liar singa yang pernah ia jinakkan
.........
Hari semakin gelap. Fiona sudah bersiap-siap menunggu kepulangan sang kekasih. Ia duduk diteras mansion dengan hati yang cemas. Bagaimana ia memulai percakapan? Apa yang harus ia katakan nanti?
" Kamu pasti bisa Fio. Yang tadi anggaplah tidak pernah terjadi." Walaupun perlakuan Detrick padanya tadi kurang ajar dan tidak bisa dimaafkan, Fiona akan menutup mata untuk hal tersebut.
Mungkin bawaan dari bayinya yang akan selalu memaafkan sang ayah. " Kecuali dia menyuruhku pergi dari kehidupan nya." Gumam Kecil Fiona
Lewat 30 menit, namum Detrick masih belum pulang. Fiona masih setia menunggu. Hingga 60 menit berlalu.
" Kenapa lama sekali? Apa mungkin dia lembur lagi?." Dengan ragu-ragu, Fiona mengambil ponsel dan menghubungi nomor telepon sang kekasih.
Tut.. tut.. Tut..
Tersambung namun tidak ada yang mengangkat " sebenarnya kenapa ini?" Kembali menghubungi namun lagi-lagi tak ada jawaban.
Tut...
" Halo nona." Satu kali bunyi, suara seseorang langsung terdengar menghampiri telinga Fiona
" Michael, apa Detrick..__"
" Nona segeralah kesini dan bawa pulang tuan Detrick. Saya mohon cepatlah kemari, saya akan mengirimkan lokasi saat ini." Ujar cepat Michael
Fiona bengong mendengar Michael berbicara tanpa rem. Sejaka kapan Michael menjadi ibu-ibu cerewet? Pikir Fiona
" Nona?."
Suara yang diseberang menyadarkan Fiona dari lamunannya " Ah! Maaf. Baiklah aku segera kesana." Ucap Fiona. Setelah Panggilan terputus, Fiona yang memang berada di teras mansion, langsung keluar dari mansion.
Ia menghentikan taksi, Fiona sama sekali tidak terpikirkan untuk menggunakan supir pribadi khusus disiapkan Detrick. Ia terlalu cemas, sebenarnya ada apa?
" Mau kemana, nona?." Tanya pria paruh baya yang menjabat seorang supir taksi
" Ke alamat yang tertera disini, pak." Menyodorkan ponsel yang berisi alamat lokasi yang dikirim oleh Michael.
" Anda yakin, nona?." Apa alamatnya tidak salah, pikir pria tersebut
" Iya pak. Cepatlah." Sudah terlihat jelas wanita cantik tersebut buru-buru, tapi masih ditanya yang tidak jelas
Tanpa banyak bertanya lagi, pria paruh baya tersebut melakukan mobil ke tempat yang berada di lokasi yang tertera diponsel pelanggannya.
__ADS_1
Hingga tak berapa lama, mereka pun sampai. " Sudah sampai, nona." Ujar supir taksi tersebut
Fiona menyodorkan uangnya " Terima kasih pak." Setelah itu ia turun dari dalam taksi.
" Ini kan... Hah? Ini tidak salah?." Gumam Fiona bertanya-tanya. Sekarang ia sudah berdiri didepan sebuah club malam. Terdengar suara musik yang menggemas dari dalam. Banyak anak-anak muda yang masuk kedalam club, tak jarang pula orang-orang keluar dalam keadaan mabuk.
Fiona semakin dilanda kekhawatiran. Tanpa pikir panjang ia segera masuk kedalam club tersebut. Fiona yang sempat bekerja disebuah club, memudahkan nya untuk berbaur bersama orang-orang disana.
" Dimana Detrick yah? Aduh.. aku lupa tanya Michael!." Gerutu Fiona. Wanita hamil itu pun beranjak pergi ke sudut-sudut ruangan disana. Ia menekan riwayat telepon terakhir, dan kembali menghubungi orang tersebut
" Halo.. Michael..? " Stengah berteriak. Lantunana musik yang menggema membuat suara tak bisa terdengar
" Nona. Apa anda sudah tiba?." Tanya Michael seperti terkejut dari seberang. Ia sama sekali tidak mendapatkan laporan bahwa kekasih sang tuan muda tersebut sudah sampai. Namun, terdengar Michael yang berbicara santai dan tidak perlu berteriak seperti Fiona
" Apa kau ada disalah satu VVIP room?." Tanya Fiona masih berteriak
Michael menjauhkan ponsel dari daun telinga " Iya. Cepatlah kemari nona, kami ada di ruangan nomor 05." Seru Michael
" Baiklah." Setelah itu Fiona langsung mematikan sambungan. Ia kembali ke kerumunan dan mencoba mencari ruangan bernomor 05.
Fiona mencoba untuk mengabaikan Beberapa pria yang terlihat ingin menggoda nya, bahkan kadang ada yang mencoba mencolek Fiona, namun wanita itu sama sekali tak menggubris. Dengan menggunakan kerumunan orang-orang yang asik berdansa, ia kabur dari beberapa pria nakal.
Hingga Fiona terdampar di sebuah lorong. Terlihat sangat sepi, dan hanya ada beberapa orang yang berjaga di berbagai pintu " Ah. Pasti disini lorong VVIP nya."
Fiona melangkah dengan jantung yang berdetak tak karuan. Untuk apa sang kekasih datang ke club? Apa mungkin? 'tidak! Aku yakin tidak' mencoba menepis pemikiran nya. Tidak mungkin Detrick kembali menjajal wanita malam lagi, pikir Fiona.
Tak jauh Dapat ia lihat seseorang yang dikenalnya " Michael." Seru Fiona
" Nona. Untunglah anda datang dengan selamat." Mengelus dada lega. Ia sudah menghubungi anak buahnya untuk mencari keberadaan Fiona yang tak kunjung datang, padahal sudah dari tadi tiba di club tersebut
Fiona celingak-celinguk " Mana Detrick?." Tanya Fiona
" Itulah mengapa saya memanggil anda kemari nona. Tolong bawa pulang tuan Detrick. Saya tidak ingin tuan Detrick kembali ke kehidupan nya yang seperti dulu lagi." Pinta Michael dengan sangat
" Baiklah. Apakah dia ada didalam?." Tanya Fiona berpura-pura kuat. 'apapun yang terjadi didalam, aku akan tetap percaya pada mu, sayang' batinnya menguatkan diri
Michael pelan-pelan membuka pintu. Terdengar suara beberapa wanita didalam. Aroma tembakau dan wine beserta parfum yang menyengat langsung menampar hidung saat pintu mulai terbuka sedikit.
" Silahkan nona." Fiona mengangguk.
Glek..
Ia pun melangkah masuk.
Deg..
" Sayang..."
.
.
TBC
Jangan lupa tinggalkan jejak. like komen dan votenya 😘 banyakin hadiah nya juga biar othor tambah semangat nulis nya ✌️
__ADS_1
...klik tanda love dibawah ini 👇...