Terjebak Hasrat Majikan

Terjebak Hasrat Majikan
Ini Sih Istana


__ADS_3

Flash back on


Fiona yang saat itu masih berusia 3 tahun sedang membersihkan bagian dalam rumah sebelum di berantakan lagi oleh kedua orang tuanya saat pulang


Tangan kecil nan mungil yang penuh luka itu melap meja tempatnya akan makan nanti. Hari sudah mulai sore tapi masih belum ada tanda-tanda kedua orang tuanya pulang, sebenarnya hal itu tidak aneh lagi Sudah biasa kedua orang tuanya pulang tengah malam dan Fiona harus bisa begadang untuk menunggu keduanya.


Apalagi uang makan juga hanya kedua orang tuanya yang memberikan. Jadi, untuk bertahan hidup mau tidak mau Fiona harus menunggu kedua orang tuanya pulang. Ia tahu uang yang di berikan kedua orang tuanya haram, tapi ia tidak punya pilihan lain bukan?


Fiona melap keringat di dahinya " Ayah sama ibu masih lama pulang yah." Ujarnya melihat langit yang mulai berwarna oranye. Ia tidak punya jam, jadi untuk melihat waktu Fiona harus melihat langit luar.


" Sudah mau malam." Menaruh lap di tempatnya. Fiona sudah tidak cadel saat ia memasuki usia 3 tahun. Lingkungan tempat ia di besarkan membuat Fiona dewasa saat belum waktunya.


Rumah kecil yang dari luar nampak seperti rumah kosong, ada banyak sarang laba-laba dan juga debu di loteng dan juga kaca di luar.


Fioan di larang keluar rumah, ia juga masih kecil untuk membersihkan loteng. Karena itu rumahnya sangat sepi dan tampak tidak mempunyai energi kehidupan. Walaupun begitu, dalamnya tentu sangat bersih, setiap hari Fiona selalu membersihkan bagian dalam rumah.


Tok.. tok.. tok..


Saat tengah asik menunggu salah satu kedua orang tuanya pulang, tiba-tiba dari pintu depan terdengar suara. Sontak Fiona berdiri, ia mengayunkan kaki mungilnya menuju pintu depan.


Ia menaruh daun telinga bersandar di pintu. Ia harus waspada, walau bagaimanapun Fiona masih sangat kecil.


Tok.. tok.. tok..


" Permisi..." Suara seorang pria kembali terdengar


Pelan-pelan Fiona membuka pintu, tapi hanya sebagian " Ada yang bisa saya bantu?." Tanya Fiona. Ia melihat dua orang pria dengan memakai seragam polisi


" Hmm adik orang tuanya ada?." Tanya salah seorang polisi disana


Fiona menggeleng " Ayah sama ibu belum pulang." Jawabnya


Terlihat kedua orang polisi itu saling pandang dengan tatapan bingung dan tidak tahu harus apa.


Saat salah seorang polisi ingin membuka suara tiba-tiba.


Brukk...


Sesuatu tak sengaja keluar dari bagasi mobil yang sepertinya tidak tertutup rapat.


Mata Fiona membulat melihat sesuatu yang jatuh itu. Tangannya bergetar, ia seketika membeku dan tak tahu harus apa. " A.. ayah.." panggilnya dengan terbata-bata. Ya sesuatu yang jatuh itu adalah ayahnya yang penuh dengan luka dan wajah yang pucat.


Sontak kedua pria berseragam polisi itu mengangkat ayah Fiona. Lagi-lagi keduanya saling pandang dan tak tahu harus apa saat melihat wajah syok gadis kecil di depan mereka.


" Ayah kenapa om?." Tanya Fiona dengan bibir yang bergetar.


" Hmm dik, apa kamu punya nomor telepon saudara jauhmu?."


Fiona menggeleng. 'gawat! Bagaimana ini! Aku tidak tahan.' batin Fiona menunduk. Ia menutup mulutnya sebelum bibirnya itu melengkung 'kan senyuman yang lebar. Iya, dirinya tidak sedih melainkan senang melihat salah satu sumber penderitaan nya tak bernyawa di depannya.


