
Selamat membaca 🌷🌷🌷
.
.
Elsa mendongak dengan tetesan air mata. "Al .. Ri-Riska Al ... Salah Mama .. ini salah mama .. Al .. Maafkan Mama, Al .." Elsa menangis histeris dan langsung didekap oleh Raka.
"Mama tenang dulu." Ucap Raka menenangkan istrinya yang nampak shok, dengan mengelus punggungnya.
Terlihat Elsa beberapa kali menarik dan membuang nafasnya. Setelah cukup tenang, Aldi kembali bertanya. "Ma, apa sebenarnya yang terjadi?"
Dengan sesekali menyeka air mata, Elsa menceritakan semua yang terjadi.
Flashback
Setelah mengiyakan perkataan ibu mertuanya, mereka berjalan beriringan untuk menyeberang jalan raya meski dengan tujuan berbeda. Riska masih sibuk berbincang dengan suaminya lewat telepon.
Namun hampir ditengah jalan, Riska lupa obat dan vitaminnya tertinggal dimobil, karena terburu-buru habis sarapan dia lupa meminumnya karena langsung diajak oleh Elsa.
Akhirnya dia berhenti, menjauhkan sedikit ponsel
Namun saat berbalik baru satu langkah dia berjalan, tak sengaja matanya menangkap jika sebuah mobil sedang melaju kencang mengarah kepadanya.
Takut, itu yang dia rasakan saat itu. Lalu saat sadar jika bukan hanya dia sendiri, Riska cepat berbalik menatap mertuanya. Mobil sudah semakin dekat, dengan cepat dia berlari hingga ponsel digenggamnya terjatuh.
"MAMAAAA ..." Riska dengan cepat menarik lalu mendorong tubuh Elsa hingga tersungkur ke trotoar.
BRAKKK ....
Tapi naas bagi Riska yang baru akan berlari menyusul mertuanya. Mobil tadi berhasil menabraknya bagian pinggulnya dari samping kiri, hingga kepala terpental ke kap depan mobil lalu terguling ke samping akibat lajunya kecepatan mobil yang langsung melarikan diri.
Elsa histeris, melihat darah keluar dari pelipis dan disela paha Riska. Dan Sesil? Dia datang hanya untuk melihat tanpa menolong, Elsa jelas melihat semuanya, apalagi saat Sesil yang langsung berlari meninggalkannya.
Tolong ...
Tolong ...
"To-tolong panggilkan ambulance, menantu saya tengah hamil. Tolong selamatkan dia dan cucu saya .." Pemintaan Elsa dengan suara parau akibat tangisan.
Hingga tak sampai 10 menit kemudian ambulance datang, dan dengan di bantu oleh warga sekitar, akhirnya Riska dilarikan ke rumah sakit.
Flashback end
Elsa kembali menangis, "Al, maafin mama .. Ini semua salah mama, mama minta maaf .." Ucap Elsa setelah menjelaskan kejadian tadi.
"Lalu bagaimana kondisi Riksa dan bayinya, Ma?" Tanya Aldi lalu mengacak rambutnya.
__ADS_1
"Dokter belum keluar sejak tadi, Al." Sungguh Elsa merasa bersalah sekarang, karenanya.. Ya, karena dirinya lah semua ini terjadi. Jika saja dia tidak mengajak Riska keluar bersama Sesil.
Sesil? Ya, Elsa yakin dia ada sangkut pautnya dengan kejadian yang menimpa Riska. Dilihat dari sorot matanya yang ketakutan tadi, dia yakin Sesil lah dibalik semuanya.
"Sabar kak .." Renata mengusap punggung kakaknya, menyalurkan dukungan dan kekuatan.
Pintu IGD terbuka, dokter Aulia keluar dengan seorang suster. Dokter Aulia langsung menatap Aldi dengan tatapan lesu.
"Al, kami minta maaf." Dokter Aulia menjeda kalimatnya, "Kamu sudah berusaha semaksimal mungkin, namun janin dalam kandungan pasien tidak bisa tertolong, akibat kuatnya benturan dipinggul pasien." dokter Aulia diam sejenak.
"Dan sekarang kamu harus tanda tangani berkas persetujuan operasi pengangkatan janinnya, demi keselamatan pasien." Lanjut Dokter Aulia lagi.
Aldi terdiam shok mendengar kalimat yang diucapkan Dokter, air matanya mengalir, dia menangis. Tak jauh berbeda dengan Renata dan Raka yang sama tengah menangis.
"Silakan Al, ikuti suster Tia. Lebih cepat, lebih baik." Ucap lagi Dokter Aulia menyadarkan Aldi.
Aldi dengan langkah gontai dan air mata yang tak henti menetes, mengikuti langkah suster.
