
Mobil yang ditumpangi Bryanskara berhenti di sebuah butik yang besar dan terkenal. Terlihat papan nama bertuliskan 'Emma Butique'
Dengan di dampingi kedua pengawal yang selalu siap siaga melindungi sang tuan, Bryanskara masuk kedalam butik. Sontak kedatangan seorang Bryanskara Reventoon membuat semua yang ada didalam butik langsung menunduk hormat. Bahkan para pelanggan pun melakukan hal yang sama.
Mereka sangat mengenal seorang Bryanskara Reventoon, walaupun sudah beruban tapi aura-aura kepemimpinan dan kegagahan nya tak kalah dengan anak muda, bahkan lebih dari itu.
Salah seorang pegawai butik menghampiri Bryanskara. Ia adalah asisten madma Emma " Selamat siang tuan besar." Salam dengan menunduk hormat
" Hmm bawa aku ke Emma." Satu kalimat keluar yang singkat dan terksan dingin nan datar.
" Kesebelah sini." Menepi sembari mempersilahkan Bryanskara untuk berjalan didepan. Tidak ada yang berani berjalan didepan seorang Bryanskara
Bryanskara terus berjalan sampai di sebuah pintu bertuliskan Private room. Asisten madam Emma maju lalu hendak mengetuk pintu, namun segera ditahan " Pergilah." Titah pria tua itu. Tanpa harus ditegaskan ulang, asisten madam Emma segera undur diri
Salah seorang pengawal yang menemani tuan Bryanskara masuk kedalam butik, maju dan membuka pintu.
Ceklek..
Terlihat seorang wanita paruh baya yang masih terlihat muda tengah duduk di kursi sembari menulis sesuatu. Sepertinya ia sedang memeriksa keuangan yang masuk bulan ini
Saat mendengar pintu terbuka, madam Emma sontak mendongak " hei apa yang ka.. ayah." Pekiknya di akhir kalimat
Madam Emma berdiri " Apa yang ayah lakukan disini." Memeluk lengan sang mertua.
Bryanskara mendengus " Memangnya kenapa aku datang ke butik menantu ku sendiri." Berjalan mengikuti madam Emma untuk duduk di sofa
Madam Emma tertawa kecil " Pasti ayah merajuk lagi 'kan..." Mencolek pipi Bryanskara " Tidak baik loh sudah tua suka merajuk. Nanti cepat ketemu yang diatas."
" Hmm kamu ini yah..." Mencubit pipi madam Emma
Madam Emma tertawa. Yah beginilah hubungan keduanya. Bagaikan seorang anak dan ayah kandung. Jika Leticia bagaikan seorang anak yang pemalu kepada ayahnya, berbeda dengan Emma yang sangat cerewet
" Jadi, kenapa ayah datang kesini? Tidak biasanya. Pasti ada yang ingin disampaikan langsung kepada ku 'kan."
" Nah itu kamu tahu. Kapan kamu ke mansion ayah." Tujuan Bryanskara Memang untuk hal ini. Di sengaja datang ke menantunya bukan langsung ke anak keduanya. Karena memang menantunya lah yang mengontrol anak kedua serta cucu keduanya
" Hmm rencana ku dua Minggu lagi."
" 5 hari lagi."
" Tidak bisa."
" Tidak ada penawaran." Tegas Bryanskara " Aku tahu jadwal mu. 5 hari lagi kamu tidak ada kegiatan 'kan." Tidak ada yang bisa lepas dari pandangan dan pengawasan seorang Bryanskara. Ia bisa mencari tahu untuk hal kecil dan pasti akan mendapatkan apa yang ia cari
Madam Emma mengulum senyum " ayah Memang hebat. Bahkan jadwal kegiatan ku bisa didapatkan."
" Jadi 5 hari lagi. Kamu, Callin dan Carl sudah harus ada di mansion ayah."
" Baiklah."
.........
