
Tak lama kemudian mobil pun berhenti " Sudah sampai Fio." Ujar Detrick melepas sabuk pengaman
" Buat apa kita datang kesini? " Menatap sebuah restoran Dari balik jendela mobil
" Jangan banyak tanya. Ayo cepat kita turun." Rupanya Detrick sudah ada didepan Fiona, diluar. Detrick juga sudah membuka pintu mobil
Dengan sejuta tanya, Fiona pun turun dari dalam mobil dan langsung digandeng Detrick. Mereka terus berjalan masuk kedalam restoran tersebut
" Selamat datang tuan." Seru seseorang memakai jas formal yang berada diruangan VIP. Ia langsung berdiri ketika melihat Detrick masuk kedalam seraya menggandeng tangan seorang wanita
Menarik kursi untuk sang kekasih. Setelah Fiona duduk, ia pun ikut duduk juga " Hmm bagaimana? " Tanyanya kemudian
" Sesuai perinta anda. Kini anda dan calon istri anda hanya harus menandatangani surat-surat tersebut." Mengeluarkan sebuah map berisi beberapa dokumen dan meletakkan diatas meja kosong yang memang sengaja tidak di isi makanan atau minuman
Detrick tersenyum senang, sedangkan Fiona masih melongo saat Pria tersebut mengatakan calon istri. Tentu saja ia sangat senang.
Detrick terlihat menandatangani sebuah dokumen, setelah nya ia tersenyum tipis. Lalu memberikannya pada Fiona " Fio, ayo sekarang tanda tangani sayang."
Fiona yang masih terbawa suasana hanya menurut dan manandatangani dokumen tersebut. Sekali lagi, Detrick tersenyum yang membuat pria tersebut hanya bisa menelan Saliva melihat seorang Detrick Reventoon yang tersenyum
" Selamat tuan. Sekarang anda sudah menjadi seorang suami dari nona Fiona." Menjabat tangan Detrick dengan senyuman. Tentu, Detrick membalasnya. Ia mulai berpikir hadiah apa yang pantas untuk pengacara nya sekarang karena dia adalah orang pertama yang memberikan selamat pada nya
" Tentu saja." Bukannya berterima kasih, Detrick malah menyombongkan diri. Yah memang seperti itulah dia dan semua orang tahu akan hal itu
Fiona terkesiap mendengar penuturan dari pria asing tersebut " Apa? Suami istri? " Tanpa sadar ia memekik
Detrick menoleh melihat Fiona yang nampak terkejut dan seakan meminta penjelasan dari raut wajahnya. Detrick melirik sekilas kearah pengacara tersebut. Seakan mengerti, pengacara tersebut pun pamit undur diri terlebih dahulu
Dan kini tinggallah Fiona dan Detrick disana. Pelan-pelan Detrick memegang tangan Fiona lembut " Fio, kamu tahu sendiri bagaimana takutnya aku kehilanganmu. Aku tidak bisa membayangkan hidup tanpamu. Aku sungguh mencintaimu." Ucapnya dengan nada lembut namun terdengar tegas
Blushh
Wajah putih Fiona langsung berubah memerah mendengar penuturan sang kekasih. Memang saat mereka melakukan ehem.. ehem.. Detrick sempat mengungkapkan perasaan, tapi setelah didengar langsung dan dalam keadaan sadar rasanya 'sangat mendebarkan' pekik Fiona dalam hati
'eh! Bukan ini...' mencoba untuk merilekskan perasaan, Fiona berdehem " Tapi kenapa harus memutuskan secara sepihak? Kenapa harus hari ini? " Tanya Fiona heran. Dia tidak marah, sebaliknya ia sangat senang. Siapa yang tidak senang pria yang dicintai tiba-tiba menikahi mu. Namun, ia hanya heran bukannya bisa tunggu besok? Pikir Fiona
Detrick menghela nafas pelan. Kenapa harus dijelaskan satu-satu, ahh sifat nya yang menganggap semua orang mirip Michael tak akan pernah berubah
" Untuk mengikat mu untuk selalu berada di sisiku hanya dengan pernikahan. Dan aku tidak keberatan, aku juga mencintaimu. Lagipula ini juga usulan salah satu reader, tidak bisa ditolak." Menjelaskan dengan wajah yang serius
Fiona hanya diam mendengarkan. Detrick menatap wajah sang kekasih yang terlihat datar, tiba-tiba ia menjadi gugup " emm a.. apa kau marah? " Bertanya dengan hati-hati. Memang hanya Fiona yang dapat menundukkan seorang Detrick Reventoon
" Ma.. maafkan aku, aku hanya takut kamu pergi lagi. Maaf." Lirih Detrick dengan sendu. Kepalanya yang selalu di dongakkan kini tertunduk
Fiona terharu. Iyya, bukan marah namum terharu. Ia sama sekali tidak marah. Bahkan sangat bahagia. Wanita itu memeluk tubuh sang kekasih, eh ralat maksud nya suami. Membuat Detrick terkesiap lalu membalas pelukan sang istri " aku tidak marah, malah sangat senang."
