Ternyata Jodohku

Ternyata Jodohku
Episode 19


__ADS_3

Selamat membaca 🌷🌷🌷


Waktu begitu cepat berlalu tak terasa sudah dua bulan aku bekerja dikantor ini, dan sudah satu bulan berlalu sejak kejadian malam itu. Aku selalu berharap tidak akan ada hal buruk lagi setelahnya, cukup kejadian malam itu saja.


Aku masih sering berpapasan, atau pun bertugas di ruangan pak Aldi. Kami mulai bersikap seperti biasa meski masih ada sedikit kecanggungan, berusaha agar tak ada orang yang curiga.


Beberapa kali aku melihat perempuan dengan baju mini itu masih sering datang keruangan pak Aldi, namun tak lama kemudian dia keluar dengan wajah kesal. Mbak Citra seringkali menahan tawa melihat tingkahnya, apakah dia selalu diusir pak Aldi?? Entalah..


Aku baru saja meletakkan secangkir teh dimeja mbak Citra, ya tadi mbak citra meminta ku membuatkannya. lalu intercom yang ada dimeja mbak Citra berbunyi pertanda ada panggilan masuk, dengan segera mbak Citra menjawabnya


" Iya pak "


.......


" Baik pak, tunggu sebentar "


Sekilas percakapan yang kudengar, lalu mbak Citra menatapku.


" Ris, tolong buatkan capuccino 3 dan antarkan keruangan pak Aldi yah "


Ternyata pak Aldi yang menelepon. " Baik mbak "


.................


Aldi duduk meja kerjanya berhadapan dengan kliennya dan Bian, membahas kelangsungan proyeknya.


" Jadi pak, apakah tambahan lagi ?? " Pak Risal kembali bertanya


" Dari yang kita tinjau beberapa Minggu lalu, saya rasa kita harus menambah seperti tempat bermain anak-anak disudut kiri. Karena saya rasa tempat itu sangat strategis, nanti bisa menjadi salah satu pilihan untuk family time. bagaimana menurut pak Risal?? " Ujar Aldi sambil menunjuk Dena lokasi yang terbentang dimeja kerjanya


Pak Risal tersenyum, tidak salah dia kerja sama dengan Aldi. Pengusaha yang terbilang cukup muda namun sangat cerdas dalam mengatur bisnis. " Iya, saya setuju dengan pak Aldi. Nanti untuk background photo shot bisa disudut kanan dekat jendela, jadi nanti kita tidak hanya mencakup para orang tua namun juga anak muda. "


" Iya, saya juga setuju dengan usulan bapak. Jika sudah final kita bisa mulai pembangunan nya bulan depan bagaimana ?? " Pungkas Aldi


Pembicaraan mereka terhenti ketika terdengar ketukan pintu, dan Aldi pun menyahut mengizinkan masuk.


Riska berjalan membawa 3 cangkir capuccino yang di letakkan diatas nampan, kemudian meletakkan dimeja didepan mereka masing-masing. " Ini pak minumannya, ada lagi pak?? " Ujar Riska setelah selesai meletakan cangkir tersebut.

__ADS_1


" Tidak ada, kamu boleh keluar " Sahutan Aldi


" Baik pak, permisi " Riska segera keluar setelah mendapatkan jawaban berupa anggukan dari Aldi.


Saat jam istirahat Riska bersama Ayu dan Jihan makan siang dipantri, mereka membawa bekal masing-masing.


Jihan terlebih dahulu membuka kotak bekalnya, yang ternyata isinya udang pete balado. Ketika baunya tercium oleh indra penciuman Riska, Riska dengan cepat menutup hidungnya. Kemudian perutnya mulai bergejolak ingin dikeluarkan, segera Riska memindahkan kotak makannya yang sebelumnya ada diatas pahanya ke kursi disampingnya. Riska langsung menutup mulutnya dengan tangan kanan sedang tangan kirinya masih menjepit hidung, tak tahan dengan rasa mual Riska cepat berlari ke toilet.


Huekkk.. huekkkkk....


Riska tiba didepan wastafel, Riska berusaha mengeluarkan cairan yang menyiksa perutnya. Jihan dan Ayu yang mendengar suara muntahan dengan cepat menerobos ke dalam toilet, ya Jihan dan Ayu yang panik melihat Riska langsung menyusul takut terjadi sesuatu pada temannya itu.


Hueekkk.. Hueek...


Riska masih mengeluarkan cairan bening dari mulutnya, dibantu Jihan memijit tengkuknya. Selesai muntah Riska langsung lemas duduk bersandar pada Jihan, dengan cepat Ayu kembali ke pantri mengambil air putih dan menyerahkan pada Riska.


" Nih minum dulu Ris " Ayu panik langsung menyodorkan gelas pada Riska


Riska langsung meminum air yang diberikan Ayu, kemudian menyerahkan kembali gelasnya pada Ayu " Makasih yu " ucap Riska lemah


" Kamu kenapa Ris?? maag kamu kambuh?? nggak sarapan tadi pagi?? " Jihan bertanya raut kawatir


" Kayak orang hamil aja " Celetukan Ayu membuat tubuh Riska menengang. Hamil??