Fiona duduk di kasir sedang bermain ponsel. Tidak ada pelanggan yang datang jadi dia bisa bersantai sebentar.
__ADS_1
Tak lama kemudian sebuah kaki melangkah memasuki minimarket. Sontak Fiona berdiri " selamat datang." Sapanya kepada seorang pria yang masuk kedalam untuk berbelanja
Saat pria tersebut melewati Fiona, bau semerbak parfum pria tersebut langsung masuk kedalam hidung Fiona " Hoek... Hoek.." menutup mulut serta hidungnya. Pria tersebut hanya melihat heran dan kembali mengacuhkan Fiona
Saat pria tersebut tidak terlihat lagi. Rasa mual di perut Fiona mulai membaik, ia jatuh duduk di kursi " perutku mual."
" Kamu kenapa Fiona?." Tanya Rara yang tadi menyusun barang-barang di rak, tidak sengaja melihat Fiona yang mual-mual seperti tidak enak badan
" Entahlah. Tiba-tiba perutku mual mencium bau parfum pria tadi." Sesaat setelah mengatakan nya, pria yang mempunyai parfum yang membuat Fiona mual datang ke kasir untuk membayar belanjaan nya
" Hoek.. hoek... Ma.. maaf, aku serahkan padamu Rara." Lari kebelakang. Ia tidak ingin sampai Pelanggan nya tersinggung akan respon Fiona
Rara dengan sigap melayani pelanggan tersebut. Ia mulai me-scan barkot di beberapa makanan ringan yang diambil pria tersebut
" Katakan pada teman mu agar banyak beristirahat kalau sedang hamil." Ucap pria tersebut. Sepertinya dia seorang dokter obygin
" Eh!? Yah? Ha.. hamil?." Bukan dia yang disebut namun Rara yang paling terkejut
Pria tersebut mengangkat alis " hmmm iya kan."
" Haha mungkin anda salah paham. Teman saya belum menikah, bagaimana mungkin punya anak."
" Memangnya zaman sekarang butuh menikah untuk membuat anak." Perkataan pria tersebut langsung membungkam Rara. Ia membenarkan perkataan tersebut, namun Fiona? Seperti itu? Sama sekali tidak ada dipikiran nya
Setelah melihat tidak ada pelanggan lagi, Rara menghampiri Fiona yang kini duduk di tempat istirahat. Terlihat Fiona memjankan mata sembari memegang kantong plastik dan juga botol air minum
" Fiona, kamu baik-baik saja?." Memegang punggung Fiona sembari mengelusnya. Ia menjatuhkan diri di samping Fiona
" Fiona, bukannya aku ingin menuduh mu. Tapi, kapan terakhir kali kamu datang bulan?."
" Datang bulan?." Gumam Fiona " Hmm aku lupa. Tapi sepertinya bulan ini aku tidak datang bulan, eh! Ehhhhhhh."
Rara tertawa kecil melihat respon Fiona " Periksalah ke rumah sakit terlebih dahulu." Menepuk bahu Fiona lalu berdiri " Aku kedepan." Tak ingin membuat keadaan canggung, Rara memilih untuk undur diri
Fiona hanya mengangguk. Ia mulai memikirkan perkataan Rara. Apa benar ia hamil? Tapi, jika memang benar adanya, pasti hal itu akan sangat menyenangkan dan pastinya membawa berita bahagia.
Padahal baru tadi pagi ia berandai-andai kalau misalkan ada bayi di dalam perut nya. Sepertinya tuhan menyayangi Fiona, karena langsung mengabulkan apa yang dikatakan wanita itu tadi pagi bersama sang kekasih
" Apa aku harus memeriksa nya." Mulai memikirkan perkataan Rara.
.........
Setelah sang mertua pulang, Madam Emma segera menelpon suaminya yang kini pasti sedang ada di perusahaan
" Halo Em." Ucap yang diseberang " Ada apa baby?."
