
Carl duduk tenang di kursi kebesarannya. Ia tersenyum smirk saat mendengar kabar bahwa kakak sepupunya sedang keluar kota untuk mengurus masalah cabang perusahaan.
" Kesempatan bagus." Gumamnya sembari mengelus-elus dagu layaknya orang mesum. Saat mata-mata yang ia kirim untuk mengawasi Fiona di ketahui oleh Detrick, pria itu benar-benar sudah tidak punya kesempatan lagi untuk menguntit Fiona.
Apalagi Detrick juga menempatkan beberapa pengawal untuk mengawal kekasihnya yang membuat Carl kalang kabut dan tidak tahu harus bagaimana untuk membongkar bagaimana watak asli dari wajah manis Fiona.
Saat ia sedang terpuruk akan pikiran yang tak jelas, tiba-tiba angin segar menerpanya saat ia mendengar kabar kalau kakak tersayang nya pergi keluar kota
" Tuan muda, apa anda sungguh baik-baik saja?." Sura yang tak tahan melihat Carl yang sedari tadi senyum licik tak jelas akhirnya angkat bicara
" Apa saya perlu memanggil dokter rsj?."
Carl terkikik geli mendengar perkataan Sura, dimana semakin membuat Sura siap-siap menekan panggilan untuk pihak rsj
" Kali ini aku memaafkan perkataan kurang ajar mu." Berdiri, ia memakai kembali jaket yang ia gantung di sandaran kursi.
Carl Memang jarang memakai jas karena ia memang tidak terlalu menyukai berpakaian formal. Setiap pergi ke perusahaan pasti dirinya hanya akan memakai t-shirt di tambah jaket dan celana jeans atau hanya sekedar kemeja biasa yang membuat nya tak seperti seorang CEO. Ia baru akan menggunakan jas saat akan Rapat atau bertemu klien nya, dan mungkin sifatnya yang inilah yang tidak bisa ia ubah walaupun Detrick sendiri tak seperti dirinya.
" Anda akan kemana tuan?." Ikut berdiri sembari mengambil jas nya. Jika mereka berdua berjalan bersama di luar perusahaan, pasti orang yang tak mengenal keduanya mengira kalau Suralah yang tuan disini sedangkan Carl seorang pengawal.
" Pusat perbelanjaan." Setelah mengatakan nya ia pergi begitu saja. Sura dengan sigap mengikuti dari belakang
Ting..
Keduanya masuk kedalam lift " sebenarnya apa lagi yang akan anda lakukan." Melihat curiga ke arah sang tuan muda
Carl memutar bola mata " Bukan urusanmu." Ketusnya
Sura menghembuskan nafas kasar " Tapi dampaknya akan tetap terkena saya, tuan muda Carl Reventoon yang terhormat." Menekan kata-kata nya
" Kan memang seharusnya seperti itu. Kita sama-sama susah, tapi hanya aku sendiri yang senang." Timpalnya tanpa rasa bersalah
Sura hanya bisa mengangguk pasrah. Terserahlah yang penting dia sudah memperingati sang tuan muda, walaupun nanti ujung-ujungnya ia juga yang harus membereskan semuanya.
Keduanya keluar dari dalam lift. Beberapa karyawan yang berpapasan menunduk hormat " tuan Carl Memang tampan." Bisik salah seorang wanita. Setiap melihat Carl pasti mereka selalu menyangka kalau CEO nya itu masih seorang mahasiswa.
Carl tersenyum tipis mendengar Perkataan karyawati tersebut. Dalam hati ia berkata 'pujilah wajah tampanku ini' sembari tertawa jahat
Sedangkan yang di belakang menatap jengah melihat wajah angkuh tuan mudanya yang langsung melayang saat di puji 'senang tuh'
.........
Sudah 3 hari semenjak kepergian Detrick. Hari-hari Fiona tidak banyak berubah, malah seperti kembali sesaat ia belum bertemu dengan Detrick. Walaupun ia sudah jarang keluar rumah saat malam dan sudah tidak bekerja pada saat pagi hari, hanya siang hari ia bekerja di minimarket.
Seperti sekarang, ia sudah berdiri di meja kasir melayani pelanggan yang lalu-lalang masuk kedalam minimarket.
