
Selamat membaca 🌷🌷🌷
.
.
Setelah aksi bujuk membujuk Aldi, dimobil. Kini kami sudah tiba dirumah. Merasa kasihan dengan Aldi, biar bagaimana pun dia adalah suamiku. Tak pantas jika aku menolak keinginannya. Akhirnya malam ini, aku tunaikan kewajiban ku sebagai istri.
Pagi hari, setelah ku tunaikan kewajibanku kepada sang pencipta, aku memilih berkecimpung didapur, sedangkan Aldi memilih kembali tidur.
"Assalamualaikum Bi .." Bibi nampak kaget mendengar salam yang ku ucapkan. Cepat bibi menegok pada jam diding diatas rak.
"Walaikumsalam Non .. Lho, masih jam 5 ini Non, kenapa sudah bangun?"
"Riska pengen buat sarapan. Bibi kerjakan yang lain aja, biar sarapannya Riska yang masak." Ujar mendekat kedekat kompor, bibi pun bergeser untuk memberikan ruang.
"Baik Non. Mau bibi buatkan teh atau kopi nggak, Non?" Tanya bibi sambil mengelap piring, untuk dimasukan kedalam lemari.
"Nggak usah Bi. Entar aja sekalian kalo mau sarapan." Tolak ku, kemudian membuka kulkas, mengambil beberapa butir telur dan juga udang.
Rencananya pagi ini, aku mau buat nasi goreng udang sama telur ceplok. Pertama aku bersihkan udangnya lebih dulu, lalu kemudian mengupas bawang.
Pukul 6 pagi, sarapan sudah selesai ku masak dan sudah dipindahkan dari wajan. Saatnya mandi dan membangunkan Mas kesayangan.
"Bi, nanti tolong bantu di sajikan dimeja yah? Riska mau bangunin mas Aldi dulu, sekalian mau mandi." Ujar Riska.
"Baik Non." Setelah itu Riska bergegas ke kamarnya dilantai 2.
***
Ketika membuka pintu, pandangan ku langsung tertuju pada seseorang yang masih telungkup diatas kasur, dengan selimut sebatas pinggang yang menutupi bagian bawahnya yang polos.
Ku punggut pakaian yang berserakan dilantai, lalu ku letakan dalam keranjang pakaian kotor. Baru setelah itu menghampiri dan duduk dipinggiran ranjang.
"Mas .. Bangun udah pagi .."
"Mas .. bangun yuk .. udah pagi ini." Kutepuk pelan punggungnya yang polos.
Berhasil!
Eunghh ..
Aldi mengucek matanya, kemudian menampar pelan mulutnya yang menguap.
Hoamm ..
"Jam berapa, Yang?" Tanya Aldi setelah memutar badan, menjadi terlentang dan tatapannya tertuju pada Riska.
"Jam 6 lebih 5 menit kok. Belum telat. Bangun yuk, terus mandi. Aku udah siapkan sarapan, nanti pakaiannya aku siapkan." Jawab Riska sambil tersenyum lalu mengusap pipi sebelah kiri Aldi.
Cup!
Aldi mengambil telapak tangan yang Riska gunakan untuk mengelus pipinya, lalu diletakan dibibir, dan dia kecup.
"Morning kiss nya mana, Yang?" Tangan Riska yang dia kecup tadi, dia genggam dan di letakan didada nya.
__ADS_1
Riska mengerit, binggung. Kemudian, akhirnya dia paham.
Cup!
Kec*pan Riska mendarat didahi Aldi.
"Kok cuma didahi sih, Yang?" Protes Aldi, dengan wajah cemberut plus bibir maju mengerucut 5 senti.
"Lah .. Emang maunya dimana?" Riska sengaja ingin menggoda suaminya. Dia tau jika Aldi, ingin dici*m dipipi juga bibirnya.
"Sama yang lain dong. Pipi, bibir juga, gitu. Nanti yang lain iri. Bisa demo nanti."
Riska terkekeh. "Ulu .. Ulu .. Lucu banget sih, yang lagi merajuk. Iya .. Bilangin, yang lain pasti dapat cium*n. Takut juga nanti kena demo."
Cup! Cup!
Kedua mata Aldi.
Cup! Cup!
Kedua pipi Aldi, kiri dan kanan.
Cup!
Giliran hidung, yang menerima kec*pan.
Riska tersenyum menggoda. Tinggal bibir yang terakhir akan menerima kec*pan.
Cup!
Hingga dirasa pasokan udara mulai menipis, keduanya melepas pang***n bibir mereka.
