Terjebak Hasrat Majikan

Terjebak Hasrat Majikan
Akhirnya pasrah


__ADS_3

Fiona duduk di balkon kamar sembari memandang keluar jendela. Menatap kosong kearah taman yang tapat berada di samping kamar tidur Fiona.


Menjadi pengangguran kaya yang selama ini di impikan, rupanya tak membuat Fiona sepenuhnya senang. Hampa, dirinya benar-benar merasa hampa. Anaknya sudah pergi, dan pria yang ia cintai mencampakkan nya. Apa yang harus ia lakukan?


Tak ada kerja keras yang harus dilakukan Fiona untuk makan. Walaupun ia bangun saat matahari sudah hampir tenggelam pun tak akan membuat nya jatuh miskin.


" Sayang..." Lirih wanita tersebut. Jujur saja, dalam hati yang paling dalam ia masih sangat mencintai sang kekasih yang masih dia anggap pura-pura.


Ia merindukan sosok pria berbadan tegap tersebut, lengan kekarnya yang selalu memeluk Fiona saat tertidur. Wajah tampannya yang selalu ia lihat walau sangat jarang tersenyum. Tatapan tajam yang menggoda. Fiona rindu, sangat rindu


Enhart yang sedari tadi mengetuk pintu pun tak bisa didengar Fiona karena wanita itu masih asik melamun.


Ceklek..


Enhart pelan-pelan mendorong pintu kamar. Ia meneliti setiap sudut kamar sang adik " Fio.. sayang.." panggil Enhart namun tak mendapat jawaban.


Pria itu kemudian masuk kedalam dan mencari di balkon. Tepat sasaran, Fiona ada disana dan terlihat masih melamun. Pemandangan yang sudah tak asing lagi.


Enhart menghela nafas. Ia tau apa yang dipikirkan sang adik, namun ia tak ingin mengambil resiko. Bagaimana jika adik nya kembali tersakiti? Atau bagaimana jika pria bejat itu tidak menginginkan sang adik? Hal-hal seperti itu yang membuat Enhart enggan untuk melepas adiknya


Dengan langkah pelan Enhart menghampiri sang adik " Jangan melamun terus." Menepuk pundak Fiona. Sontak membuat wanita itu menoleh melihat orang yang menepuknya


" Kakak. Sejak kapan kakak ada dikamar Fio? " Ia sama sekali tak sadar akan tanda-tanda kedatangan Enhart


" Sudah dari tadi. Kakak sudah mengetuk pintu tapi tidak dijawab. Yakudah kakak terobas saja." Sambil mengangkat kedua bahu seolah acuh tak acuh


Fiona terkekeh " Maaf, kak." Lirih nya.


Enhart tersenyum lalu tangannya terangkat mengelus pucuk kepala sang adik " kamu kenapa? Akhir-akhir ini sangat sering melamun? " walaupun sudah mengetahui apa yang dipikirkan Fiona, Enhart tetap ingin bertanya sekedar basa-basi


Fiona mengulum senyum, ia kemudian kembali melihat taman di depannya " Aku merindukan teman-teman ku. Aku juga rindu kakek Bry dan


..." Lirih Fiona tak dapat melanjutkan perkataannya


Enhart yang mendengar nya semakin sedih 'pasti pria itu juga' ingin sekali Enhart bertanya kenapa kamu tidak bisa melupakan pria yang sudah menyampakkan mu?!! Tapi, ia tak ingin menyakiti perasaan sang adik yang akhir-akhir ini sensitif


" Bagaimana kalau kita pergi berbelanja. Bukannya sayang kalau sudah kaya tapi uangnya tidak digunakan. Sekalian untuk mengalihkan pikiran mu." Usul Enhart


Fiona menyunggingkan senyum " Benarkah? Baiklah. Kakak dan kak Sky juga harus ikut yah." Sembari tersenyum lebar. Walau sebenarnya ia tak terlalu bersemangat, tapi Fiona tidak ingin melukai usaha kakak yang ingin menghibur dirinya. Sekalian Fiona ingin melihat-lihat negeri yang sekarang ia tempati.


Enhart mengangguk " Pasti. Kakak yang mengajak jadi kakak juga harus tanggung jawab." Sembari tersenyum hangat 'tidak seperti seseorang. Yang menanam benih tapi tidak dipertanggung jawabkan'


" Baiklah sekarang kamu siap-siap yah. Kakak juga ingin siap-siap sekalian memanggil Sky." Mengelus rambut Fiona


Fion mengangguk. Setelah Enhart keluar dari kamarnya, wanita itu pun memutuskan untuk segera mandi dan bersiap-siap untuk petulangan nya di negeri orang setelah hampir satu bulan tidak pernah Keluar dari mansion karena mood yang tak bisa membaik.


