
Detrick terdiam, ia sudah mempertimbangkan sikap seperti apa yang akan ia berikan pada Fiona. Gadis mungil cantik ini hanya akan berada di sisi nya selama setahun, ia tidak boleh memberikan perhatian lebih padanya.
" Aku tidak pernah sarapan." Ucap Detrick datar
" Karena itu sekarang anda harus sarapan. Bukannya anda punya banyak pekerjaan? Isi tubuh anda dengan energi, barulah anda bisa bekerja dengan baik." Menjelaskan dengan semangat
" Kau tahu aku punya banyak pekerjaan, jadi jangan ganggu aku!." Ketusnya dan hendak berbalik menuju pintu
" Eh! Tuan, tapi sayang dengan makanan yang sudah saya buat." Bahan masakan yang digunakan nya tidak gratis, mana mungkin Fiona membiarkan nya begitu saja
Detrick kembali berbalik melihat Fiona dengan tatapan jengkel " Itu urusan mu! Bukan urusan ku. Habiskan makan yang kau buat! Jangan ganggu aku!." Tegasnya lalu pergi meninggalkan Fiona yang mematung
" A.. apa.. haiisss aku kira setidaknya dia akan mencicipi nya sedikit." Gerutu Fiona
" Hmm sepertinya tuan muda masih tidak ingin sarapan." Ujar pak Ziel yang memang sedari tadi ada disana memperhatikan interaksi kedua anak muda tadi.
Ia sempat meragukan pendapat nya mengenai Fiona yang spesial di mata sang young msr, bagaimana Detrick yang menolak mentah-mentah makanan buatan Fiona membuat nya menjadi ragu. Tapi, saat melihat bagaimana tuan mudanya hanya membentak Fiona, kembali membuat pak Ziel yakin kalau gadis mungil itu spesial di mata sang young msr
Fiona menghela nafas kasar 'apa yang harus aku lakukan dengan nasi goreng buatanku'
" Pak Ziel, apa anda sudah sarapan?." Tanya Fiona
Pak Ziel memiringkan sedikit kepalanya " belum nona." Heran dengan pertanyaan Fiona
" Bagus!." Ujar Fiona
" Hmm." Pak Ziel masih belum bisa menangkap apa yang akan di lakukan Fiona
" Kalau begitu pak Ziel saja yang makan nasi goreng buatan ku tadi. Aku buru-buru ingin ke kampus." Berlari keluar
" Eh!."
" Jangan lupa di habiskan!." Seru Fiona, suaranya sampai menggema
" Tunggu.." sekali lagi pria tua ini di buat geleng-geleng kepala melihat semangat Fiona
Sedangkan Fiona keluar untuk mengantar Detrick, saat melihat tuan nya ingin masuk mobil sontak Fiona berlari dan langsung membukakan pintu untuk Detrick
__ADS_1
'semoga saja hutangku bisa cepat lunas!' Ia bahkan tersenyum secerah matahari.
Detrick tentu di buat kaget, ia juga bingung melihat gadis mungil itu yang terlalu bersemangat.
" Tuan, apa nanti siang saya masih bisa bekerja paruh waktu?." Tanya Fiona saat ia sudah menutup pintu mobil, ia bertanya lewat jendela mobil
" Lakukan sesukamu. Aku hanya membutuhkan mu saat pagi. Oh yah jangan bekerja saat malam hari." Ucapnya tanpa melihat Fiona, ia bahkan sangat fokus dengan tablet di pangkuan nya
" Eh! Jadi, saya harus mengundurkan diri dari bar tuan? Tapi bagaimana dengan biaya hidup saya selanjutnya?."
" Ck, selama satu tahun ini kau tidak perlu memusingkan tentang biaya kehidupan mu." Melihat Fiona " Aku akan memberikan mu fasilitas gratis di mansion ku." Menunjuk Fiona
" Eh! Benarkah tuan? Wah... Terima kasih. Kalau begitu aku akan bekerja dengan sangat baik." Tersenyum senang. Siapa yang tidak akan senang jika di berikan fasilitas mewah secara gratis.
" Hmm."
Setelah itu Michael mulai menjalankan mobil meninggalkan Fiona yang terus melihat mobil sampai tak terlihat dengan senyuman manis.
" Oh yeeeeaaahyhyu." Melompat kegirangan. " Ah.. kehidupan mewah sementara, aku datang." Pekiknya
Ia mengatur pernafasan, lalu berjalan masuk kedalam mansion. Setelah bertanya letak paviliun tempat nya tinggal ia pun bergegas kesana. Hari ini ia ada kelas di pagi hari.
Fiona memperhatikan sekeliling paviliun, ada kolam renang, taman di sampingnya juga sangat luas.
Perlahan Fiona membuka pintu paviliun. Mata besarnya membulat, mulutnya sampai menganga " i.. ini luar biasa." Pekik Fiona
Ia berlari kesana-kemari di dalam paviliun, memeriksa setiap inci ruangan itu " Gawat! Aku akan betah tinggal disini. Lebih dari satu tahun juga aku rela."
