
Selamat membaca 🌷🌷🌷
.
.
Aldi dan Raka akhirnya masuk ke kamar inap Riska, setelah 30 menit selesainya drama berpelukan Elsa dan Riska tadi.
Elsa dan Riska yang sedang mengobrol langsung menengok ketika mendengar suara pintu yang terbuka.
Aldi balas dengan senyuman, ketika melihat istrinya menyambut dengan seutas senyuman di bibirnya. "Sudah sarapan, Yang?"
"Sudah, Mas." Jawab Riska.
Elsa langsung berpindah ke sofa duduk disamping suaminya, dia ingin memberikan ruang bagi Aldi dan Riska.
Aldi yang melihat itu, mengerti. Dia pun duduk di kursi yang tadi di duduki Elsa. Saat duduk Aldi menyadari raut gelisah dari istrinya. "Kenapa? Sudah nggak betah ya?"
Riska mengangguk. "Iya Mas, pengen pulang."
"Nanti, kita tanya ke dokter ya kapan bisa pulang."
Riska kembali mengangguk. "Iya. kamu sudah sarapan mas?" balasnya bertanya.
"Sudah kok, tadi bareng Papa dikantin."
"Nggak ke kantor?" Tanya Riska lagi.
"Enggak, kantor di urus Bian dulu. Aku mau urus kamu." Aldi mengedipkan sebelah matanya, menggoda istrinya.
Riska tersipu, seburat merah muncul di pipinya, dengan dengan dia berpaling menghadap jendela untuk menyembunyikan wajahnya. Namun terlambat, Aldi dan orang tuanya sudah melihat lebih dulu. Ya, sedari tadi Elsa dan Raka memperhatikan percakapan Aldi dan Riska.
"Apaan sih .. Ada-ada aja, nggak usah gombal." Balas Riska setelah mampu mengendalikan dirinya.
"Lah benar kan? Ada aku sekarang yang jagain kamu." Aldi langsung mengengam tangan kiri istrinya.
"Malu tau, Mas. Ada Papa sama Mama disini."
Aldi tersenyum jail. "Kenapa malu? aku cuma pegang tangan kamu lho ini, bukan pegang yang lain."
Astaga, tolong buang Aldi ke laut saja. Riska sudah malu tingkat provinsi dan Aldi santai saja.
Riska menjitak dahi Aldi, gemas sendiri. "Astaga Mas, itu mulut pengen aku jepit pake tang."
Aldi mengusap dahi bekas jitakkan istrinya. "Sakit tau Yang, KDRT ini lho."
"KDRT apaan cuma jitak doang kok." Riska memutar bola matanya malas, tak masuk akal suaminya ini.
"Iya KDRT ini. Kepalang Dalam Rasa cintaku Terhadap mu."
Ha .. Ha ..
Raka dan Elsa meledakkan tawanya mendengar gombalan anak mereka kepada menantunya. Sedang Riska tertunduk malu, dan Aldi datar saja.
"Kenapa?" Sentak Aldi datar kepada kedua orang tuanya.
__ADS_1
"Dapat gombal receh dari mana, Al?" Tanya Raka setelah meredakan tawanya.
"Kenapa Papa iri? Sana gombalin Mama juga, ganggu aja. Mending Mama sama Papa pulang aja, istirahat ingat umur."
"Astaga anak kamu ini Pa. Kenapa kayak kamu banget sih?" Sela Elsa sedikit bercanda.
"Iya lah Ma, kan Papa yang nyumbang ben*hnya? Mama lupa?"
Elsa mengerit. "Lupa apa?"
Raka tersenyum mesum. "Mama nggak lupa kan dengan keperkasaan Papa? Mama aja sampe jerit-jerit minta berenti?"
OMG! Mama dan Papanya sangat tidak tau tempat, membicarakan ranjangnya didepan anak dan menantunya. Tidak tau kah mereka kalau Aldi harus puasa beberapa Minggu?Sedang Riska melongo mendengarnya.
Stop!
"Mama sama Papa pulang aja, tolong hargai Aldi yang harus puasa. Silakan lanjutkan nostalgia keperkasaan kalian dirumah saja." Dengan melotot Aldi berucap, setengah mengusir.
Raka dan Elsa cekikan melihat wajah mengenaskan anak mereka.
***
Bian sedang makan siang dikantin kantor sendirian, dia bosan makan sendiri di ruangannya.
Kemudian ponsel yang diletakan dimeja bergetar.
"Halo, kenapa dek?" Ya, yang menelpon Bian adalah Alisa, adik satu-satunya.
"Kak, datang ke sekolah aku ya? Temuin wali kelas aku. Jangan bilang Mama tapi ya .." Ujar Alisa dengan dengan nada memohon.
