Ternyata Jodohku

Ternyata Jodohku
Episode 73


__ADS_3

Selamat membaca 🌷🌷🌷


Jarum pendek dijam dinding sudah berada diangka 5 sedang jarum panjang sudah berada diangka 3, Bian sudah mondar-mandir di ruangannya, entah berapa kali. Kembali ia masuk ke bilik ruangan Citra yang berada didepan ruangan Aldi.


"Cit, Pak Aldi sama Bu Riska belum keluar juga? Udah jam 5 lewat 15 menit loh ini." Tanya Bian dengan decakan kesal.


Citra mengeleng. "Belum Pak Bian. Banyak pekerjaan kali." Sibuk dengan pekerjaan yang menguras tenaga. Citra membatin.


"Aisshh .. Oke deh."


"Bukan ngurus kerjaan, ngerjain Riska, iya." Gerutu Bian sambil melangkah ke pintu ruangan Aldi.


Tok .. Tok ...


Tok .. Tok ..


Cukup!


Tak ada sahutan.


"Biarin aja lah, pengen tidur dikantor kali. Mau nostalgia waktu masa pemaksaan, mungkin." Bian menyerah, dia memilih pulang saja. Terserah bosnya pulang atau tidak!


Bian memilih pulang saja, dia sedang ada janji makan malam dengan calon istrinya, Selly.


Riska mulai mengerjap membuka matanya, mengubah posisi menjadi duduk bersandar diheadboard. Disampingnya ada Aldi yang masih lelap dalam tidurnya. Riska ambil ponsel diatas meja, untuk melihat jam yang tertera dilayar.


Seketika matanya melotot. "Mas bangun, Mas .." Seru Riska sambil menggoyangkan bahu Aldi.


"Mas ih, bangun. Udah jam 7 malam ini." Mendengar ucapan Riska, Aldi langsung membuka matanya.


Lekas dia ambil posisi sama seperti istrinya, Aldi ikut bersandar diheadboard sambil mengucek matanya.


Aldi menatap nakal kearah wajah dan dan bagian dada Riska yang terekspos. Riska tidak sadar jika selimut yang menutupi tubuh bagian atasnya, melorot saat membangunkan Aldi.


"Kenapa?" Tanya Riska heran sekaligus takut dengan tatapan Aldi.


"Ya ampun, Yang, bilang dong kalo pengen nambah. Nggak usah pake acara kode segala." Aldi mengedipkan sebelah matanya genit.


"Maksud Mas?" Riska mulai terbata.


"Nggak perlu dijelaskan dengan kata-kata, langsung aja dipraktekkan."


Aldi kembali menerkam Riska, tanpa peduli jika mereka sama-sama belum makan malam, dan sudah pukul berapa sekarang.


Sedangkan disebuah restoran mewah, nampak 1 pasangan masuk dengan tangan saling mengengam.


"Selamat datang .."


"Mbak, meja atas nama Bian Nugraha." Sahut Bian kepada waiters yang menyambut.

__ADS_1


"Mari Pak, Bu, saya antarkan."


Keduanya mengikuti langkah waiters tadi.  Hingga tiba di bagian luar restoran. Ya, Bian sengaja memilih makan malam romantisnya dibagian outdoor.


"Silakan Pak, Bu. Selamat menikmati." Ucap waiters setelah tiba meja reservasi Bian.


"Terima kasih." Sahut Bian.


"Silakan duduk." Ucap Bian setelah menarik bangku untuk Selly.


"Makasih." Balas Selly setelah duduk.


"Sama-sama." Bian ikut duduk berhadapan dengan Selly.


"Suka nggak tempatnya?" Tanya Bian.


"Suka banget." Selly mengangguk.


Selly sedari tadi terpukau dengan dekorasi restoran ini. Jika indoor mereka memakai konsep kastil dengan dinding bata, lain dengan bagian outdoor. Konsepnya seperti dialam terbuka dengan rumput sintetis dan pohon dengan dilingkari lampu hias, serta meja dan bangku kayu serta lampu gantung.


Bian dan memulai makan malam romantis mereka, Bian sengaja sudah memesan makanan lebih dahulu.


"Sel, aku udah bicarakan sama mama tentang keseriusan aku buat lamar kamu. Mama setuju, karena dia memang ingin aku segera menikah." Ucap Bian selesai acara makan malam.


"Kamu serius? Kamu nggak merasa terganggu dengan kasus kak Sesil?" Jawab Selly sambil meremas jari tangan.


"Nggak. Kamu nggak ada sangkut pautnya dengan dia. Kalian berbeda. Aku yakin kamu bisa menjadi istri dan ibu yang bisa membimbing anak kita kelak. Kamu mau kan dua bulan lagi aku lamar?" Tanya Bian dengan penuh permohonan.


