Ternyata Jodohku

Ternyata Jodohku
Episode 37


__ADS_3

Selamat membaca 🌷🌷🌷


Didalam ruangan, Aldi duduk dengan gelisah dikursi kebesarannya. Tak henti-hentinya dia menengok ponsel yang ada dimeja, merasa jika waktu berjalan begitu lambat.


10:35


"Aissh.. kenapa lambat sekali pukul 11 siang." Aldi mengeram melemparkan kembali ponselnya ke meja


10:55


"Sudah waktunya" Aldi menyeringai, lalu melakukan panggilan melalui interkom.


"Cit, kamu suruh Riska keruangan saya dan suruh Dodi membelikan 2 paket nasi dengan bebek bakar." Aldi langsung memutuskan panggilan tanpa menunggu jawaban sekertarisnya.


Tok.. tok..


Mendengar suara ketukan pintu, Aldi dengan cepat melompat berbaring disofa.


"Masuk!" Suara serak nan lemah Aldi keluarkan sebagai sahutan


"Bapak panggil saya?" Riska masuk dengan ogah-ogahan


"Hm!" Gumam Aldi pelan sambil memijit keningnya


Dengan wajah kawatir, Riska mulai mendekat ke sofa. "Bapak kenapa? sakit?"


"Badan kayak lemas gitu, sama kepala sakit." Dengan suara lemah bak orang sakit, Aldi melihat wajah Riska makin kawatir.


"Udah minum obat?"


"Belum, sini pijit kepala saya." Aldi menempuk sofa diatas kepalanya

__ADS_1


Riska duduk mengikuti perintah Aldi, setelah dia duduk dengan cepat Aldi mengangkat kepalanya menidurkan diatas paha Riska. Riska menengang, binggung dengan sikap Aldi.


Sebelum Riska mengeluarkan pernyataan, Aldi lebih dulu memotong dengan ucapannya. "Nggak usah ge er, aku lakukan ini hanya karena mencari posisi nyaman. Nggak lebih."


Riska pun mulai memijit kening Aldi pelan, kemudian Aldi kembali bertingkah dengan menyuruh mengusap rambutnya.


Saat sedang sibuk mengusap kepala Aldi, perut Riska berbunyi meminta asupan. Aldi yang mendengarnya pun dengan cepat menoleh menghadap ke perut Riska.


"Anak papa udah lapar yah? mau makan apa sayang? hm?" Ujar Aldi sambil mengelus lembut perut Riska dari luar kemeja.


Riska menengang dengan perlakuan Aldi, posisi mereka sekarang begitu intim. Sibuk masing-masing, hingga mereka tak mendengar suara ketukan pintu.


"Pak, ini pesana--- Dodi langsung terdiam kaku menatap kepada 2 orang di depannya.


Riska yang mendengar suara seseorang, mengerjap dari alam bawah sadar menatap Dodi yang berdiri mematung dekat pintu.


Bruk!


"Yang, apa-apaan sih. Kok kamu jatuhin aku?" Tekan Aldi setelah berdiri.


Sungguh akting yang hebat bapak Aldi yang terhormat.


Riska membekap mulut Aldi, lalu menatap tersenyum paksa kepada Dodi.


"I-ini nggak, eum ka-kamu bilang apa tadi?" Riska bertanya dengan gugup


Dodi berdehem, menormalkan ekspresinya "Ehem, Aku cuma mau antar pesanan pak Aldi." Ujarnya kemudian meletakkan makanannya ke atas meja dekat sofa


"Saya permisi pak" Dodi keluar setelah anggukan dari Aldi yang mulutnya masih dibekap Riska.


Aldi melepaskan paksa bekapan Riska di mulutnya. "Kamu nggak sopan yah sama suami sekaligus atasan.." Tutur Aldi menyeka mulutnya dengan tisu

__ADS_1


"Bapak yang apa-apaan, kenapa manggil sayang tadi? hah?" Riska berdecak pinggang menatap Aldi


"Kenapa memangnya? itu refleks suami kepada istri, gitu aja nanya." Aldi dengan santai menghempaskan tubuhnya duduk disofa.


"Bapak mau mereka curiga atau tau kita udah nikah? iya?" Riska tak mengubah posisinya, tetap berdiri berhadapan dengan Aldi


"Kalo iya? Biarin aja semua tau kalo kita suami istri."


"Bapak bego apa pikun? Bapak sendiri yang minta supaya pernikahan ini di rahasiakan kan?" Riska dengan berani menunjuk ke wajah Aldi


Dua orang yang berdiri didepan pintu, bak penonton drama suami istri sedang bertengkar tanpa ada yang menyadari.


"Stop! nanti aja marahnya. Sekarang makan dulu, anak kita udah lapar." Aldi menarik tangan Riska, karena posisinya yang salah hingga Riska jatuh duduk dipaha Aldi. Dua orang didepan pintu pun melotot.


"Suit.. suit.. Masih dikantor loh bos, kalo mau minta jatah dirumah aja keles." Celetuk Bian menggoda


Riska ingin berdiri namun pinggangnya ditahan oleh Aldi. "Mau kemana hm? makan dulu, baru keluar." Bisik Aldi ditelinga Riska


"Ce ilahhh laki bini.. berasa dunia milik berdua, yang lain ngekos." Ucapan Bian seketika membuat Citra di sampingnya menampakkan wajah penuh pertanyaan.


"Pak ini--- Riska ini istri saya!" Ucapan Citra langsung dipotong Aldi.


Citra meringis kemudian melanjutkan perkataannya. "Bu-bukan pak, saya hanya ingin menyerahkan laporan peninjauan proyek tadi pak."


Riska menunduk malu tak berani menatap Bian dan Citra, sedang Aldi menggaruk tengkuknya.


"O-oke, taruh aja dimeja."


Seketika Aldi ingin menyelam ke dasar laut, tak ingin menampakkan wajahnya. Malu, sangat malu.


***Bersambung...

__ADS_1


See you next chapter, bye***..


__ADS_2