Terjebak Hasrat Majikan

Terjebak Hasrat Majikan
Hanya itu yang kumiliki


__ADS_3

Detrick dan Fiona masuk kedalam mobil untuk segera pulang ke mansion. Setelah masuk, Detrick segera menekan tombol agar sekat naik di antara kursi depan dan juga belakang. Pria itu tak ingin kebersamaan nya dengan sang istri di ganggu.


Fiona menyandarkan kepalanya di dada bidang Detrick. Sedangkan tangan Detrick merangkul tubuh mungil istrinya. Akhir-akhir ini Fiona selalu merasa cepat mengantuk dan lelah. Entah apa yang terjadi pada tubuhnya.


" Oh yah." Mengangkat kepala lalu menatap wajah tampan suaminya


" Aku sangat penasaran dengan pernikahan kita Minggu lalu. Bukannya seharusnya sederhana? Yang aku lihat tidak ada kata sederhana disana." Ucapnya dengan wajah bingung. Ia tak masalah, hanya rasa penasaran yang tidak bisa ia bendung


Detrick menarik kembali kepala Fiona dan menyandarkan di dada. Mengusap kepala sang istri " Itu sangat sederhana sayang. Persiapannya saja hanya satu bulan." Katanya dengan sangat enteng membuat Fiona melotot tak percaya.


'hanya satu bulan? Jadi yang tidak sederhana membutuhkan waktu satu abad? Begitu?' ia tak habis pikir dengan jalan pikiran orang-orang kaya


'eh! Aku 'kan orang kaya juga' selalu lupa akan statusnya


" Hahhh Baiklah aku pasrah." Mengehela nafas pelan. Tiba-tiba wanita itu teringat sesuatu, ia kembali mengangkat kepala dan melihat suaminya.


Baru ia ingin berbicara, sudah terdengar decakan lidah Detrick dan tatapan tajam suaminya. Fiona tersenyum kaku, tangan besar Detrick kembali menarik kepala Fiona kedepan dada. Pria itu sangat tidak suka jika kepala istrinya yang sudah nyaman didada harus terlepas.


Fiona hanya bisa mengulum bibir 'dia tidak sepenuhnya berubah' walaupun ia sudah tahu, tapi tetap saja Fiona masih sering dibuat terkejut. Ia sudah hampir satu bulan tinggal bersama Detrick, di tambah dengan satu Minggu lalu saat mereka mengadakan resepsi.


Wanita itu berdehem membuat Detrick menunduk " ada apa? " Tanyanya seakan tahu Fiona ingin mengatakan sesuatu


" Hmm 'kan aku sudah sarjana, apalagi nilaiku juga salah satu yang terbaik, aku juga yakin aku cukup hebat dalam kerja lapangan, jadi.." membuat lingkaran-lingkaran kecil di dada Detrick


Detrick menaikkan sebelah alisnya " Jadi? "


" Hmm aku ingin bekerja, apa perusahaan mu memerlukan tenaga..__"


" Tidak! " Tegas Detrick


Sontak Fiona mengangkat kembali kepalanya " Kenapa? Aku hanya ingin bekerja." Ia tetap kekeuh walaupun suaranya di lirihkan


Dengan sabar Detrick kembali menarik kepala sang istri yang selalu pindah Begitu saja " Aku tidak kekurangan uang untuk menafkahi mu. Kamu tidak perlu cari kerja lagi, cukup diam di mansion dan melayani ku dengan baik."


Fiona mendengus. Ia tak bisa menerima alasan itu begitu saja " Ijazah ku sia-sia, jika aku tidak bekerja." Ucap Fiona


" Tidak! "


" Biaya sekolah tidak murah loh. Aku banting tulang untuk itu." Kekerasan kepala Fiona melebihi kerasnya batu 'walaupun aku dapat beasiswa sih' hampir seluruh biaya kuliahnya ditanggung beasiswa


" Kamu dapat beasiswa sayang. Jangan terlalu mendramatisir." Mengecup kepala Fiona


Wanita itu berdecak dalam hati 'dia tahu rupanya' " Tapi tetap saja. Sia-sia selama ini aku kuliah kalau ujung-ujungnya jadi pengangguran." Mengeratkan pelukannya di pinggang Detrick


" Tidak. Tetap tidak, sayang." Menekan perkataan nya. Fiona mendengus dan akhirnya diam. Walaupun ia belum tentu menyerah.


.........


Di tempat lain, Rani dengan langkah gontai karena terlalu lelah. Ia ingin segera membaringkan tubuh di atas ranjang yang tidak terlalu empuk nya. Rani berjalan dari perusahaan ke kontrakan karena memang dekat.


Ceklek..


Ia masuk kedalam kontrakannya yang tak seberapa. Ia langsung menghempaskan tubuhnya di atas kasur lantai " ahh walaupun tidak empuk setidaknya ini lebih baik." Memejamkan mata dan Langsung tertidur tanpa membersihkan badan.


Nanti malam, Rani mempunyai pekerjaan sampingan di sebuah hotel. Ia hanyalah seorang pelayan disana namun hanya bekerja saat malam hari.


