Terjebak Hasrat Majikan

Terjebak Hasrat Majikan
Sial! Dia sangat manis


__ADS_3

Keduanya masuk kedalam kamar. Saat Fiona sudah masuk kedalam kamar, rupanya Detrick sedang berada di kamar mandi.


" Aku harus menyiapkan piyama." Ucap Fiona menuju ke walk closet. Saat membuka lemari, tiba-tiba menyeruak bau Detrick yang membuat nya teringat dengan adegan tadi.


Fiona menggeleng keras serta memukul-mukul pipinya " Jangan dipikirkan! Yah anggap angin lalu, lagipula hal itu 'kan sudah biasa di negara ini." Ucapnya menenangkan diri


" Tapi... Itu ciuman pertama ku." Lirih Fiona


Blush..


Lagi-lagi tanpa ia sengaja semburat asap merah keluar dari kepalanya " Tuan Detrick sangat hebat dalam berciuman. Hahhhh ya iyalah, pasti dia sudah berpengalaman, siapa sih yang tidak tergoda melihat bibir seksi nya itu.


" Haisss kenapa aku kesal sendiri sih." Ketus Fiona dan segera mengambil piyama tidur Detrick lalu menaruhnya di atas tempat tidur.


Tak ingin buang waktu ia segera keluar dari dalam kamar dan menuju ke kamar mandi lain. Ia juga ingin menghindari Detrick. Hanya mencium bau tubuhnya saja sudah membuat Fiona mengingat kejadian di mobil tadi, bagaimana jika ia melihat orangnya langsung bisa pingsan Fiona.


Sedangkan di sisi lain, Detrick yang sudah selesai meredamkan hasratnya yang bangkit karena ciuman panas tadi harus membuat nya bermain solo di dalam kamar mandi.


Dengan wajah yang memerah ia keluar Kamar mandi " Hahhh memalukan." Menyugar rambut ke belakang


Dengan setengah telanjang, ia menghampiri kasur dan rupanya disana sudah ada piyama yang pastinya di siapkan oleh pelayan cantiknya.


Detrick tersenyum tipis saat mengingat adegan di mobil tadi, ia memegang bibirnya. " Jadi seperti ini rasanya ciuman. Hmm manis." Gumam Detrick


Ia mengambil piyama tersebut " kenapa gadis itu lama sekali? Apa dia mandi di kutub Utara." Gerutu nya. Ia sangat ingin melihat wajah cantik nan manis Fiona.


Setelah memakai piyama, Detrick menyandarkan punggungnya di pan ranjang " Ck! Bibirnya saja semanis itu, bagaimana yang lainnya." Entah mengapa ia tiba-tiba memikirkan hal mesum.


Detrick mengambil ponselnya di atas nakas yang sedari tadi berbunyi.


" Ada apa?." Tanya Detrick setelah menekan tombol hijau


" Saya ingin melaporkan sesuatu, tuan." Ucap asisten serbaguna di seberang


" Apa?." Menyerngit heran, tidak biasanya Michael menelpon malam-malam hanya untuk sebuah laporan. Terkadang sang asisten akan melaporkan sesuatu saat memang sudah jam kerja


" Ada masalah di Perusahaan yang berada di negara B. Saat memeriksa laporan yang saya dapat tadi, ada beberapa yang mengganjal di dalam nya." Ujar Michael


" Terus? Bukannya hal itu sudah biasa. Kamu saja yang menangani nya."


" Ini memang hal yang biasa tuan, tapi sepertinya yang masalah kali sepertinya harus anda sendiri yang turun tangan. Sebab ini juga menyangkut masalah para dewan direksi."


Detrick berdecih " Baiklah.. baiklah... Jadi, kapan kita berangkat?." Akhirnya pasrah, karena walau bagaimanapun ia tetap seorang presider.


" Sepertinya besok tuan. Karena ini memang hal yang sangat mendesak."


" Apa!!? Besok? Ck aku baru pulang tapi harus pergi lagi." Rasanya sangat berat untuk meninggalkan Fiona


Sedangkan yang di seberang malah menyerngit heran. 'bukannya tuan Detrick tidak pernah protes masalah jadwalnya sebelumnya yah. Ah.. apa karena sekarang ada nona Fiona yah. Ckckck nona Fiona memang hebat, bisa meluluhkan hati sedingin es dan seangkuh baja itu'

__ADS_1


" Jadi, apa anda akan memundurkan jadwalnya tuan?."


" Memangnya bisa?." Ia terlihat berbinar


" Ah.. maaf tuan, sepertinya hal itu tidak bisa."


" Sialan! Jangan katakan jika tidak bisa! Sudah berani kau yah, apa karena akhir-akhir ini aku sedang melembek pada mu?."


" Ma.. maaf tuan, saya tidak bermaksud..__"


Detrick berdecak " Besok kita berangkat." Menutup sambungan telepon sepihak. Ia kesal, sungguh baru kali ini ia sekesal ini karena masalah pekerjaan.


Ia berdiri sambil berdecih " Gadis bodoh itu kenapa lama sekali." Gerutunya lalu hendak mencari Fiona. Entah mengapa ia tidak tenang sebelum Melihat wajah gadis yang baru saja ia perawani bibirnya


Tok.. tok.. tok..


Senyuman Detrick langsung mengembang saat terdengar ketukan dari balik pintu. Ia cepat-cepat kembali duduk di atas ranjang lalu bersahut seperti biasa


" Masuk."


.........


