Terjebak Hasrat Majikan

Terjebak Hasrat Majikan
Jangan pergi lagi


__ADS_3

" hilang? " Gumam Fiona menatap heran kewajah Detrick. " Apa maks emmmphh." Ia tidak sempat melanjutkan ucapannya sebab bibirnya sudah dibuat bungkam oleh bibir Detrick


Detrick memang merasa aneh, karena ilusi yang ia kira akan menghilang jika disentuh seperti biasanya. Namun beda dengan yang ini. Dan ia pun tak ingin kehilangan kesempatan begitu saja. dilumaatnya bibir merah ranum Fiona.


Menarik tengkuk wanita tersebut untuk memperdalam ciuman. Fiona membalas ciuman yang sangat dirindukannya juga. Dihisap, dan tak lupa Detrick memasukkan lidahnya kedalam mulut Fiona. Mengabsen setiap inci dari dalam rongga wanita tersebut


Tangan nakal Detrick perlahan turun dan mengusap buah dada Fiona. Menciptakan lenguhann yang amat indah ditelinga pria tersebut 'ini terlalu nyata' walaupun aneh, ia tetap melanjutkan nya. Rasa rindu tak akan terobati hanya dengan melihat saja


Ciuman Detrick turun keleher jenjang Fiona, menciptakan kissmark dikulit putih wanita yang tengah dicumbu. Tanpa bisa dihalangi, tangan Detrick dengan cekatan mengangkat kaos oversize sang kekasih yang masih dianggap ilusi


Layaknya seorang bayi, pria tampan tersebut menghisap dan mengulum putingg Fiona yang sudah menegang. Memainkannya dengan lidah dalam posisi masih berdiri. " Euuuhh ahhhh." Tentu, desahaan Fiona tak bisa ditahan.


Wanita itu menikmati setiap sentuhan yang diberikan sang pria. Ia tak munafik, dirinya juga merindukan sentuhan pria tersebut. " Ahkkk." Pekik Fiona saat Detrick menggigit putingg nya. Dan ia kembali mendesaah tatkala Detrick mengulum serta menjilat nya


Fiona menahan kepala Detrick didadanyan" Ahh.. euuuhh." Detrick naik kembali lalu menatap wajah kekasihnya yang sangat dirindukan


" Sungguh ilusi yang nyata." Lirih tepat di depan wajah Fiona. Karena sudah terlalu biasa melihat ilusi sang kekasih membuat Detrick mengira bahwa Fiona hanyalah ilusi lagi.


" Apemmmmhh." Lagi-lagi perkataan Fiona terpotong karena bibirnya kembali dibungkam dengan penuh naffsu.


Tubuh bagian atas Fiona yang sudah tidak memakai penghalang apapun membuat kedua gunung kembarnya tepat mengenai dada bidang Detrick. Empuk, sangat empuk. Pelan-pelan tangan Detrick menyelinap masuk kedalam rok spam Fiona dan mengelus sesuatu disana yang masih terhalang kain segitiga tipis


" Ahhhh..." Desahaan kembali keluar dari bibir Fiona saat jari Detrick mulai mengelus kue apemnya dari balik kain segitiga


Jari-jari nakal Detrick terus mengelus nya dari luar. Sedangkan tangannya yang satu naik meremaas salah satu gunung kembar Fiona yang sudah menegang ujungnya. " Ahhh sa.. sayang.."


" Ahhhhkkkk sayang.. euuhhh enak..." Lenguhann Fiona terdengar saat Detrick tiba-tiba memasukkan jarinya kedalam liyang senggama sang kekasih. Kaki Fiona gemetar menahan rasa nikmat di bawah sana.


Jari-jari Detrick terus mengobrak-abrik bagian dalam Fiona. Bukan hanya satu jari, pria tersebut menambahkan menjadi dua jari dan itupun masih sangat sempit. " Euhhhh ahhhh." Memegang tangan Detrick dari luar yang asik mengobrak-abrik bagian dalamnya


" Ahhhh a.. aku keluar.. ahhh Sayang..." Pekik Fiona mencapai kenikmatan pertamanya. Kakinya lemas, ia lunglai dan hampir jatuh.


