
Selamat membaca 🌷🌷🌷
Enghhhh...
Bian mulai mendapatkan kesadarannya, merenggangkan otot-ototnya lalu mengucek mata menyingkirkan semua yang menempel pada matanya.
"Nyenyak banget lu tidur, berasa kamar sendiri." Celetuk Aldi sebagai sambutan
"Elah Al, baru juga bangun udah ajak debat. Gelud aja yok.." Bian duduk menyender disofa. Melirik ke tangan kanannya untuk melihat pukul berapa sekarang.
"Al, udah hampir jam enam aku pulang dulu yah. Geludnya besok aja." Lanjut Bian lagi.
"Serah... Pulang aja, diam disini juga nggak ada gunanya." Jawab Aldi dengan nada yang ketus.
"Halah, bilang aja pengen berduaan. Bye.."
Bian lekas keluar, ingin segera pulang menyantap makanan buatan Mamanya.
Tok.. Tok..
Satu orang suster masuk dengan mendorong troli makanan. "Permisi Pak, Bu, saya mengantarkan makan malam untuk pasien." Ujar suster meletakkan nampan makanan dimeja samping brangkar.
"Makasih sus," Balas Riska dengan memberikan senyum tipis.
Setelah suster keluar, Aldi mengambil nampan makanan tadi.
"Sekarang makan yah? aku suapi." Aldi lekas mengambil sendok.
"Nggak mau bubur Al, enek. Nggak suka.." Selah Riska ingin muntah melihat buburnya.
"Terus mau makan apa? aku beliin." Tanya Aldi dengan suara lembut.
"Pengen mak--- Perkataan Riska terputus karena suara ketukan pintu."
Tiga orang yang berbeda usia dan kelamin melangkah masuk, dengan menenteng 2 paper bag.
"Masuk Pa, Ma, Re.." Suara Aldi menyambut kedatangan orang tua serta adiknya.
Elsa langsung duduk disofa dengan wajah tak bersahabat, sangat kentara jika dia enggan untuk datang.
Lain hal dengan Raka dan Renata, yang langsung mendekat berdiri samping kanan brangkar setelah sebelumnya Renata meletakkan paper bagnya dimeja. Karena disamping kiri, ada Aldi yang duduk tak beranjak dari kursinya.
"Kak nggak apa-apa kan? Dedek bayinya nggak kenapa-napa juga kan?" Dari suaranya sangat kentara jika Renata sangat kawatir, dan peduli pada Riska.
"Iya, kamu udah nggak apa-apa kan? gimana perutnya?" Selah Raka bertanya, bahkan saat Riska belum sempat menjawab pertanyaan Renata.
"Nggak apa-apa kok Pa, Re. Kata dokter bayinya baik-baik aja, tadi cuma efek terkejut, nggak ada yang serius." Riska menjawab dengan senyuman diakhir kalimatnya.
"Alhamdulillah kalau gitu, kak Riris udah makan? Rere bawah makanan itu sama baju ganti kak Riris dan kal Aldi, ada capcay sama ayam kecap."
__ADS_1
Riska menelan ludahnya, baru mendengar nama masakannya saja lidah sudah terasa gatal ingin mencicipi.
"Makan itu aja, mau? Atau pengen yang lain?" Renata tercengang mendengar suara lembut sang kakak, suatu kejadian langkah kakaknya itu berbicara dengan suara selembut sutra begitu.
Mendapati anggukan dari istrinya, Aldi lekas membuka paper bag lalu menyiapkan makanan untuk istrinya.
Aldi duduk kembali dengan sepiring nasi serta lauknya, dan air putih yang dia letakkan dimeja. "Aku suapin yah?"
Jujur Riska malu, karena disini bukan hanya mereka berdua saja. Apalagi tatapan kebencian yang ditujukan mama mertuanya, sangat membuatnya tak nyaman. Namun akhirnya Riska mengangguk, tak mau menyia-nyiakan kesempatan. Kapan lagi merasakan mode so sweet suaminya?
Renata dan Raka saling bertatapan, seakan saling berbicara lewat pandangan mata saja. Senyum pun terukir di bibir keduanya.
***
"Mau kemana?" Riska yang ingin turun dari ranjang berhenti kemudian mengadah kepada suaminya.
"Mau ganti pakaian dikamar mandi."
"Aku antar yah?" Tawaran Aldi
"Nggak usah, aku bisa kok sendiri." Tolak Riska
Semua keluarganya sudah pulang lima belas menit yang lalu.
Riska melangkah pelan masuk ke kamar mandi dengan meneteng paper bag berisi pakaiannya, sepuluh menit kemudian Riksa keluar dengan wajah tampak segar setelah mencuci wajahnya, lalu duduk kembali diranjang.
