Ternyata Jodohku

Ternyata Jodohku
Episode 54


__ADS_3

Selamat membaca 🌷🌷🌷


.


.


"Halo Yan, gimana?" Ucap Aldi setelah menepelkan ponselnya ke telinga.


"Sesil udah dibawah polisi, tapi .." Ujar Bian diseberang mengantungkan kalimatnya.


"Tapi apa?" Sentak Aldi tak sabar.


"Sih Siska kabur, Al."


"Brengs*k!!!" Umpat Aldi


" Tenang aja, orang kita lagi lacak dia. Kita pasti bisa menemukan Siska."


"Harus!! Pokoknya cari sampe dapat!" Tekan Aldi.


*********


Flashback


Setelah mengetahui siapa dalang dari tabrakan yang menimpa Riska,. Bian dan timnya bergerak ke rumah Siska, karena dia lah sang pelaku tabrakan. Setelah sebelumnya sudah menghubungi polisi untuk menangkap Sesil, sudah dipastikan Sesil ada di rumahnya.


"Gimana?" Tanya Bian kepada 2 orang yang dia tugaskan mengawasi Siska.


"Dia nggak keluar bos, sejak tadi."


Bian memicing, sepertinya ada yang tidak beres. "Beneran? Dia nggak kabur?"


Kedua orang tersebut menjawab bersamaan. "Benar bos."


Bian yang datang dengan 2 orang anak buah, langsung mengarahkan untuk masuk dan menangkap Siska. Bian serta anak buahnya langsung mengeledah, menyusuri setiap sudut rumah untuk mencari keberadaan Siska.


Namun yang mereka cari tidak ada, sampai akhirnya mereka menemukan pintu dapur yang tidak tertutup rapat. Sudah pasti Siska kabur lewat pintu itu.


"Dasar beg*!! Dia kabur dan kalian berdua nggak tau? Hah?" Sentak Bian dengan nada naik satu oktaf.


"Jaga satu perempuan aja nggak becus! CEPAT CARI!!! .." lanjut Bian dengan berteriak. "Pintar juga sih Siska, bisa mengelabui orang gue."

__ADS_1


Bian menelepon orangnya yang sangat bisa dia pakai, pakar IT untuk melacak keberadaan Siska. Setelah itu baru dia mengabari Aldi.


Flashback End


Di kediaman keluarga Seto dan Diana. Sedang terjadi perdebatan sengit antara suami istri itu.


"Papa pokoknya harus bebaskan Sesil, titik!"


"Untuk apa? Dia memang bersalah, papa sudah lihat buktinya dikantor polisi tadi, mama juga lihat kan?"


"Bersalah atau tidak, dia anak kamu, mas. Sudah seharusnya kamu bela dia dong."


"Biarkan, biarkan dia menyesali kelakuan buruknya itu. Syukur kalo bebas dia nanti berubah." Seto menghempaskan tubuhnya duduk disofa ruang tamu. Ya mereka sedang berdebat diruang tamu sekarang.


"Astaga .. Dia anak kamu loh, mas. Di mana hati nurani kamu? kamu tega lihat anak kamu dipenjara?"


"Apa dia juga pake hari nurani waktu melakukan kejahatan itu? Tidak kan? Istri Aldi harus keguguran gara-gara hati nurani anak kamu itu yang tertutup iri hati."


"Pa .. Dia hanya salah mencintai saja."


"Ya, dia mengikuti semua jejakmu. Kalian berdua sama, sama-sama menginginkan orang yang sudah milik orang. Aku sangat malu mengakui dia anakku. Kenapa dia tidak bisa bersikap seperti Selly?"


"Pa, anak kandung kamu itu Sesil bukan Selly."


Tak mau lagi mendengar semua perkataan yang sangat menyudutkan dirinya, Diana langsung pergi ke kamarnya meninggalkan suaminya diruang tamu.


Ya, dulu saat sudah memiliki Sesil yang berusia 2 tahun, dari pernikahannya dengan Seto. Diana jatuh hati pada iparnya sendiri, suami dari adiknya Diny. Melihat perlakuan manis yang dilakukan iparnya itu kepada Diny, membuat dia iri dan menginginkan Dito, apalagi Seto yang sibuk bekerja. Namun Dito begitu setia dan tulus pada Diny, dan tak tergoda oleh Diana. Diana yang kehabisan akal, akhirnya menjebak Dito dengan obat perangsang saat Diny pergi menjaga anak mereka yang sedang sakit.