Dengan sigap Detrick membopong sang kekasih dan membawanya masuk kedalam ruangan istirahat. Dimana disana terdapat sebuah ranjang yang besar. Setiap langkah, Detrick tak bisa melepaskan pagutan bibirnya


Di letakkan Fiona keatas ranjang dengan sangat hati-hati. Kemudian ia mengukung tubuh mungil sang kekasih yang penuh dengan hasrat. Bagian atasnya sudah tidak memakai apa-apa. Detrick mencium gemas seluruh wajah Fiona dan berakhir di bibir ranum wanita tersebut


" Aku sangat merindukanmu, sayang.. aku mencintaimu.. " kembali mencium bibir Fiona tanpa sempat Fiona menjawab. Kalau memang ini hanya ilusi, ia tak akan keberatan. Biarkan ilusi selalu menemaninya.


Pelan-pelan Detrick melepas rok spam Fiona. Ditariknya kain tipis segitiga tersebut. Setelah beberapa foreplay tambahan untuk semakin membuat mereka basah dan berhasrat. Dan akhirnya mereka masuk ke permainan inti.


Lenguhann dan desahaan terdengar dari kedua bibir insan tersebut. Ranjang bergoyang mengikuti ritme diatasnya, suara ranjang terdengar mengiringi suara desahaan dari mereka berdua.


.........


Setelah melakukan olahraga panas selama 3 jam, Detrick langsung tertidur disamping Fiona. Sedangkan Wanita itu hanya tersenyum lalu mengelus rahang tegas pria tersebut.


" Sangat tampan." Lirih Fiona mengelus-elus wajah Detrick. Fiona semakin mendekatkan wajah dan mencium seluruh wajah Detrick.


Setelah itu ia pun berdiri dan melangkah menuju ke kamar mandi untuk membersihkan badan, dengan keadaan yang tak memakai pakaian.


Sayup-sayup Detrick membuka matanya. Ia melihat langit-langit kamar. " Euhhh." Meregangkan otot-otot tubuh namun masih tetap dalam keadaan berbaring


Setelah semua kesadarannya kembali " Fio! Fiona!! " Teriak Detrick. Ia terduduk dan mengusap kasar wajahnya " Halusinasi lagi." Berdecak keras


" Haha sialan!! " Tertawa hambar.


Menyandarkan punggungnya di pan ranjang " Tunggu dulu. Aku tidak pakai baju?! " Pekiknya mengintip dari balik selimut


" Apa itu semua nyata? Memang seperti nyata. Tapi, siapa wanita nya.." meremaas rambut kesal. " Sialan!!!! Sebenarnya siapa wanita itu!! " Ia masih tidak percaya bahwa Fiona benar-benar ada. Ia merasa wanita tadi bukanlah Fiona, ia hanya melihat wajah sang kekasih disana


Dan apa yang sudah ia lakukan pada wanita itu tadi " Aku menidurinya! Bahkan mencium nya. Sialan!! " Ia merasa sudah mengkhianati Fiona

__ADS_1


Saat sedang asik melamun tiba-tiba..


Ceklek...


Pintu kamar mandi terbuka. Fiona keluar dengan hanya menggunakan jubah kimono yang menutupi tubuhnya. Sontak Detrick menoleh melihat siapa yang telah tiduri


Deg...


Fiona tersenyum melihat wajah Detrick " Sayang, kamu sudah bangun." Ucap Fiona melangkah mendekat ke arah ranjang. Detrick masih diam, ia membeku Melihat siapa yang ada didepannya sekarang


Fiona pelan-pelan naik ketas ranjang " Ada apa sayang? " Memegang pipi Detrick yang melihatnya dengan tatapan terkejut


Fiona terkekeh " Hei... Kamu baik-baik saja 'kan."