Jika keduanya diliputi kebahagiaan, lain hal dengan Clara yang sedang ketakutan dalam apartemen yang Revan pinjamkan. Pasalnya setelah mantap ingin berpisah dengan suaminya, ia pindah ke apartemen. Dan sekarang suaminya tengah menyuruh anak buahnya mencari keberadaan Clara, setelah mengamuk karena mendapat surat gugatan cerai.


Namun Clara selalu mengingat kata Rafka; Jangan takut aku akan melindungi kamu dan anakmu. Bukannya Clara ingin bergantung pada Rafka, hanya saja posisinya saat ini dia sangat membutuhkan dukungan dan perlindungan.


Drtt .. Drtt ..


Ponsel Clara bergetar dimeja, yah dia sekarang sedang duduk disofa menghadap tv yang menyala. Namun pandangannya kosong.


"Ya, halo." Sahut Clara ketika menempelkan ponsel ke telinganya.


"Clara, besok sidang pertama kamu, biar aku jemput nanti kita berangkat bersama."


"Baik Pak Rafka."


Terdengar dengusan kesal dari seberang. "Sudah berapa kali aku katakan, jangan panggil aku dengan sebutan Pak. Aku bukan bapak kamu Clara, dan umur kita tak jauh beda." Protes Rafka.


"Lalu panggil apa dong? Kak atau Rafka saja? Bagaimana?" Clara tatap anaknya yang tengah duduk asik menonton kartun ditv dengan beralasan karpet.


"Mas mungkin" Jawab Rafka dengan cepat.


"Eh-" Clara spontan terkejut.

__ADS_1


"Tidak ada salahnya bukan kamu memanggilku dengan sebutan itu?" Tuntut Rafka.


"Jujur saja aku tidak nyaman, aku panggil Rafka saja yah?" Pinta Clara.


"Baiklah." Rafka mengalah.


Setelah selesai obrolannya dengan Rafka, Clara kembali termenung. Memikirkan nasibnya ke depan, dia mungkin harus berkerja setelah resmi bercerai.


"Aku masih punya ijazah dan sedikit tabungan, jika aku mendapatkan pekerjaan mungkin aku juga nanti harus mencari pengasuh untuk Liandro. Tak mungkin aku bawah dia bekerja, atau harus meninggalkan dia sendirian dirumah. Ah ya, aku harus mencari kontrakan juga. Tak harus besar yang penting cukup untuk nyaman untuk Liandro, tak mungkin aku harus menumpang terus diapartemen Revan ini." Monolog Clara.


"Mama .."


Suara cadel khas anak kecil menghentikan gumaman Clara menjabarkan rencana masa depannya.


"Sayangnya Mama mau apa, hm?" Tanya Clara sambil memangku Liandro.


"Lapal mau mam." Jawab Leandro dengan tingkah lucunya membuat Clara gemas.


Cup!


"Oke let's go .." Setelah memberikan kecupan dipipi anaknya, Clara lekas membopong tubuh Leandro dalam gendongannya.


"Duduk yang manis yah, jangan nakal nanti jatuh." Pinta Clara setelah mendudukkan Leandro dikursi meja makan.


Leandro hanya menatap polos dengan anggukan. Clara masuk ke area dapur yang hanya bersebelahan dengan meja makan.


Clara mengeluarkan daging paha ayam. Lalu meracik tepung untuk nanti digulingkan dengan ayam. Ya, Leandro sangat menyukai ayam tepung, khususnya bagian paha karena seringnya dia monoton kartun 2 anak kembar.


Dia panaskan minyak lalu mulai mengoreng, setelah matang dia tiriskan. Sambil menunggu minyak terserap dengan tisu, dia sendokkan sedikit nasi dipiring lalu meletakkan ayam tadi juga.


"Tadahh .. Ini dia makanan untuk anak ganteng Mama." Seru Clara lalu meletakkan piringnya dimeja depan Leandro.


Prok .. Prok ..


Dengan girang Leandro bertepuk tangan, seakan baru menerima hadiah besar. Sangat kentara dengan usianya yang baru akan 3 tahun.


Clara membiarkan anaknya makan sendiri, bukan tidak ingin menyuapi atau tidak becus mengurus anak. Hanya saja diusia seperti itu, anak seusia Leandro sedang ingin tau dan aktif ingin melakukan hal yang baru ia ketahui.


"Hore .. Anak Mama pintar, makanannya habis. Yeii ..."


Ucap Clara mengapresiasi anaknya yang bisa menyelesaikan makannya dengan diselingi bermain. Tak ayal meja yang tadi bersih, kini banyak terdapat nasi serta potongan ayam yang berhamburan.


"Cuci tangan, Yuk." Clara tuntun anaknya ke wastafel.


Bersambung ...


See you next chapter, bye ..


...Jangan lupa tinggalkan jejak like, komen, vote, dan hadiah...

__ADS_1


...Agar lebih semangat menulis...


__ADS_2