Ckitttt


Sebuah mobil tiba-tiba mengerem mendadak di depan rumah Fiona. Dua orang pria mengangkat tubuh ibu Fiona yang sudah tak bernyawa lagi dengan luka di sekujur tubuh.


Lagi-lagi Fiona membeku, ia sudah tidak tahu harus apa. " I... Ibu."

__ADS_1


Fiona semakin menunduk. Apa-apaan sore ini, Kenapa ada banyak kesenangan yang menimpa dirinya. Ah.. Fiona tak tahan


" Hiks.. hiks.. ayah ibu.." ia menangis bukan karena sedih, melainkan terlalu bahagia atas kematian kedua orang tuanya.


Empat orang pria dewasa di sana menatap iba Fiona, mereka mengartikan tangisan Fiona sebagai tangisan kesedihan yang mendalam. Padahal Fiona menangis karena ia terlalu senang, dan mencoba menutupinya dengan air mata.


Jahat? Kejam? Antagonis? Ya, biarlah sekarang ia yang jadi antagonis disini. Fiona tak memusingkan asalkan ia bahagia, bukannya itu yang di ajarkan kedua orang tuanya kepada nya?! Maka biarkanlah ia menangis haru kali ini.


Setelah kematian kedua orang tuanya, keluarga Eren mengadopsi nya karena wajahnya yang manis dan cantik


Fiona bersyukur setidaknya ada yang mengadopsinya, walaupun tidak di perlakukan baik ia tetap senang. Di sekolahkan, dan setidaknya saat masih kecil ia di beri makan gratis.


Flash back off


Fiona membaringkan tubuhnya di atas kasur. Ia menatap langit-langit kamar.


Ting...


Sebuah pesan masuk kedalam ponselnya. Ia menatap sekilas dan yang mengirim pesan nomor tak dikenal, Fiona mengabaikan pesan tersebut.


Hingga..


Drrt.. drrt.. drrt..


Nomor yang tak di kenal itu menelpon, dengan dahi berkerut Fiona mengangkat sambungan telepon tersebut.


" Halo."


" Lihat isi pesan yang masuk ke ponsel anda. Itu alamat tuan Detrick. Besok pagi-pagi anda harus sudah ada di mansion tuan Detrick." Cerocos yang di seberang


" Iya." Ucapnya dan langsung membunuh sambungan telepon


Fiona membeku " Bagaimana dia bisa mendapatkan nomor telepon ku." Menatap aneh ponselnya


" Ah! Dia 'kan asisten serba guna. Jangan dipikirkan... Jangan di pikirkan." Menepis semua kemungkinan


" Hah! Bisa-bisanya aku di suruh datang pagi-pagi." Kembali membaringkan tubuhnya. Ia mencoba menutup mata, membiarkan batin dan juga fisiknya beristirahat dari hiruk-pikuk nya dunia ini.


..........


Pagi datang lebih cepat dari yang di pikirkan. Hanya menutup mata, eh! Bangun-bangun sudah pagi. Yah itulah yang di rasakan Fiona


Dengan langkah gontai ia masuk kedalam kamar mandi membersihkan badan, tadi malam ia begadang untuk membereskan barang-barang nya.


Setelah itu ia pun keluar dari dalam kamar mandi dan mulai mempersiapkan diri. Langit masih belum terlalu terang, ia sengaja bangun pagi-pagi agar tak bertemu dengan iblis berkedok manusia di rumah ini.


Singkat cerita Fiona keluar dari rumah besar itu dengan membawa sedikit kebanggaan telah bertahan hidup sampai sekarang. Ia tersenyum melihat bangunan besar tersebut, dimana dirinya di besarkan sampai sekarang. Walaupun tak menyimpan banyak kenangan indah setidaknya ia tetap masih hidup sampai sekarang.


Fiona naik bus untuk bisa sampai ke alamat yang di berikan Michael tadi malam.


