Terjebak Hasrat Majikan

Terjebak Hasrat Majikan
Hari Pertama


__ADS_3

Fiona telah berada di depan pintu kamar Detrick. Ia bisa langsung tahu hanya dengan melihat sekilas " Untuk seukuran pintu ini benar-benar mewah." Menggeleng tak percaya


Fiona mengatur pernafasan sebelum ia mengetuk pintu. Ia masih mengingat bagaimana dirinya waktu itu berlutut di depan sang bos. Jujur hanya dengan mengingatnya membuat ia malu.


Setelah mengatur pernafasan, ia mulai mengangkat tangan dan mengetuk pintu.


Tok.. tok.. tok..


Tak ada sahutan, Fiona kembali mengetuk pintu. Yang kedua, ketiga, keempat bahkan sampai tangan Fiona kebas tidak ada sahutan dari dalam.


" Ck. Apa pria itu masih tidur!." Gerutu Fiona. Ia kembali mengetuk pintu.


" Maaf. Apa anda nona Fiona?." Tiba-tiba ada suara dari arah belakang Fiona. Sontak saja ia berbalik


" Ah! I.. iya." Ia dapat melihat seorang pria paruh baya dengan badan tegap dan memakai baju butler di depannya. 'tampan. Apa jangan-jangan isi mansion ini semuanya pria tampan.' monolog nya dalam hati


" Apa ada yang bisa saya bantu? Sedari tadi saya melihat nona mengetuk pintu kamar tuan muda." Tawar Pak Ziel. Ia sudah diberitahu akan kedatangan Fiona


" Hmm sebenarnya saya di tugaskan untuk melayani tuan Detrick. Tapi sudah dari tadi saya mengetuk pintu namun tak ada yang menjawab." Ia lesu, sungguh tangannya sudah kebas


" Mungkin saja tuan muda masih tidur. Tadi malam tuan muda begadang untuk bekerja."


'pantas saja.' batin Fiona " Jadi, apa yang harus saya lakukan tuan?."


Pak Ziel tersenyum " Bagaimana kalau anda masuk kedalam?."


" Eh! Memangnya tidak masalah saya masuk?."


" Kenapa tidak dicoba?." Ujar Pak Ziel.


Fiona nampak berpikir. Ia takut jika asal masuk, nanti nyawanya juga asal di cabut. Membayangkan nya saja sudah membuat bulu kuduk Fiona berdiri.


" Kalau anda disini saja sampai menunggu tuan muda bangun. Nona yakin akan selamat? Waktu masuk ke kantor tinggal sedikit." Pak Ziel kembali memanasi, entah apa sebenarnya tujuan pak Ziel


" Eh! Benar juga yah." Ia kembali di buat bingung 'kalau aku masuk begitu saja dan itu dilarang, 'kan bisa bahaya. Tapi, kalau aku sampai membuat nya terlambat, itu lebih berbahaya. Baiklah aku akan masuk Kalau begitu.'


" Baiklah aku akan masuk tuan. Terima kasih atas sarannya." Ujar Fiona dengan senyuman manis

__ADS_1


" Sama-sama nona, dan tidak perlu memanggil saya tuan."


" Hmm kalau begitu nama tuan siapa?."


" Ziel. Panggil saja seperti itu." Pak Ziel merasa suasana di mansion ini akan hidup dengan kehadiran gadis manis di depannya.


Fiona tersenyum lebar " Baiklah pak Ziel. Sekali lagi terima kasih. Kalau begitu aku masuk dulu."


" Baiklah nona." Setelah itu Fiona pun masuk kedalam kamar Detrick dengan langkah yang amat sangat pelan.


Fiona kembali berbalik " Oh yah pak Ziel. Anda sangat tampan." Ucapnya dan langsung masuk kedalam


Pak Ziel tercengang, ia tersenyum lalu geleng-geleng kepala.


Ia masih ada di depan pintu sampai Fiona benar-benar masuk kedalam kamar sang msr young. " Hati-hati Nona." Gumam Pak Ziel sebelum pergi dari sana.


Sedangkan Fiona yang sudah terlanjur masuk kedalam meneliti semua apa yang ada di dalam ruangan yang sangat besar ini. " Besar... Ini sangat besar... Haisss kamar ku mungkin cuman seperempat nya." Ia menggerutu, memalangkan nasib yang selama ini ia jalani


Mata Fiona melihat ke arah ranjang, perlahan ia mendekati bad big size tersebut " Gila! Tampan." Meneliti wajah tidur sang bos yang sangat tampan.