" Hmm aku tahu. Wanita mana yang tidak senang, aku nikahi." Ucapnya dengan bangga. Tangannya terus mengelus surai panjang Fiona
Fiona Terkekeh, ia mendongak melihat wajah Detrick dan dihadiahi kecupan singkat dari Detrick " Apa kakek Bry sudah tahu? Atau kakakku juga sudah tahu? " Tanyanya
" Tidak ada yang tahu kecuali kita berdua, Michael dan juga pengacara ku. Hmm tapi mungkin Kakek sudah mengetahui nya." Tidak akan ada yang bisa dirahasiakan dari seorang Bryanskara
" Apa!! Jadi tidak ada yang tahu." Pekik wanita cantik tersebut
" Iya. Aku langsung menyuruh Michael menyiapkan semuanya setelah mandi tadi." Jawaban yang sangat santai keluar begitu saja membuat Fiona melongo
Orang kaya memang beda 'eh! Aku 'kan orang kaya juga' terkekeh sendiri
Melepas pelukannya " Kalau begitu kita harus memberi tahu kakek Bry, kedua orang tuamu dan juga kakak-kakak ku." Katanya kemudian
" Kenapa harus memberitahu mereka. Tidak berguna, mending kita siap-siap."
__ADS_1
Fiona berdecak dalam hati. Rupanya sang pria tidak sepenuhnya berubah " Kita harus memberikan tahu mereka. Hubungan suami-istri itu bukan hanya sekedar menyatukan dua insan, namun dua keluarga besar." Menggenggam lembut tangan sang suami. Ahh... Rasanya canggung menyebut kata suami
Detrick mengembuskan nafas kasar " Baiklah. Tapi sebelum itu, sebaiknya kita bersiap-siap." Akhirnya ia pasrah. Detrick tak bisa membantah perkataan sang istri
Kening Fiona mengerut " Siap-siap untuk apa? "
Detrick tersenyum licik. Mendekat ketelinga Fiona " Pergi Bulan madu." Sembari menghembuskan nafas halus ketelinga Fiona membuat empunya merinding
Blushh...
Wajah putih Fiona berubah memerah merona mendengar nya. Belum juga ada satu jam mereka disahkan menjadi suami istri tapi otak suaminya sudah langsung menjerumus ke acara bulan madu
" Tu.. tunggu dulu. Sebaiknya kita memberitahu keluarga mu tentang pernikahan mendadak kita." Memalingkan wajah yang memerah
Detrick berdecih " Keluarga kita, sayang.." menekankan kata-kata nya
Menggaruk tengkuknya " Heheh iya sayang. Maksudku keluarga kita." Detrick tersenyum lalu mengecup bibir sang istri
" Baiklah ayo."
.........
Dengan saling bergandengan, kedua orang tersebut masuk kedalam mansion. Para pelayan dan pekerja yang Melihat hal tersebut tersenyum senang. Akhirnya sang tuan muda terlihat bahagia, pikir mereka. Hanya dengan melihat wajah Detrick yang nampak berbinar-binar sudah mengatakan semuanya
Fiona berhenti saat melihat sebuah mobil yang tak asing terparkir di depan mansion. Detrick ikut berhenti dan menatap sang kekasih " Mobil ini? " Menunjuk sebuah mobil berwarna putih
Detrick mengikuti arah tunjukkan Fiona. Terdengar decakan keras dari pria tersebut membuat Fiona menyerngit bingung. Mobil yang tak asing dan respon suaminya yang terlihat tidak senang membuat nya bertanya-tanya
Tanpa banyak bicara, Detrick segera menarik tangan wanita nya untuk masuk kedalam mansion. Ia ingin agar masalahnya selesai hari ini, dan hari ini juga ia ingin pergi berbulan madu.
