Terjebak Hasrat Majikan

Terjebak Hasrat Majikan
Cintaku yang lebih besar


__ADS_3

Terlihat orang-orang mulai berkerumun untuk menangkap buket bunga yang akan di lempar oleh Fiona dan Detrick. Disana sangat heboh akibat dari dua orang yang tak bisa tenang.


Lala dan Carl terlihat dorong-dorongan padahal masih banyak tempat di sekitar mereka. Para orang tua hanya tertawa geli melihat tingkah para anak muda. Jika seandainya pinggang mereka masih memungkinkan, mungkin mereka juga sudah ada disana ikut meramaikan.


Michael hanya duduk di tempatnya tanpa berniat melakukan apapun. Ia melihat sang tuan muda yang nampak tersenyum senang saat berbicara dengan Fiona.


Meminum minuman yang ada di depan meja. Ia melirik ke sekitar dan tatapan nya jatuh kearah kerumunan orang-orang yang siap-siap menangkap buket bunga yang masih belum juga di lempar


" Ada-ada saja. Mereka masih mempercayai kepercayaan kuno seperti itu." Menggeleng-geleng heran. Di zaman yang modern ini, memang nya hal seperti mitos itu akan benar terjadi? Itu tidak mungkan 'kan, pikir Michael


" Loh, Michael. Kamu tidak ikut menangkap bunga pengantin? " Tanya Leticia yang tak sengaja melihat Michael hanya duduk sendiri di meja paling pojok


Michael sontak berdiri mendengar suara Leticia. Ia menunduk hormat " Ada yang bisa saya bantu, nyonya? " Tanya Michael


" Tidak perlu terlalu formal seperti itu. Kamu belum menjawab pertanyaan ku sebelumnya." Menepuk pundak Michael


" Maaf nyonya. Tapi sepertinya saya tidak akan cocok ikut seperti itu." Ekspresi nya yang datar tidak akan cocok dalam acara senang-senang yang akan terjadi, ia cukup tau diri akan hal ini.


Leticia mengulum senyum " Kenapa tidak cocok. Kamu lupa dengan tingkah mu saat Detrick mengurung diri dikamar? " Ahh Leticia kembali mengingat kannya memory yang benar-benar memalukan


" Saya hanya terbawa suasana saat itu, nyonya." Jawab Michael datar 'lagipula hanya cara itu yang terpikirkan oleh ku waktu itu untuk mengetahui kabar tuan Detrick'


Duduk di salah satu bangku dimeja Michael " Kalau begitu, biarkan kali ini juga dirimu terbawa suasana." Mengangkat sebelah alis


Michael tersenyum " Sepertinya tidak perlu nyonya, lagipula saya juga tidak percaya dengan mitos yang mengatakan. Siapa yang mendapatkan bunga itu maka akan cepat menikah." Michael yang jago dalam berdebat akhirnya kembali


" Bukan masalah Mitos itu benar atau tidak. Atau pun percaya atau tidak percaya. Tapi, yang terpenting adalah semua orang bahagia." Ucap bijak Leticia membuat Michael bungkam tak tahu harus jawab apa


" Sudah sana. Pergilah, siapa tahu kau Benar-benar akan menikah setelah Majikan mu." Mengerlingkan mata menggoda Michael


Tak punya pilihan lain, akhirnya Michael pun ikut dalam kerumunan. Leticia tertawa geli melihat hal tersebut.


Saat Michael sudah tepat berada di tengah kerumunan, tiba-tiba semua orang terdiam. Suasana menjadi hening, sampai beberapa wanita disana mundur, bukan hanya wanita namun juga pria. Mereka mundur karena tak yakin dapat menang melawan Michael. Apalagi melihat wajah datar Michael membuat bulu kuduk mereka merinding.


Lala, Carl dan Sura celingak-celingukan saat mengetahui semua orang mundur dan tersisa Michael yang hanya berdiri mematung seperti tak mempunyai niat sama sekali untuk menangkap buket bunga.


" Hei Michael... Lihat, semua orang jadi pergi gara-gara mu. Setidaknya kontrol muka mu untuk tersenyum sedikit saja." Ketus Carl


" Lagipula, kau tidak cocok berada disini." Lanjutnya lagi.


Lala mencebik lalu menyiku perut Carl. Gadis itu berdecak " Seharusnya kau berterimakasih. Dengan begini, jadi lebih mudah mendapatkan bunga nya."


