Ternyata Jodohku

Ternyata Jodohku
Episode 75


__ADS_3

Selamat membaca 🌷🌷🌷


"Sudah saya katakan, saya tidak akan pernah menceraikan Clara!" Sentak Rian.


"Maaf Pak, tapi klien saya sudah tidak ingin melanjutkan perni-"


"Diam kamu! Siapa kamu? Kenapa ikut campur urusan rumah tangga kami, hah? Clara jangan diam saja kamu!" Sentak Rian kembali menyela perkataan Rafka.


"Pak, saya sungguh sudah tidak bisa melanjutkan pernikahan ini. Saya sudah lelah Pak! Tolong kabulkan gugatan saya." Clara sampai mendekap kedua tangannya didada, memohon.


BRAKK!!!


"Dasar perempuan tak tau diri! Tak tau diuntung! Kamu lupa, hah? Aku sudah memberikan kehidupan yang layak untukmu! Dan ini balasan kamu? Orang tuamu bahkan menjual dirimu padaku! Karena mereka silau akan harta! Masih untung aku mau menampung kamu, bodoh!" Rian sangat emosi, dia sampai mengangkat tangannya ingin menampar Clara. Clara bahkan sudah sampai menunduk dan menutup mata.


"Jangan berlaku kasar pada wanita! Kodratnya laki-laki melindungi, bukan menyakiti!" Rafka mencekal tangan Rian, lalu kemudian menepisnya dengan kasar.


"Pak, ini lah salah satu alasan saya ingin bercerai. Dia tempramen, suka melakukan kekerasan terhadap saya." Pinta Clara kepada hakim selaku mediator sidang mediasi.


"Saya tetap tidak akan setuju! Kamu kamu bersikeras ingin bercerai, kembalikan uang yang sudah saya berikan kepada orang tuamu" Timpal Rian dengan seringai sinis diwajahnya.


"Kalau begitu. Siap-siap saja anda untuk memenuhi panggilan dari kepolisian, dengan tuduhan penelantaran anak dan kekerasan dalam rumah tangga." Sela Rafka santai, namun dengan tatapan tajam terhadap Rian.


Rian bungkam, kedua tangannya terkepal, sungguh ingin sekali dia menonjok wajah Rafka. Dia sangat membenci Clara tapi juga masih membutuhkan wanita itu. Clara adalah asetnya, yang bisa dia gunakan agar mendapatkan tender.


***


"Astaghfirullah ... Tega sekali dia berkata seperti itu, walau bagaimanapun kamu itu ibu dari anaknya. Tidak pantas dia berucap seperti itu." Riska sampai menutup mulutnya karena terkejut dengan penjelasan Clara tentang sidang mediasinya tadi.


Ya, keduanya tega berbincang lewat sambungan telepon. Riska sedang duduk bersantai dikursi taman belakang, dengan disampingnya ada kolam ikan. Menikmati waktu sore hari, sembari menunggu waktu pulang kerja suaminya.


"Tapi untunglah, setelah mas Rafka mengancam akan melaporkan balik dirinya, akhirnya Rian setuju. Aku lega, minggu depan sidang pertama akan digelar." Jawab Clara, sambil menatap anaknya yang sedang bermain layangan ditaman dekat apartemen, dengan ditemani Rafka.


"Tunggu! Mas? Kamu panggil Rafka dengan sebutan, Mas? Apa ada yang aku lewatkan, hm?" Riska sengaja menggoda Clara. Dari awal dia sudah curiga jika Rafka menaruh hati pada Clara, itu jelas terlihat saat pertama kali mereka bertemu, dan Rafka sering sekali melirik Clara.


Clara tersipu, wajahnya merona namun tak dapat dilihat oleh Riska. "Aku nggak tau tujuannya apa, tapi dia sendiri yang ingin aku memanggilnya begitu. Dan, tolong jangan katakan kepada yang lain. Rafka sering menghubungi aku, juga sering menemui kami untuk sekedar bermain bersama Andro." Jawab Clara.

__ADS_1


"Mungkin dia-"


"Riska sudah dulu yah, mas Rafka dan Andro sudah selesai bermain. Bye .."


