
01.38
Detrick masuk kedalam kamar dan langsung membanting diri diatas kasur. Ia baru pulang mencari keberadaan Fiona namun tak kunjung ketemu.
Lagi-lagi pencarian nya mendapatkan hasil yang nihil. Apa yang harus dia lakukan sekarang? Pikirannya buntu. Sampai akhirnya ia bangkit lalu merogoh ponsel didalam saku
" Sean. Aku ingin kamu mencari keberadaan Fiona." Ujar Detrick memerintah yang diseberang setelah sambungan tersambung
" Bukannya nona Fiona bersama anda?." Tanya Sean yang diseberang. Padahal sudah tengah malam tapi masih saja ganggu. Menggerutu pun hanya bisa dilakukan dalam hati
Detrick berdecak " Aku tidak akan menyuruhmu kalau Fiona memang bersamaku." Ketusnya. Ia lelah akan keadaan dan tambah diperlelah akan pertanyaan mafia satu ini
" Baiklah. Saya akan melakukan pencarian sebaik mungkin. Dan misalkan saya tidak berhasil, saran saya sebaiknya anda meminta bantuan pada keluarga anda." Sean yakin dengan kekuasaan keluarga Reventoon, hanya dengan jentikan jari semua nya sudah beres
Detrick hanya diam. Ia pun ikut mempertimbangkan hal tersebut. Kalau nanti Detrick benar-benar menemukan jalan buntu ia benar-benar akan merendahkan harga diri untuk meminta bantuan kepada kakek nya walaupun ia tahu hal itu tidak akan mudah.
Setelah sambungan terputus, Detrick langsung tertidur tanpa membersihkan badan terlebih dahulu. Satu hal yang dilewatkan dari pencarian Detrick tadi, yaitu tidak mencari tahu mengapa Fiona bisa dirawat di rumah sakit. Seandainya Detrick mencari tahu, mungkin ia bisa mendapatkan setidaknya petunjuk dari keberadaan sang kekasih.
.........
Fiona, Enhart dan juga Sky naik kedalam mobil. Pesawat baru mendarat sekitar 15 menit yang lalu. Tidak ada percakapan yang terjadi antara Fiona dan kedua pria tampan tersebut.
Fiona yang selalu ceria hilang bak ditelan bumi. Wanita itu benar-benar menjadi pendiam dan selalu melamun. Entah apa yang dipikirkan
Enhart menghela nafas melihat nya " Sebentar lagi kita akan sampai. Apa kamu tidak penasaran, sayang?." Mengelus pucuk kepala Fioan yang duduk disampingnya namun hanya melihat keluar jendela
Fiona melihat Enhart " Hmm sedikit." Singkat dan kembali beralih melihat keluar jendela. Padahal ini pertama kalinya Fiona keluar negeri namun sama sekali tidak terlalu antusias, seakan-akan Fiona benar-benar mati rasa.
Keadaan hening sampai mobil memasuki kawasan perumahan elit. Bukan, bukan rumah namun kawasan tempat mansion-mansion elit yang hanya the real sultan yang menempati
Kali ini respon Fiona sedikit berbeda. Ia akhirnya sedikit memberikan respon melihat bangunan mewah di depannya. " ini mansion kakak?." Menatap mansion dan Enhart bergantian
Enhart sedikit senang melihat respon tersebut, walaupun tidak banyak tapi adiknya sudah mulai kembali " Bukan." Singkat Enhart keluar dari dalam mobil dan diikuti pula oleh Fiona
Fiona mengerutkan kening " Bukan? Jadi mansion siapa?." Kalau bukan mansion kakak nya, kenapa mereka harus kesini?