" Tapi bukankah tidak akan menantang nona." Celetuk Sura yang juga terbawa arus oleh kedua orang tersebut.


" Ck! Ayah ku bilang, tetaplah pada jalan yang lurus. Kalau bisa mudah kenapa harus cari jalan yang susah? "


" Tapi aku tidak tahu kau juga suka acara seperti ini." Ucap Carl. Michael yang dikenalnya tak akan mungkin ikut berpartisipasi dalam acara lempar bunga


" Tenang saja tuan Carl. Saya hanya akan berdiri di belakang tanpa melakukan apa-apa." Dan itulah tujuan awal Michael


" Bagus! Aku tidak akan menganggap mu musuh." Menepuk lengan Michael.


Michael hanya mengangguk dan berdiri di belakang ketiga orang tersebut. Hanya berdiri dan tidak melakukan apapun. Lagipula ia yakin buketnya tidak akan jatuh kepada nya.


Sean, Eliza dan juga Langga yang datang ke resepsi pernikahan Detrick dan Fiona hanya tersenyum tipis.


" Kau tidak ikut, Langga? " Tanya Sean kepada adik dari young ms


Langga menoleh melihat Sean sekilas lalu kembali melihat kedua orang insan yang tengah memegang buket. Ia menggeleng pelan " Bisa di jitak kak Lyza, kalau aku ikut."


" Hei.. itu tidak mungkin, bos tidak akan melakukan hal itu. Mungkin dia hanya menertawakan mu yang masih jomblo sampai sekarang." Tertawa pelan di ikuti oleh Eliza. Sean merangkul pundak sang istri.


" Hahhh kau tidak salah. Tapi kau yakin tidak pulang? Kak Lyza sudah punya 3 anak loh. Kau tidak merindukan mereka? "


Sean menghela nafas panjang " Entahlah, mungkin lain kali." Ucapnya lesu


Langga berdecak " Sudah berapa kali aku mendengar lain kali dari mulut mu. Bagaimana menurut mu Eliz? Seharusnya sudah lama kau di perkenalkan pada keluarga besar kami 'kan." Menaik turun 'kan alis


" Sebenarnya aku juga ingin, tapi aku akan ikut suamiku."


" Terserah kalian saja." 'lagipula aku yakin, kak Lyza dan bang Ares sudah tahu semuanya'


Detrick dan Fiona yang sudah memunggungi bawah podium mulai siap-siap melempar.


Hitungan mundur pun dimulai. Para tamu mulai berteriak.


1...


2...

__ADS_1


3...


Terlihat buket tersebut terbang dan hap...


Bukan Carl yang mendapatkan nya ataupun Sura dan Lala. Namun Michael yang hanya berdiri tanpa melakukan apapun di datangi buket bunga tersebut membuat suasana menjadi hening sebab Michael juga tak memperlihatkan ekspresi apapun dan hanya diam sembari memegang buket bunga tersebut.


" Hahahah aku yakin setelah ini kau yang akan menikah Michael." Celetuk Lala


" Setelah majikan nya pasti bawahannya." Timpal Carl


" Selamat kak Michael. Apa kak Michael sudah punya kekasih? " Tanya Sura


" Bukan urusan kalian. Saya menikah atau tidak adalah urusan saya." Ucapnya datar


Lala dan Carl memutar bola mata " Aku sumpahin, istrimu nanti cerewet seperti rel kereta api." Serius? Tentu Lala serius mengatakan nya. Ia terlalu kesal karena buketnya bukan jatuh kepadanya.


" Sepertinya kita harus bersiap-siap menghadiri acara pernikahan lagi." Seru Lily


Mereka tertawa, dari balik meja para orang tua tersebut hanya tersenyum melihat tingkah para anak muda.


" Eh! Michael? Dia juga ikut disana? " Detrick sampai terkejut melihat Michael disana sedang memegang buker bunga


" Hahaha aku baru tau, Michael juga percaya mitos lempar bunga." Timpal Fiona melingkarkan tangan di lengan sang suami.


" Aku sadar akhir-akhir ini Michael memang berperilaku konyol. Sebenarnya apa yang telah terjadi padanya? " Mengelus punggung tangan sang istri


" Hmm mungkin dia ingin berubah."


" Mungkin." Ia masih ragu akan hal itu.


