Terjebak Hasrat Majikan

Terjebak Hasrat Majikan
Seandainya


__ADS_3

Detrick membuka perlahan matanya. Ia bangkit dari tempat tidur. Dengan langkah gontai pria yang sedang acak-acakan tersebut masuk kedalam kamar mandi membersihkan badan


Byur..


Suara air terdengar mengguyur Detrick dari dalam kamar mandi. Ia mengepalkan tangan. Dari tadi malam pria itu tidak tidur, mungkin saat subuh baru matanya bisa tertutup. Ia sangat khawatir akan keadaan sang kekasih. Ia menyesal


Seharusnya aku tidak membentaknya. Seharusnya aku mendekap nya saat itu. Kenapa aku melakukan hal bodoh! Berulang kali kata-kata seharusnya terlintas dalam pikiran Detrick. Namun, semuanya sudah terjadi. Ia tak bisa memutar waktu.


Dengan tubuh yang sudah bersih dan pakaian yang sudah rapi, Detrick turun dari ke lantai bawah. Hari ini ia bertekad akan mencari langsung keberadaan kekasihnya.


" Selamat pagi tuan." Sapa Michael


" Langsung ke lokasi." Ia tidak akan bisa tenang jika harus bekerja hari ini. Setidaknya ia harus bisa menemukan keberadaan kekasihnya


Tanpa banyak bertanya, Michael mengangguk " Baik tuan."


.........


Enhart dan Sky masih setia menunggu Fiona bangun. Kedua pria tampan tersebut duduk disofa sembari membicarakan tentang pekerjaan. Saat sedang serius tiba-tiba terdengar suara isak tangis dari arah brankar. Sontak keduanya langsung berdiri dan menghampiri Fiona


" Sayang, kamu sudah bangun. Apa ada yang sakit? Kenapa kamu menangis?." Enhart memberondong pertanyaan dengan wajah khawatir


" Tenanglah tuan muda. Nona muda tidak akan bisa menjawab nya satu persatu." Memegang pundak sang tuan muda


Fiona bangkit dan menyandarkan tubuh " Kak..." Lirih Fiona memegang erat tangan kakak angkat nya


" Iya sayang, ada apa hmm?." Mengelus pipi Fiona


" Bawa aku pergi. Aku sudah tidak sanggup berada di negeri ini." Suaranya bergetar. Ia akan pergi sejauh-jauhnya. Tidak ada lagi yang berharga di kota ini, hanya ada kenangan buruk yang tersisa


Enhart mengangguk " Iya. Kakak akan membawamu." Dan memang ini apa yang di inginkan Enhart. Ingat bukan, saat Enhart pernah bertelepon dengan Fiona. Pria tersebut datang Memang untuk menjemput Fiona dan membawanya. Dan rupanya ia tidak perlu repot-repot merayu sang adik untuk ikut dengannya


" Hmm terima kasih." Memeluk tubuh sang kakak tercinta dan dibalas dengan usapan di punggung nya. Sky ikut tersenyum menyaksikan nya, ia juga ikut bahagia apalagi sang nona muda ingin ikut bersama mereka.


" Aku ingin melihat bayi ku." Lirih Fiona melepas pelukannya


" Iya, sebelum pergi kita akan pergi melihat keponakan kakak nanti." Enhart sudah memutuskan untuk pergi hari ini juga sebelum Detrick benar-benar menemukan keberadaan Fiona.


Kembali lagi ke Detrick


Matahari sudah hampir berada dipuncak langit, namun Detrick masih belum menemukan tanda-tanda keberadaan sang kekasih.


Ia sudah memeriksa cctv namun naas, cctv dijalan dekat club waktu itu rusak akibat Sambaran petir. Tidak ada saksi mata, hanya anak buahnya yang melihat saat Fiona dibawah kedalam mobil. Namun, anak buahnya sendiri tak bisa mengetahui kekasih sang majikan dibawa kemana


Michael sedari tadi menemani sang tuan muda untuk mencari keberadaan Fiona. Ia menyetir mobil mengelilingi kota berharap mendapatkan Fiona. Mereka juga sudah ketempat-tempat kerja Fiona, tapi sama sekali tidak membuahkan hasil.


Dan yang lebih parah, Michael terkena tamparan keras dari bos Fiona yang bekerja di bar. Yah Nia sangat marah saat mengetahui Fiona hilang, dan lagi saat itu mantan bawahannya juga sedang hamil muda dimana trimester awal kandungan masih lemah.


Nita hati ingin menampar Detrick, namun Michael langsung pasang badan dan alhasil dia yang terkena tamparan tersebut.