Dengan tersenyum lembut, Enhart menggandeng tangan Fiona " Mansion kita." Jawab Enhart menarik tangan sang adik untuk mengikuti nya dan dibelakang ada Sky
" Mansion kita? Bagaimana bisa? Ini mansion kakak 'kan. Atau kakak hanya bercanda?" Fiona yang cerewet jika bersama sang kakak mulai kembali walaupun tidak banyak
Enhart terkekeh " Sudah kakak bilang 'kan ini mansion milik kita. Kalau tidak percaya tanya saja sama Sky." Memutar kepala menoleh melihat Sky
Fiona ikut menoleh dan memberikan tatapan seakan-akan mengatakan 'apa benar?' Sky yang melihatnya mengangguk sembari berkata " benar nona. Mansion ini adalah milik anda berdua." Jawab Sky membenarkan
Baru Fiona ingin angkat bicara, ia kembali dikejutkan dengan beberapa pelayan yang sudah berjejer rapi sembari membungkuk hormat menyambut kedatangan nya seraya berkata " Selamat datang tuan muda, nona muda, pak Sky." Ucap mereka serentak
Fiona bahkan kehilangan kata-kata untuk merespon semua ini. Ia bahkan dikejutkan dengan karpet merah yang digelar dijalan dekat pintu yang sedang ia injak sekarang. Apa Sekarang kakaknya sedang akting bermain film Cinderella
Enhart dan Sky terkekeh kecil melihat wajah Fiona yang bingung campur terkejut sampai-sampai tak bisa berkata-kata. Fiona hanya melangkah mengikuti langkah kakaknya hingga mereka sampai di ruang tamu yang sangat luas. Gaya yang digunakan didalam mansion sangat indah dan bernuansa klasik berbeda dengan mansion Detrick yang lebih modern
__ADS_1
Enhart mengajak Fiona untuk duduk di sofa sedangkan Sky langsung menuju kebelakang untuk menyuruh pelayan membuat minum untuk nona muda mereka yang akhirnya datang, sekalian ia ingin mengawasi mereka agar bekerja dengan baik tanpa kesalahan
" Kak..." Lirih Fiona menatap kagum isi mansion
" Hmm ada apa?." Bersahut di samping Fiona
Dengan wajah terkejut yang tidak bisa disembunyikan, Fiona menatap Enhart disamping " Sebenarnya kakak kerja apa?." Tanyanya sambil menatap intens Enhart menunggu jawaban
Enhart tertawa kecil " Kamu tanya, kakak kerja apa? Iyya kamu nanya kakak kerja apa?" Malah dibalas candaan oleh Kakaknya
Fiona mengerucutkan bibir " Kak.. aku serius."
" Aku juga serius." Dengan wajah bercanda membuat Fiona tak bisa menahan tawa. Ia pun tertawa Walaupun tidak terlalu keras
'syukurlah kamu bisa tertawa lagi' yah sekali lagi, walau tidak sepenuhnya Fiona kembali ceria, hal ini sudah membuat Enhart mengelus dada bersyukur
" Kak..." Rengek Fiona
" Hahah." Mencubit gemas kedua pipi Fiona " nanti kakak cerita. Sebaiknya kamu pergi istirahat terlebih dahulu. Nanti ada pelayan yang membawakan mu makanan." Mengelus pucuk kepala sang adik
Dengan segala pertanyaan yang ada, Fiona hanya bisa mengangguk. Enhart menunjukkan Fiona kamarnya. Kamar yang akan ditempati Fiona selama tinggal di mansion.
.........
Fiona mengerjakan Mata berkali-kali. Niat hati hanya ingin berbaring malah kebablasan karena kasur nya yang terlalu lembut dan empuk membuat Fiona tak tahan untuk tidak menyelami alam mimpi dengan kenikmatan yang tiada tara
Dengan perlahan Fiona bangkit dari tempat tidur. Ia melihat sekeliling, sungguh kamarnya sekarang sangat besar dan luas hampir sama dengan kamar yang ia tempati dulu bersama Detrick. Dekorasi nya sangat menggambarkan kepribadian Fiona, seperti memang disengaja dibuat seperti itu
Tak ingin berpikir yang macam-macam, Fiona langsung masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan badan.
Hari sudah kembali gelap. Fiona benar-benar tertidur tanpa kenal waktu. Wanita itu pun keluar dari kamar dan langsung menuju ke sebuah tangga yang seingat nya tempat ia naik bersama sang kakak tadi.
" Permisi apa kau melihat kakakku?." Tanya Fioan kepada seorang pelayan yang tidak sengaja lewat
" Ah no.. nona muda." Segera menundukkan kepala. " Tuan muda ada di ruang kerja bersama pak Sky, nona." Lanjut nya masih menunduk hormat
" Hmm baiklah, terima kasih." Mungkin karena sudah terbiasa, wanita itu hanya merespon dengan biasa pula. Setelah diberitahu tempat dam letak ruang kerja, Fiona pun langsung bergegas kesana.
Ia masih penasaran dengan perkataan kakaknya yang mengatakan bahwa mansion ini adalah mansion mereka, terlebih Sky yang seperti terlalu menghormati dan juga menunggu-nunggu Fiona sejak lama. Belum lagi para pelayan yang selalu memanggilnya dengan sebutan nona muda
Dengan langkah yang pelan, sebab ia baru saja operasi. Fiona melangkah menuju ruang kerja. Karena tak terlalu jauh maka waktu yang digunakan juga tak terlalu lama.
