
Selamat membaca 🌷🌷🌷
"Nah itu dia .. Ternyata mereka berdua kakak-adik beda ibu, Al. Bahkan sifat aja beda, 180 derajat." Jelas Bian.
"Yakin, sifat mereka beda?"
Bian langsung terdiam mendengar keraguan Aldi. Benarkah, keraguan Aldi itu? Namun Bian dengan cepat menepis, pemikiran itu.
"Yakin 100 persen, Al. Hampir 2 bulan aku kenal sih Selly. Tidak pernah ada, gelagat aneh, atau kepura-puraan dari Selly. Dia benar-benar baik, polos, dan tulus." Tegas Bian mengelak.
"Bagus kalau begitu. Bukannya aku nggak setuju, Yan, aku cuma nggak mau kamu nanti kecewa." Aldi kembali menyederhanakan punggungnya.
"Aku tau. Makasih Al, kamu sudah peduli." Aldi hanya mengangguk.
"Aku mau niatnya serius ke Selly. Sembari nabung buat nikahan, tidak ada salahnya untuk lebih mengenal Selly lebih dalam."
"Iya. Aku doakan, semoga lancar, dan keraguan ku tadi salah." Ujar Aldi, dengan tatapan tak enak.
"Iya. Insyaallah, Al. Ya sudah, Aku balik dulu keruangan ku." Pamit Bian.
Tatapan Aldi tak lepas dari Bian yang sudah menutup pintu.
'Semoga dia tidak sama seperti Sesil. Semoga dia memang gadis yang baik.' Ucap Aldi dalam hati.
Setelah Bian keluar, terdengar ketukan pintu.
"Masuk." Sahutku.
Citra melangkah dengan iPad di tangannya.
"Pak, jam 10 ada jadwad meeting dengan Pak Revan Prakasa, dari Prakarsa Holding. Lalu jam 3 sore ada rapat evaluasi bulanan dengan seluruh direksi." Ujar Citra, menjabarkan agenda Aldi, hari ini.
"Baik. Kamu boleh keluar."
Citra membungkuk sopan, kemudian kembali ke meja kerjanya.
Saat ini masih pukul 9 pagi, masih ada waktu 1 jam sebelum pertemuannya dengan Revan. Aldi kemudian menyalakan laptop dan sesekali membuka berkas.
Tok .. Tok ..
"Masuk."
Citra masuk bersama Revan dan Yeni sekertarisnya. Setelah mengantar Citra, pamit keluar. Tak berselang lama, Bian masuk.
Mereka pun duduk disofa, Bian dengan Aldi dan Revan bersama Yeni.
__ADS_1
Mereka langsung membahas tentang pekerjaan. Sibuk dengan pembahasan, Aldi sampai melupakan ponselnya yang ditinggalkan diatas meja kerjanya.
Ting!
Wife♥️
[Mas, nggak usah pesan makanan dikantin, aku mau anterin makan siang bareng Renata.]
Saking seriusnya, Aldi sampai tak tau ponsel berbunyi.
"Itu lokasinya di Kalimantan, Al. Untuk segi lokasi itu bagus, strategis juga, dan letaknya dipusat kota. Dekat sekolah, mall, dan perumahan." Ujar Revan, sedang sekertarisnya Yeni, sibuk curi-curi lirik kepada Aldi.
"Nanti kita terjun lokasi langsung aja, Van. Biar bisa kita evaluasi sendiri. Gimana Yan, menurut kamu?"
Bian mengganguk. "Aku sih setuju. Nanti tinggal atur jadwal saja, kapan nanti untuk pergi tinjau lokasi."
"Oke. Aku juga setuju. Nanti tinggal kita cocokan saja jadwal kosongnya." Jawab Revan.
"Eh, udah jam 11 ini. Mau makan bareng disini Van? Biar sekalian aku pesan." Sela Bian, mengingat waktu makan siang sebentar lagi.
"Boleh deh. Pesan aja, samain aja menunya."