Fiona hanya mengikuti langkah sang suami.
Pintu yang memang tidak tertutup memudahkan mereka untuk langsung masuk kedalam. Keduanya melangkah beriringan dengan bergandengan. Semakin masuk mereka melangkah, dapat terdengar suara orang-orang yang sedang berbicara. 'suara yang tidak asing' batin Fiona
Leticia yang melihat kedatangan sang putra langsung berdiri. Ia terkejut melihat siapa yang dibawa putra tunggalnya tersebut " Detrick.." lirih Leticia
Kakek Bry dan Ditrian tersenyum tipis melihat pria angkuh tersebut nampak tersenyum tipis juga.
" Ayah, ibu, kakek ada yang ingin aku beritahu." Tak ingin buang waktu, ia ingin segera menyelesaikan urusannya. Bahkan mereka berdua masih berdiri dan belum duduk
Kedua pria yang duduk memunggungi Detrick dan Fiona segera berdiri dan berbalik melihat ke arah Detrick.
" Kakak." Pekik Fiona saat melihat Enhart disana yang juga ikut terkejut melihat dirinya.
" Fio! Apa yang kau lakukan disini? " Ia maju dan hendak memeluk Fiona. Fiona pun ingin memeluk sang kakak.
Sedangkan Detrick yang melihat wajah sang istri yang nampak sangat bersemangat melihat pria lain membuat dadanya sesak. Ia tidak suka melihat Fiona tersenyum kepada Pria lain selain dirinya.
Inikah yang namanya cemburu?
Detrick langsung menyembunyikan Fiona di belakangnya membuat mereka semuanya heran kecuali Ditrian dan juga kakek Bry.
" Hei.. lepaskan adikku." Seru Enhart tak terima
Detrick berdecih " Dia wanita ku." Pria tersebut tak mau kalah. Sedangkan Fiona hanya melongo di balik punggung kekar sang suami
Enhart menggeram kesal. Sial! Padahal seharusnya dia yang lebih berhak " Dia adikku sialan! " Umpat Enhart
" Kakak..! " Tegur Fiona. Wanita itu tidak menyukai jika kakaknya yang selalu ramah dan lembut kepadanya mengumpat dengan kata kasar. Apalagi yang dimaki adalah suaminya
Detrick tersenyum sinis. Pria tersebut menarik Fiona dan langsung mendekapnya. Di kecupnya kepala sang istri berkali-kali membuat Enhart dan Sky memutar bola mata. Sedangkan Ditrian dan Bryanskara berdecih melihat hal tersebut kecuali Leticia yang tersenyum malu-malu.
__ADS_1
Ah! Fiona juga tersenyum malu-malu. Bahkan wajahnya sudah memerah bak kepiting rebus. Namun ia tak bisa mencegah Detrick " Dia istriku. Aku yang lebih berhak." Senyuman kemenangan terukir jelas di bibir Detrick
Namun tidak dengan beberapa orang disana " Apa!! Istri!! " Pekik bersamaan Enhart, Sky dan Leticia. Sedangkan Bryanskara dan Ditrian hanya mengulum senyum. Keduanya sudah tahu akan berita tersebut
" Hei... Jangan mengatakan omong kosong! Baru dua hari kami tiba di negara ini." Mana mungkin Detrick sudah memperistri sang adik
Kening Detrick mengerut " apa? Dua hari? " Menunduk menatap Fiona yang tengah di dekapnya. Fiona ikut mendongak " Benar, sayang? Dua hari yang lalu kamu sudah tiba di negara ini? " Bertanya dengan wajah datar
Glek..
