
Sudah hampir sebulan Detrick keluar dari kamar dan kembali melakukan aktivitas biasanya. Tidak ada yang berubah, kecuali Detrick yang lebih dingin dan pendiam. Bahkan lebih kejam dan mungkin bodoh amat
Pria tersebut sudah tidak pernah tersenyum, yah walaupun memang jarang setidaknya Detrick tetap akan tersenyum sekali-kali bila berhadapan dengan klien nya, namun setelah dia keluar dari kamar senyuman seakan sirna. Bahkan mungkin Detrick sudah lupa cara tersenyum. Pria tersebut semakin tak tersentuh
Saat sedang fokus dengan pekerjaan, tiba-tiba pintu ruangan di ketuk
Tok.. tok.. tok..
Detrick berdecak " Masuk." Sahutnya
Ceklek...
" Ada apa." Seru Detrick saat melihat Michael masuk
" Ada yang ingin bertemu anda, tuan." Kata Michael dengan sopan
Kening Detrick berkerut " Siapa? " Orang mana lagi yang berani menemui seorang Detrick Reventoon tanpa membuat janji " Ck! Aku tidak ingin menemuinya." Ketusnya
" Anda yakin, tuan? "
" Hah!! Jangan membantah! " Hampir saja ia menggebrak meja. Michael pun mengangguk
" Baiklah tuan. Akan saya usir wanita itu." Setelah mengatakan itu ia pun pamit dan pergi dari sana.
Sedangkan Detrick kembali fokus pada pekerjaan nya. Ia menghembuskan nafas kasar " Kau dimana sayang." Lirih sembari mengusap kasar wajahnya.
Satu bulan ini ia selalu melihat halusinasi sang kekasih Yang selalu tiba-tiba muncul begitu saja dihadapan nya. Sungguh membuat Detrick frustasi, sebab setiap kali Detrick ingin memeluk Fiona, selalu saja bayangan Fiona hilang meninggalkan nya yang mana malah semakin membuat pria tampan tersebut sedih dan frustasi
.........
Beberapa hari sebelumnya. Lagi-lagi Fiona duduk termenung di taman samping kamar nya. Hal ini sudah sangat biasa Fiona lakukan. Sembari melamunkan mantan kekasih
Dan sekali lagi, Enhart menghela nafas kasar melihat adiknya duduk termenung lagi. Dengan langkah pelan, Enhart menghampiri sang adik.
Di pegangnya pundak sang adik dari belakang " Fio."
Sontak Fiona berbalik " Sayang." Langsung berdiri dengan senyum lebar. Namun perlahan senyuman nya redup. Ia jadi salah tingkah " Haha kakak. Ada apa? " Menggaruk tengkuknya yang tiba-tiba gatal
Enhart tersenyum getir. Sepertinya ia harus menuruti perkataan Bryanskara. Ia merasa menjadi kakak yang kejam terhadap adiknya sendiri " Ayo duduk dulu." Fiona menurut dan kembali duduk diikuti oleh sang kakak
Setelah keduanya duduk, mereka hanya diam saja. Enhart menatap taman bermain didepannya. Sedangkan Fiona masih menunggu apa yang akan dikatakan Enhart.
" Bagaimana perasaan mu setelah datang kesini? " Bertanya tanpa melihat Fiona
" Seru. Disini semua kebutuhan ku tersedia, aku tidak perlu lelah-lelah mencari pekerjaan." Jawab seadanya. Ini memang benar, ia cukup senang tinggal dimansion ini. Namun tetap saja hatinya serasa masih tertinggal jauh diseberang lautan sana
Enhart menatap sang adik dengan tatapan sendu. Jawaban yang diberikan Fiona tidak sepenuhnya menjawab pertanyaan nya " Apa kamu masih mencintainya? " Menatap lekat wanita disampingnya
Sontak Fiona menoleh dan membalas tatapan sang kakak. Melihat tatapan tajam Enhart membuat Fiona segera memalingkan wajah " Aku tidak mengerti apa maksud kakak." Mencoba mengelak. Walau dalam hati ia ingin mengiyakan
" Kakak sudah sering bertemu dengan Tuan Bryanskara." Perkataan Enhart berhasil membuat Fiona kembali menatap lekat sang kakak dengan mimik wajah yang terkejut
" Maksud kakak. Kakek Bry? " Dengan kening yang menyerngit. Enhart mengangguk " Bagaimana bisa!! " Pekik Fiona dan langsung berdiri
Enhart Terkekeh " Tenanglah sayang. Ayo kembali duduk." Fiona lagi-lagi menurut dan duduk disamping sang kakak
" Apa yang kakak bicarakan dengan kakek Bry? "
" Banyak. Salah satunya, tentang mantan kekasih mu." Bahkan menyebut nama Detrick saja, Enhart enggan. Jujur saja ia masih menyimpan dendam kepada pria tersebut karena sudah menyakiti sang adik dan karena nya juga anak dalam kandungan Fiona tak bisa diselamatkan
__ADS_1
Fiona semakin serius mendengarkan " Tuan Bryanskara mengatakan. Mantan kekasih mu dulu pernah sekali mengamuk dimansion karena kesal setelah kepergian mu. Bahkan ia sempat depresi dan mengurung kamar sampai satu bulan lebih saat dia tidak bisa menemukanmu. Dan sekarang walaupun sudah keluar dari kamar, tapi dia seperti mayat hidup." Ucapnya menjelaskan
Deg..