"Eh- Bye Clara ..."


Riska kembali menyesap tehnya setelah selesai berbincang dengan Clara.


***


Bian menyerahkan kantong plastik berisi rujak yang diminta Aldi, yang dikemas dalam kotak styrofoam. Namun belum juga Aldi mengambilnya, Bian menarik kembali.


"Kamu yakin, Al? Kamu sehat kan ya? Beneran mau makan buah nanas?" Kembali Bian tanyakan pertanyaan yang sama, karena sudah ketiga kalinya Bian bertanya seperti itu. Bian hanya heran, apa Aldi hilang ingatan? Atau sudah mulai setres?


Aldi berdecak kesal, "Iya, Bian. Aku lagi pengen makan rujak yang ada buah nanasnya, kayaknya segar." Aldi sampai menelan liurnya padahal hanya mengucapkan saja, bagaimana jika dia sudah mencicipinya langsung. Ah, dia sudah tidak sabar!


"Ini" Akhirnya Bian menyerahkan kantong plastik itu.


Dengan cepat Aldi mengambilnya, mengeluarkan dari plastik, lalu membuka kotak styrofoam itu. Seketika matanya berbinar, dia sampai menji**ti bibirnya. Lekas dia sendokkan rujak ke mulutnya dengan sendok plastik.


"Ah, enak banget." Aldi bahkan sampai tak sadar mengelus perutnya.


'Biasa aja. Tapi kok aneh yah? Perlu bawah periksa ke psikiater, nggak yah?' Tanya Bian dalam hati.


***


"Senang banget kayaknya, yang baru selesai main layangan?" Ucap Clara sambil mengelap keringat diwajah Andro.


"Iya Mama. Layang na, telbang jauh-jauh tinggi." Celetuk Andro sambil mengerakkan tangannya ke atas dan dia gerakan ke kanan dan kiri.


"Ini mas lap dulu keringatnya, lalu minum yah." Ujar Clara menyerahkan handuk kecil kepada Rafka yang duduk disampingnya, lalu menunjuk botol air mineral diatas yang terletak ditengah antara mereka berdua.


"Iya, makasih yah." Rafka mengambil handuk dari tangan Clara.


"Paman na, ndak dilap juga, Mama?" Celetuk Andro menyela.

__ADS_1


Sontak kedua orang dewasa itu tersipu malu. Clara sampai menunduk untuk menyembunyikan rona diwajahnya.


"Enggak dong sayang, kan om udah dewasa. Yang dibantuin itu cuma anak kecil, kayak Andro dan adik yang disana." Jelas Rafka menunjuk ke seorang anak seusia Andro, yang sama mamanya bantu mengelap wajah.


Andro hanya membulatkan mulutnya membentuk huruf O, dan mengangguk lucu sebagai jawaban.


***


Riska tengah berdiri sambil memberi makan ikan-ikan dalam kolam. Hingga ketika sebuah tangan yang melingkar diperutnya.


"Hai, sayang .." Sapa Aldi dengan berbisik.


Riska sampai terlonjak kaget ketika menerima pelukan dari belakang secara tiba-tiba. Dia menoleh kesamping, melihat pelakunya.


"Mas, malu. Nanti ada yang lihat." Riska berusaha melepas pelukan Aldi.


"Nggak kok, rumah lagi sepi."


Aldi merubah posisi, hingga kini saling berhadapan.


Cup!


Aldi berikan kec**an didahi. Kemudian keduanya sama-sama terdiam, padangan mata mereka terpaku satu sama lain. Hingga Aldi daratan bibirnya dikedua mata Riska, lalu turun ke hidung, ke pipi kanan dan kiri lalu terakhir dibibir merah mudah istrinya.


Awalnya hanya kec**an basah, hingga berakhir menjadi lum***n. Mata Riska terpejam menikmati permainan Aldi. Keduanya sampai mengerang dan melenguh disela permainan bibir mereka.


Ehem!!


Bersambung ....


See you next chapter, bye ...


...Jangan lupa tinggalkan jejak like, komen, vote dan hadiah....


...Agar lebih semangat menulis...

__ADS_1


__ADS_2