
Keesokan harinya, Fiona yang mempunyai kelas pagi terpaksa harus meninggalkan pekerjaannya menjadi Office girl untuk hari ini.
Setelah kuliah yang seperti biasa, ah yang membedakan hari ini ada banyak orang yang membicarakan mengenai pertunangan Geo dan Erin, membuat heboh satu kampus.
Semua orang mengecam Erin dan Geo yang bisa-bisa nya mengkhianati Fiona. Yah, jujur saja Fiona sama sekali tidak memusingkan nya. Mau itu mengenai pertunangan Erin dan Geo ataupun semua perkataan orang-orang mengenai mereka bertiga.
Tapi, kebanyakan dari mereka juga iba terhadap Fiona yang bahkan Fiona sendiri tidak merasa sakit hati akan pertunangan tersebut, ia bahkan sudah melupakan hal itu.
Fiona juga cukup tenang menjalani kehidupan kuliahnya hari ini, kenapa tidak? Geo si kutu pengganggu sudah tidak terlihat hari ini, mungkin sibuk mengurusi acara pertunangan nya.
Setelah dari kampus, siang harinya Fiona ke minimarket untuk bekerja sambilan.
Sesampainya di minimarket Fiona langsung bekerja, karena memang sudah masuk shift nya.
Skip...
Setelah masuk pergantian jam, Kini giliran Fiona yang istirahat. Ia sedang duduk di depan minimarket bersama Kakek Bian yang lagi-lagi datang menemuinya.
" Oh yah, selain bekerja di sini. Fiona juga bekerja di mana lagi?." Tanya kakek Bry. Ingat bukan? Kakek Bry tidak pernah sekalipun mencari latar belakang Fiona ataupun apa yang di lakukan Fiona, karena ia ingin agar gadis manis di depannya ini yang mengatakan nya secara sukarela
" Hmm selain bekerja di minimarket, pagi nya aku juga biasanya bekerja menjadi Office girl." Ucap Fiona
" Kuliahmu?."
" Bekerja bukan prioritas utama aku, kalau aku tidak ada kelas maka aku akan bekerja." Jawabnya " Tapi, kakek tahu, bos di tempat ku bekerja sebagai office girl. Benar-benar menyebalkan." Fiona mulai bersungut-sungut
" Ho? Memangnya dia kenapa?."
" Haiss aku ingin sekali membuangnya ke laut. Entah apa yang ada di pikirannya. Iya aku tahu dia memang segala-galanya, tapi sifatnya yang dingin, sombong dan angkuh itu sungguh menyebalkan."
Kakek Bry terkekeh, ia tersenyum melihat Fiona yang bersungut-sungut menceritakan mengenai bosnya yang tidak di ketahui kakek Bry, ia merasa lucu sebab walaupun Fiona bercerita seperti orang yang kesal tapi ia terlihat senang dan gembira membicarakan tentang bosnya
" Hahhh! Kakek juga punya masalah." Ujar kakek Bry setelah Fiona puas memaki Detrick
" Masalah apa kek?."
" Kakek pernah bercerita tentang kedua cucu kakek 'kan?." Fiona mengangguk
" Keduanya tidak ada yang manis-manis. Yang sulung sangat dingin dan angkuh, bahkan saat kecil dia tidak pernah bertingkah manis, sedangkan adik sepupunya memang manis, tapi karena dia mengagumi kakak sepupunya dia jadi mencoba untuk seperti kakak nya." Ucapnya dengan nada lesu
" Hahaha bukannya hubungan mereka sangat baik?." Ucap Fiona, dari ucapan kakek Bry hal itulah yang bisa ia simpulkan
" Iya mereka memang sangat akur, sangking akurnya hampir setiap saat mereka bertengkar. Walaupun pertengkaran mereka terlihat manis, karena si bungsu yang sengaja mencari masalah dengan si sulung agar di perhatikan." Kakek Bry tertawa mengingat tingkah kedua cucunya
" Hmm jadi apa masalah nya, kek? Bukannya mereka sangat manis?."
Kakek Bry menggeleng pelan " Kakek tidak akan se bosan ini jika cucu-cucu kakek manis-manis seperti mu."
