
Fiona memakan makanan nya dengan sangat lahap seperti tak pernah makan selama 3 hari
" Pelan-pelan makannya. Tidak akan ada yang mengambilnya." Ujar Detrick. Entah mengapa tiba-tiba ia menjadi kenyang sendiri melihat Fiona yang makan dengan lahap
" Ah! Ma.. mafkan saya tuan. Tapi saya sangat lapar hehehe." Tetap makan dengan lahap
'wanita ini. Apa dia tidak bisa makan dengan sedikit jaim' ucap Detrick dalam hati. 'yah dia tetap menggemaskan. Eh! Ck lagi-lagi. Sebenarnya sihir apa yang di gunakan wanita rubah ini'
Walau ia bilang begitu, senyuman tipis tetap tersinggung di bibirnya, walaupun tidak ada yang menyadari nya.
" Apa kau selalu makan dengan cara seperti ini di hadapan orang lain." Tanya Detrick, walaupun nada bicaranya tidal seperti seseorang yang sedang bertanya
Fiona menghentikan aksi makan nya " Tidak juga, biasanya saya makan seperti ini kalau sangat lapar. Tapi banyak juga orang yang mengatakan agar aku sedikit jaim kalau sedang makan " Melanjutkan makan
" Kau tidak malu makan seperti ini? Benar apa yang di katakan orang-orang, setidaknya kau harus jaim sedikit."
" Hmm saya tidak terlalu memikirkan apa yang di katakan orang lain. Lagi pula, bukan mereka yang membiayai kehidupan ku, uang makan ku. Jadi, untuk apa aku harus memikirkan perkataan mereka tentang saya." Ucapnya santai
Lagi-lagi sudut bibir Detrick terangkat melihat Fiona 'gadis aneh'
Setelah makan siang usai, Fiona pamit untuk ke kampus. Detrick hanya mengangguk mengiyakan
" Kau harus pulang sebelum gelap." Ucap Detrick
" Baik tuan. Kalau begitu saya undur diri, permisi." Sedikit menunduk lalu keluar dari dalam ruangan Detrick
Di luar lagi-lagi ada Michael yang berdiri di depan pintu " Eh! Pak Michael. Sejak kapan anda disini?." Kejut Fiona, ia sedikit tersenyum kikuk
" Bagaimana? Apa tuan Detrick memakan makanannya?." Tidak menjawab tapi balik bertanya
" Iya pak, tuan Detrick memakan makan siangnya. Dan saya juga ikut membantu." Tersenyum lebar memperlihatkannya giginya yang berderet
Kening Michael berkerut " Nona makan siang bersama dengan tuan Detrick? Di sofa yang sama? Dan makanan yang sama?." Tanya Michael beruntun
" Ya? I.. iya pak. Memangnya ada yang salah?." Fiona tidak percaya Michael bisa berbicara panjang kali lebar dengan nya seperti ini, dan ini kali pertama ia melihat wajah Michael yang sedikit terkejut
" Tidak! Pulanglah." Ujar Michael kembali berwajah datar. Sebenarnya ia terkejut mendengar pernyataan Fiona.
Yang Michael tahu, Detrick tidak akan suka makan siang bersama orang lain kecuali keluarga nya atau klieannya. Apalagi makan siang dalam satu sofa bersama
" Baiklah pak. Saya permisi." Sedikit menunduk, Michael hanya mengangguk tanpa sepatah kata pun saat melihat Fiona menjauh dari sana
" Apa tuan Detrick memang menyukai nona Fiona?." Gumam Michael
Sedangkan Detrick sendiri akhirnya sadar akan apa yang ia barusana lakukan tadi. Ia memegang kepalanya " aku memang nyaman dengan kehadiran gadis mungil itu, tapi bagaimana bisa aku sampai makan siang bersama dalam satu sofa. Ini tidak benar!." Gerutu Detrick
" Sebenarnya sihir apa yang di lakukan gadis itu hingga aku bisa di buat seperti ini olehnya." Menyandarkan punggung di kursi kebesaran nya
Ia terdiam, tiba-tiba sudut bibirnya terangkat lagi " Tapi, tidak buruk juga. Apalagi melihat dia makan dengan lahap seperti tupai membuat ku ingin memakannya." Gumamnya
__ADS_1
Kembali ke Fiona...
Fiona kembali ke kampus
" Hah! Bisa-bisanya dosen tidak masuk lagi! Ck." Gerutu Fiona sambil berjalan keluar kampus. Lagi-lagi dosennya sibuk membuat Fiona mempunyai waktu luang yang kosong
" Mending aku ke minimarket untuk bekerja." Ujarnya masuk kedalam bus. Daripada membuang-buang waktu, mending ia bekerja mencari uang pikir Fiona
Fiona sudah memgabarkan kepada manajer nya kalau ia akan masuk siang ini, jadi saat sampai Fiona hanya tinggal ganti baju lalu bertukar posisi dengan Rara temannya yang juga bekerja di minimarket tersebut
" Semangat yah Fiona. Aku mau susun barang di gudang." Ujar Rara
Fiona menaikkan jari jempolnya " Oke! Kamu juga yang semangat." Memberikan semangat
" Pastinya!."
Setelah itu Fiona pun mulai melayani beberapa pengunjung yang ingin membayar belanjaannya.
Saat Fiona asik duduk sambil bermain ponsel, sebab tidak ada pengunjung lagi. Tiba-tiba ia di kagetkan saat ada seseorang yang memanggil nya
" Nak Fiona."