30 menit kemudian terdengar ketukan pintu. Dan Citra masuk meneteng plastik berisi kotak makanan.
"Pak, ini pesanan Bapak." Ujar Citra kemudian meletakkan plastik itu ke meja sofa. Setelah itu Citra pamit, karena dia juga harus makan siang dikantin.
"Al, aku mau cuci tangan dulu." Pasalnya menu mereka bebek bakar, Revan lebih suka makan pakai tangan.
"Dikamar aku aja, Van." Jawab Aldi, masih membolak-balik berkas.
Melihat situasi mendukung, Yeni pindah duduk samping Aldi.
"Aku siapkan aja yah Pak, makanannya?" Tanya Yeni, dengan suara sedikit mend***h.
Aldi masih sibuk, belum menyadari sikap Yeni. Dia pun hanya berdehem sebagai jawaban.
"Pak, aku suapin, mau?"
Mendengar pertanyaan itu, barulah Aldi mengalihkan perhatiannya. Aldi terkejut.
Ehem!
Aldi membeku, menelan salivanya, jantungnya berdetak cepat. Wajahnya langsung pias, menatap tatapan tajam Riska padanya.
Dengan cepat Aldi bergeser, memberi jarak antara dirinya dan sekertaris Revan.
__ADS_1
"Yang, a-anu i-ini nggak seperti yang kamu lihat." Ujar Aldi gagap, seakan tatapan Riska bisa menghentikan nadinya.
Ceklek!
Bian dan Revan sama-sama tiba, dari arah berlawanan. Keduanya menatap Aldi dan Riska bergantian. Keduanya terkekeh melihat wajah garang Riska, dan wajah takut Aldi. Kemudian keduanya melotot, melihat Yeni yang sudah berpindah tempat.
Sedang Renata sudah cekikikan dari tadi, disamping Riska.
"Sayang .. Kok udah pesan makanan sih? Nggak baca pesan aku, yah?" Tanya Riska dengan suara manja lalu mendekati Aldi, dan duduk disampingnya.
Lainnya melongo melihat tingkah Riska, termasuk Aldi. Sikap Riska berbading terbalik dengan wajahnya tadi.
Riska tau, alarm tanda awas sedang berbunyi. Tanda-tanda akan hadirnya pelakor. Itu artinya, dia harus sigap menghempaskan.
"I-iya Yang. Tadi sibuk, ponselnya aku tinggal dimeja tadi. Maaf yah." Jawab Aldi. Riska langsung beranjak mengambil ponsel Aldi, lalu duduk ditengah, diantara Aldi dan Yeni.
Dengan sengaja Riska sedikit mendekat ke arah Yeni, lalu buka pesan yang dia kirim tadi. Dia tau Yeni sering meliriknya.
"Lihat ini, aku udah kirim pesan sama kamu tadi. Kamu tuh kalo kerja jangan terlalu diforsir. Harus istirahat juga, nanti sakit nanti."
"Iya sayang, maaf yah?"
"Iya, sekarang makan yah? Aku suapin. Aku masak ayam kecap sama cah kangkung." Aldi mengangguk saja, cari aman.
'Tunggu pembalasan ku, mas." Batin Riska.
"Re, makan yuk. Yang lain juga makan yah. Kalo mau lauknya, ambil aja, aku masak banyak kok."
Riska menyuapi Aldi, bergantian dengan dengan dia suap ke mulutnya. Mereka makan sepiring, dan dengan tangan yang sama.
Sttt ..
"Gue yakin nih, Van. Aldi entar malam, digorok sama Riska." Bisik Bian kepada Revan.
"Iya. Muka Riska tadi seram gitu." Bisik Revan.
Selesai makan, Riska bereskan rantang makannya. Kemudian duduk sambil bergelayut manja dilengan Aldi.
"Siap-siap mas, entar malam hukumannya." Bisik Riska ditelinga Aldi.
Bersambung ...
See you next chapter, bye ...
...Jangan lupa tinggalkan jejak like, komen, vote, dan hadiah...
__ADS_1
...Agar lebih semangat menulis...