Degg.. degg..


Jantung Riska langsung berdetak dengan cepat, hamil?? Apa iya dia hamil?? Tapi dia memang sudah telat datang bulan 1 Minggu. Semoga pemikirannya salah.


" Ris.. Ris.. " Panggil Ayu sambil menepuk pelan lengan Riska menyadarkannya dari lamunannya.


" Eh, I-iya Yu kenapa?? " Ayu gelagapan menjawab panggilan Ayu


" Ye.. malah melamun ini Maemunah, situasi lagi genting dianya malah melamun " Celoteh Ayu langsung memukul pelan paha riskan.


" Kamu kenapa Ris?? kamu ke dokter aja apa gimana ?? " Selah Jihan menengahi pembicaraan absurd Ayu


" Ng-nggak usah, aku nggak kenapa Napa kok. Mungkin masuk angin aja tadi. Mau bikin teh anget aja, hangatin perut. " Riska mulai berdiri dibantu Ayu dan Jihan.

__ADS_1


Jihan dan Ayu bantu memapah Riska untuk kembali ke pantri, tiba didepan pintu Riska tiba tiba berhenti.


Riska menatap Jihan " Kotak makannya udah kamu pindahin kan Han ?? " tanya Riska dengan wajah memelas


" Udah kok, udah aku masukin tas lagi dan taruh disudut " Kemudian mulai berjalan memapah Riska masuk dan mendudukkan Riska dikursi.


Ayu dengan sigap membuatkan teh hangat lalu memberikan pada Riska. " Nih minum dulu tehnya, biar enakan " kemudian ayu duduk disamping kanan Riska dan Jihan disamping kiri.


" Makasih yah Yu, Han. " Ucap Riska dengan tulus


" Iya, kita udah kayak keluarga Ris. udah sepatutnya kan keluarga saling bantu?? " Balas Ayu memegang tangan Riska


" Betul kata Ayu, kamu nggak usah kerja dulu istirahat aja duduk disini. Nanti kerjaan kamu kita bantuin selesaikan " ujar Jihan sambil mengelus punggung Riska


Bahagianya Riska memiliki teman seperti mereka, dia merasa seperti memiliki keluarga. Terima kasih Tuhan telah menghadirkan orang orang baik disekitarnya. " Iya, makasih ya udah mau bantuin " Riska mengangguk mengiyakan permintaan Jihan.


Sepeninggalnya Jihan dan Ayu untuk kembali bekerja, Riska kembali melamun memikirkan berbagai hal. Apa iya dia hamil?? bagaimana jika benar dia hamil?? apa yang harus dia lakukan?? " Sepertinya pulang kerja aku harus pergi ke apotek membeli tes kehamilan untuk memastikan segalanya " Gumamnya dalam hati


Saat pulang kerja Riska diantar pak Mamat sampai depan rumahnya, namun Riska tak langsung masuk kedalam rumah melainkan berjalan kembali keluar rumah menuju apotek dekat gang rumahnya.


Selesai membeli tes kehamilan Riska langsung pulang, membersihkan diri dan langsung masuk ke kamarnya. Dia sedang tak nafsu makan, jadi memilih untuk merebahkan tubuhnya di kasur.


" Kata mbak penjaga apotek, lebih bagus tesnya pagi biar lebih akurat hasilnya. Pagi aja deh tesnya, duh mana deg-degan lagi kayak mau copot ini jantung " Gumamnya menatap tes kehamilan ditangannya.


Cahaya matahari mulai menerobos masuk melalui celah jendela, mulai mengusik tidur Riska yang sebentar. Karena pukul 1 dini hari Riska baru bisa tertidur karena memikirkan soal tes kehamilan.


Riska menggeliat sambil mengucek matanya, teringat akan tes yang akan dia lakukan. Riska langsung terduduk, dengan mata terbuka lebar. Perlahan Riska turun dengan jantung berdebar mengambil wadah lalu masuk ke kamar mandi mulai melakukan tes sesuai petunjuk.


Kurang lebih 10 menit Riska menunggu dengan jantung yang berdebar takut, kemudian mulai mengambil alat tesnya penasaran sekaligus takut dengan hasilnya.


Degg.. deg..


Riska langsung meluruh kelantai dengan air mata yang mulai menetes.


Dua garis ???


...°° MOHON MAAF JIKA MASIH BANYAK KEKURANGAN DALAM PENULISAN KATA, TANDA BACA YANG KURANG TEPAT DLL. KARENA SAYA SEBAGAI PENULIS MASIH DALAM TAHAP BELAJAR. °°...

__ADS_1


...~TERIMA KASIH~...


DUKUNG KARYA PENULIS DENGAN MEMBERIKAN LIKE DAN VOTE 😊😘


__ADS_2