Diketuknya pintu yang sekarang ada didepan.
Tok.. tok.. tok..
Ceklek...
Terlihat Sky yang membuka pintu " Ada yang bisa saya bantu, nona?."
__ADS_1
" Apa kak Enhart ada? Ada yang harus aku bicarakan dengan nya."
" Ada apa sayang." Tiba-tiba Enhart muncul dsri balik punggung Sky. Saat namanya disebut ia segera bangun dari tempat duduknya
" Mengenai yang tadi kakak katakan. Aku ingin penjelasan lebih." Ia tak akan bisa tidur nyenyak jika tidak mendapatkan penjelasan lebih dahulu. Mungkin juga karena efek dari tidur panjang Fiona tadi siang
Enhart mempersilahkan terlebih dahulu Fiona untuk masuk kedalam. Setelah masuk, ketiga orang itu duduk di sofa dengan keadaan yang hening dan tak ada yang buka suara.
Sampai Enhart bangkit dari duduknya dan mengambil sesuatu dilaci meja. Sebuah amplop coklat yang entah mengapa membuat Fiona teringat akan sesuatu. Ini bukan berita mengejutkan lagi 'kan?
Menaruh amplop coklat tersebut diatas meja
" Ambillah. Kamu bisa membukanya saat kamu sendiri. Semua yang ingin kamu tahu ada disana." Ucapnya kemudian
Dengan ragu Fiona mengambil amplop tersebut " ini bukan hal yang mengejutkan 'kan?" Menatap curiga kearah dua pria didepannya
Mengangkat kedua bahu, Enhart menandakan seakan ia tidak tahu membuat Fiona memicingkan mata melihat tingkah sang kakak
" Baiklah. Akan aku buka nanti." Karena tak ingin menganggu, Fiona pun memutuskan untuk kembali ke kamar. Ia juga penasaran akan isi dari amplop tersebut. Warna amplop yang cokelat membuat Fiona berjaga-jaga saat ingin membukanya
Fiona duduk diatas Sisi ranjang. Di bukanya perlahan amplop tersebut. Didalan amplop, terdapat beberapa lembar surat dan juga gambar.
" Ini 'kan ibu." Menarik sebuah gambar memperlihatkan seorang wanita cantik yang diyakini ibu nya
Tangan lentik Fiona kembali mengambil sebuah gambar lagi " ayah? Ini benar ayah." Tak ingin penasaran yang berkepanjangan, Fiona segera mengambil gambar terakhir dan terlihat seorang pria di sana " Siapa dia? Hmm wajahnya hampir sama dengan ayah Edward. Tapi pria ini lebih tampan." Gumam Fiona
Wanita itu menaruh ketiga gambar tersebut di atas nakas. Ia kemudian menarik beberapa lembar surat dari dalam amplop tersebut. Tulisan tangan yang rapi terlihat memenuhi kertas putih itu. Pelan-pelan Fiona membaca isi suratnya
Halo Fiona... Kalau sekarang kamu membaca surat ini, berarti kakek sudah tidak ada didunia. Pasti kamu bingung, siapa kakek ini. Sebelumnya, aku ingin meminta maaf padamu. Benar-benar minta maaf. Kakek menyesal Fio. Kakek sungguh bersalah.
" Kakek? Bersalah?" Fiona tak ingin salah paham, ia segera melanjutkan bacaan nya
Aku adalah kakek kandung kamu. Pasti kamu sudah tahu bukan, kalau ayah kamu bukanlah ayah kandung mu. Ibu mu menjebak ayahmu agar ingin tanggung jawab padahal bukan ayah mu yang menghamili ibumu.
Fiona mengangguk membaca kalimat tersebut. Ia memang tahu akan hal itu. Tapi, Fiona tetap menyayangi ayahnya walaupun ia sama sekali tidak sedih saat kedua orang tuanya meninggal. Yang menjadi pertanyaan Fiona. Kakek kandung? Yang benar saja? Bukannya Fiona Sudah tidak memiliki saudara?
Aku ingin mengatakan siapa ayahmu yang sebenarnya. Apa kamu melihat tiga foto bersama surat ini? Pria yang tidak kamu kenal dan mirip dengan Edward adalah ayah kandung mu, Farhan Edebenderg.
Deg... Fiona semakin fokus
.
.
TBC
Jangan lupa tinggalkan jejak. like komen dan votenya 😘 banyakin hadiah nya juga biar othor tambah semangat nulis nya ✌️
...klik tanda love dibawah ini 👇...
__ADS_1