Malam hari pun tiba, Rani yang sudah bersiap-siap Langsung tancap gas ke hotel menggunakan bis.

__ADS_1


Setelah sampai, ia Langsung menuju ke tempat ganti baju untuk memakai pakaian kerja yang sudah di siapkan oleh pihak hotel.


Rani Bekerja seperti biasa. Tak ada yang istimewa, semuanya bekerja dan berjalan seperti biasa. " Setelah ini aku ingin kembali tidur." Meregangkan otot-otot tubuhnya. Tunggal seperempat jam lagi ia pulang.


" Terima kasih atas kerja kerasnya." Sapa seorang pria. Orang yang menjadi manager hotel. Orang nya ramah dan tampan, apalagi masih muda.


Rani dan teman-teman nya tersenyum " Terima kasih juga atas kerja kerasnya." Jawab mereka


" Sebentar lagi kalian pulang, hati-hati saat dijalan. Apalagi kamu Rani, kontrakan mu cukup jauh dari sini." Melihat Rani dengan tatapan yang berbeda


Rani mengangkat tangan hormat " Siap pak." Membuat mereka semua terkekeh.


Setelah itu, Rani pun kembali melanjutkan tugasnya. Ia berjalan melewati lorong hotel setelah membawakan makanan kepada salah seorang penginap hotel.


Saat sedang berjalan, tiba-tiba matanya menangkap sosok pria yang berjalan lunglai. Karena merasa pria tersebut membutuhkan bantuan, Rani segera menghampiri pria berjas tersebut.


" Tuan anda tidak apa-apa? " Tanya Rani


Pria tersebut mendongak melihat Rani dengan kabut aneh yang terlihat di mata. " To.. long bantu aku." Menyerahkan sebuah kartu akses


Tanpa curiga Rani menerima kartu akses tersebut " Apa saya harus membantu anda membuka kamar anda? " Pria tersebut hanya mengangguk dengan nafas ngos-ngosan sembari bersandar di dinding


Rani pun membuka kamar di dekat mereka menggunakan kartu akses tersebut.


Ting..


Bunyi pintu tersebut terbuka " Silahkan masuk tuan." Menatap khawatir pria di depannya yang terlihat tidak baik-baik saja.


Pria tersebut ambruk di lantai " Tuan.." teriak Rani. Ia melihat sekeliling dan tidak melihat siapa pun untuk di minta pertolongan.


Rani pun mencoba memapah tubuh besar pria tersebut masuk kedalam kamar yang dibukanya. Setelah masuk, Rani langsung menghempaskan tubuh besar tersebut di atas ranjang empuk yang tidak pernah ia rasakan seumur hidupnya.


Rani hendak berbalik untuk pergi dari sana. Tapi....


" Ahkk." Teriak Rani saat tiba-tiba ia terjatuh ke atas ranjang. Di atasnya pria tersebut terlihat menatap Rani dengan nafsu yang tak tertahan


" Tu.. tuan tolong lepaskan saya." Mencoba untuk tetap tenang. Tangannya di tahan di atas kepala oleh satu tangan pria tersebut


" Ahh to.. long bantu aku. Tu.. tubuhku rasanya panas." Mengecup wajah Rani


Rani memberontak " Tidak. Lepaskan aku! Ku mohon." Air matanya mengalir membasahi pipi


Tidak mengindahkan perkataan Rani, pria tersebut semakin mencumbu wanita Tersebut. Dimulai dari seluruh wajah, bibir hingga turun ke leher " Maaf.. maafkan aku, tapi aku mohon tolong aku." Lalu kembali melanjutkan kegiatan nya.


Pria tersebut membuka pakaiannya, ia juga membuka pakaian Rani dengan hati-hati lalu kembali mencumbu tubuh gadis yang sedang menangis tersedu-sedu Tersebut


Rani menggeleng pelan " Tidak... Hiks.. hiks aku mohon." Pergerakannya terkunci. Ia berteriak, berharap agar dari balik pintu yang tidak tertutup tersebut muncul seseorang dan menyelamatkan nya.


Pria tersebut tetap melanjutkan kegiatan nya. Kelembutan yang ia berikan membuat Rani sungguh tak bisa menahan diri. Walaupun bibirnya menolak namun tubuhnya tidak munafik. Kelembutan yang di berikan pria tersebut membuat tubuh Rani mengejang meminta lebih.


Ia tidak seperti di paksa atau pun di perkaos, kelembutan pria tersebut benar-benar membuatnya mabuk kepayang.


Tidak tahan dengan gairah, pria tersebut langsung membuka gesper dan menurunkan celananya. Ia juga mengangkat rok Rani hingga sampai ke perut putih gadis tersebut. Di bukanya kain tipis segitiga tersebut dengan hati-hati.


Glek..


Gairah pria tersebut sudah di ujung tanduk. Di pegangnya batang yang sudah mengeras tersebut lalu mengusap-usap nya di bibir V Rani.