Ada rasa sesak didada Fiona mendengar nya " Se.. separah itu? " Ia semakin khawatir mengingat mantannya mempunyai syndrom yang akan kambuh sesuai perasaan pasien
Enhart mengangguk " Bukannya kakak akan memaafkannya begitu saja. Kakak juga tidak memaksamu, tapi setidaknya kamu harus menyelesaikan masalahmu dengan nya terlebih dahulu." Mengelus rambut Fiona
Fiona semakin terkejut mendengar perkataan sang kakak. Dadanya berdetak cepat. Apa maksudnya dia di izinkan bertemu dengan Detrick? " Maksud kakak? "
Enhart tersenyum tipis " Yah seperti itulah. Bersiaplah besok kita berangkat."
Wajah Fiona berubah menjadi " Baik! " Seru dengan semangat. Namun lambat laun senyumannya memudar dan menampakkan wajah cemas
" Ada apa? " tanya Enhart yang menyadari perubahan raut wajah sang adik
" Emmm bagaimana kalau Detrick masih marah dengan ku. Aku... Aku.. " Ia benar-benar takut nanti Detrick malah mencampakkan nya kembali
" Apa maksudmu sayang. Seharusnya dia yang khawatir karena takut kamu masih marah padanya." Kenapa malah pria itu yang dikhawatirkan. Entah seberapa jauh perubahan sang adik. Atau mungkin Fiona tak berubah, namun ia hanya seperti itu pada orang yang dicintai
" Benarkah? "
Dengan senyuman manis, sembari mengusap kepala sang adik " Iya sayang. Kalau dia masih marah, tinggalkan lagi saja." Enhart sungguh ingin membuat Detrick menyesal untuk keberapa kalinya? Tapi sayang, hal itu tak akan pernah terjadi sebab Detrick tak akan melepaskan Fiona lagi
Fiona mencebik " Sudah ah! Aku mau siap-siap."
.........
Setelah satu hari tiba kembali di negeri asal kelahiran Fiona, mereka terlebih dahulu beristirahat di apartemen. Setelah esoknya Fiona sudah bersiap-siap untuk ke perusahaan sang kekasih dengan semangat yang membara.
Dan disinilah sekarang Fiona. Dengan rok spam selutut dan baju kaos oversize, memakai sepatu kets dan rambut yang digerai membuat Fiona semakin terlihat dewasa dan sangat cantik.
Menarik nafas yang dalam lalu membuangnya perlahan " Huhhh oke Fio! Semangat." Lalu melangkahkan kakinya menuju ke Perusahaan
" Nona Fiona." Satpam yang selalu menjaga disitu terkejut melihat Fiona yang sudah beberapa bulan tak terlihat lagi
Fiona tersenyum menanggapi " Selamat pagi." Sapanya lalu kembali berjalan dengan anggun masuk kedalam perusahaan
Semua orang menatap tak percaya kepada Fiona. Akhirnya kekasih tuan Detrick datang, pikir mereka semua. Fiona dengan langkah santai namun anggun masuk kedalam lift menuju le ruangan sang kekasih.
Ting...
Saat keluar dari dalam lift, Fiona tak sengaja bertemu dengan Michael " Michael." Panggil Fiona
Michael yang tadi berjalan melewati Lift langsung berhenti saat mendengar suara yang sangat tidak asing, yang tiap malam menjadi bayang-bayang di pikirannya karena harus menemukan wanita itu. Michael Langsung berbalik
" No.. nona Fiona.." lirih Michael, berkas yang di pegang jatuh begitu saja ke lantai
Fiona berjalan menghampiri Michael " Kita sudah lama tidak bertemu yah. Bagaimana kabarmu." Memungut berkas yang dijatuhkan tadi lalu menyodorkan kepada Michael
" Nona Fiona, anda benar nona Fiona 'kan." Pekik Michael. Fiona terkekeh kenapa bisa seorang Michael yang datar memperlihatkan raut wajah yang seperti itu. Michael menerima kembali berkas yang disodorkan padanya
" Hahaha tentu saja. Memangnya aku ada berapa di dunia ini." Menepuk pundak Michael
Michael tersenyum senang " Syukurlah anda kembali nona. Tapi selama ini anda kemana saja? Kami sudah mencari kemana-mana tapi tidak bertemu."
