
Menatap langit-langit kamar, Fiona menghela nafas panjang. Tadi pagi sang kekasih sudah berangkat ke luar kota untuk mengurus cabang perusahaan yang bermasalah.
" Jangan dekat-dekat dengan pria lain." Bukannya pesan yang romantis malah pesan yang seperti mengancam di tinggalkan
" Hahhh tapi begitulah tuan Detrick." Masih sering mengatakan Detrick dengan embel-embel tuan saat sedang sendiri. Walaupun dirinya juga cukup yakin kalau pria itu juga mempunyai perasaan yang mirip dengan nya.
Tapi, tidak semua perasaan cinta harus dikatakan lewat perkataan 'kan. Dan itulah yang di lakukan Fiona, walaupun bisa di bilang ia hanya gugup dan tak berani mengungkapkan perasaan nya
Huhhhh
Sekali lagi ia menghela nafas panjang. Fiona bangkit lalu turun dari ranjang. Tidak ingin menjadi kukang, setidaknya Fiona bukanlah seorang pemalas.
Wanita itu turun ke lantai bawah. Sepi, semua orang sedang mengerjakan pekerjaannya masing-masing " Pak Ziel." Panggil Fiona saat melihat pria tua itu hendak masuk kedalam dapur
Yang di panggil menoleh melihat wanita yang selalu jadi perbincangan di dalam mansion. Kekasih sang majikan " Ada yang bisa saya bantu nona?." Tanyanya melangkah mendekati Fiona
Fiona tersenyum sembari memperlihatkan gigi putihnya yang berderet " mwehehe."
Glek..
Kalau sudah memperlihatkan wajah dan senyuman yang seperti ini, sudah pasti Fiona akan melakukan hal yang diluar nalar " Apa lagi yang ingin anda lakukan nona?." Geleng-geleng sendiri melihat tingkah Fiona yang selalu di luar nalar saat Detrick sedang tidak ada di mansion
" Aku bosan pak Ziel. Jadi..." Menggantung ucapan
Pak Ziel menaikkan sebelah alis " jadi?." Mengulang perkataan Fiona berharap agar wanita ini segera melanjutkan perkataannya
" Hmm aku ingin menggunting rumput di halaman de..."
" Tidak boleh!." Sergah pak Ziel langsung. Bahkan Fiona belum menyelesaikan perkataannya. Hahhh semakin hari Fiona selalu bertingkah aneh.
Empat hari yang lalu saat Detrick di perusahaan, Fiona ingin menyapu lantai seluruh mansion. Yang benar saja? Bahkan para pelayan yang sudah ahli selalu mengeluh. Bukan hanya itu, tiga hari yang lalu juga seperti itu, tahu-tahu sudah ada di ruang cuci pakaian. Katanya ingin mencuci pakaian. Siapa tahu bisa dapat harta karun di salah satu kantong yang di cuci, katanya saat di tanya.
Belum lagi pas semua seisi mansion di buat kalang kabut saat dua hari yang lalu kekasih tuan mudanya itu menghilang entah kemana padahal sudah waktunya dia membawakan bekal untuk sang tuan muda. Di cari-cari, bahkan sudah hampir di laporkan di kantor polisi. Eh tahu-tahu nya dia sedang ada di atas genteng paviliun. Pas ditanya hanya menjawab. Angin di atas enak maharinya juga menyegarkan, dengan wajah yang sangat bahagia.
Al hasil kulit wanita itu pun menjadi sedikit kemerahan terkena paparan sinar matahari cukup lama. Untung saja bisa segera di tangani, kalau tidak sudah di pastikan mereka semua akan dapat imbalan yang tidak bisa di bayangkan dari seorang Detrick Reventoon.
Fiona mencebik " Kenapa?." Dengan wajah yang sudah berkaca-kaca
Pak Ziel kembali di buat kalang kabut " Nona, saya melarang anda karena anda itu nona rumah disini."
" Karena aku nona di sini, makanya jangan larang aku." Air matanya sudah mau tumpah
" Tapi nona kalau tuan muda tahu, bisa-bisa kami para pelayan yang akan di hukum bahkan bisa sampai di pecat." Hal ini memang bisa jadi benar.