Riska menatap Aldi, "Ganti pakaian gih .. terus makan, kamu belum makan dari tadi."
Netra Riska terus menatap setiap pergerakan Aldi, dari masuk hingga keluar dari kamar mandi. Sampai Aldi menyendok makanan ke mulut hingga tandas, matanya tetap menatap suaminya.
Mimpi apa dia, sampai bisa mempunyai suami tampan seperti ini?
Perbuatan baik apa yang dilakukan di kehidupan sebelumnya, hingga di kehidupan sekarang dia bisa bersanding dengan laki-laki rupawan seperti Aldi?
"Kenapa?" Pertanyaan Aldi membuyarkan lamunannya, dia tertangkap basah memandang suaminya sedari tadi.
"Enggak! Aku ngantuk, mau tidur duluan .." Riska lekas berbaring menyembunyikan gugupnya.
Tanpa dilihat Riska, Aldi menyunggingkan senyum tipis melihat tingkah polos istrinya.
***
"Selamat pagi, wah.. segar sekali pasien kita ini. Semangat sekali ingin cepat pulang sepertinya." Sapaan dokter Aulia yang masuk dengan satu suster di sampingnya.
"Iya Dok, nggak suka sama rumah sakit. Udah bisa pulang kan?"
"Kita periksa sekali lagi yah, cuma pengecekan ulang kok, sama cambut selang infus. Kamu udah bisa pulang hari ini."
"Dok tensi udah normal." Selah suster.
__ADS_1
"Baik, sekarang sudah bisa urus berkas kepulangan ya Al. Dan jangan lupa vitamin diminum, makan buah-buahan sama bed rest dulu yah. Saya keluar dulu .." Jelas Aulia, kemudian pamit mengecek pasien lain.
Aldi langsung mengurus semua hal untuk membawah Riska pulang ke rumah. Kemudian dia sendiri yang menyetir mobilnya, membawah Riska pulang kerumah.
Tiba dirumah Aldi menuntun Riska masuk sampai berbaring dikamar. Kemudian lekas mengambil pakaian kantornya, lalu pergi ke kamar mandi. Lima belas menit kemudian, Aldi keluar dengan pakaian yang sudah rapi.
Aldi memakai jam tangan mahalnya sambil menatap pantulan dirinya dicermin, Merapikan rambut dengan gel rambut lalu berdiri disamping ranjang.
Aldi menatap Riska yang duduk bersandar dikepala ranjang. "Yang, aku mau ke kantor sebentar, ada yang harus aku urus. Kamu nggak apa-apa kan sendiri? Pulang kuliah nanti Rere temenin, kalo perlu apa-apa panggil Mama atau bibi aja yah."
Cup!
"Aku pergi dulu." Pamit Aldi, lalu pergi keluar kamar.
Pipi Riska bersemu merah, Aldi mengecup keningnya? Astaga ... Ingin sekali dia melompat, jika tidak ingat sedang ada kehidupan lain dalam perutnya.
***
Pukul setengah sebelas siang Aldi sampai di perusahan, perkerjaannya dihandle Bian sementara. Di jalan tadi dia sudah menghubungi Bian, jika dia dalam perjalanan ke perusahan dan meminta Bian datang ke ruangannya jika dia sudah sampai.
"Siang pak." Sapa Citra ketika atasannya masuk ruangan.
"Cit, panggil Jihan suruh keruangan saya." Titahnya sebelum menutup pintu.
"Gercep banget lu, udah duduk manis disini." Aldi tak kaget melihat Bian yang sudah duduk manis disofa. dia pun menyusul Bian duduk di sebelahnya.
Suara ketukan pintu terdengar, segera Aldi menyuruh masuk. Dia tau siapa yang datang, karena dia sendiri yang menyuruh tadi.
"Bapak panggil saya,?"
"Duduk Jihan." Jihan duduk didepan Aldi dan Bian.
"Apa yang terjadi kemarin dilobby? tolong katakan yang sebenarnya." Tak membuang waktu, Aldi langsung pada intinya.
Jihan langsung menceritakan semua yang terjadi, semua gunjingan karyawan dan sampai pada cemoohan Siska dan dengan segaja Siska mendorong Riska. Tak ada yang dia tutupi, dia juga menginginkan keadilan bagi Riska.
"BRENG**K,!!!" Aldi berdiri dan berteriak mengumpat.
"BIAN, PANGGIL MEREKA SEMUA YANG TERLIBAT ...!!"
***Bersambung...
See you next chapter, bye...
note*:
Besok mungkin hanya bisa update 1 bab, karena harus nganterin anak wisata rohani.
...Jangan lupa tinggalkan jejak like, komen, vote dan hadiah....
__ADS_1
...agar lebih semangat menulis.....
...Terima kasih**.....