Ruangan yang sangat besar. Paviliun yang sangat mewah, siapa yang tidak akan betah disana.
" Aku yakin tuan Detrick adalah seorang dewa." Mendramatisir keadaan. Ia sangat senang diberi tempat tinggal gratis yang mewah. Padahal dulu saat ia tinggal di kediaman Eren, Fiona hanya di berikan gudang berkedok kamar
Setelah hampir satu jam mengagumi paviliun tersebut, akhirnya Fiona mulai bersiap-siap untuk pergi ke kampus.
Ia cukup senang bekerja menjadi pelayan Detrick. Ia sama sekali tidak di kekang dan akan di lunaskan utangnya, bahkan ia juga di beri fasilitas mewah. Fiona akan menikmati semuanya sebelum itu berakhir, sangking senang nya ia sama sekali tidak curiga akan dibalik kenyataan semua kesenangan itu.
.........
__ADS_1
Fiona masuk kedalam kelas, rupanya sudah tersebar rumor tentang putusnya hubungan antara ia dan juga Geo.
Fiona duduk di kursinya seperti tak pernah terjadi apapun, bahkan ia menghiraukan semua tatapan mata yang di berikan orang-orang sekitarnya.
'yah mau bagaimana lagi. Geo memang populer.' membuka ponsel dan mulai bermain game, salah satu kesenangan tersendiri nya
Tidak ada yang berani menyapa atau menegur Fiona. Bukan karena Fiona dari keluarga kaya atau ada yang melindungi nya, tapi mereka semua takut dengan tatapan dingin yang selalu di berikan Fiona kepada mereka.
Walaupun Fiona memiliki tubuh yang mungil dan wajah yang cantik nan manis, bukan berarti ia akan di sukai oleh semua orang begitu saja. Ada yang membenci Fiona karena kecantikan nya itu, mereka merasa tersaingi dan tak terima Melihat kecantikan Fiona.
Fiona yang sama sekali tidak memakai make up bisa secantik itu, bagaimana jika sudah di polesi dengan make up? Orang-orang yang iri itu tidak akan terima, tapi mereka juga malas mencari masalah. Melihat tatapan dingin dan tajam Fiona membuat mereka mundur sebelum maju
Sebenarnya bukan Fiona ingin menatap dingin orang-orang di kampus, hanya saja Fiona paling benci dengan orang-orang yang hanya melihat dari sisi sebelah mata. Dan itulah orang-orang yang ada di kampus nya, walaupun mungkin tidak semua tapi Fiona hanya ingin kehidupan kampus yang damai, apalagi tinggal 6 bulan lagi ia akan lulus
Setelah pelajaran dimulai, semua orang kembali ke tempatnya masing-masing. Tiga jam pun berlalu, akhirnya dosen keluar dari kelas.
Fiona meregangkan otot tubuhnya lalu merapikan buku-buku nya. Setelah itu ia pun keluar dari kelas
" Hmm hari ini aku akan bekerja di mini market. Hahhh." Membuang nafas di akhir kalimat
" Jadi aku harus berhenti bekerja di bar 'kan." Ia merasa tak terima, orang-orang di bar selalu memperlakukan nya dengan baik.
" Fiona." Sentak Geo menarik tangan Fiona
Fiona menepis kasar tangan Geo " huhhh!." Ia mendesaah berat melihat Geo yang selalu mengganggu nya
" Ada apa? Hubungan kita sudah berakhir." Dingin Fiona
" Maaf... Tolong maafkan aku." Dengan wajah memelas Geo mencoba meluluhkan hati Fiona
Fiona menatap Geo dengan datar. Sungguh hatinya masih sakit hanya dengan melihat pria ini, kenangan indah bersama Geo terlintas begitu saja di dalam pikiran Fiona.
satu tahun mereka bersama, satu tahun Fiona mencoba untuk tetap mencintai pria ini, tapi apa yang ia dapatkan. Sebuah pengkhianatan yang tak pernah ia bayangkan. Walaupun Fiona tak memberikan harapan besar kepada Geo, bukan berarti Fiona benar-benar tidak berharap.
Ia sangat berharap setidaknya dirinya bisa bahagia bersama pria ini. " Aku sudah memaafkan mu. Tapi, bukan berarti hubungan kita bisa kembali seperti dulu lagi. Bukan salahmu untuk melakukan hal lain dengan wanita di luar sana, waktu itu kita masih sepasang kekasih bukanlah Sepasang suami istri. Aku tidak berhak melarang mu melakukan hal lain." Ucap Fiona dengan datar, seolah ia benar-benar sudah rela
" Bukan seperti itu.... Aku tidak pernah bermaksud mengkhianati mu. Aku khilaf, ini semua salah Erin. Dia yang menggoda ku." Tutur Geo. Ia tidak bisa menerima keputusan Fiona begitu saja
__ADS_1
.
.