Fiona mengangkat sebelah alis. Mencari? Dia sama sekali tidak tahu. Jadi selama ini dia di anggap Hilang? " Aku ikut kakak ku. Oh yah kemana tuan muda mu? " Sudah tak sabar bertemu dengan mantan kekasihnya walaupun sebenarnya ia juga sedikit gugup
" Silahkan nona, tuan Detrick ada di ruangannya." Mereka pun berjalan menuju ruangan Detrick.
__ADS_1
Dalam hati Michael, Ia sangat bahagia 'akhirnya aku bisa beristirahat saat malam' selama ini ia tidak pernah sekalipun istirahat jika malam tiba, sebab ia harus mencari keberadaan Fiona yang sama sekali tidak meninggalkan jejak kecuali di rumah sakit.
Mereka akhirnya sampai di depan ruangan Detrick disana terlihat Iden " Nona Fiona. Ahhh akhirnya anda kembali juga nona." Seru Iden tersenyum lega dan senang
" Silahkan nona." Ucap Michael hendak membuka pintu ruangan
" Tunggu Michael." Perkataan Fiona membuat Michael segera melepas tangannya di ganggang pintu
" Ada apa nona? "
" Aku gugup..." Membuat Michael dan Iden hanya mengelum senyum. Mereka seperti melihat seorang wanita yang sudah tidak lama bertemu dengan kekasihnya
" Apa kamu yang masuk terlebih dahulu, nanti aku masuk. Tapi kamu bilang ke Detrick kalau ada yang ingin menemuinya." Katanya lagi
Michael mengerti perasaan Fiona akhirnya mengangguk dan mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum masuk
Tok.. tok.. tok..
Setelah mendapatkan sahutan dari dalam ia pun masuk kedalam. Sedangkan Fiona dan Iden menunggu diluar. Berharap agar semua berjalan lancar. Tak lama kemudian Michael keluar
" Bagaimana Michael? " Tanya Fiona dengan wajah penasaran
Michael menghembuskan nafas kasar " Tuan Detrick mengusir saya dan katanya dia tidak mau bertemu." Seru Michael. " Sebaiknya anda masuk saja nona. Saya sengaja tidak menyebut nama anda agar menjadi kejutan." Lamjutnya kemudian
Fiona terdiam. Sejak kapan Michael menjadi seperti ini? Hahh Fiona tak ingin memikirkannya. Pelan-pelan ia membuka pintu ruangan
.........
Detrick selalu memikirkan wajah sang kekasih. Kemana dia? Sedang apa? Selalu saja terbayang wajah sang kekasih. Bahkan terkadang halusinasi Fiona muncul begitu saja.
Saat sedang asik melamun, tiba-tiba pintu ruangan terbuka
Ceklek..
Detrick berdecak " Apa lagi Michael. Kau tidak punya sopan santun sekali! " Tegas Detrick lalu mendongak melihat kearah pintu masuk
Deg..
" Fi.. Fio." Lirih Detrick melihat siapa yang ada di depannya
Sedangkan Fiona tak kalah terkejutnya melihat wajah sang kekasih. Wajahnya nampak kurus 'apa dia jarang makan lagi'
Wajah yang di sangat dirindukan " Sayang.." lirih Fiona
Detrick tertawa hambar 'lagi-lagi ilusi. Sebenarnya kemana kamu sayang' ia ingin berteriak memaki agar ilusi kekasihnya yang selalu datang agar tak muncul lagi. Namun ia juga tidak tega. Panggilan yang selalu dikatakan sang kekasih setiap muncul sebagai ilusi
Sedangkan Fiona mengerutkan kening mendengar suara Detrick yang sangat hambar. Ia mulai berpikiran buruk
Detrick langsung berdiri dari duduknya dan dengan cepat mendekap tubuh Fiona. Fiona terkesiap, ia lalu membalas pelukan sang pria. Pelukan yang selalu dirindukan
" Kenapa kali ini tidak hilang." Menatap lekat wajah Fiona
.
.
TBC
Jangan lupa tinggalkan jejak. like komen dan votenya 😘 banyakin hadiah nya juga biar othor tambah semangat nulis nya ✌️
__ADS_1
...klik tanda love dibawah ini 👇...