Elsa menangis dalam diam, meratapi semua kesalahannya. Karena demi menolong dirinya, mertua yang tidak tau diri ini, Riska harus kehilangan bayinya bersama Aldi. Dengan semua yang pernah dia lakukan, mengapa Riska masih peduli padanya? Bahkan mempertaruhkan nyawanya demi dirinya.
Dia belum pikun, hingga lupa dengan semua perlakuan bahkan semua kata hinaan yang dilontarkan kepada menantunya. Semua masih terekam jelas dalam memori ingatannya, bahkan sebelum kecelakaan itu terjadi, dia masih memperlakukan menantunya bagaikan pembantu.
Sungguh, setiap penyesalan selalu hadir belakangan bukan?
Namun jika ada niat untuk berubah? adakah kesempatan itu?
Aldi kembali setelah selesai mendatangani persetujuan operasi, tak lama setelahnya setelah menyiapkan ruang operasi, brangkar Riska mulai didorong keluar. Dengan beberapa selang ditubuhnya, Aldi sekeluarga ikut mendorong brangkar Riksa, Aldi tak hentinya menangis sedari tadi.
"Yang kuat sayang, masih ada aku ... kamu nggak sendiri.. jangan tinggalkan aku .. please!!" Batin Aldi memohon.
Tak jauh berbeda dengan Aldi, Elsa seakan sulit bernafas menatap Riksa yang berbaring dengan mata tertutup diatas brangkar.
"Ya Allah .. Tolong sembuhkan menantuku .. Aku yang bersalah, aku yang sering mengzolimi, hukum aku saja .. " Doa Elsa dalam hati.
Riska kemudian dimasukkan keruang operasi, Aldi dan lainnya duduk menunggu diluar.
"Ma, mama ingat nomor polisi yang nambrak Riksa?" Aldi bertanya disela kekalutannya.
"Mama sempat liat Al, B 6571 PK mobil Brio warna kuning. Dan .... " Elsa mengantungkan kalimatnya. Semoga dia tidak keliru, tapi dia sangat yakin. " ...Mama curiga Sesil terlibat, saat itu di mall bukan hanya mama dan Riska tapi juga dengan Sesil." Lanjutnya.
Deg ..
Aldi terpaku dengan kedua tangannya mengepal. "Jika sampai si Sesil itu terlibat, akan ku habisi dia!!!" Aldi menekan tiap ucapannya dengan rahang mengeras.
"Berani sekali dia mengusik hidupku, hingga bayiku harus meninggal saat belum sempat melihat dunia. Brengs*k!!!!" Lanjut Aldi kemudian memukul kursi tunggu.
Bugh ...
__ADS_1
Elsa sampai terjengkal kaget melihat luapan amarah dimata putranya.
Aldi langsung menelpon seseorang yang bisa dia percayai mengurus kasus ini.
"Yan, cari tau siapa pemilik mobil dengan nomor polisi B 6571 PK. Dan cek CCTV didepan mall Mega, ingat semua sudut tak ada yang boleh terlewati." Ucap Aldi langsung pada intinya ketika Bian mengangkat panggilan telepon darinya.
"Baik bos. Apa ada masalah?" Tanya Bian diseberang telepon
"Riska ditabrak mobil, sepertinya disengaja. Usahakan besok datanya sudah ada."
"Baik bos, laksanakan."
Bian langsung mematikan sambungan sepihak, untung Aldi sedang banyak pikiran sehingga tak mempermasalahkan.
***
Disebuah gedung terbengkalai disudut kota.
"Mana bayaran saya?" Siska dengan gaya menyebalkan mengulurkan tangannya.
"Ini .. Kerja bagus, tapi .. dia nggak mati kan?" Sesil menyerahkan uang dalam amplop, lalu bertanya dengan nada keraguan.
"Lebih baik kalau dia mati, bod*h." Sarkas Siska penuh kebencian.
"Aku takut masuk penjara, tol*l."
"Cih' ... Mereka akan sulit menemukan bukti, mobil itu pun hanya aku sewa dari rental, susah untuk mereka lacak." Ucap Siska mencibir dengan percaya diri.
"Oh ayolah ... kau jangan bod*h bod*h amat. Aldi mempunyai banyak koneksi, tak menutup kemungkinan dia bisa berhasil menemukan pelakunya kan?" Sesil menatap jengah Siska, yang dia anggap ber IQ rendah.
Disisi lain Bian tengah menatap satu persatu tampilan CCTV yang dikirimkan anak buahnya.
Gotcha ..
Prokk ..
Prok ..
"Hoho ... Kau terlibat sepertinya, sayang .." Gumamnya sambil bertepuk tangan.
.
Bersambung ...
See you next chapter, bye ..
...Jangan lupa tinggalkan jejak like, komen, vote dan hadiah...
__ADS_1
...Agar lebih semangat menulis...