Ternyata Jodohku

Ternyata Jodohku
Episode 40


__ADS_3

Selamat membaca 🌷🌷🌷


Riska berjalan masuk kembali kedalam kantor bersama Jihan, selesai membuang sampah. Memilih melewati lobby langsung dihadapkan dengan tatapan kebencian hampir semua karyawati.


Lebih ke dalam, bukan hanya tatapan yang diterima. Suara-suara bisikan bahkan ada yang terang-terangan mengunjingnya.


"Udah nggak usah dipikirkan, anggap angin lalu aja. Ayo.." Ujar Jihan sendu, sambil mengelus tangan kanan Riska.


"Hm" Riska berdehem menjawab


Melangkah pelan, menulikan telinga berusaha menguatkan batinnya.


Hingga Riska merasakan ada yang mendorong bahu sebelah kanannya, hingga dia terhuyung kedepan dan jatuh terduduk dilantai.


Perutnya tiba-tiba merasa keram dan sedikit sakit. Memegang perutnya lalu meringis.


Awhhh...


"Apa Jihan nggak anggap aku sahabatnya yah? kenapa dia tegah tinggalin aku yang sedang kesakitan?" Batin Riska melihat dengan tatapan sendu, matanya bahkan mulai berkaca-kaca saat Jihan yang tiba-tiba langsung pergi dengan berlari.


"Maafin mama yah nak, karena batuin papa kamu bohong akhirnya kamu sakit beneran. Mama jahat yah?" Ucap Riska lagi dalam hati, sambil mengelus perutnya.


"Rasain.. Makanya jadi perempuan jangan ganjen, kencentilan. Dasar jal**g gatel.." Ejek Siska menatap sinis tubuh lemah Riska yang masih duduk dilantai.


Sayup-sayup terdengar bisikan karyawan lain yang mengiyakan perkataan Siska.


"Ris, kamu nggak apa-apa?" Seseorang memegang pundaknya.


"Nggak Dodi, cuma perut aku sedikit keram." Ucap Riska dengan suara lemah menahan sakit.


"Ayo, aku ban--- Minggir!!" Ucapan Dodi terputus akibat dorongan di bahunya.


"Sayang kamu- perut kamu kenapa, sakit?" Tanya Aldi gemetar khawatir.


Riska mengangguk lemah, "Pe-perut, bayinya-- BIAN SIAPKAN MOBIL, KITA KE RUMAH SAKIT!" Aldi langsung berteriak mendengar Riska berkata perut.


Bian langsung berlari menyiapkan mobil, tak dipungkiri dia juga kawatir.


Aldi lekas mengendong Riska, sebelum melangkah Aldi menatap semua yang ada lobby.


"KALAU SAMPAI TERJADI APA-APA PADA BAYI BAHKAN ISTRIKU, KALIAN YANG TERLIBAT TIDAK AKAN BISA LOLOS!!" Setelah memberikan peringatan Aldi setengah berlari keluar menuju mobil.


Sepeninggal Aldi, nampak ketegangan dilobby. Dan bisik-bisik karyawan yang kaget mendengar perkataan bos mereka.

__ADS_1


***


"Han, gue nggak salah dengar kan tadi dilobby? itu beneran?" Tanya Intan penasaran, karena dia tidak sengaja melihat Jihan yang berlari masuk keruangan CEO mereka, kemudian mengikuti mereka sampai ke lobby.


"Iya, Han. Tolong jawab, kayaknya kamu tau sesuatu." Suara Dodi mendesak Jihan.


"Aisshh.. Oke, akan aku jawab. Yang kalian dengar itu benar, Riska adalah istri pak Aldi dan sekarang sedang mengandung anak pak Aldi." Terang Riska menjelaskan.


"Nggak apa-apa kan kasih tau? lagian pak Aldi juga udah akuin tadi dibawah." Batin Jihan


"Jadi beneran? Wah.. kamu tau dari kapan?" Intan kembali bertanya, dan Dodi menyimak.


" Aku nggak sengaja dengar Riska ngomong sendiri ditoilet, dan dia minta buat ditutupi jangan ada yang tau. Sekedar itu aja yang aku tau, stop interogasi gue." Jihan tak ingin orang lain tau jika pernikahan mereka berlandaskan pemerkosaan, dia memikirkan perasaan Riska. Biarlah orang tau, mereka menikah atas dasar saling mencintai.


"Wah.. curang lu Han, nggak ada ngomong sama kita." Intan pura-pura merajuk


"Jadi gosip itu beneran? Celetuk Ayu yang baru masuk pantri menimpali.