" Selamat datang." Menunduk sedikit, setelah pelanggan tersebut masuk, Fiona kembali menegakkan badan
__ADS_1
Hari-hari nya hanya seperti ini. Ia juga sudah jarang berada di bagian gudang, entahlah akhir-akhir ini ia selalu cepat merasa lelah, bahkan kadang ia seperti akan mual setiap mencium bau yang menurutnya tak sedap. Entah sebenarnya apa yang telah terjadi pada dirinya. Ia sendiri tak tahu
Shift pergantian jam pun masuk. Rara menggantikan Fiona di bagian kasir, sedangkan Fiona memilih untuk beristirahat di belakang. Ia duduk di sebuah bangku belakang yang terbuka sembari menatap langit-langit biru yang cerah. Di minum nya sebuah susu kotak yang di pegang
" Apa hari-hari ku akan selalu seperti ini? Kapan ini berakhir ya? Apa setelah enam bulan, aku dan Detrick akan benar-benar tidak saling berhubungan lagi?." Mendesaah pelan. Ia menunduk melihat tanah dengan kaki yang ia goyang-goyangkan
Saat sedang asik dengan lamunannya tiba-tiba dering ponsel berbunyi. Fiona melihat Ponselnya. " Kak Nia? Ada apa yah?." Tanpa banyak kata ia langsung menggeser ikon hijau tersebut
" Halo kak Nia?."
" Halo Fiona. Bagaimana kabarmu?." Tanya yang di seberang
" Baik. Tumben kakak telpon aku terlebih dahulu, ada apa?." Langsung ke intinya, sebentar lagi waktu istirahat nya habis
" Kakak punya penawaran kerja yang bagus untuk mu. Apalagi sekarang kamu sudah lulus 'kan. Bagaimana? Aku yakin pekerjaan kali ini sangat cocok untuk mu." Ia sangat bersemangat menceritakan nya. Belum tahu saja kejadian apa yang menimpa Fiona saat terakhir kali menerima tawaran kerja darinya
Fiona nampak sedikit berpikir " Baiklah. Bagaimana kalau kita bertemu lebih dulu, dan membicarakan nya baik-baik?." Ia tak ingin kejadian yang lalu terulang kembali
" Baiklah, tapi sepertinya tidak bisa di bar. Bagaimana kalau di hotel xxy?."
Walaupun tidak ad yang lihat ia tetap mengangguk " Baiklah." Seraya menjawab. Setelah itu sambungan pun terputus.
Saat akan kembali menaruh ponselnya, tiba-tiba benda pipih berbentuk persegi panjang tersebut kembali berbunyi. Fiona melihat layar ponselnya
" Siapa yah?." Gumam Fiona melihat nomor tak dikenal yang sedang menelepon
Fiona menggeser ikon hijau. Ia menempelkan ponselnya di daun telinga dan menunggu yang di seberang berbicara terlebih dahulu
" Fiona? Ini nomor Fiona 'kan?." Suara seorang pria yang sangat di kenal Fiona menghampiri telinga wanita itu. Senyum Fiona tiba-tiba mengembang lebar
" Kak Enhart?!." Pekik Fiona. Setelah beberapa bulan tak saling berhubungan akhirnya kakak tersayang nya menghubungi nya lagi. Fiona kira kakaknya juga ikut tidak menganggap Fiona lagi
Yang di seberang terdengar terkekeh " Apa kabar adiknya kakak hmmm?." Berbicara dengan sangat lembut berbeda dengan seseorang
" Baik. Kakak apa kabar? Kakak selama ini kemana saja, kenap tidak pernah menghubungi ku?." Marajuk. Ia seperti seorang anak kecil
" Heheh maafkan kakak ya. Kakak bukannya tidak mau menghubungi mu, kamu tau sendiri bagaimana sibuknya kakak." Gemas sendiri mendengar nada bicara adiknya yang sangat lucu
" Kakak sudah dengar." Tiba-tiba suara Enhart terdengar lirih. Yang mana membuat Fiona mengangkat alis sebelah bingung " jangan khawatir, kakak tetap menganggap mu adik kakak. Jangan pikirkan orang-orang seperti mereka." Berbicara lembut. Ia mendapatkan informasi dimana Fiona yang sudah di jual oleh keluarga Eren
Fiona tersenyum hangat. Memang, kakaknya tidak pernah berubah. Selalu membela Fiona di hadapan keluarga nya sendiri " Tenang saja kak. Aku baik-baik saja, malah sangat baik." Ujarnya dengan semangat
" Tapi kamu benar-benar tidak dijualkan?." Sungguh ia sangat khawatir saat mendengar kabar tersebut. Sangking khawatir nya sekarang ia sudah ada di bandara bersiap pulang ke negara nya
Fiona menggaruk kepalanya yang tak gatal. Ia tidak tahu harus berbicara apa. Susah juga untuk jujur, tapi bagaimana yah? Ia berpikir sehingga yang di seberang kembali bersuara
" Fio? Jangan bilang..."