" Apa semua orang kaya itu tampan dan cantik seperti ini! Ahhhhk aku ingin jadi orang kaya..." Pekiknya dengan berbisik


" Tapi wajah lelahnya saja setampan ini. Ckckckc. Dunia memang tidak adil." Bertolak pinggang melihat pemandangan sang bos yang tertidur dengan wajah lelah


Ia kembali fokus dengan tugas nya. Pertama-tama Fiona menyikap gorden jendela kamar sehingga sinar matahari bisa masuk. Setelah itu ia kembali ingin membangunkan Detrick


" Tuan.. bangun." Ucap Fiona, tapi tak ada respon


" Ehem.. tuan.. bangun..." Ia sedikit meninggi 'kan suaranya. Kali ini bukannya bangun, Detrick malah semakin pulas


Karena tak ingin membuang waktu lagi, Fiona akhirnya memegang pundak sang bos lalu mengguncang nya perlahan " tuan bangun.."


" Tuan..." Semakin mengguncang. Ia melakukan nya berkali-kali. Hingga..


Grep..


" Siapa?." Suara serak basah tersebut terdengar dengan menggenggam tangan Fiona yang sedari tadi mengguncangnya

__ADS_1


" Ah! Tu.. tuan.. saya Fiona." Ujarnya gelagapan. Ingin sekali rasanya ia menarik tangan nya


Detrick memicingkan mata. Ia mencoba melihat jelas wanita di depannya " Ah! Rupanya kau. Ada apa?." Menghempaskan tangan Fiona


" Em.. saya datang membangunkan anda." Memegang pergelangan tangan nya


Detrick melihat jam weker di nakas, ia terduduk lalu mengacak-acak rambutnya " Siapkan air hangat."


'Gawat.. gawat.. gawat!!! Bukannya dia terlalu tampan!!' bengong melihat wajah tampan sang bos


" Hei.. apa kau mendengar ku!." Ujar Detrick melihat heran ke arah wanita di depannya.


" Hei.. gadis bodoh!!." Sentak Detrick


" Ah! I... Iya maaf tuan." Ia masih berdiri disana. Sepertinya Fiona tak mendengar perintah Detrick tadi


" Hei.. apa kau tuli! Aku menyuruh mu menyiapkan air hangat bodoh!." Sentak Detrick. Baru pertama kerja tapi sudah membuatnya pusing


" Ah! I.. iya baik tuan." Segera masuk kedalam kamar mandi untuk menyiapkan air hangat.


" Ah.. kenapa aku bisa-bisa nya mengangumi wajah menyebalkan itu!." Gerutu Fiona mulai mengisi bathtub dengan air hangat. Untung saja ia pernah bekerja di hotel, jadi bukan masalah ia menghadapi perlengkapan yang bak di hotel ini


" Tapi tidak perlu mengatakan aku bodoh juga!!." Ia tak terima di katakan bodoh. Setelah mengisi bathtub dengan air hangat ia pun keluar.


Tapi, Fiona sama sekali tidak melihat siapapun di sana " Tuan Detrick kemana?." Gumam Fiona


Ia melirik kesana kemari hingga ia mendapati pintu balkon yang terbuka " Apa tuan Detrick di sana yah." Ia ingin kesana, tapi melihat kasur yang masih berantakan, mau tidak mau Fiona harus merapikan nya terlebih dahulu.


" Katanya orang kaya, tapi kenapa aku tidak melihat pelayan sama sekali tadi." Mulai melipat selimut


" Semoga saja bukan aku yang disuruh membersihkan mansion yang besar ini. Mending aku bersihkan seluruh toilet di kampus. Toilet di kampus lebih sedikit daripada mansion besar ini." Gerutu Fiona


" Haisss tenanglah Fio. Hanya satu tahun, iya hanya satu tahun huaaaa aku harus bertahan."


" Tunggu." Tangannya berhenti bergerak " Bukannya itu tidak terlalu buruk. Selama satu tahun aku akan tinggal disini, di paviliun mansion yang besar ini. Dapat makan gratis, dan juga gaji. Wahhh seperti nya kali ini dewa keberuntungan sedang memihak ku."


Fiona yang sedang asik berbicara sendiri tidak sadar, bahwa dari tadi ada pasang mata yang memperhatikan nya dengan intens. " Perubahan raut wajahnya manis." Gumam Detrick. Ia segera menggeleng cepat.

__ADS_1


.


.


__ADS_2