Fiona semakin berkaca-kaca, ia memunduk dan siap menumpahkan air mata. Entahlah akhir-akhir ini ia selalu merasa cengeng. Apalagi kalau kemauannya tidak di turuti pasti air matanya tak dapat ia bendung. Para pelayan juga heran melihat hal itu, tapi tak berani angkat bicara
Pak Ziel memutar otak. Tiba-tiba sebuah ide yang tak masuk akal terpikir " nona saya akan memberikan anda ice cream." 'jadi kumohon berhentilah menangis'
Fiona sedikit terhenyak namun tak urung membuat air matanya berhenti. Seorang pelayan wanita datang menghampiri kedua orang tersebut. Ia berbisik ke arah pak Ziel. Pria tua itu menaruh telunjuknya di atas bibir, ia mengedipkan mata mengatakan bahwa nona nya kembali bersikap aneh. Pelayan wanita itu manggut-manggut, ia bisa tahu apa yang sedang terjadi. Pasti nona mudanya ingin melakukan hal di luar nalar lagi
__ADS_1
" Bagaimana kalau anda makan ice cream atau coklat nona, itu lebih manis." Wanita itu juga ikut membujuk
Tes..
Akhirnya air mata yang dari tadi ditahan turun juga " Huaaa aku tidak mau ice cream. Berikan gunting rumput nya hiks.."
Tangisan Fiona membuat semua pelayan langsung datang dan mendekat. Walaupun ada beberapa pelayan yang memilih tidak mendekat dan hanya mengintip. " Selamatkan diri dari nona." Mereka tidak membenci nona mudanya, mereka malas gemas melihat tingkah Fiona yang mampu meramaikan suasana mansion yang suram.
Namun mereka juga tak ingin menjadi korban akan tingkah absur sang nona muda.
" Nona berhentilah menangis, kita akan pergi ke taman bermain jika anda berhenti menangis."
" Saya akan memberikan kucing yang manis kalau anda berhenti menangis."
" Ada banyak permen di saku saya, berhentilah menangis maka akan saya berikan."
" Ice cream sudah menunggu anda, nona. Hentikan tangisan anda, ice cream nya tidak akan bisa masuk ke mulut anda."
Sahut-sahutan para pelayan mencoba membujuk Fiona namun sama sekali tidak mempan, yang ada wanita itu malah semakin kuat menangis.
" Kami akan memberikan anda pabrik ice cream, jadi berhentilah menangis." Tiba-tiba sebuah pekikan terdengar di salah seorang pelayan di sana.
"Bodoh..."
"Apa yang kau katakan. Nona Fiona akan tambah menangis"
Bisik-bisik lagi para pelayan. Tidak percaya dengan apa yang di katakan salah seorang temannya. Bukan masalah uang, tuan mudanya punya banyak uang untuk membersihkan beberapa pabrik ice cream. Tapi, Memang nya Fiona ingin? Tentu tidak 'kan, pikir mereka
Mereka semua terdiam, pak Ziel berdehem " Iya, jadi jangan menggunting rumput lagi dan hentikan tangisan anda. Kalau tidak saya tidak akan memberikan pabrik ice cream nya." Mencoba menawar
Fiona mengangguk cepat " Tapi cepat berikan aku ice cream Langsung dari pabrik ice cream ku." Rupanya ini yang ia mau. Fiona sudah membayangkan ice cream yang lembut masuk kedalam mulut dan meleleh menyentuh lidah.
Apalagi ice cream nya bukan dari toko-toko atau dari abang-abang penjual. Tapi langsung dari sumbernya. Hmm air liur Fiona sudah menetes hanya dengan membayangkan hal tersebut
Pak Ziel tersenyum " Baiklah, nona tunggu saja. Sekarang anda bisa kembali beristirahat." Buru-buru mengatakan hal ini, jangan sampai Fiona berubah pikiran lagi
Fiona mengangguk cepat dan pergi dari sana dengan wajah yang berbinar. Semua pelayan di sana hanya menatap Fiona sampai kekasih sang tuan muda itu benar-benar masuk kedalam lift
Hahhhh
Helaan nafas panjang terdengar memenuhi ruangan dari semua pelayan disana. Mengusap dada sembari berkata 'syukurlah semuanya selesai dengan mudah' kata mereka dalam hati.
Uang bukanlah masalah bagi tuan muda mereka. Jadi hal seperti menghamburkan uang tidak akan jadi masalah. Mungkin Detrick malah akan Senang dengan hal itu
" Kembali ke tempat kalian." Pak Ziel membuja suara membuat mereka segera pergi melanjutkan pekerjaannya.