__ADS_1
" Hehe gitu deh kak. Yang penting yang beli aku bukan laki-laki tua dengan kepala botak dan perut buncit." Setidaknya ia harus jujur
Sontak pernyataan Fiona membuat Enhart naik pitam. Bagaimana bisa keluarganya sendiri melakukan hal seperti ini? Ia benar-benar kecewa sudah lahir di dalam keluarga Eren " Tapi kamu baik-baik saja kan? Tidak di apa-apakan?."
Fiona kembali menggaruk pipinya yang sekarang tiba-tiba gatal. Bagaimana bilangnya yah? Ia kembali berpikir harus mengatakan apa
" Tenang saja kak, walaupun dia mesum aku baik-baik saja kok." Akhirnya perkataan yang semakin membuat Enhart salah paham keluar begitu saja
" Me...mesum?." Terdengar syok " ja.. jangan bilang.. oh no! Ini tidak bisa di biarkan. Tunggu kakak pulang dan menjemput mu!." Tegas Enhart
" Eh! Eh.. ehhhhhhh! Bukan seperti itu. Aduh.. bagaimana yah." Ia kalang kabut. Namun tiba-tiba Rara memanggil nya untuk pergantian jam lagi
" Sebentar." Teriak Fiona
Kembali fokus ke ponsel " Aduh kak. Aku mau masuk kerja nih. Nanti aku ceritakan, kakak juga jelaskan maksud kakak tadi. Oke? Bay aku pergi kerja dulu. Aku sayang kakak."
" Fio.. tung__"
Tut..
Huhffh!
Mengusap dahi yang sudah berkeringat " Selamat." Setelahnya ia berdiri, sebelum masuk Fiona membuang sampah bekas susu kotak di tempat sampah lalu masuk kedalam minimarket.
.........
Detrick duduk di hotelnya sembari bermain ponsel mendapatkan laporan dari Sean. Ia berpikir sebentar lalu menggeram " Sialan!." Gerutunya
Ia baru saja mendapatkan informasi mengenai Fiona sebelum di adopsi oleh keluarga Eren. Ia sama sekali tak menyangka ada orang tua yang tega-teganya berlaku seperti itu kepada anaknya yang masih sangat belia.
Memijit pangkal hidung. Ia juga masih memikirkan mengenai siapa sebenarnya yang sudah menyembunyikan hal tersebut! Siapa? Iyya sebenarnya siapa? Pria itu tidak dapat mendapatkan jalan terang.
Namun Sean mengatakan kalau ia akan mengusahakan untuk mencari siapa sebenarnya yang menyembunyikan data-data mengenai Fiona. Karena yang pasti, bukanlah keluarga Eren yang melakukan nya.
Sebentar lagi ia juga akan pulang. Detrick berdiri, ia berjalan menuju ke balkon kamar hotel. Di lihatnya pemandangan kota yang padat dengan lampu-lampu yang menerangi kota. Ia sudah tidak sabar bertemu dengan sang kekasih hati
" Ck. Mengingat nya saja sudah membuat ku meremang." Tersenyum smirk
.
.
TBC
Jangan lupa tinggalkan jejak. like komen dan votenya 😘 banyakin hadiah nya juga biar othor tambah semangat nulis nya ✌️
...klik tanda love dibawah ini 👇...
__ADS_1