Tidak ingin terlalu memikirkan nya, ia kemudian melihat sang istri yang sekarang tersenyum manis Melihat orang-orang yang hadir. Senyuman nakal Detrick tersungging.


Ia langsung mengangkat tubuh Fiona, yang membuat wanita itu terkejut bukan main.


" Kyaaaa apa yang..__" belum sempat ia meneruskan teriakan nya, teriakan dari orang-orang membuat Fiona sadar


" Langsung gas di kamar kak.." teriak Lala


" Jangan kasi kendor.." timpal Gwen


" Kurung sampai satu Minggu." Seru Carl yang pasti tidak ingin tertinggal


" langsung garis dua." Ditrian tak kalah berteriak


Fiona yang malu langsung menyembunyikan wajahnya dada bidang Detrick yang kini menggendong nya.


Detrick hanya melihat datar orang-orang yang melihatnya dengan senyum malu-malu. Pria yang baru saja melaksanakan pernikahan tersebut melihat istrinya dengan tersenyum nakal


" Itu karena kamu berteriak, sayang." Bisik Detrick bersamaan dengan menghembuskan nafas halus ditelinga sang istri membuat Fiona meremang


" Sayang.." menekankan suaranya


Detrick Terkekeh yang membuat orang-orang yang melihatnya tertegun. Rupanya Detrick juga seorang manusia, pikir mereka semua


Detrick tersenyum smirk lalu membawa sang istri pergi dari ke dalam villa, tepatnya kamar pengantin untuk kedua insan tersebut.


Lala berdecak kagum " Lihatlah, rupanya papan selancar itu bisa senyum juga." Celetuk gadis manis tersebut


Carl yang berada di dekatnya mengerutkan kening. Papan selancar? Siapa? Pikirnya " Maksud mu kak Detrick? " Hanya itu yang terpikirkan oleh pria tersebut


Lala mengangguk " Tentu saja. Siapa lagi."


" Jangan mengatakan hal seperti itu, walaupun memang benar." Berdecak kesal dengan berkacak pinggang


" Jika memang benar kenapa harus ditahan." Menjulurkan lidah


" Ck. Kau.. ahh Sudahlah, tidak ada habisnya berdebat dengan gadia bar-bar seperti mu." Ketus Carl


Mengangkat kedua bahu dengan tersenyum bangga " Aku anggap itu pujian." Kali ini ia tersenyum mengejek


Tiba-tiba senyum mengejek Lala berubah. Ia cekikikan membayangkan apa yang sedang ia pikirkan " Aku punya ide brilian." Serunya


" Ide apa? " Tanya Carl yang masih setia di samping Lala


Lala tersenyum jahil, membuat Sura bergedik ngeri 'semoga aku tidak terkena imbasnya' ia memang sudah bebal jika terkena imbas dari perbuatan sang tuan muda, namun dari gadis tersebut sepertinya Sura angkat tangan


" Jangan melakukan yang aneh-aneh." Carl seperti mengetahui apa yang dipikirkan Lala


" Tidak akan." Menggeleng pelan " Aku hanya ingin mengajak kalian memergoki malam yang sudah tak terhitung kedua pengantin baru itu." Tertawa cekikikan di akhir kalimat

__ADS_1


Carl tersenyum " Ide bagus. Ayo aku juga ikut." Tiba-tiba ia jadi semangat


Sura menganga melihat hal tersebut. Ia kira tuan mudanya akan melarang, kenapa malah jadi dia yang sangat bersemangat.


Sedangkan Michael menggeleng melihat tingkah kedua orang tersebut. Saat Lala dan Carl ingin segera melaksanakan idenya, Michael segera menarik kerah jas Carl dari belakang sedangkan tangan yang satunya melemparkan buket yang sedari tadi di pegang ke Lala.


" Jangan mencari masalah baru lagi. Anda, berdua tidak ingin dimarahi tuan Detrick 'kan. Coba bayangkan wajah dingin dan datar tuan Detrick saat memarahi anda, dan bagaimana jika anda berdua di berikan hukuman tambahan. Saya tidak akan membantu."


Kedua adik sepupu Detrick dari ayah dan juga ibunya tersebut membayangkan perkataan Michael. Mereka langsung merinding hanya dengan membayangkan wajah Detrick yang menyeramkan saat memarahi keduanya.


