
Detrick melangkah masuk kedalam perusahaan cabang yang kini ia urus. Semua karyawan menunduk hormat saat Detrick masuk, tak ada yang menyangka bahwa seorang Detrick Reventoon akan datang mengunjungi perusahaan cabang yang tidak seberapa ini.
Detrick diikuti Michael masuk kedalam lift dengan langkah yang gagah.
Setelah Detrick dan Michael benar-benar pergi dari sana. "Kyaaa tuan Detrick sangat tampan...."
"Aku rela mati sekarang. Sudah tidak ada penyesalan dalam hidupku"
"Jangan, kalau kau mati sekarang. Kau akan menyesal karena tidak akan bisa melihat wajah tuan Detrick lagi"
"Bukannya pak Michael juga tak kalah tampan"
"Keduanya sangat tampan"
Di sisi lain, Detrick dan Michael yang sudah masuk kedalam lift. " Mau di manapun rupa anda tidak akan luput untuk dipuji." Ucap Michael di samping Detrick
Dengan wajah datar, Detrick menjawab " tentu saja." Singkatnya 'hanya ada satu orang yang tidak pernah mengatakan aku tampan' siapa lagi kalau bukan Fiona. Sebenarnya bukan tidak pernah, hanya di ucapkan dalam hati tidak pernah di ucapkan terang-terangan
Karena ingin menyelesaikan pekerjaan dengan cepat Detrick sudah dari tadi malam menghubungi para petinggi perusahaan di perusahaan cabang ini. Dan menyuruhnya kumpul di ruang rapat
Michael dengan sigap membuka pintu ruangan. Sontak semua orang didalam berdiri menyambut Detrick masuk. Detrick masuk dengan gagah kedalam.
Terlihat semua orang menunduk hormat kepadanya, setelah itu kembali mengangkat kepala.
" Duduklah." Titah nya setelah duduk di kursi paling depan dan yang paling bagus.
.........
Disaat Detrick tengah mengadakan rapat untuk urusan perusahaan nya, lain halnya dengan Fiona yang tengah pusing memikirkan hadiah apa yang akan dia berikan untuk Detrick
" Jadi, apa yang harus aku lakukan?." Tanya Carl
" Hmm kamu tinggal berdiri saja disana." Menatap Karin, karyawan wanita yang sedari tadi di sana yang hanya memperhatikan mereka
Karin mengangguk lalu mengambil beberapa dasi " maaf sebelumnya tuan." Ucap Karin lalu mengalungkan dasi di leher Carl
Carl hanya tersenyum manis membuat Karin tersipu. Tangannya jadi bergetar saat memakai 'kan Carl dasi 'yah ketampanan ku memang tak ada duanya' sikapnya yang seperti ini mungkin sedikit mirip dengan Detrick
" Bagaimana nona?." Tanya Karin kepada Fiona yang sedari tadi hanya memperhatikan
" Hmm." Menaruh tangannya di atas dagu sembari menilai " bagus.. tapi entah mengapa seperti ada yang kurang." Gumamnya " bisa pakai 'kan yang lain?."
" Baik." Karin kembali memilih beberapa dasi dan mulai memakai 'kannya kepada Carl
" Maaf yah. Kalau kamu keberatan, kamu bisa mengatakan nya." Fiona jadi tidak enak menyuruh-nyuruh orang yang baru ia kenal
Carl mengeluarkan senyum buaya daratnya " don't care. Aku senang kok melakukan nya, apalagi melihat wajah manis mu tersenyum." Godanya
Bukan Karin yang di goda tapi wajahnya yang merah merona. Tangan nya jadi semakin bergetar, sedangkan Fiona hanya tersenyum manis membalas perkataan dari Carl. Ia sama sekali tidak merasakan apapun.
__ADS_1
Kening Fiona mengerut melihat tangan Karin bergetar 'apa dia gugup?' tanya Fiona pada dirinya sendiri 'iya sih. Wajahnya hampir mirip dengan Detrick'
Fiona melangkah mendekati Karin dan juga Carl " maaf, apa bisa aku saja yang melakukan nya." Tawar Fiona. Karin segera mengangguk, bisa pingsan dia meneruskan pekerjaannya ini
Sedangkan Carl mengangkat sebelah alis 'apa dia ingin merayu ku' tersenyum licik 'akhirnya kau memperlihatkan taring mu'
" Apa tidak masalah, aku yang mengambil alih?." Mengangkat sebuah dasi berwarna abu-abu muda dengan motif dua garis vertikal
" Itu lebih baik."
Fiona tersenyum " Baiklah. Permisi." Mengalungkan dasi ke leher Carl, membuat jarak keduanya sangat dekat. Bahkan nafas keduanya bisa di dengar satu sama lain
Diam-diam Carl menunduk memperhatikan wajah wanita yang di anggap musuh dengan insten.
Cekrek... Diam-diam ada yang memotret hal tersebut.
Sedangkan Sura yang dari tadi hanya duduk tenang, membulatkan mata saat melihat kedekatan kedua orang tersebut. Sekilas mereka terlihat sepasa kekasih, jika tidak mengetahui yang sebenarnya pasti di anggap kekasih. Pasangan yang benar-benar serasi.
Fiona menepuk-nepuk dada Carl layaknya seorang istri yang sedang melayani suaminya 'dia manis. Ck pasti wajahnya yang manis ini digunakan nya untuk merayu kakak'
" Hmm ini bagus. Baiklah aku ambil yang ini saja." Ucap Fiona akhirnya
" Aku kelihatan cocok memakai ini." Timpal Carl
" Yap kamu benar." Tersenyum memperlihatkan gigi putihnya " Terima kasih atas bantuannya."
