
Selamat membaca 🌷🌷🌷
Tak kuat menahan rasa sakit, Riska beranjak masuk ke kamar untuk menenangkan diri. Air mata yang sedari tadi di tahannya, akhirnya tumpah. Duduk dengan memeluk lututnya, lalu menyembunyikan wajahnya diatas lutut.
Memikirkan semua yang terjadi, perlakuan yang dia terima dari ibu mertuanya. Dia mungkin bisa bertahan melawan dan bertahan dari semua sikap mama Elsa, jika suaminya mau jadi penopang. Namun .. Aldi tak bisa menjadi penopang, tubuhnya tak sekuat itu untuk bertahan sendirian.
Aku lelah untuk berjuang, Al ..
Bolehkan aku berhenti? Aku tak sanggup untuk terus maju ...
Nak, maafkan Mama ... Jika suatu saat, Mama tak mampu bertahan. Mungkin bahagia kita bukan disini.
Riska menghapus sisa air matanya, "Aku harus menentukan keputusan akan kelanjutan pernikahan ini, tak mungkin pernikahan ini berjalan hanya dengan satu kaki." Monolognya
***
Aldi tak juga menyentuh semua berkas yang ada dimeja, pikirannya masih melayang jauh memikirkan segala ucapan Bian. Yang sialnya, ada benarnya.
Aldi mengacak rambutnya, frustasi. "Arghh .. Aku harus apa sekarang?"
"Clara .. Kau telah banyak menyakiti ku, tapi kenapa kamu masih mengekang ku dengan ingatan tentangmu?" Lanjutnya dengan suara sendu.
"Bukan ... bukan Clara yang mengekang ku, akulah .. Aku yang membuatnya tetap hadir, apa sudah waktunya kamu benar-benar pergi dariku?"
"Mempertahan dia, yang hanya sisa bayangan dan harus kehilangan dua orang sekaligus? Mungkin aku mulai hilang akal."
"Aku harus mengatakan pilihanku pada Riska malam ini."
Aldi menyudahi perang batinnya, waktunya kembali ke dunia nyata. Banyak berkas yang harus dia urus, ribuan karyawan bergantung padanya.
Ternyata perkerjaan yang lumayan banyak itu, menyita waktunya hingga pukul 7 malam dia baru bisa beranjak pulang.
Tiba dirumah, Aldi cepat naik ke lantai 2 dimana kamarnya berada. Tujuannya hanya satu, bertemu dan mengatakan apa pilihannya.
"Sa .. yang?" Aldi mengangkat sebelah keningnya, pasalnya jam begini Riska sedang duduk selonjoran membaca novel online diponselnya.
"Mungkin di kamar mandi." Gumamnya lagi
Aldi baru melepaskan dasinya, hingga sebuah pemikiran melintas. "Tu-tunggu dulu, udah lebih dari 3 menit aku disini tapi ngga dengar suara air."
Aldi membuang kasar dasinya lalu berjalan cepat ke arah kamar mandi.
Tok .. Tok ...
"Sayang? Kamu didalam?" Aldi mengeluarkan pertanyaan dengan suara penuh permohonan.
Jangan sampai ... jangan sampai pemikirannya benar terjadi ..
Tok .. Tok ....
Ketukan kedua kalinya, tak ada sahutan juga dari dalam. Aldi lekas memegang handle pintu, dan membukanya.
Glek ...
Aldi menelan ludahnya kasar, pintu terbuka tidak dikunci. Jantungnya mulai maraton sekarang, berpacu cepat.
Deg .. deg ..
Kosong ..
Kamar mandinya kosong ..
__ADS_1
Aldi langsung berlari turun ke lantai bawah, bukan hanya kakinya yang berlari .. Jantungnya juga tengah lari maraton sekarang.
"Re- Renata ... "
"Iya kak?" Aldi berpapasan dengan Renata diruang tamu.
"Ka- kamu lihat kak Riska?" Tanya Aldi dengan nafas ngos-ngosan.
"Enggak kak, aku baru aja sampai dari kerja kelompok. Emangnya kak Riska nggak---- Kakak .. Kak Aldi ..." Renata bingung dengan kakak laki-lakinya itu, dia yang bertanya, belum selesai mejawab sudah kabur.
Aldi langsung berlari keluar menuju mobilnya terparkir. Mendengar kata "enggak kak" dari jawaban Renata, pikiran langsung kalut.
Aldi langsung melajukan mobil nya keluar dari pekarangan rumah.
Tut .. Tut ...
Panggilan pertama, tidak diangkat.
Tut ... Tut ...
Panggilan kedua juga tak diangkat.
"Kenapa?"
Panggilan ketiga diangkat.
"Kamu dimana? aku pulang kamu nggak ada. Cepat bilang kamu dimana? aku jemput." Todongan pertanyaan Aldi kepada seseorang yang dia cari sedari tadi.
" ......... "
"Oke, diam disitu jangan kemana-mana. Aku kesana sekarang!"