Sedangkan tukang kebun yang hanya mendengar dari balik jendela karena tidak berani masuk, jatuh terduduk di atas rumput " Hampir saja nyawa ku terancam." Di akhir kata terdengar helaan nafasnya yang cukup panjang
Temannya datang sembari menepuk punggung pria yang terlihat masih muda itu " Sabar, kadang hidup memang butuh tantangan untuk membuatnya menjadi lebih seru."
__ADS_1
Huh!
Tantangan sih, tantangan. Tapi jangan sampai berurusan dengan kekasih tuan mudanya juga. 'Umurku bisa langsung memendek' dengus dalam hati
Gajinya menjadi tukang kebun Sangat lah di luar nalar. Mending jadi tukang kebun mansion seorang Detrick Reventoon daripada pegawai kantor. Pikir tukang kebun tersebut
Kembali lagi ke pak Ziel yang baru saja selesai membeli sebuah pabrik besar tempat produksi ice cream. Ia berniat menghubungi sang tuan muda, mengenai laporannya ini. Bukan karena sudah menghamburkan uang, tapi menurut pak Ziel bukannya lebih bagua jika perusahaan pembuatan ice cream itu juga turut di beli?
" Ada apa? Apa terjadi sesuatu dengan Fiona?. " Suara dari seberang yang sudah pasti dari tuan mudanya.
Tanpa basa-basi tak jelas, pak Ziel langsung mengatakan intinya " Bagaimana tuan?." Setelah bercerita ia pun menanyakan pendapat Detrick
" Lakukan. Asalkan Fiona senang." Tanpa pikir panjang. Asalkan kekasihnya senang hal ini sudah cukup baginya
Setelah berbicara panjang lebar akhirnya sambungan telepon putus. Segera pak Ziel menelpon sekretaris Iden agar melakukan apa yang telah di setujui Detrick. Setelah nya ia meminta seseorang agar membawakan ice cream dari pabrik yang sudah di beli tadi langsung ke Fiona.
Di sisi lain, Fiona kembali membaringkan tubuhnya. Entahlah akhir-akhir ini ia tidak punya keinginan untuk keluar rumah. Terlalu malas rasanya, namun ia tetap memaksakan diri saat harus membawakan bekal ke perusahaan sang kekasih.
Tok... Tok... Tok..
Terdengar suara ketukan dari balik pintu. Fiona memperbaiki posisi duduknya " Masuk." Sahut Fiona setelah merasa posisi nya sudah cukup bagus
Ceklek...
Seorang wanita muda dengan pakaian maid datang sembari membawa sebuah nampan yang terlihat berisi ice cream.
Senyuman Fiona seketika mengembang, wajahnya berbinar. Ia bahkan langsung berdiri menyambut kedatangan pelayan tersebut " Apa ini untuk ku Anna?." Masih bertanya hal yang sudah pasti
Anna, pelayan muda tersebut tersenyum " Benar nona. Sesuai permintaan anda tadi, ice cream ini datang dan dibuat langsung dari pabriknya, dan limited edition." Jelas Anna
Saat seruan kekasih seorang Detrick Reventoon menginginkan ice cream yang dapat memuaskan kekasih dari tuan muda angkuh tersebut, sontak mereka para pekerja di pabrik berbondong-bondong mencari ide baru untuk membuat ice cream yang berbeda dan pasti akan langsung di sukai oleh wanita yang berhasil menempati posisi nyonya Detrick.
Dan hasilnya sebuah ice cream yang terlihat sangat lembut berwarna mocca yang dibawa oleh Anna.
Fiona terkekeh lalu mengambil ice cream tersebut. Ia langsung menyendokkan ice cream limited edition yang hanya ada satu di dunia. Saat ice cream tersebut menyentuh lidah, seperti tersengat listrik tubuh Fiona meremang dan ingin lagi.
" Hmmm ini ice cream terenak hang pernah aku makan. Hmmm aku tidak bisa berhenti." Menyendokkan ice cream ke mulutnya lagi dan lagi
Anna tersenyum senang bersamaan dengan rasa lega yang keluar begitu saja yang sedari tadi membebani pikiran nya " Syukurlah, nona. Makanlah perlahan-lahan dan jangan terlalu banyak."
Fiona duduk di sofa " Siap." Mengangkat tangan dan menaruh di dahi. Anna tersenyum lalu pamit undur diri meninggalkan Fiona yang terhanyut dalam nikmatnya ice cream yang ia makan sekarang.
.
.
TBC
Jangan lupa tinggalkan jejak. like komen dan votenya 😘 banyakin hadiah nya juga biar othor tambah semangat nulis nya ✌️
__ADS_1
...klik tanda love dibawah ini 👇...