Drrrt... Drrrtt... Ponsel Detrick bergetar. Ia segera mengangkat ponselnya berharap Fiona yang menelpon. Namun, harapan nya langsung putus disaat melihat siapa yang menghubunginya sekarang

__ADS_1


" Langsung ke intinya." Ujar Detrick dingin ke seberang


"..."


" Apa! Kirimkan Michael lokasinya." Ia tiba-tiba bersemangat. Setelah itu Detrick mematikan sambungan sepihak. Dan disaat bersamaan tiba-tiba sebuah pesan masuk kedalam ponsel Michael.


Sebuah lokasi rumah sakit. " Langsung ke sana Michael." Ujar Detrick menggebu-gebu


" Baik tuan." Memutar arah mobil dan langsung tancap gas menuju ke rumah sakit yang dikirimkan lokasinya oleh anak buahnya.


Tak butuh waktu lama mereka sampai di rumah sakit tersebut. Detrick segera turun dari dalam mobil dan berlari masuk kedalam rumah sakit meninggalkan Michael.


Melihat sang tuan muda yang sudah lebih dulu masuk kedalam rumah sakit, Michael pun segera mengikuti Detrick " Segitu cintanya anda, tuan." Gumam Michael yang baru pertama kali melihat Detrick terburu-buru seperti itu.


" Yah itu juga salah anda yang langsung menuduh." Lanjut nya lalu masuk kedalam rumah sakit menghampiri sang tuan muda yang kini ada di resepsionis tengah membentak petugas disana mengakibatkan perhatian semua orang berpusat padanya


" Maaf tuan, biar saya yang ambil alih." Di sinilah peran sebenarnya Michael. Ia kemudian beralih melihat dua orang wanita yang menjadi petugas di bagian resepsionis


" Maaf, apa pasien yang bernama Fiona de Edebenderg dirawat di rumah sakit ini." Tanya Michael pada kedua petugas tersebut yang terlihat sudah tidak terlalu takut


" Nona Fiona? Tu.. tunggu dulu seperti nya memang ada." Salah seorang petugas disana langsung mencari-cari nama Fiona di komputer


" Ck! Cepatlah!!." Bentak Detrick yang jengah melihat kelambatan kedua wanita tersebut, membuat keduanya kembali dilanda ketakutan


" Fiona de Edebenderg, baru saja keluar dari rumah sakit sekitar 30 men..__" ia tak melanjutkan ucapannya karena Detik sudah berlari keluar


" Apa saya bisa tahu kemana perginya?."


" Apakah nona Fiona hanya sendiri?." Kedua petugas tersebut saling pandang dan enggan menjawab " Tenang saja, saya kerabat nona Fiona." Seperti mengetahui ketakutan petugas disana


" Nona Fiona pergi bersama dua orang pria. Yang satu adalah kakaknya." Jawab petugas tersebut


" Baiklah. Terima kasih." Ucap Michael lalu ikut berlari keluar juga menyusul sang tuan muda.


Terlihat Detrick yang sudah ada didalam mobil dengan wajah yang tidak bersahabat. Tapi bukan hal itu yang menjadi perhatian Michael, namun bagian pintu mobil yang penyok akibat tendangan sang tuan muda


Glek..


'keras!' lalu masuk kedalam mobil dan melaju kannya pelan " Apa yang harus kita lakukan sekarang tuan. Petunjuk satu-satunya yang kita dapatkan rupanya sia-sia." Ucap Michael tetap melajukan mobil dengan pelan berharap ditengah jalan dapat menemukan Fiona yang baru 30 menit lalu keluar dari rumah sakit


Detrick berdecak keras. Ia kesal, geram. Seharusnya dari tadi malam mereka ke rumah sakit ini.


Brak...


Menendang kursi tempat Michael duduk membuat yang duduk tersentak kaget namun bisa di sembunyikan. Tadi Detrick langsung lari keluar untuk mengeluarkan emosi nya dengan menendang pintu mobil sampai penyok bak seperti telah terjadi kecelakaan.


Detrick melepas jas dan melonggarkan dasinya. Ia menggulung lengan kemeja sampai siku " Sialan!! Cari lagi. Aku yakin kita akan segera menemukannya." Titah Detrick


" Baik tuan. Oh yah, tadi petugas rumah sakit mengatakan bahwa nona Fiona pergi dengan dua orang pria dan salah satunya adalah kakak nona Fiona." Lapor Michael


" Kakak?." Gumam Detrick namun masih bisa terdengar " Siapa kakak Fiona? Apa mungkin anak dari keluarga Eren itu?."