" Awal nya kakek memberikan kompetisi kepada kedua cucu kakek. Untuk warisan yang akan kakek turun 'kan." Kakek Bry mulai bercerita
__ADS_1
Fiona hanya diam mendengarkan, ia tidak berhak untuk memotong. Lagi pula Fiona juga ikut penasaran hal apa yang sebenarnya mengganggu pikiran orang kaya.
" Kakek menyuruh mereka mendirikan perusahaan nya sendiri, Cucu kakek yang sulung memang sangat hebat dalam hal bisnis, dan kompetisi ini bukanlah hal besar menurut nya, sedangkan si bungsu karena mengagumi kakaknya, ia juga jadi bersemangat membangun perusahaan."
" Dan Syukurlah perusahaan yang di bangun cucu kakek yang sulung sudah sangat berkembang bahkan dia bilang sudah tidak memerlukan hak waris lagi, sedangkan si bungsu juga sudah tidak memerlukan hak waris lagi walaupun perusahaan nya belum terlalu berkembang tapi dia hanya mengikuti jejak kakaknya." Lesu kakek Bian, ia pusing gara-gara kompetisi yang ia buat, harapan nya harus pupus. Kedua cucunya sudah tidak menginginkan hak waris.
'wah... Dasar orang kaya!' monolog Fiona dalam hati. Kalau bisa biarkan dirinya yang mengambil semua hak waris tersebut, pikir Fiona. 'astaga aku tidak boleh serakah'
" jadi masalah nya, kakek Bry sudah tidak tahu akan memberikan hak waris kakek ke siapa?." Tanya Fiona
Kakek Bry mengangguk lemah " Benar."
Fiona tersenyum lalu merangkul kakek Bry " Tenang saja, kek. Sehebat-hebatnya seorang anak, tempatnya pulang tetaplah kerumah orang tuanya." Ucapnya bijak
Kakek Bry tersenyum " Memang cucu kakek yang manis ini sangat pintar." Mengelus kepala Fiona " Besok kakek akan ke luar kota, jadi kemungkinan kakek tidak akan datang besok." Lanjut kakek Bry
Fiona mengangguk " baiklah, tapi kakek harus sehat-sehat selalu. Jangan lupa makan, dan hati-hati di jalan." Ucap Fiona
Kakek Bry semakin tersenyum, ia juga semakin menyukai Fiona. " Baiklah, kamu juga." Dan Fiona mengangguk
.........
Lima hari berlalu dengan cepat, hari ini adalah kepulangan Detrick dari perjalanan bisnisnya. Kini, Fiona sedang menunggu Detrick di bandara, salah satu tugasnya adalah Melayani Detrick.
Sudah dari 30 menit yang lalu Fiona menunggu di bandara bersama seorang Supir yang mengantarkannya.
Hingga tak lama kemudian seorang pria gagah nan tampan memakai jas hitam yang nampak senada dengan kepribadian nya berjalan mendekati Fiona.
Dengan wajah angkuh dan datar Detrick melangkah mendekati Fiona yang sudah menunggu sambil memegang sebuah papan bertuliskan nama Detrick. Bukannya marah atau malu, Detrick malah menganggap tingkah Fiona sangat menggemaskan.
" Kenapa dia sangat menggemaskan sih." Gumam Detrick tidak sabar untuk melihat langsung dengan dekat wajah Fiona.
Michael yang kebetulan ada di belakang Detrick, menganga mendengar gumaman sang bos. 'menggemaskan? Bukannya tindakan nona Fiona sangat memalukan!!. Hahhh! Apa ini yang namanya tai kucing rasa coklat?!'
" Selamat datang kembali, tuan. Syukurlah anda pulang dengan selamat." Sambut Fiona dengan senyum manis, ia menurunkan papan yang sedari tadi di pegang nya
" Apa yang kau lakukan dengan papan jelek itu." Menunjuk papan yang di buat seadanya oleh Fiona
" Hmm saya membuat papan ini agar anda bisa langsung melihat saya saat tiba di bandara. Dan sepertinya saya tidak sia-sia membuatnya." Jelasnya
" Bahkan tanpa papan itu, aku bisa langsung tahu kamu ada dimana walaupun di dalam kerumunan sekali pun." Gumam Detrick diam-diam tersenyum
" Ya? Ada apa, tuan?." Tanya Fiona, ia mendengar sedikit gumaman Detrick
" Ehem... Ti.. tidak! Ayo kita kembali." Ujar Detrick melangkah terlebih dahulu, Fiona mengejar Detrick dari arah belakang.