Tangan Detrick pelan-pelan naik memegang pipi sang wanita " i.. ini nyata.." ucapnya dengan terbata-bata


Fiona menaikkan alisnya " Tentu saja." Jawab dengan wajah polos masih tidak mengerti. Sebenarnya ada apa?


Detrick menangkup pipi Fiona dan menatap nya lekat. Tatapannya menjadi sendu " Ini nyata. Ini bukan ilusi." Memeluk pinggang Fiona dan membenamkan wajah di dada Fiona


Tangan Fiona terangkat mengelus rambut sang pria " Ada apa hmm? " Suara Fiona sangat lembut masuk ketelinga Detrick


" Jangan menghilang lagi." Gumam Detrick masih menenggelamkan kepalanya di dada sang kekasih


" Aku tidak hilang. Hanya pergi sebentar." Seru Fiona dengan nada memberikan pengertian. Ia seakan-akan sedang membujuk anak kecil


" Bukan sebentar, tapi kamu pergi nya sangat lama." Rengek Detrick semakin membenamkan wajahnya


Fiona Terkekeh " Iya, maafkan aku." Kini tangan nya mengelus punggung Detrick.


Detrick tiba-tiba terisak " Hiks.. jangan tinggalkan aku. Aku tidak bisa hidup tanpa mu. Maafkan aku." Suaranya parau. Walaupun ia mencoba menahan tangis namun hal itu sia-sia saja, air matanya mengalir tanpa izin


Fiona terkejut. Pria angkuh yang ucapannya tidak bisa dibantah ini sedang menangis didalam pelukannya?? " Iya. Aku tidak akan meninggalkan mu." Tapi Fiona tetap menjawab.


" Aku rela di hidup dengan mu selamanya."


Detrick terkesiap. Ia langsung menarik tengkuk Fiona dan melumaat bibir ranum yang menggodanya tadi. Membuat Fiona harus menunduk sedangkan Detrick mendongak


Setelah melepas pagutannya " Masih manis." Mengusap bibir sang kekasih. Fiona hanya tersenyum manis mendengar nya.


Tatapan Detrick berubah menjadi sendu. Ia kembali menunduk " Maafkan aku. Gara-gara aku anak kita jadi pergi untuk selama-lamanya."


Fiona terdiam. Ia juga sangat menyayangkan hal itu. Tangan lentik tersebut terangkat dan mengelus kembali rambut sang kekasih " Ti.. tidak ma hiks..." Walaupun ditahan, tetap saja jatuh. Fiona tidak bisa menahan air mata jika menyangkut anaknya yang sudah pergi


Detrick mendongak dan melihat Fiona yang tengah menangis semakin membuat nya merasa bersalah " Maaf... Maafkan aku." Semakin mengeratkan pelukan.


Detrick kembali menatap wajah kekasihnya yang kini bersimpah air mata. Ditnagkup nya pipi Fiona " Jangan menangis sayang. Kita bisa berusaha lagi." Seru nya.


Bukannya berhenti menangis, Fiona malah semakin mengeraskan tangisannya. Bagaimana bisa sang kekasih malah mengatakan hal vulgar seperti itu


" Hahaha sudah yah." Fiona mengangguk lalu melerai pelukan. Keduanya saling menatap


" Cepatlah bersiap. Aku ingin membawa mu pergi ke suatu tempat." Mengusap pipi sang kekasih


" Kemana? "


" Tidak usah bertanya. Aku yakin kamu pasti menyukainya." Kata Detrick dengan nada suara yang kembali memerintah seperti dirinya dulu.


Fiona mencebik. Dasar tukang suruh, gerutu dalam hati. Ditinggal baru nangis. Dengusnya


" Baiklah." Pasrah Fiona

__ADS_1


Detrick tersenyum senang lalu mengecup singkat bibir Fiona dan segera bangkit menuju ke kamar mandi. Setiap langkah, ia selalu bersenandung. Bahkan saat mandi pun ia tak juga ikut menyanyi sangking senangnya.