Dengan nafas terengah-engah, Riska menatap mata suaminya yang sudah berkabut gai**h.
"Mandi bareng, yah?" Ajakan Aldi dengan suara berat, namun terdengar seperti bisikan sensual, yang dapat menghipnotis.
Riska mengangguk. Dengan cepat Aldi berdiri dengan tubuh polosnya, dan mengendong tubuh Riska ala bridal style.
Dan yang katanya hanya mandi itu, berubah menjadi permainan panas, dengan durasi cepat. Jam 7 kurang 5 menit, mereka berdua baru keluar dari kamar mandi dengan lilitan handuk ditubuh masing-masing. Riska mengambil pakaian suaminya, lalu dia ikut berpakaian. Tak lupa, Riska mengeringkan rambutnya, tidak mau diejek lagi oleh Renata.
***
Tiba dikantor Aldi berjalan dengan gagah penuh wibawa. Raut wajah tanpa senyuman. Karena senyumannya khusus untuk istri tercinta dan keluarga saja. Beberapa hari ini Aldi lebih suka membawa mobil sendiri, tanpa disupiri Bian.
Masuk ke lift khusus petinggi perusahan, lalu menekan tombol 4.
Ting!
Aldi keluar dari lift, dan berjalan menuju ruangannya.
"Selamat pagi, Pak." Sapa Citra sekertarisnya.
"Pagi .. Apa Bian sudah tiba, Cit?" Aldi berhenti sejenak bertanya.
"Sudah Pak. Pak Bian, sudah menunggu dalam ruangan Bapak."
__ADS_1
Aldi hanya mengangguk, lalu masuk keruangannya. Dan benar saja, Bian sudah duduk di bangku depan meja kerjanya.
Bian yang mendengar suara pintu yang terbuka, langsung berbalik badan.
"Wih .. Cerah amat bos wajahnya .. Padahal diluar lagi mendung." Celetuk Bian, menatap wajah atasannya yang berseri bahagia.
"Lu kata wajah gua awan. Kalau diluar mendung, harus ikutan mendung?" Sentak Aldi lalu duduk dikursi kebesarannya, berhadapan dengan Bian, dan ada meja kerjanya sebagai penghalang.
"Gue tau. Udah buka puasa kan pasti? Kelihatan banget."
"Kalo iya, kenapa? Ikutan dong, nikah. Katanya udah ada calonnya." Aldi membuka jasnya, lalu disampirkan ke sandaran kursi.
Bian tepuk jidatnya. "Nah kan .. Pas lu ngomong, gue jadi ingat sekarang pengen ngomong apa sama lu."
"Ngomong apa?"
"Lu tau kan, gue lagi dekat sama cewek?" Tanya Bian dengan wajah serius, dan diangguki Aldi.
"Lu tau nggak, Al?" Bian menjeda.
"Nggak tau lah .. Kan Lu belum ngomong." Aldi menyela kalimat Bian yang terjeda.
"Makanya jangan nyela dulu dong. Dengerin baik-baik." Aldi tak menjawab hanya mengangguk saja.
" ... Gue kan dekat sama cewek, udah aku ajak serius juga. Dia mau, tapi bukan untuk pacaran, karena dia ingin serius mencari suami. Lalu kemarin kan aku anterin pulang .." Bian jeda mengambil napas dulu.
"Terus?" Aldi mulai penasaran.
"Pas gue anterin ke rumahnya, gue rasa pernah gitu ke daerah dan perumahan itu. Dan pas berhenti, lu tau nggak rumah siapa?"
"Siapa?" Aldi bahkan sudah memajukan badannya, mendekat ke meja.
"Rumahnya Sesil."
Brak!
Aldi berdiri dan mengebrak meja, saking kagetnya.
Aldi duduk kembali. "Kok gue kaget banget, yah? kayak yang dia tujuh dirumah Riska aja sih." Aldi bertanya polos pada Bian, heran dengan responnya tadi.
"Suka kali sama Sesil." Ledek Bian.
"Nggak lah .. Aku tadi kaget, karena kasus dia aja. Terus itu cewek Lu, ada hubungan apa sama Sesil? Kok tempat tinggalnya sama?" Elak Aldi.
"Nah itu dia .. Ternyata mereka berdua kakak-adik beda ibu, Al. Bahkan sifat aja beda, 180 derajat." Jelas Bian.
"Yakin, sifat mereka beda?"
Bersambung ...
See you next chapter, bye ..
...Jangan lupa tinggalkan jejak like, komen, vote, dan hadiah...
...Agar lebih semangat menulis...
__ADS_1