"Iya." Singkat Intan


"Kasian banget sih Dodi, baru berjuang harus didesak mundur." Ledekan Ayu


"Sabar aja Di, cari lain aja. Saingan kamu kali ini berat." Intan menimpali sambil menepuk pundak Dodi memberi dukungan.


***


"Riska kenapa, Al?" Tanya Aulia setelah Riska diletakkan dibrangkar, lalu kemudian didorong menuju UGD oleh perawat.


"Pe-perut aku, dok." Jawab Riska terbata


"Baik, akan periksa sekarang. Kamu tenang yah, jangan bicara dulu." Terang Aulia.


Tiba didepan UGD, Aulia mencegat Aldi yang ingin ikut masuk. "Al, kamu tidak boleh masuk. Aku akan lakukan yang terbaik, kamu jangan panik. Doakan saja supaya tidak ada yang serius, dan keduanya baik-baik saja." Setelah berkata Aulia masuk dan menutup pintu, menyisakan Aldi dan Bian di depan pintu.


"Siapa yang udah dorong Riska, Yan?" Aldi bertanya tanpa menatap Bian, netranya tetap lurus menatap pintu UGD.


"Belum tau, nanti kita bisa tanya ke Jihan. Dia saksi disitu, karena dia yang sedang bersama Riska saat itu. Dia pasti tau." Balas Bian kemudian duduk dikursi tunggu.


"Siapapun dia, dia nggak akan lolos." Tekan Aldi dengan suara berat menahan emosi.


Setelah setengah jam berlalu, akhirnya pintu UGD terbuka dan dokter Aulia keluar.


"Gimana keadaan Riska dan bayinya, Aulia?" Todongan pertanyaan Aldi lontarkan

__ADS_1


"Baik, anak kalian kuat. Keram perutnya hanya efek dari keterkejutan, namun hal ini jangan pernah terulang lagi bisa jadi suatu saat akan mempengaruhi kandungannya." Ujar Aulia menejelaskan


"Alhamdulillah.." Ucap Aldi dan Bian bersamaan


"Kalian bisa jengguk sebentar lagi, setelah di pindahkan ke ruang rawat. Dan Al, ini resep obat penguat kandungan dan vitamin bisa kamu tebus diapotek depan. Permisi.." Setelah itu dokter Aulia segera kembali ke ruangannya.


Setelah menebus obat Aldi lekas pergi ke ruang rawat Riska, Bian duduk berjaga diluar ruangan. Sedang Aldi masuk kedalam.


"Masih ada yang sakit?" Ucap Aldi kemudian duduk dikursi samping brangkar yang ditempati Riska.


"Nggak, bayi kita gimana? Baik-baik aja kan?" Riska balas bertanya


"Kata dokter bayinya kuat, nggak ada yang serius. Kamu tenang aja, nggak usah banyak pikiran yah." Tangan Aldi tanpa diperintah mengelus rambut Riska yang sedang berbaring.


"Baguslah, semua ini gara-gara kamu."


Aldi mengerit, "Kok aku?"


"Iya kamu, gara-gara kamu kemarin bohong soal perut aku sakit. Sekarang sakit beneran kan?" Riska langsung cemberut


Aldi meringis mendengarnya. "Maaf. Aku nggak sengaja ngomong gitu, otak aku blank kemarin. Maafin papa yah, nak." Aldi mengusap perut Riska pelan, menyeruakkan rasa nyaman bagi Riksa.


"Terus siapa tadi yang udah dorong kamu?" Lanjut Aldi bertanya


"Aku nggak tau siapa, nggak kenal. Dia tiba-tiba datang dorong, nggak tau namanya siapa. Mungkin Jihan kenal, dia lebih lama kerjanya." Jawab Riska jujur.


"Ciri-cirinya kayak gimana?" Aldi tak berhenti mengusap perut Riska


"Lumayan tinggi, rambut sepundak kecoklatan, pake blouse putih sama rok hitam ketat selutut." Terang Riska.


"Ya udah, kamu istirahat yah. Kayaknya aku tau dia siapa, nanti aku tanya ke Jihan juga biar lebih jelas."


"Iya." Riska pelan mulai menutup matanya.


"Tidur yah, aku temenin kamu disini." Ucap Aldi menatap Riska yang mulai terpejam, sambil tak menarik tangannya yang mengelus perut Riska.


***Bersambung...


See you next chapter, bye***...


...Jangan lupa tinggalkan jejak like, komentar, vote dan hadiah....


...Agar lebih semangat menulis.. ...

__ADS_1


__ADS_2