Fiona yang telah selesai mandi, langsung mengambil piyama yang ia sudah persiapkan sebelum keluar dari kamar Detrick.


Ia sengaja memperlambat gerakan tangannya. Sungguh ia masih belum siap bertemu dengan sang bos setelah kejadian yang tadi. Tapi anehnya, bukannya marah Fiona malah merasa berdebar


" Hahhh sungguh perasaan yang aneh." Mulai memakai piyama nya


Ia harus menghadapi apa yang akan ia dapatkan setelah ini, dan seharusnya ia juga harus protes dan mendapatkan kompensasi " Iya benar! Aku seharusnya dapat kompensasi, atas hilangnya keperawanan bibir ku." Ucapnya semangat


Ia pun keluar dari kamar dan pergi ke kamar Detrick. Tepat di depan pintu kamar Detrick, ia mengatur pernafasan sebelum masuk kedalam


" Huuufffh.. kamu pasti bisa Fio!."


Tok.. tok.. tok...


Setelah mendapatkan sahutan dari dalam dengaj sangat perlahan ia membuka pintu.


Ceklek...


" Kau lama sekali." Baru juga Fiona melangkah sudah terdengar suara ketus dari sang bos


Fiona tertawa canggung " Maafkan saya, tuan. Tadi..___"


Mengangkat sebelah tangannya ke udara tanda Fiona harus menghentikan ucapannya " Sini." Singkat Detrick


Dengan Langkah gugup Fiona mendekati Detrick di sisi ranjang. " Ada apa tuan?." Tanya Fiona saat sudah ada tepat di samping Detrick


Detrick menarik tangan Fiona hingga gadis yang tidak mempunyai perisapan terhuyung dan jatuh tepat di dada bidang sang bos.

__ADS_1


" Tu.. tuan." Wajahnya sudah kembali memerah. Ingatan tentang ciuman panas di dalam mobil tiba-tiba terlintas di benak Fiona begitu saja


Detrick mendekap pinggang Fiona lalu mengangkat tubuh mungil tersebut ke pangkuannya berhadapan dengan dirinya.


" Tu.. tuan, a.. apa saya bisa tu.. turun." Gugup Fiona, lagi dan lagi jantung nya berdebar begitu cepat. Ia juga tanpa sengaja merasakan detak jantung sang bos yang beedetak cepat seperti nya


" Tu..__" Jari telunjuk Detrick sudah ada di bibir Fiona membuat gadis mungil yang sedang dilanda kegugupan tidak bisa meneruskan perkataannya


" Sudah ku duga, ada yang aneh dari dirimu." Ucap Detrick dan kini mengusap bibir ranum Fiona


Fiona tidak sanggup untuk berbicara bahkan ia juga tak berani menatap mata sang bos.


Detrick tersenyum tipis dan ...


Cup..


Ia menempelkan bibirnya dengan bibir ranum dan kenyal Fiona, membuat Fiona tak bisa berkata-kata lagi.


Dengan perlahan Detrick melumaat habis bibir Fiona, dan hal yang tidak ia duga adalah Fiona membalas ciuman panas dari Detrick.


Fiona yang tadinya ingin protes dan mendapatkan kompensasi atas hilangnya keperawanan bibir nya, tidak jadi karena lagi-lagi di berikan kenikmatan akan kelihaian sang bos dalam berciuman.


Terbawa oleh suasan, hasrat dan nafsu Detrick mulai melucuti piyama Fiona di mulai dari pundak putih nan mulus Fiona. Ciuman Detrick turun ke leher Fiona menciptakan lenguhan sesat dari bibir ranum gadis itu


" Euhh hmm." Ciuman Detrick kembali ke bibir Fiona


Tangan Detrick sudah menjalar kemana. Tangan besar itu masuk kedalam piyama Fiona dan mencengkram sesuatu yang seperti mochi tersebut membuat yang empunya tersadar


'tu.. tunggu dulu. Bukannya ini sama saja dengan menjual tubuhku'. Tapi, ia sama sekali tidak bisa mendorong tubuh besar bosnya.


'tapi.. perasaan apa ini' Saat hanyut akan kenikmatan tersebut, tiba-tiba Detrick menghentikan kegiatan nya lalu memperbaiki piyama Fiona serta mengambil selimut lalu membungkus tubuh mungil tersebut.


" Tu.. tuan.." Nafas Fiona ngos-ngosan di buatnya


" Tidurlah." Ucap Detrick meninggalkan Fiona tanpa melihat wajah gadis cantik itu yang sedang memerah dan masuk kedalam kamar mandi.


Fiona membeku, dan Blushhh...


" Arggghh bodoh.. bodoh.. bodoh..." Pekik bisik Fiona sembari memukul-mukul kepalanya. Setelah tenang ia menarik selimut yang membungkus tubuhnya " Bagaimana bisa aku menikmati ciuman itu." Gumam nya


" Aghh.. pokoknya kali ini aku akan protes! Lihat saja!."


Di saat Fiona yang merutuki kebodohan nya karena menikmati ciuman tersebut, berbeda dengan Detrick yang harus berjuang untuk menidurkan adik kecilnya yang terlanjur bangun.


" Sial.. bibirnya sangat manis." Maki Detrick sembari tangannya mengocok sesuatu yang ada di bawah, tidak mungkin ia mandi air dingin malam-malam seperti ini.


" Awas kau! Akan ku makan lain kali.. aghh." Erang nya dan calon-calon anak Detrick keluar begitu saja tanpa masuk kedalam sarangnya.


.

__ADS_1


.


__ADS_2