Dan disinilah sekarang Fiona, tepat di sebuah mansion yang sangat besar. Ia mendongak meneliti mansion tersebut dari balik pagar


" Gila! Ini istana!."


Glekk..

__ADS_1


Dari balik pagar tersebut ia akan memulai kehidupan barunya. Entah penderitaan atau malah sebaliknya yang akan ia lalui, setidaknya ia akan berusaha agar bisa keluar hidup-hidup.


" Permisi." Ucap Fiona kepada salah seorang penjaga di balik pagar


" Ada apa?." Tanya penjaga dengan memakai seragam hitam tersebut


" Apa benar ini kediaman tuan Detrick?."


Pria sangar itu meneliti Fiona dari atas sampai ke bawah " Iya. Memangnya kenapa?."


" Hmm itu, saya Fiona yang akan menjadi pelayan tuan Detrick. Tuan Michael juga sudah langsung menyuruh saya agar datang ke sini."


" Oh.. anda nona Fiona. Ayo silahkan masuk." Tiba-tiba sifatnya berubah 360 derajat. Yang tadinya sangat garang sekarang ia malah menjadi manis semanis madu, Fiona yang melihatnya hanya bisa geleng-geleng.


Penjaga membuka pagar dan mempersilahkan Fiona masuk. Rupanya sudah ada Michael yang menunggu


" Selamat pagi Nona. Untunglah anda tidak terlambat." Ujar Michael


" Ah! Pa.. pagi." Balas Fiona dengan senyum kikuk. 'siapa juga yang berani terlambat jika sudah mendapatkan pesan Kematian mu. Brengsek.' ingin sekali ia meneriakkan kata-kata itu di depan wajah pria tampan di depannya.


Tadi malam Fiona kembali mendapatkan pesan dari Michael agar ia tak terlambat dengan berbagai ancaman tersembunyi, membuat Fiona benar-benar tak bisa menutup mata hanya dengan membayangkan wajah Michael saat mengirim pesan tersebut.


" Baiklah nona.. mari ikuti saya." Fiona mengangguk dan mengikuti langkah Michael dengan menarik kopernya.


" Oh yah tinggalkan koper anda, biarkan pelayan yang membawanya ke paviliun."


Fiona tak ingin banyak bicara, ia juga malas berdebat. Jadi dia hanya mengikuti perkataan Michael. Setelah benar-benar menaruh koper nya di depan pintu, keduanya masuk kedalam mansion.


Lagi-lagi Fiona di buat tercengang. Ia masih tidak percaya dengan betapa luasnya mansion ini. Rumah keluarga Eren memang besar, tapi tidak sebesar mansion yang sekarang ia injak lantainya.


" Tuan Detrick ada di atas lantai 3. Anda bisa menggunakan lift tersebut untuk naik. Pintu kamar tuan Detrick yang paling besar dan berdaun dua berwarna emas." Ujar Michael


" Baik tuan. Apa anda tidak ikut naik ke atas?."


" Tidak! Perintah dari tuan Detrick, hanya anda yang naik ke atas. Nona harus melayani semua kebutuhan tuan Detrick, lakukan apapun yang di katakan nya. Perintah nya adalah mutlak!." Ia kembali mengingat 'kan


Glek..


Entah sudah keberapa kalinya Fiona menelan salivahnya. Mungkin air ludah nya sudah berkurang gara-gara hal ini.


" Baik tuan." Ia seperti akan masuk ke medan perang


" Jangan panggil tuan. Saya bukan majikan anda."


" Baik pak Michael." Ujar Fiona


Michael hanya mengangguk, bagaimana pun Fiona memanggilnya ia tak akan keberatan asalkan panggilan tersebut tidak merendahkan nya.


Setelah itu Fiona pun masuk kedalam lift untuk naik ke atas lantai 3.


.


.


TBC

__ADS_1


jangan lupa tinggalkan jejak kalian. Like komen dan votenya 😘 banyakin hadiah nya juga biar othor tambah semangat nulis nya ✌️


__ADS_2