Fiona hanya geleng-geleng kepala. Ia juga ikut bahagia. Sesuai perkataan Detrick, ia kembali memungut pakaiannya " Eh! Atasan ku kemana? " Memungut rok spam serta segitiga tipis nya.


Menepuk jidat " Ada diluar yah." Fiona mengintip dari balik pintu. Untunglah tidak ada orang. Ia segera keluar dan mengambil pakaian atasannya yang tergeletak di dalam ruangan Detrick.


Setelahnya ia pun kembali dan memakai pakaiannya. Ia juga tak lupa merapikan rambutnya yang masih basah. Setelah itu, Fiona merapikan kembali pakaian sang kekasih dan keluar dari sana. Wanita itu menunggu Detrick di ruangan sang kekasih.


Sedangkan Detrick. Setelah mandi, ia langsung keluar dari kamar mandi.


Ceklek...


Disapunya setiap sudut kamar pribadi tersebut, tempat saksi bisu kedua insan tersebut mencari kenikmatan dunia. Sebuah set pakaian terlihat sudah rapi di atas ranjang. Detrick tersenyum lalu menghampiri pakaian tersebut.


Ia mencari Fiona. 'kemana dia?' Sekali lagi menyapu setiap sudut kamarnya


" Fio.." panggil Detrick pelan namun tak mendapatkan jawaban. Ia tiba-tiba menjadi panik. Bagaimana kalau sang kekasih kembali meninggalkan nya? Pikiran buruk menghantam kepala


" Fiona.. sayang.." teriak Detrick


" Fio!!! Sayang..." Kembali berteriak. Air matanya hampir menetes


Ceklek..


" Hmm ada apa, sayang? " Menyembulkan kepala. Ia tak sengaja mendengar teriakan Detrick yang mencari dirinya


Detrick berbalik. Mata nya sudah memerah, dengan langkah cepat Detrick menghampiri Fiona lalu mendekapnya erat " Aku kira kamu pergi meninggalkan aku." Mengecup kepala Fiona berkali-kali


Fiona mendongak lalu tersenyum " Tidak akan. Ayo cepat pakai pakaian mu." Mengelus pipi Detrick.


Detrick tersenyum lalu melumaat sebentar bibir sang kekasih yang sudah menjadi candu baginya. Bibir yang sangat dirindukan


..........


Setelah drama menguras air mata tadi. Keduanya pun keluar dari dalam ruangan dengan saling menggenggam tangan. Wajah keduanya nampak berseri senang. Bahkan Detrick kerap kali tersenyum jika berbicara dengan Fiona


" Michael. Bagaimana? Apa kau sudah menyiapkan nya? " Tanya Detrick kepada Michael yang tengah berdiri di depan ruangan


Fiona mengerutkan kening heran. Menyiapkan apa? Pikirnya


" Sudah tuan. Anda hanya harus menandatangani surat tersebut." Jawab Michael


" Kerja bagus." Menepuk pundah Michael lalu menarik tangan Fiona untuk melanjutkan langkah


Fiona berbisik " Menyiapkan apa? "


" Nanti kamu juga tahu." Singkat Detrick. Fiona hanya menurut. Lagipula, menuntut pun tak akan mendapatkan jawaban.


Semua karyawan yang melihat keduanya nampak tersenyum senang. Akhirnya sang CEO dapat tersenyum lagi. Batin mereka semua.


Hingga Fiona dan Detrick sampai di parkiran. Detrick sendiri yang membawa mobil. Sebelum masuk, Detrick terlebih dahulu membukakan pintu mobil untuk sang kekasih " Silahkan sayang."


Fiona Terkekeh. Sedikit terkejut memang, namun ia akan mencoba terbiasa " Terima kasih." Setelah melihat Fiona sudah duduk dengan tenang, Detrick pun memutar mobil dan masuk kedalam mobil di kursi pengemudi.


.


.


TBC


Jangan lupa tinggalkan jejak. like komen dan votenya 😘 banyakin hadiah nya juga biar othor tambah semangat nulis nya ✌️

__ADS_1


...klik tanda love dibawah ini 👇...


__ADS_2