Sedangkan Michael serta supir yang membawa Fiona terbengong di tempat. 'tengkuk tuan Detrick memerah??!! Hahhhh!!!!'
Michael menyadarkan dari lamunannya saat ia melihat Detrick dan Fiona yang sudah jauh disana. " Berikan kunci mobilnya, kau bisa pulang naik taksi." Ucap Michael pada supir tersebut
__ADS_1
Supir itu hanya mengangguk dan memberikan Kunci mobil kepada Atasannya. Ia harus menerima nasib nya yang harus pulang dengan menggunakan taksi.
Setelah sampai di parkiran, Michael segera membukakan pintu mobil untuk sang tuan, sedangkan Fiona masuk sendiri di kursi belakang samping Detrick.
Mobil pun melaju membelah jalan yang mulai padat, karena orang-orang sedang hulur hilir untuk pulang ke rumah setelah berjuang mencari nafkah. Memang benar, rumah adalah tempat yang paling tepat untuk pulang saat sedang lelah.
Di dalam mobil tidak ada pembicaraan. Jujur saja Detrick sangat ingin meluapkan kerinduan nya dengan Fiona, entah kenapa ia sangat merindukan pelukan hangat dari pelayan nya yang satu ini.
Tapi, Detrick mencoba untuk menahan. Lagi pula tidak benar juga ia memeluk tubuh seorang wanita begitu saja. Pikirnya. Sungguh sudah sangat terlambat ia berpikiran seperti ini.
Fiona bingung saat melihat mobil tidak menuju ke arah mansion. Tapi, ia diam saja dan hanya mengikuti. Sampai Michael menghentikan mobil di sebuah butik yang sangat terkenal di kotanya.
" Turunlah." Titah Detrick
Fiona hanya mengangguk dan turun dari mobil sesuai instruksi sang bos, ia melihat bangunan di depannya. Butik 'Emma butique' namanya.
'apa tuan Detrick berniat membeli pakaian yah? Memang yah, orang kaya memang beda'
" Apa yang kau lakukan? Ayo masuk!." Ujar Detrick saat melihat Fiona yang hanya diam berdiri mematung di samping mobil
" Ah! Ba.. baik tuan." Berlari kecil menghampiri sang bos. Karena asik melamun, ia jadi tidak sadar kalau Detrick sudah keluar dari dalam mobil dan bahkan sudah hampir masuk kedalam butik
Ketiga orang itu kemudian masuk kedalam butik. Semua pegawai sontak menunduk hormat saat ketiganya masuk, membuat Fiona cukup terkejut namun ia mencoba tenang 'tenanglah Fio. Ini semua untuk tuan Detrick, Bukan untuk mu' mencoba menjaga keprofesionalnya
" Selamat datang tuan muda Reventoon." Sambut seorang wanita paruh baya namun masih cukup cantik
" Hmm." Seperti kebiasaannya, Detrick hanya berdehem
" Jadi, gadis ini?." Melihat ke arah Fiona.
Merasa di lirik, Fiona celingak-celingukan. Mencoba untuk tidak merasa kalau dirinya lah yang di maksud 'bukan aku 'kan. Tapi, kenapa perasaan ku tiba-tiba tidak enak begini'
" Lakukan seperti yang aku katakan." Ujar Detrick
Madam Emma tersenyum senang " Gadis yang cantik dan manis. Walaupun sedikit pendek, tapi itu nilai plus nya." Menepuk kedua tangannya dan tiba-tiba empat orang wanita datang dan membawa Fiona
" Eh.. eh.. tu.. tunggu dulu. Tu.. tuan Detrick, apa ada yang bisa anda katakan terlebih dahulu pada saya?." Tanya Fiona, tangannya sudah di pegang oleh ke empat wanita dengan pakaian yang sama
" Turuti saja perkataan wanita tua itu." Ucap Detrick datar lalu duduk di sofa
" Apa?." Fiona sedikit bingung
" Haha kamu memang selalu pandai bercanda tuan Detrick Reventoon." Menekankan kata-kata nya
.
.
TBC
__ADS_1
jangan lupa tinggalkan jejak kalian. like komen dan votenya 😘 banyakin hadiah nya juga biar othor tambah semangat nulis nya ✌️