***
"Ya elah sih Mama, biasanya juga masak sendiri." Keluh Bian berjalan masuk ke sebuah restoran mewah.
"Mbak. Tenderloin steak 3 yah, take away."
"Baik mas. Totalnya 650 ribu, mau cash atau debit?"
"Debit." Bian menyerahkan kartunya.
"Ini mas kartunya, ditunggu yah mas .." Ucap sang kasir.
"Iya, saya tunggu dimeja 3 yah .." Bian segera berbalik badan.
Brukk ...
"Mas, tolongin saya mas.." Ujar perempuan yang bersembunyi dibelakang tubuhnya.
"Lho .. Mbak .." kaget Bian.
"Clara!!!! Sini kamu .." Jerit seorang pria yang terlihat seumuran dengannya, menarik paksa lengan sih perempuan yang dia panggil "Clara".
"Nggak.. Mas.. aku nggak mau .." Jerit sih perempuan kekeh bertahan bersembunyi dibelakang Bian.
Pria itu berhasil menarik sih perempuan, Bian pun menoleh ingin mengetahui jika dia Clara yang sama atau ..
"Clara????" Bian terkejut, penampilan Clara saat ini bagai wanita malam. Dengan dress hitam sepaha dan rambut Curly.
"Bian .. Yan, tolongin gue Yan .." Jerit Clara dengan wajah penuh permohonan.
__ADS_1
"Apa-apaan kamu Clara .. kenapa kamu kabur hah? Saya bilang temani Pak Suryo, jangan membantah." Sentak sih pria
"Ak-aku nggak mau mas .." Ucap Clara sendu dengan mata berkaca-kaca.
Plak!!
"Kamu berani bantah suami kamu? Ayo, cepat!" Sentak lagi sih pria menarik kasar tangan Clara untuk mengikuti langkahnya.
"Yan, tolongin gue .." Jerit Clara yang mulai hilang dibalik lorong.
Bian terpaku ditempatnya, ingin menolong tapi bukan porsinya. Itu urusan rumah tangga mereka, tak pantas jika dia ikut campur. Namun, dia juga kasian dengan perlakuan suami Clara padanya.
"Mas, ini pesanannya sudah selesai." Ucapan sang pelayan menyadarkan Bian.
"Makasih mbak."
Bian keluar dari restoran dengan pikiran kacau. Apakah nanti dia harus mengatakan kepada Aldi, jika dia bertemu Clara? Tapi, dia juga memikirkan perasaan Riska.
***
Aldi lekas berlari dan langsung memeluk erat tubuh wanita di depannya. Wanita yang hampir membuatnya gila karena tak menemukannya dirumah.
"Jangan tinggalin aku .. Aku nggak akan sanggup Ris .." Ucapan Aldi disela pelukannya.
"Aku cuma kesini kok, nggak kemana-mana. Cuma pengen makan bakso aja bareng Jihan, bukan mau kabur." Riska berbicara tanpa merenggangkan pelukan mereka.
Aldi meregangkan pelukannya, tangannya berpindah memegang kedua telapak tangan Riska. "Aku takut kamu pergi ninggalin aku ... Aku sayang kamu Ris .. Kalian berdua berharga buat aku." Tatapan mata Aldi menusuk hingga ke dalam hati.
"Harus yah Al .. Aku pergi dulu?" Tanya Riska dengan tatapan sendu
"Maksud kamu?" Aldi mengerit bingung.
"Harus yah, aku pergi dulu dari kamu? Biar kamu sadar, jika kehadiran aku berarti ..." Riska menunduk dengan mata berkaca-kaca.
Aldi kembali merengkuh Riska dalam dekapannya. "Maaf .. Maafin aku .. Maafin aku sayang .. Aku bodoh dalam menyadari perasaan ku sendiri. Aku sayang kamu." Bisik Aldi ditelinga Riska.
Ehem ....
"Belum selesai dramanya? Sakit lho mata saya, melihat kemesraan anda berdua." Sela Jihan menatap jengah dua orang di hadapnnya, yang sedari mengabaikannya. Dikira dia ini nyamuk kali, yah ...
Riska lekas melepas pelukan Aldi, lalu menepuk lengan Aldi. "Tuh kan malu-maluin, kamu sih .." Riska salah tingkah, malu ditatap Jihan.
"Kamu sih bikin aku khawatir .. Pergi nggak ada bilang dulu." Aldi menatap kesal ke Riska.
"Aku udah telfon kamu tadi, tapi nggak aktif. Terus kirim pesan ke kamu, nggak baca?"
Aldi lekas merogoh sakunya, mencari keberadaan ponselnya. Dan membuka aplikasi pesan berwarna hijau.
Duarr ....
Malunya sampai ke tulang..
Bersambung ...
Fellnya dapet nggak??
See you next chapter, bye...
...Jangan lupa tinggalkan jejak like, komen, vote dan hadiah.....
...Agar lebih semangat lagi menulis...
__ADS_1