Sontak Fiona menoleh ke depan minimarket " Ha??! Kakek Bry." Ia terkejut melihat kakek Bry sedang ada di depan minimarket dan tersenyum ke arah nya
Fiona keluar untuk menemui kakek Bian mumpung sedang sepi
" Kakek, apa yang kakek lakukan disini?." Tanya Fiona kepada kakek Bry
" Ayo kek, kakek duduk dulu." Memapah kakek Bry untuk duduk di kursi panjang di depan minimarket, ia juga ikut duduk di samping kakek Bry
" Memangnya ada apa, sampai kakek datang menemui Fiona?." Tanya Fiona
" Memangnya salah kakek mengunjungi cucu kakek sendiri." Ucap Kakek Bry dengan senyuman. Ia sudah menganggap Fiona sebagai cucunya, kebaikan dan ketulusan Fiona membuat kakek Bry luluh dan berharap agar Fiona memang mau manjadi cucunya
" Cucu? Maksudnya saya kek?" Menunjuk diri sendiri
" Hmm siapa lagi?."
" Ah.. kakek bisa saja, 'kan aku jadi senang. Terima kasih kek." Ia juga turut senang, kakek Bry adalah salah satu orang yang memperlakukan nya dengan baik. Apalagi selama ini Fiona juga tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari keluarganya
" Tapi kakek datang kesini sama siapa?." Tanya Fiona celingak-celingukan mencari orang atau pun mobil yang membawa kakek Bry datang
" Kakek di bawa sama supir kakek. Tapi kakek suruh dia pulang duluan, nanti dia datang jemput kakek." Jelas kakek Bry
Fiona manggut-manggut " wah.. rupanya dugaan ku benar, kakek Bry memang orang kaya." Ucap Fiona tanpa sungkan
" Oh.. kamu seperti nya sangat suka dengan orang kaya."
" Hehe bukan orang nya kek, tapi uang nya." Nyengir dengan mengangkat jari nya membentuk huruf V
__ADS_1
Kakek Bry tertawa kecil " Dasar matre." Candanya dengan kekehan
" Ehhh aku bukan matre kek, tapi realistis. Siapa sih yang tidak butuh uang di dunia ini. Apalagi orang seperti aku yang memang tidak mempunyai siapa-siapa lagi untuk membiayai kehidupan ku. Jadi, tentu saja aku menyukai uang." Jelas panjang lebar Fiona dengan sedikit bangga
" Fufufu.. kalau kamu ingin banyak uang, Bagaimana kalau jadi cucu kakek sungguhan? Kakek ini banyak uang loh, kamu bisa santai di rumah tanpa harus memikirkan biaya kehidupan mu." Ucap Kakek Bry. Ia tidak marah saat Fiona mengatakan menyukai uang, apalagi Fiona juga memberikan penjelasan nya sendiri. Bagi kakek Bry, Fiona malah menjadi lucu di matanya
" Enak sih. Tapi, aku lebih suka bekerja untuk mendapatkan uang daripada rebahan. Uang hasil keringat sendiri 'kan lebih nikmat di gunakan."
Kakek Bry tersenyum mendengar nya. Ia tahu walaupun gadis manis di depannya ini suka uang, bukan berarti ia matrialisme yang akan melakukan apapun untuk mendapatkan uang bahkan sampai melakukan kejahatan
" Ah! Kek maaf yah. Fiona harus kembali bekerja, kakek tidak apa-apa aku tinggal? Atau kakek ingin menunggu di dalam saja?." Ia sedikit tidak tega meninggalkan kakek Bry sendiri, tapi sekarang masih jam kerjanya
" Tidak apa-apa. Kakek juga sudah mau pulang."
" Hmm Memangnya supir kakek sudah datang?." Memiringkan kepalanya
" Itu, sudah dari tadi dia menunggu." Menunjuk dengan dagu sebuah mobil mewah di ujung jalan
" Wawww kakek memang benar-benar orang kaya. Tapi aku kira tadi dia sudah pulang."
" Dia tidak mau meninggalkan kakek. Kalau begitu kakek duluan yah." Pamit kakek Bry
Fiona tersenyum sembari mengangguk " Hati-hati kek. Kapan-kapan singgah lagi yah."
" Pasti."
Setelah itu Fiona hanya berdiri memandangi mobil kakek Bian yang pergi meninggalkan minimarket. Setelah mobil kakek Bry tak terlihat lagi, ia pun masuk kedalam minimarket.
" Eh! Rara ada apa?." Tanya Fiona yang mendapati Rara sedang mengintip dari balik pintu kaca minimarket
" Fiona, kakek itu siapa? Kenalan mu?." Tanya Rara balik
" Yah bisa di bilang seperti itu. Memangnya kenapa?."
" Jadi waktu kamu tidak ada, kakek itu selalu datang kesini mencari mu. Setiap hari loh."
" Apa??! Kakek Bry datang mencari ku setiap hari?." Tentu saja Fiona terkejut, ia jadi benar-benar seperti cucu kandungan kakek Bry
Rara mengangguk " Iya. Kata Bagas juga seperti itu. Saat Bagas jaga malam, katanya ada kakek-kakek yang mencari mu."
" Sampai malam hari juga? Ya ampun aku sama sekali tidak percaya." Lagi-lagi ia di buat terkejut. Fiona jadi merasa bersalah selama ini 'aku harus membuat jadwa khusus agar setidaknya saat kakek Bry datang aku ada di tempat' Batin Fiona
" Tapi untung lah hari ini kamu bisa datang." Menepuk pundak Fiona
" Iya syukurlah. Katakan kepada ku kalau kakek Bian datang lagi." Ujar Fiona, ia akan membicarakan nya dengan kakek Bry
" Sipp." Mengangkat jempolnya " kita tukar tempat lagi yah." Shift Fiona menjadi kasir sudah habis, kini tinggal giliran Rara lagi. Sedangkan Fiona ke gudang untuk menyusun barang-barang yang baru saja tiba.
" Oke."
__ADS_1
.
.