.........

__ADS_1


Beberapa jam sebelumnya di kediaman Mansion utama Reventoon. Terlihat seorang wanita paruh baya namun masih terlihat cantik dengan proposal tubuh bak gitar spanyol tersebut sedang mondar-mandir di depan ruangan sang mertua dengan wajah yang cemas.


Menggigit ujung kuku dan masih terlihat mondar-mandir seperti setrika. " Apa aku masuk saja? Tapi, bagaimana jika ayah menolaknya? " Lagi-lagi ia berpikiran buruk sebelum mencobanya


Ditrian yang sudah sedari tadi melihat sang istri mondar-mandir di depan ruangan sang mertua hanya bisa mendengus kesal. Sudah ia bujuk sang istri untuk menghentikan aksinya namun tak digubris, Ditrian juga sudah menyuruh istrinya untuk segera masuk dan menemui ayahnya namun Lericia gugup dan takut di tolak.


" Leti, sayang. Sudah yah, kita kembali ke kamar. Atau ayo aku temani masuk." Menyentuh pundak sang istri dengan lembut.


Leticia menghentikan langkahnya " Tidak bisa hon. Aku harus bicara dengan ayah agar memberitahu Detrick keberadaan Fiona." Ucap Leticia


Ditrian menghela nafas " Baiklah. Kalau begitu ayo masuk aku temani." Bujuk sekali lagi Ditrian dengan sabar. Perbedaan umur yang cukup jauh membuat Ditrian sudah biasa menghadapi tingkah sang istri


" Ta.. tapi aku takut ayah akan menolak." Memberikan wajah memelas membuat Ditrian tidak bisa menolaknya


Dengan lembut Ditrian kembali memberikan penjelasan " Ayah tidak akan memakan mu sayang. Ayo aku temani yah." Mencium pipi istrinya dengan gemas. Akhirnya Leticia mengangguk.


Ditrian tersenyum senang lalu menggenggam tangan sang istri. Saat ingin mengetuk pintu ruangan Bryanskara, tiba-tiba pintu terbuka


" Ayah.." seru Ditrian


Bryanskara mengerutkan kening heran " apa yang kalian lakukan di depan ruangan ku? " Tanyanya


Ditrian melihat sang istri yang tiba-tiba gugup. Kalau Leticia tidak bicara maka ia yang akan berbicara, namun sepertinya hal itu tidak perlu sebab Leticia segera angkat bicara


" Ayah, apakah ayah tidak bisa memberitahukan keberadaan Fiona pada Detrick? Aku kasihan melihatnya, dia sangat terpuruk." Seru Leticia dengan wajah memelas


" Iya ayah, tolonglah." Timpal Ditrian


" Tapi ayah, Detrick sudah Menyesali semuanya. Sebagai ibu aku tidak tega melihat Putra ku satu-satunya terpuruk dan sangat menyedihkan.. hiks.." akhirnya air mata yang sedari tadi ditahan keluar juga


Ditrian sungguh tak suka melihat air mata sang istri keluar. Dengan Merangkul pundak sang istri " ayah, tolonglah. Kalaupun ayah tidak ingin memberitahukan nya setidaknya jangan menyembunyikan nya juga." Dengan kekesalan yang nampak diwajah.


Ditrian sudah banting tulang mencari keberadaan Fiona, namun ia selalu di halangi sang ayah.


" Apa? Kenapa ayah? Apa ayah tidak kasihan dengan Detrick? " Leticia sama sekali tidak menyangka bahwa selama ini mertua nya ikut menyembunyikan keberadaan Fiona


Bryanskara menghela nafas panjang " Baiklah. Besok aku akan ke Mansion nya." Akhirnya ia pasrah. Bryanskara tak sanggup melihat menantunya menangis sembari mengibah


Mengelus rambut sang menantu " Tenang saja. Besok pasti Detrick akan keluar dari kamarnya." Leticia tersenyum senang mendengar hal tersebut. Ditrian pun ikut senang, ia segera membawa sang istri untuk beristirahat dikamarnya.