Entah mengapa namun dibalik wajah datar sang suami, Fiona bisa melihat kekesalan yang amat besar disana 'mampus' tidak ingin memperpanjang masalah, Fiona mencoba berkilah
" Tentu saja! Dua hari yang lalu kami tiba." Beo Enhart. Fiona menatap tajam sang kakak. Ia mengutuk sang kakak yang langsung ceplos
Detrick tersenyum menyeringai " Oh... Begitu yah.." membisik ditelinga Fiona " Awas kamu! " Dengan suara yang seksuall. Seharusnya sang wanita harus langsung menemuinya setelah tiba di negara ini, pikir Detrick
" Hei.. kau belum menjawab pertanyaan ku! Kapan kalian menikah? " Tanya Enhart lagi.
" Tunggu dulu. Sebaiknya kita bicarakan baik-baik terlebih dahulu." Leticia menengahi. Wanita berdarah Indonesia itu kurang suka berbicara hal serius sembari berdiri.
.........
Ketujuh orang tersebut kini duduk di sofa. Detrick duduk bersama Fiona, Ditrian bersama sang istri dan Enhart bersama Sky, sedangkan Bryanskara sendiri di kursi tunggal.
Tanpa basa-basi lagi, Enhart langsung berbicara ke intinya " Sejak kapan kalian menikah? " Pertanyaan yang tadi kembali di ulang
Dengan santai Detrick menjawab " Tadi." Singkatnya memainkan jari-jari sang istri yang di genggam. Sedangkan Fiona tersenyum kaku. Bagaimana caranya menjelaskan kepada sang kakak, pikir Fiona
" Apa? Tadi!!? " Bukan Enhart yang teriak, melainkan Leticia yang juga sama sekali tidak mengetahui apa yang telah terjadi.
Ditrian segera mengelus pundak sang istri untuk menenangkan nya. Leticia menarik nafas lalu membuangnya pelan " Detrick, jelaskan secara rinci." Seru Leticia dengan wajah serius
Melihat wajah serius sang ibu membuat Detrick menghentikan acara memainkan jari Fiona. Ia juga ikut serius " Iya bu, baru saja aku dan Fiona menandatangani surat nikah. Dan rencanaku kesini ingin mengatakan pada kalian lalu setelah nya aku ingin pergi berbulan madu." Menjelaskan dengan rinci dan tegas
" Apa! Bulan madu!! " Pekik Enhart dan Leticia bersamaan. Bahkan Bryanskara, Ditrian dan Sky terkekeh geli mendengar penuturan Detrick. Baru tadi menikah, sudah memikirkan bulan madu.
" Emm anu.. maaf.. kami tidak memberitahu kan sebelumnya pada bibi dan kakak, karena semuanya terjadi begitu saja dan tiba-tiba." Jelas Fiona. Ia sendiri juga tak tahu akan langsung menjadi istri seorang Detrick Reventoon
" Itu bukan salah mu, nak. Ck Detrick kenapa kau mengambil keputusan tiba-tiba seperti ini! " Leticia menatap tajam Detrick. Detrick yang tahu kali ini sang ibu marah menghela nafas panjang
" Maaf bu. Aku tidak ingin kecolongan lagi." Hanya ada dua wanita yang bisa membuat seorang Detrick Reventoon mengeluarkan kata-kata maaf. Kalau bukan Fiona, yah ibunya
Enhart berdecak " Makanya jangan membuangnya begitu saja." Sindir Enhart menatap sinis kearah adik iparnya sekarang. " Sayang, lain kali katakan pada kakak kalau ingin mengambil keputusan seperti ini." Suaranya berubah lembut saat berbicara kepada Fiona
Fiona menunduk " Maaf, kak." Lirih nya
" Hei, aku tidak menyalahkan mu Sayang. Ini semua salah suami mu itu."
Detrick menggeram " Jangan memanggil istriku dengan kata-kata sayang! " Telinganya terganggu mendengar panggilan tersebut
" Terserah aku."
" Kau.." tangan lentik Fiona segera mengelus lengan sang kekasih. Kemarahan Detrick langsung sirna saat ia merasakan sentuhan dari sang istri
.
.
TBC
Jangan lupa tinggalkan jejak. like komen dan votenya 😘 banyakin hadiah nya juga biar othor tambah semangat nulis nya ✌️
__ADS_1
...klik tanda love dibawah ini 👇...