" 5 hari lagi kosongkan jadwalmu. Kita ke mansion utama." Langsung ke intinya
" Hmm baiklah. Apapun untuk mu baby." Sebenarnya dihari itu ia ada jadwal bertemu klien penting dari negeri jiran. Tapi apa sih yang tidak untuk sang kekasih hati
" Jangan untuk ku. Tapi untuk ayah Cil." Tegur Madma Emma. Ia sangat menghormati orang yang lebih tua darinya. Apalagi kalau orang yang sudah dianggap orang tuanya sendiri
Terdengar kekehan di seberang telepon " Baiklah sayang." Ucap nya lembut
__ADS_1
" Baiklah, aku tutup. Beri kabar juga untuk Carl."
" Iya. I love you."
" Love you too."
Yap seperti inilah hubungan diantara keluarga Reventoon. Semua wanita lah yang memegang kendali. Bukan karena sang suami takut dengan istrinya, namun mereka menghormati dan menjadikan ratu untuk wanita yang mereka cintai. Walaupun saat bersama orang lain semuanya bersikap dingin
.........
Waktu pulang pun tiba, Fiona bersiap-siap untuk pulang. Fiona naik keatas bus. Ia sengaja tidak menelpon supir yang biasa mengantar nya.
Tak lama kemudian bus pun sampai di pemberhentian pertama. Tepatnya di sebuah halte, Beberapa orang naik kedalam bus sedangkan Fiona turun dari bus.
Ia berjalan menulusuri jalan, dan akhirnya sampai disebuah apotek. Ia ingin membeli tes pack untuk memastikan apakah dia benar-benar hamil atau tidak.
" Hmm aku ingin tes pack." Lirih Fiona
" Ingin model yang seperti apa, nona."
" Eh? Hmm yang paling akurat."
Pegawai wanita itu tersenyum " Semuanya akurat, nona."
" Hmm." Terlihat bingung. Kenapa harus bermacam-macam, padahal gunanya sama saja, pikir Fiona " Yang paling sering orang gunakan dan yang paling mudah digunakan."
Lalu pegawai wanita tersebut memberikan sebuah tes pack panjang kepada Fiona " Silahkan nona, ini yang paling sering digunakan."
Fiona menerima tes pack tersebut. Ia membalik-balikkan benda yang katanya dapat memperlihatkan apakah ia benar-benar hamil atau tidak " Bagaimana cara kerjanya?." Melihat cengok kearah pegawai wanita Tersebut
" Taruh di... Ehem maaf taruh air mani anda, dan tunggu beberapa saat. Jika terdapat garis dua di tes pack nya maka positif, tapi kalau hanya satu maka negatif." Pegawai tersebut menjelaskan yang menurutnya paling jelas
Fiona manggut-manggut " Terima kasih." Sembari tersenyum manis
Setelah membayar ia pun keluar dari apotek tersebut dan masuk kedalam toilet umum disekitar halte.
" Katanya lebih baik kalau digunakan pada pagi hari." Gumam Fiona. Tapi karena tidak sabar ia akhirnya mencobanya di toilet umum. Positif atau tidak ia akan menerima nya
Dan disinilah sekarang Fiona. Ia duduk di toilet sembari memegang sebuah gelas-gelas plastik yang dipungut di dekat tempat sampah dan berisikan air berwarna putih kekuning-kuningan dan didalamnya lagi terdapat tes pack.
Fiona menutup mata sambil mulutnya menghitung. Beberapa menit berlalu, dengan perlahan Fiona membuka mata. Pelan-pelan ia mengambil tes pack tersebut. Dilihatnya berapa garis disitu
" Bagaimana bisa??!!."
.
.
TBC
Jangan lupa tinggalkan jejak. like komen dan votenya 😘 banyakin hadiah nya juga biar othor tambah semangat nulis nya ✌️
...klik tanda love dibawah ini 👇...
__ADS_1