Namun sial, meski dia hamil anak Dito. Dito tak mau bertanggung jawab, karena dia tau Diana sengaja menjebaknya. Dia tetap mempertahankan pernikahannya dengan Diny, dan memilih keluar membawa keluarganya dari rumah orang tua Diny. Beruntung Seto mau memaafkan dan menerima bayi dalam kandungan Diana, meski bukan anak kandungnya.


***


Pagi hari diruang rawat Riska. Dirinya terdiam setelah membuka matanya, terbangun. Dilihatnya Elsa sang mama mertua kotak makan dari lunch bag lalu diletakan ke meja samping.


Riska diam, saat ini hanya mereka berdua dalam ruangan. Aldi sengaja ingin memberi ruang bagi mamanya yang memohon untuk meminta maaf pada istrinya.


"Eh, udah bangun, Ris? Mama bangunin kamu yah?" Riska tidak sadar Elsa sudah duduk di sampingnya.


Riska hanya diam, belum merespon ucapan Elsa. Dia masih bimbang, tulus kah Elsa saat ini? atau hanya akting semata?


"Laper nggak? Mama tadi masak bubur ayam, kata dokter jangan makan yang keras sama pedas dulu. Mama ambilin yah?"

__ADS_1


Setelah berperang dengan pikirannya, akhirnya Riska mengganguk. Elsa bangkit mengambil 1 kotak makan, kemudian menuangkan air ke gelas dan di letakan ke meja, lalu kembali duduk dengan kotak makan di tangannya.


"Mama suapi, mau?" Pertanyaan Elsa yang hanya Riska balas dengan deheman.


Mendapat persetujuan dari Riska, Elsa dengan telaten menyuapi menantunya. Dia senang, setidaknya Riska tidak menolaknya seperti kemarin.


Kegiatan Elsa dan Riska tak luput dari pengamatan 2 orang pria beda usia, yang mengintip dari kaca pada pintu ruang inap Riska.


Setelah bubur habis, Elsa memberikan air minum lalu membereskan semua peralatan makan, kemudian duduk kembali disamping Riska.


Elsa berdehem lebih dulu, sebelum mulai berbicara. "Riska ..." mendengar panggilan mertuanya, Riska menoleh.


Mendapati respon dari menantunya, Elsa melanjutkan kalimatnya. "Mama mohon maafkan Mama. Mama sungguh menyesal, Mama sudah sadar atas semua kesalahan yang mama lakukan kepada kamu. Mama terima kamu jadi menantu Mama, tolong maafkan Mama." Elsa menunduk setelahnya.


Riska menghembuskan nafas lebih dulu. "Apa dengan permintaan maaf, anakku bisa balik lagi?"


Elsa langsung mendongak mendengar jawaban menusuk yang diucapkan Riska. "Tolong Riska. Sungguh Mama menyesal. Maafkan Mama .."


"Mama yang memberikan harapan bagi Sesil, hingga dia nekad melakukan hal itu."


Elsa kembali menitihkan air mata, ucapan Riska adalah benar. Semua terjadi karena nya.


"Riska Mama mohon, maafkan Mama. Sungguh, Mama menyesal dan ingin memperbaiki semuanya."


"Riska bukan Tuhan, yang bisa langsung memaafkan setelah dikecewakan. Namun Riska akan berusaha memaafkan Mama, bagaimana pun Riska tidak ingin menyimpan dendam."


"Baiklah, Mama akan buktikan jika Mama tulus ingin memperbaiki semuanya." Elsa mulai mengelap air mata dipipi dengan telapak tangannya.


"Mama boleh peluk kamu?" Tanya Elsa lirih, dia ingin memberikan dukungan lewat pelukan, dia tulus menerima Riska sebagai menantunya.


Riska mengganguk mengizinkan, Riska juga membalas pelukan Elsa, Riksa langsung menangis. Bisa dikemudian hari Elsa menjadi sosok ibu baginya?


Elsa menepuk punggung Riska setelah mendengar tangisannya.


Sedang diluar ruangan Aldi dan Raka tersenyum, mereka melihat Elsa dan Riska berpelukan. Mereka ikut bahagia, keluarga mereka akan utuh kembali.


Bersambung ...


See you next chapter, bye..


...Jangan lupa tinggalkan jejak like, komen, vote, dan hadiah...

__ADS_1


...Agar lebih semangat menulis...


__ADS_2