Ternyata Jodohku

Ternyata Jodohku
Episode 70


__ADS_3

Selamat membaca 🌷🌷🌷


Malam hari dikediaman keluarga Narendra. Terjadi ketegangan antara Aldi dan Renata, karena ulah Riska. Ya, Riska memutuskan ingin tidur dikamar Renata, dan Renata ikut mendukung sang kakak ipar, dan disisi Aldi, tentu dia menolak.


"Pokoknya nggak bisa. Masa kamu tega, Yang, biarin aku tidur sendiri?" Aldi melayangkan protes.


"Cih', dulu juga tidur sendiri kak. Tidak usah berlaga kayak anak kecil, yang takut tidur sendiri." Ledek Renata.


Aldi memberikan tatapan sengit. "Beda lah, dulu kan belum nikah. Sekarang udah nikah, udah terbiasa tidur ada nemenin."


"Pokoknya, aku akan tetap tidur sama Renata. Kita mau nonton Drakor bareng, mau lihat oppa-oppa yang kiyowo dulu." Seru Riska, menyela perdebatan sengit dua kakak beradik.


"Emang aku kurang ganteng? Aku nggak mau, kamu lihat apalagi mengangumi pria lain, Yang." Rengekan Aldi, bagaikan anak kecil yang tidak dibelikan permen.


"Sekarang aku balik. Apa kurang cantik? Kurang menarik? Sampai harus lirik wanita lain? Aku punya hati, punya perasaan, dan juga punya rasa cemburu. Anggap ini sebagai hukuman. Selamat malam." Ujar Riska mengebuh, mengeluarkan unek-uneknya. Setelah itu, ajak Renata ke kamar.


Aldi hanya bisa terpaku ditempatnya. Wajahnya pias, menatap istrinya yang sedang menaiki tangga bersama adiknya. Dia memilih mengalah. Memberikan ruang untuk Riska menyendiri. Dia tau istrinya hanya sedang merajuk saja.


"Ini semua gara-gara sekertarisnya sih Revan yang kegenitan itu. Awas saja, Revan harus tanggung jawab. Bagaimana bisa Aldi junior cepat hadir, kalo tanam sahamnya sering bolong kayak gini. Aissshh ..." Monolog Aldi, dari suaranya tersemat amarah. Aldi sampai mengacak rambutnya.


***


Aldi tiba di perusahan dengan wajah kusut. Dia hempaskan tubuhnya ke sofa.


Ceklek!


Aldi mendengus melihat Bian masuk, di mata Aldi wajah Bian seperti tengah mengejek dirinya, sangat mengesalkan bagi Aldi.


"Kenapa?" Tanya Bian ketika menyadari raut tak biasa diwajah Aldi.


"Tanya sama sekertaris genitnya sih Revan. Gara-gara ulah dia, gagal gue tanam saham." Decak Aldi penuh kekesalan.


"Boleh ketawa nggak, Al? Pengen banget ketawa, tapi takut elu marah." Balas Bian bertanya.


"Teman lagi menderita, bukannya dihibur, malah mau diketawain. Dasar teman lakn*t!"


Ponsel Aldi disaku nya bergetar, melihat nama pemanggil, Aldi memilih abai.


Gantian, ponsel Bian yang bergetar. Bian pun menjawab.


"Iya, kenapa, Van?" Seru Bian menjawab telepon.


"Entar pas makan siang kita ketemuan direstoran kemarin. Sepupuku setuju buat bantu Clara, dan mau bicarakan semuanya sebentar. Aku sudah hubungi Clara, jangan lupa ajak Aldi, aku telepon tapi dia nggak jawab." Sahut Revan.


Bian jauhkan ponselnya sebentar, lalu berbicara pelan pada Aldi. "Katanya Revan telepon tadi, tapi nggak kamu angkat."

__ADS_1


"Males." Singkat Aldi dengan wajah kesal.


Bian kembali menepelkan ponselnya ke telinga.


"Oke, Van. Nanti aku kasih tau Aldi."


Obrolan berakhir, Bian beralih duduk disamping Aldi.


"Apa katanya?"


"Sepupunya setuju bantu kasus Clara, dan dia ajak ketemuan nanti jam makan siang. Dia sudah hubungi Clara juga." Jelas Bian.


"Oke, nanti aku telepon Riska dulu. Dia harus ikut."


Aldi langsung menelpon istrinya.


"Assalamualaikum, mas. Ada apa?" Sahut Riska.


"Walaikumsalam .. Sayang, tadi Revan telepon, katanya sepupunya ajak ketemuan, buat bahas kasusnya Clara. Mau aku jemput?"