Setelah membuat Leticia tertidur, Ditrian keluar dari kamar. Belum sempat ia melangkah meninggalkan pintu kamar tiba-tiba pundaknya ditepuk seseorang


" Oi bro.." seru yang dibelakang, sontak Ditrian menoleh


" Kagetin ajah lu. Pengen buat gue jantungan." Sungut Ditrian Menatap pria sebayanya Yang hanya cengengesan


" Kalo lu dah pergi, yah Leticia tinggal cari yang lain. Susah amat." Sembari cengengesan

__ADS_1


" Ck! Gue seret lu ama gua ke liyang kuburan mampus!. Biar Lily cari pengganti yang lebih muda " tak ingin kalah menghina sang asisten plus sahabat sangklek nya tersebut


Gwen, nama pria paruh baya tersebut mendengus " Gue lagi yang dibawa-bawa. Ah! Udah ah. Gue kesini pengen ngasih laporan. Pak boss." Menunjuk sebuah map. Akhirnya ia kembali ke tujuan awal


" Ayo kita ke tempat aman dulu." Melangkah dan diikuti Gwen dengan mensejahterakan langkahnya. Tempat aman yang dimaksud adalah ruang kerja Ditrian


Ditrian dan Gwen duduk saling berhadapan disofa. Menaruh map tersebut ke atas meja " Kekasih Detrick rupanya bukan orang biasa. Kayanya lu dapat menantu yang diluar kek kerikil tapi dalamnya berlian oyyy." Seru Gwen semangat


" Maksud lu? "


" Ck baca sendiri." Dengan rasa penasaran yang besar Ditrian membuka map tersebut dan mulai membaca semua apa yang tertulis disana


" Edebenderg? Siapa mereka? " Seru Ditrian setelah membaca isinya


" Nama Keluarga menantu lu bego." Kesal Gwen sebab sahabat satunya ini sama sekali tidak peka


" Gue tau tol*l! Maksud gue, apa hubungannya dengan hubungan anak gue."


" Haisss Keluarga Edebenderg adalah keluarga bangsawan yang tiba-tiba hilang beberapa puluh tahun dulu sebab masalah internal. Alexandre Lemos Edebenderg adalah keturunan terakhir dan Farhan Edebenderg adalah orang terakhir yang menaruh nama keluarga Edebenderg di belakang namanya. Sekarang keluarga Edebenderg sebagian berubah menjadi keluarga Eren yang bahkan mereka sendiri tidak mengetahui identitas nya sendiri dan sudah puas dengan apa yang mereka punya sekarang." Jelas panjang lebar Gwen dalam satu tarikan nafas


Ditrian bengong menatap tak percaya pada sahabat nya tersebut.


Prok.. prok.. prok..


Sembari menepuk tangan " Gila lu! Makan apaan lu bisa ngomong gak pake rem. Nih minum dulu." Menyodorkan air minum


Gwen mendengus kesal. Kenapa malah bahas yang lain, gerutu nya. Dengan kesal ia mengambil air minum tersebut lalu diteguknya sampai habis. Ia juga kehausan karena penjelasan panjang lebar nya


" Jadi, calon menantu gue tuh bangsawan yak. Ck.. ck.. ck anak tengik itu bisa juga cari calon bini. Gak salah emang. Anak siapa dulu." Tersenyum bangga


Gwen memutar bola mata " Setidaknya Detrick gak ngikutin langkah lu jadi pedofil."


" Ck! Ngaca oyyy.. lu lupa siapa yang lu ajak ke pelaminan. Adik ipar gue bego." Gwen cengengesan mendengarnya. Benar juga yah, pikirnya


" Napa lu gak kirim Detrick ke Indonesia ajah dulu? Kaya kita-kita. Coba lihat sekarang, jodoh kita lancar." Seru nya dengan bangga. Yap mereka berdua adalah lulusan SMA negara +62 tersebut. Makanya mereka sangat lancar berbahasa Indonesia


" Ck! Entar pas pulang sifatnya jadi kaya kita lagi. Bar-bar nya udah gak ketolongan." Ketus Ditrian. Walaupun sebenarnya dulu ia ingin mengirim Detrick ke Indonesia, namun ia mengurungkan niatnya sebab Detrick menolak


" Heheh benar juga yah. Kita ajah dulu yang kalem, eh pas pulang udah jadi kaya gini."


" Hahaha nah itu tau."


.


.


TBC

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak. like komen dan votenya 😘 banyakin hadiah nya juga biar othor tambah semangat nulis nya ✌️


...klik tanda love dibawah ini 👇...


__ADS_2