__ADS_1


" Sepertinya tuan. Bisa jadi yang membawa nona Fiona adalah Enhart Putra Eren." Seru Michael


Sekali lagi Detrick berdecak. Bisa jadi yang menyembunyikan latar belakang Fiona sebelum diangkat jadi keluarga Eren adalah Enhart. Tapi, bagaimana bisa! Setahu Detrick, keluarga Eren tidak akan mempunyai pengaruh dan kekuatan yang cukup untuk melakukan hal tersebut.


.........


Fiona, Enhart dan Sky berangkat menuju ke pemakaman tempat dikuburkan nya mayat bayi Fiona yang masih sekecil biji polong.


Dan disinilah mereka. Fiona terduduk sesaat melihat pemakaman bayinya namun tanpa nisan. " Hiks... Kamu bahkan belum ibu beri nama, sayang.." air mata wanita Tersebut kembali tumpah


Fiona menangis tersedu-sedu, tak rela akan kepergian sang bayi yang bahkan belum ia tahu jenis kelaminnya. Enhart dan Sky hanya bisa diam membiarkan Fiona untuk menumpahkan segalanya agar lebih baik. Memberikan Fiona tempat untuk mengeluh sebelum mereka meninggalkan negeri ini


Setelah dari pemakaman, kini ketiga orang tersebut sudah ada di bandara dan siap untuk landas.


Fiona melihat-lihat sekeliling sebelum naik kedalam jet pribadi milik Enhart. Sengaja mereka menggunakan jet pribadi agar Detrick tak bisa menemukan keberadaan Fiona. Sepertinya Enhart dan juga Sky sudah sepakat untuk menjauhkan wanita berharga mereka dari apa yang membuatnya hancur


'selamat tinggal teman-teman. Selamat tinggal negeri tercinta namun paling aku benci. Selamat tinggal Detrick, selamat tinggal semuanya' Batin Fiona melihat dari arah jendela jet sebelum lepas landas


Negara tempat ia di besarkan mempunyai banyak kenangan yang indah dan juga menyakitkan. Negara yang paling ia cintai namun juga paling ia benci. Tempat dirinya merasakan kekejaman dunia dan juga tempat ia menemukan kenyamanan dan kenikmatan surga dunia. Selamat tinggal.


" Bagaimana perasaan mu sekarang?." Tanya Enhart yang duduk di samping


Fiona tersenyum " Sudah sedikit lebih baik."


Enhart mengangkat tangan lalu mengelus kepala sang adik " Syukurlah."


" Tuan muda, nona muda silahkan minum terlebih dahulu." Ujar Sky yang datang dengan sebuah nampan berisi tiga gelas minuman. Ia tidak membiarkan pramugari yang membawa minuman sebab ia tidak ingin ada orang asing yang dapat mengganggu perasaan sang nona muda


" Terima kasih Sky." Mengambil minuman tersebut dan memberikan salah satunya ke Fiona.


" Anda sekretaris kak Enhart 'kan." Tersenyum sembari mengulurkan tangan " Perkenalkan saya Fiona, adik angkat kak Enhart."


Deg..


Ahkkk Sky ingin terbang rasanya. Ia benar-benar senang diberikan senyuman manis dari sang majikan. Dari dulu Sky memang sangat ingin bertemu dengan Fiona sebab Enhart dan tuan nya selalu bercerita mengenai wanita itu


" Saya sudah kenal nona. Bahkan sudah dari dulu. Dan akhirnya sekarang saya bisa bertemu langsung dengan nona, saya benar-benar bahagia." Menunduk hormat. Ia merasa tak pantas menerima uluran tangan Fiona


" Eh! Benarkah? Hmm kalau begitu senang juga bertemu dengan mu." Fiona tak ingin terlalu basa-basi walaupun sebenarnya ada banyak pertanyaan yang ingin ia tanyakan. Perasaan Fiona belum sepenuhnya membaik.


Ia masih memikirkan bayinya. Seandainya ia tidak pergi ke club malam itu. Seandainya ia menunggu dirumah malam itu. Tidak! Seharusnya Fiona memang harus tenang menunggu di mansion dan tidak perlu mencari hadiah untuk mantan kekasihnya hari itu. Tapi, sekali lagi kata-kata seandainya akan selalu terngiang-ngiang dalam akhir penyesalan


.


.


TBC


Jangan lupa tinggalkan jejak. like komen dan votenya 😘 banyakin hadiah nya juga biar othor tambah semangat nulis nya ✌️


...klik tanda love dibawah ini 👇...

__ADS_1


__ADS_2