"Nggak usah, nanti aku minta tolong supir antar ke kantor kamu aja." Jawab Riska.


"Oke, aku tunggu yah. Bye, Sayang .."


"Riska setuju."


Setelah itu, mereka melanjutkan Pekerjaan, sambil menunggu waktu makan siang.


***


Riska berjalan anggun masuk dilobby perusahan Aldi.


"Selamat siang, Bu .." Sapa resepsionis yang bername tag Nisa.


"Selamat siang juga, Nisa. Udah makan siang?" Sahut Riska ramah.


"Eh, belum Bu. Sebentar lagi." Nisa tersentak, kaget dengan keramahan istri atasannya itu.


"Kerja boleh, tapi jangan lupa makan juga. Saya ke ruangan suami saya dulu yah." Pamit Riska, kembali berjalan masuk ke dalam lift.


Jika kalian memperlakukan dia baik, maka dia juga akan bersikap begitu. Prinsip Riska.


"Kenapa? Kayak tegang gitu?" Tanya teman Nisa sesama resepsionis, membawakan makan siang mereka berdua.


"Istrinya Pak Aldi, Bu Riska, baik banget. Tapi aku sapa, dia balas, ramah banget, sumpah." Jawab Nisa.

__ADS_1


"Iya, Bu Riska memang baik. Jika kebanyakan orang yang dari level bawah, menikah dengan orang kaya, akan sombong. Beda dengan Bu Riska, dia tetap baik, kadang malah dia yang agak sungkan sama karyawan lain yang tau masa lalunya."


"Masa lalu?" Tanya Nisa penasaran. Dia tidak tau, karena dia baru bergabung dengan perusahan ini, mengantikan salah satu resepsionis yang resign karena suaminya tugas diluar daerah.


"Iya, kamu tau nggak. Kalo sebelum nikah sama Pak Aldi, Bu Riska itu OG diperusahan ini. Bahkan terbilang baru masuk, hanya selisih 3 bulan, sampai kabar itu diketahui." Bisik teman Nisa. Nisa terbelalak, seakan tak percaya.


"Mungkin itu buah dari kebaikan Bu Riska, hingga takdir ikut memberikan kehidupan yang layak untuk dia." Nisa berdecak kagum, dengan permainan takdir yang Riska terima.


***


Riska langsung membuka pintu ruangan suaminya, didepan Citra tidak terlihat, mungkin sedang makan siang, pikirnya.


Melihat kedatangan istri tercintanya, Aldi beranjak menyambut.


"Hai, Sayang." Sapa Aldi, lalu melingkarkan tangannya di pinggang Riska, lalu mendaratkan kecu**n singkat didahi.


"Hm, berangkat sekarang?" Tanya Riska dengan datar.


"Sebentar, tunggu Bian juga."


Tak berselang lama, Bian masuk sesudah mengetuk pintu lebih dahulu.


"Berangkat sekarang, Al?" Seru Bian bertanya.


"Iya. Ayo Sayang, kita berangkat." Jawab Aldi, lalu mengajak Riska beranjak, tak lupa tangannya dia lingkarkan di pinggang mungil istrinya.


Semua itu tak lepas dari banyak pasang mata karyawan, yang menyaksikan kemesraan yang Aldi tunjukkan. Banyaknya karyawan yang berlalu lalang dijam istirahat, tak membuat Aldi malu dan melepas rangkulannya, bahkan malah lebih mengeratkan rangkulannya.


Mereka pergi menggunakan 1 mobil. Bian didepan mengemudikan, lalu Aldi dan Riska duduk dikursi belakang, dengan Aldi yang menempel bagai prangko.


Aldi sesekali mencuri kesempatan dengan menge**p pipi mulus istrinya. Tangan tak lepas dari pinggang istrinya, dia tetap memeluk erat, seakan Riska akan pergi menjauh.


Bian sampai memutar bola matanya malas, dia iri dengan Aldi yang sedang bermanja pada Riska.


's**t! Dasar bos nggak ada akhlak. Dia nggak mikir kali yah, aku ini masih single. Mesra-mesraan nggak tau tempat.' Decak kesal Bian dalam hati.


"Hadeh .. Selly .. Otw nikah yok .. Abang nggak kuat." Jeritan Bian sedikit keras, sengaja agar di dengar oleh Aldi dan Riska


Bersambung ...


See you next chapter, bye ..


...Jangan lupa tinggalkan jejak like, komen, vote, dan hadiah...


...Agar lebih semangat menulis...

__ADS_1


__ADS_2