" Sama-sama." Jawabnya
" Ada apa? Apa sekarang kau sibuk? Bagaimana kalau kita makan malam bersama?." Tawar Carl. Hari memang sudah sore, jadi dia menawarkan makan malam. Entahlah tak ada maksud tersembunyi dari tawarannya. Tiba-tiba saja pria pencemburu itu melupakan tujuan awalnya mendekati Fiona
" Ah.. maaf tapi sepertinya tidak bisa. Aku ada janji setelah ini." Merasa tak enak hati. Padahal sudah di bantu, tapi menemani nya makan malam saja tidak bisa 'dasar kamu tak tau diri. Fio!'
" Hmm tidak masalah." Melirik kearah Sura yang mungkin sudah karatan menunggu nya. Sedangkan yang dilirik henya mengacungkan jari telunjuknya, entah simbol apa itu. Tapi yakinlah, Sura sebenarnya ingin mengumpat sang tuan muda namun tak berani
Melihat Sura yang seperti itu tiba-tiba menyadarkan Carl dari tujuan awalnya 'aku hampir tertipu' " Sepertinya itu hal yang mendesak." Kembali ke tujuan awal, ia memancing Fiona mengungkapkan siapa yang akan ditemui
" Hmm begitulah." Jawab seadanya.
Tak lama Karin kembali sembari membawakan bungkusan yang sudah dipesan Fiona " Sekali lagi terima kasih banyak." Kalau bisa, Fiona akan membangun candi untuk mengungkapkan rasa terima kasih nya
" Hahah tenanglah. Aku tulus membantumu." Dan ini jelas bohong. Sudah sangat jelas tujuan utamanya
" Baiklah. Aku duluan, see you." Melambaikan tangan
Carl ikut melambaikan tangannya, dengan senyuman manis " See you." Setelah Fiona benar-benar keluar dari butik, senyuman manis Carl langsung hilang dan berubah menjadi datar
Sura segera menemui sang tuan muda " Bagaimana tuan?."
" Dia berbahaya. Bisa-bisanya aku juga hampir tertipu dengan senyumannya." Jawabnya dengan nada yang serius
__ADS_1
Sura mengerutkan dahi " maksudnya senyumannya yang terlewat manis?."
" Betul." Sontak ia mengatakan hal ini " eh!.. bukan, apa-apaan senyumannya tidak lebih dari semanis madu." Langsung mengelak bagaikan anak gadis yang ketahuan menyukai seseorang
" Bukannya madu sangat manis?." Tersenyum licik dengan menaik turunkan alisnya
" Ck. Garam lebih manis menurutku." Gerutunya " sudahlah ayo, kita ikuti dia mau kemana. Aku yakin Sekarang dia akan bertemu dengan selingkuhannya." Ketus meninggalkan Sura yang hanya bisa melongo mendengar perkataan awal dari Carl
'garam? Hah?! Manis dari mana nya?! Dasar Gila' mengikuti langkah Carl.
Sesampainya di dalam mobil, mereka langsung tamcap gas sesaat melihat Fiona yang juga pergi dari mall. Dalam perjalanan mengikuti Fiona, Carl tak henti-hentinya memikirkan sesuatu
" Aku tidak tahu kalau kak Detrick mempunyai selera seperti itu." Ucapnya tiba-tiba, membuat Sura yang sedang menyetir menatap heran dari balik kaca spion depan
" Maksud anda, tuan?."
" Bagaimana bisa kak Detrick menyukai yang besarnya sedang seperti itu? Hmm padahal aku lebih suka yang besar." Ucapan Carl yang ambigu membuat Sura yang sedang fokus menyetir menyerngit heran
'besar? Sedang? Ah.. dasar bos mesum!' akhirnya ia sinkron sendiri
" Yang besar lebih bagus 'kan?." Yang di belakang kembali bersuara
" Tentu saja, tuan. Yang besar lebih bagus, tapi bukannya kalau sudah cinta tidak akan memandang fisiknya?."
Carl menghembuskan nafas kasar " Benar juga ya. Yah tapi aku tetap lebih suka yang besar." Sura memutar bola mata, terserahlah. Asalkan sang tuan muda senang.
.........
Fiona memasuki loby hotel. Saat akan ke repesionis, tiba-tiba ada tangan menyentuh pundaknya. Sontak Fiona berbalik, dan terlihat seorang wanita paruh baya dengan wajah yang panik
" Ada yang bisa saya bantu, nyonya?." Tanya Fiona
" Maaf sebelumnya. Apa anda bisa membantu saya membawa suami saya ke kamar 105. Anak saya harus dibawa ke rumah sakit, tapi sekarang suami saya..."
" Hei.. tambah lagwi.... " seorang pria paruh baya dengan wajah yang memerah. Dan perilaku yang sedikit aneh hendak mendekati mereka
" Apa dia mabuk?." Tebak Fiona
Wanita tersebut memegang kepalanya " Benar. Saya benar-benar ingin meminta tolong." Ucapnya dengan wajah yang memelas
Fiona yang biasanya tidak akan menggubris hal yang bukan urusan nya, namun entah mengapa kali ini ia jadi tidak tega. Apalagi mengingat anak wanita tersebut yang sekarang kesakitan.
.
.
TBC
Jangan lupa tinggalkan jejak. like komen dan votenya 😘 banyakin hadiah nya juga biar othor tambah semangat nulis nya ✌️
__ADS_1
...klik tanda love dibawah ini 👇...