Lala menghembuskan nafas panjang " Baiklah aku menyerah." Mengangkat kedua tangan


" Aku juga." Mengangkat sapu tangan berwarna putih. Michael tersenyum tipis. Setidaknya ia sudah menyelamatkan malam yang entah keberapa untuk pasutri tersebut


'bersenag-senanglah, tuan. Saya sudah melakukan sebisa saya' ia seperti melakukan hal yang sangat membanggakan


.........


Mengecup pucuk kepala Fiona berkali-kali sudah menjadi sesuatu yang selalu di lakukan Detrick sejak tadi mereka selesai melakukan kegiatan panas. Sedangkan Fiona mengendus-endus dada bidang sang suami. Keduanya masih berselimut kain tebal berlapis-lapis.


" Ahhh kau memang paling manis." Celetuk Detrick


Fiona terkekeh " Kau baru tau."


" Hei... Kau ini." Mengecup gemas Pipi sang istri


Fiona tertawa geli. Tangan nya terulur memegang pipi sang suami " Kamu sangat tampan, sayang." Mengecup gemas bibir sang suami


Detrick menaikkan sebelah alis " Ohh akhirnya kau menyadari ketampanan ku." Tersenyum bangga


" Hmm terserah aku." Mengangkat kedua bahu dengan sangat bangga


Detrick tertawa gemas. Ia mengecup seluruh wajah sang istri. Fiona dibuat geli dengan kelakuan Detrick. Detrick menghentikan ciuman nya. Ia menatap wajah sang istri sangat intens membuat yang ditatap tertunduk malu dengan wajah memerah.


Tangan Detrick mengangkat dagu Fiona " Jangan tinggalkan aku lagi. Aku rela melakukan apapun agar kamu tetap disisiku, sayang." Berbicara dengan sangat lembut setelah nya ia kembali Mengecup sekilas bibir Fiona.


Fiona tersenyum " Aku tidak akan pergi kemana pun. Tempat ku pulang adalah kamu, sayang." Memegang tangan Detrick yang ada di dagunya lalu membawa tangan besar tersebut ke pipinya


Detrick tersenyum senang " Terima kasih sayang. Aku benar-benar mencintai mu."


" Aku juga." Jawab Fiona


" Juga apa? " Tanya Detrick sengaja menggoda Fiona dengan Mengangkat sebelah alis


" Menurutmu apa Hayoo?, coba tebak." Tertawa kecil diakhir kalimat. Fiona juga ikut menggoda suaminya.


" Ohh kau ini..." Mencium seluruh wajah Fiona " kau benar-benar menggemaskan." Kembali mengecup seluruh wajah Fiona


" Oh sayang.. hentikan. Please." Memberikan wajah memelas


Bukannya berhenti, Detrick malah semakin melancarkan serangan ciuman nya. Ia terlalu gemas melihat wajah memelas Wanitanya 'seandainya dari dulu aku mencoba mencintaimu. Ahhhhkkk Sangat menyenangkan' Melakukan apapun dengan istrinya akan sangat membahagiakan.


Memegang kedua pipi sang istri " Katakan. Juga apa? " Ia tidak akan puas jika belum di beri jawaban yang diinginkan


Fiona tersenyum " Aku juga sangat mencintai mu." Lirih Fiona dan dihadiahi ciuman di bibirnya.


Detrick melumaat bibir peach Fiona dengan lembut. Setelah hampir kehabisan nafas, Detrick pun menghentikan ciuman tersebut " Cinta ku lebih besar."


" Bukan. Tapi cintaku." Bantah Fiona


" Siapa yang tahu."


" Tentu aku tahu. Dulu setiap hari aku selalu memikirkan mu."


Mengangkat kedua alis " ohh benarkah " sekali lagi ia menggoda Fiona


Bibir wanita itu mengerucut " Kau menggodaku lagi."


Detrick tertawa keras lalu mengecup bibir sang istri " kau menggemaskan " semakin membuat Fiona menekuk wajah


" sudah ah! Selamat makan." Ia langsung menerjang tubuh Fiona. Tentu Fiona yang ingin melawan tak akan bisa, ia akan selalu kalah dalam nikmat yang diberikan prianya.


Dan yah pertarungan ronde selanjutnya pun dimulai.


.


.


TBC

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak. like komen dan votenya 😘 banyakin hadiah nya juga biar othor tambah semangat nulis nya ✌️


...klik tanda love dibawah ini 👇...


__ADS_2