"Cuma berantem sama Yuli teman kelas aku, dia duluan tapi, dia tuduh aku godain pacarnya. Padahal enggak, sih Evan cuma nolong aku aja." Jawab Alisa diseberang dengan menggebu-gebu.
"Ya udah, kakak kesana." Bian langsung mematikan panggilannya. Punya adik 1 tapi kayak ngurus adik 10, nakalnya minta ampun.
Bian langsung mengambil kunci mobil, lalu beranjak pergi ke sekolah adiknya. Untung jam istirahat masih ada, dan dia tidak terlalu sibuk.
SMA BINA BANGSA, Bian memarkirkan mobilnya diparkiran. Lalu melangkah disetiap lorong kelas menuju tangga naik ke lantai 2 menuju ruang kelas sang adik.
Kelas 12 IPA 2, sampai juga Bian dikelas yang disebutkan adiknya tadi ditelepon. Bian sempat menelepon adiknya sebelum keluar dari mobil saat diparkiran.
Tok .. Tok ..
Terlihat, 4 orang disana. Dua orang berseragam putih abu-abu dan seorang wanita yang seumuran Mamanya, dan ...
Cantik, satu kata itu terucap di batinnya setelah wanita yang memakai seragam PNS itu menoleh padanya.
"Permisi saya walinya Alisa." Ucap Bian dengan degup jantung yang tak stabil.
"Silakan duduk, Mas." Suara lembut menyambut pendengaran bahkan sampai menggelitik hatinya.
Mau Mas halalkan kan dek?
Bian membuyarkan pikiran anehnya, lalu duduk disamping Alisa.
"Sekarang sudah lengkap ya. Jadi maksud saya memanggil wali dari Alisa dan Yuli, karena tadi mereka berantem dikelas saat jam istirahat." Guru yang bernama Selly Ayunita, Bian tau dari papan nama yang menggantung, itu menjeda kalimatnya.
__ADS_1
"Ibu tidak akan langsung menyalahkan salah satunya, ibu mau tanya dulu jawaban dari kalian masing-masing, apa alasan yang mendasari kalian sampai berantem?" Lanjutnya dan diakhiri dengan senyuman.
Bian terpana melihat senyuman itu. Bisa dibungkus tidak? pengen bawah pulang.
"Alisa dulu yang jelasin, setelah itu Yuli ya?"
Setelah itu bergantian Alisa dan Yuli mengeluarkan pembelaan. Hingga akhirnya kesimpulan pun didapatkan.
"Jadi Yuli, besok-besok tanya dulu ya .. Jangan langsung jambak temannya, kalian kan teman sekelas juga. Kejadian ini dijadikan pelajaran ya, biar nanti tidak ada lagi kesalah pahaman seperti ini." Kedua siswi itu mengangguk.
"Ayo salaman sekarang." Kedua siswi itu pun bersalaman.
Yuli dan ibunya sudah keluar lebih dulu, tinggal lah Bian, Alisa dan Bu guru cantik menurut Bian.
Ehem!
Bian berdehem menghilangkan kegugupannya. "Eum, saya Bian kakaknya Alisa." Bian menjulurkan tangannya.
Selly tersenyum canggung, namun membalas menjabat uluran tangan Bian. "Selly, wali kelasnya Alisa."
Alisa yang masih disamping Bian, tersenyum penuh arti.
"Bo-boleh minta nomor ponselnya? Nanti kalo ada masalah sama Alisa, bisa langsung hubungi saya."
Alisa cekikan. "Modus teross ..."
"Oh, bisa. 08971034xxxx." Setelah menyebutkan nomor ponselnya, selang 1 menit ponselnya berbunyi.
Ting!
"Itu nomor aku ya, jangan lupa disave."
"Iya Mas."
***
Disebuah kontrakan sempit di luar kota, Siska sedang mengerutu.
"Untung simpanan gaji gue lumayan, ditambah bayaran sih cewek bod*h itu, boleh lah buat biaya hidup beberapa bulan." Monolog Siska sambil menghitung uangnya dalam amplop.
"Untung gue pintar, bisa mengelabui anak buah suruhan Aldi. Aldi gercep juga, bisa tau gue yang nambrak, padahal pake mobil sewaan lho waktu itu." Lanjutnya kemudian menyimpan amplopnya ke dalam tas.
"Harus hati-hati gue, pasti Aldi nggak akan berenti nyari gue. Koneksi dia pasti banyak, dia pasti berusaha buat menemukan gue."
Bersambung ...
Menurut kalian, nanti karakter Clara mantannya Aldi jahat aja? Atau baik?
Minta pendapat dong ..
See you next chapter, bye ...
...Jangan lupa tinggalkan jejak like, komen, vote dan hadiah...
...Agar lebih semangat menulis...
__ADS_1