__ADS_1


Rani menggeleng keras dengan air mata yang membanjiri. Tangannya masih tertahan di atas kepala. Merasakan benda tumpul tersebut bergesek di bibir V nya membuat Rani semakin takut


" Aku mohon hiks.. jangan lakukan. Aku hanya memiliki tubuh ku sebagai aset berharga ku. Jika kau mengambilnya, aku sudah tidak punya apa-apa." Berteriak sekencang mungkin didepan wajah tampan pria tersebut


Pria itu tidak mengindahkan dan mulai memasukkan batangnya kedalam mister V Rani. " Ahhkkkkkkk sakit.. sakit.." teriak Rani saat merasakan benda tumpul tersebut masuk kedalam sana.


Pria tersebut memejamkan mata menikmati nikmat dari jepitan didalam tubuh wanita yang sedang ia gauli dengan paksa. Mencium seluruh wajah wanita tersebut " Maafkan aku. Aku akan bertanggung jawab." Ucapnya dan mulai menggerakkan badan dengan sangat lembut.


Rani menolak. Sakit, sangat sakit. Tapi cara pria tersebut memperlakukan nya dengan sangat lembut seakan-akan ia adalah barang yang sangat rapuh, benar-benar membuat Rani seperti dicintai dan terasa amat berharga.


Suara laknat mereka saling bersahutan. Walaupun Rani tetap berusaha menahan nya, namun tetap saja selalu ada yang lolos.


" siapa ah.. nama mu." tanya pria tersebut masih memompa dengan sangat lembut


Rani hanya diam " Maafkan aku." ucapnya lagi


terdengar desahaann tanpa sengaja keluar dari bibir Rani


" ahh ini sangat nikmat."


" Enhart. Namaku Enhart. ahh.. sebut namaku."


..........


Fiona kini duduk sembari menonton televisi diruang tengah bersama Detrick yang sedang bekerja di laptop nya.


Fiona menghela nafas kasar. Sudah beberapa kali wanita manis itu melakukan nya dan semua itu tak luput dari pengelihatan Detrick. Detrick menghentikan aktivitasnya lalu menutup laptop. Ia kemudian berdiri menghampiri sang istri lalu merangkul Istrinya.


" Ada apa, hmm? " Tanya Detrick lembut. Ia jadi sedikit peka saat bersama Fiona. Ia seakan-akan tahu keadaan ataupun perasaan yang dirasakan Fiona


Fiona tersenyum melihat suaminya yang sekarang berubah menjadi manis walaupun terkadang masih terlihat menakutkan " Aku hanya memikirkan Rani, sahabat ku." Ungkap Fiona


" Siapa dia? " Pertanyaan Detrick semakin membuat Fiona menghela nafas kasar. Karena itu ia tidak ingin mengatakan pada suaminya, lagipula suaminya juga tak mengenal Rani


" Salah satu karyawan mu, sayang. Dia salah satu og sama seperti ku dulu." Mendengus. Masa karyawan sendiri tak dikenal, pikir Fiona


" Aku tidak akan mengenal semua karyawan ku yang berjumlah sangat banyak, Fio. Jadi, ada apa dengan sahabat mu itu? " Mencoba untuk menjadi pendengar yang baik


" Aku hanya Iba melihat nya. Dia tidak seberuntung aku. Nasibnya lebih susah dibandingkan dengan aku yang dulu. Setidaknya dulu aku masih mempunyai tempat tinggal yang bagus dan beasiswa yang selalu mengalir. Tapi, Rani sama sekali tidak memiliki siapa-siapa di dunia ini selain dirinya sendiri." Jelas Fiona panjang lebar


" Jadi apa yang ingin kamu lakukan untuknya? " Tanya Detrick. Ia akan membantu apapun itu, jika istrinya meminta


Fiona menggeleng lemah " Aku tidak tahu. Aku tidak ingin memberikan nya sesuatu berupa materi yang malah akan membuat dirinya semakin menyedihkan. Dan aku yakin ia juga akan menolak." Walaupun mereka sama-sama materialisme, tapi mereka juga pilih-pilih dan tidak ingin dianggap menyedihkan walaupun sebenarnya mereka lebih dari menyedihkan.


Detrick tersenyum tipis. Ia memeluk tubuh sang istri lalu membenamkan Beberapa ciuman diwajah Fiona " Jangan khawatir. Setiap manusia mempunyai takdir nya masing-masing. Aku yakin temanmu juga akan mempunyai takdir yang lebih baik dan berakhir happy ending."


Fiona tersenyum lalu mengangguk ' tapi kenapa perasaan ku tidak enak yah' memeluk pinggang Suaminya lalu menyandarkan kepalanya di dada bidang Detrick.


.


.


TBC


Jangan lupa tinggalkan jejak. like komen dan votenya 😘 banyakin hadiah nya juga biar othor tambah semangat nulis nya ✌️


...klik tanda love dibawah ini πŸ‘‡...

__ADS_1


Follow aku ig othorπŸ€­πŸ˜…πŸ™ \=> HimaSun_05


__ADS_2