Ternyata Jodohku

Ternyata Jodohku
Episode 39


__ADS_3

Selamat membaca 🌷🌷🌷


Tok.. tok..


Ketukan kedua kalinya, lekas Aldi menurunkan kaca jendela, menatap gugup sang pelaku yang memergoki.


"Kenapa berhenti disini, Al?


Mampus!


"A- eh- I-itu Pa ta-tadi Riska ngeluh perutnya sakit, makanya berenti dulu. I-ya kan yang?" Aldi gelagapan, menatap Riska seolah meminta bantuan, malu dipergoki Papanya.


"Benar begitu, Riska?" Suara bariton Raka seakan mengintrogasi pelaku tindak asusila.


"I-iya Pa, betul." Wajahnya berubah pucat saat menjawab.


"Maafin mama yah nak, jangan sakit beneran. Mama cuma mau bantuin papa kamu, keadaan sedang kejepit, maju nggak bisa mundur juga nggak bisa." Batin Riska memohon maaf kepada sang janin dalam kandungannya.


"Oh gitu, yah udah Papa duluan." Baru dua langkah berjalan, Raka menghentikan langkahnya kemudian berbalik badan. "Ohiya, jangan lupa bekas lipstik di sudut bibir kamu di bersihkan, Al." Lanjutnya sedikit mengejek sang anak. Sedang Aldi langsung pias mendengarnya.


Bahh.. haha..


Bian yang sedari tadi disamping Raka tak tahan lagi untuk tidak tertawa. Sedari tadi dia menahan tawanya, melihat wajah cengo dua orang dalam mobil yang mirisnya pak bos dan Bu bos.


Flashback..


Bian yang masih terkekeh melihat kepergian mobil Aldi yang melaju kencang akibat api cemburu yang bagaikan nos, dikagetkan dengan tepukan pelan dibahu kirinya.


"Aldi mana, Yan?" Bian menoleh kepada sosok yang dia segani.


"Udah pulang sama Riska, baru aja Om."


"Oh gitu, Om balik bareng kamu yah? Pak Udin anaknya sakit, udah pulang duluan tadi siang, bolehkan Yan?" Tak ada alasan bagi Bian untuk menolak.


"Boleh dong Om.. Jangan sungkan gitu sama Bian, ayo Om."


Bian mengendarai mobilnya santai sambil berbagi cerita tentang penilaiannya, jika Aldi mulai mencintai istrinya. Terbukti dari tingkah Aldi yang mulai menunjukkan sifat posesif bahkan didepan karyawannya.


"Itu bukannya mobil Aldi, Yan?" Tunjuk Raka pada mobil berwarna putih yang parkir dekan pohon besar.


"Iya kayaknya Om, plat nomornya sama." Bian belum pikun hingga bisa lupa dengan nomor polisi mobil Aldi.


"Wah Om, harus digrebek ini. Lagi mesum kayaknya berdua." Dasar yah, admin lambeh turah nggak jauh-jauh dari grebek menggrebek.


"Kita turun." Titah Raka, bak perintah raja yang harus dilaksanakan.


"Tuh kan Om, lagi skidipapap berdua." Celetuk Bian yang menempelkan wajahnya dikaca belakang mobil, dengan mata setajam silet mengintip kedalam.


"Beneran? lagi mes*m?" Raka ikutan gibah.


"Iya Om, lagi cup cup-an. kayak gini nih Om.." Bian mendekatkan semua jari kedua tangannya, membuat pola seperti dua ekor angsa sedang menepelkan patuknya. "Gitu Om." Lanjut Bian.

__ADS_1


"Ayo kita grebek. Al.. Al.. kayak nggak punya duit aja buat sewa hotel." Raka mengeleng tak habis pikir.


"Mungkin bosen kali Om dikasur terus, pengen ganti suasana yang lebih menantang. Rawrrhhh.."


"Kapan grebeknya kalo kamu ngomong terus?"


"Baik Om, lanjutkan misi kita." Bian hormat bagai prajurit kepada kaptennya.


Flashback end..


"Elah bos, kalo udah nggak tahan. Dekat sini ada hotel, kayak nggak punya duit aja. Digrebek warga baru tau lu, bos. untung kita yang grebek, iya nggak Om?" Bian mencari dukungan.


Tak ada jawaban Bian memutar bola matanya mencari keberadaan ayah dari bosnya. Dan yang dicari, sudah anteng duduk dalam mobil.


Mata Aldi melotot tajam, wajahnya bagai singah yang lapar ingin menerkam mangsanya.


"Elah bos, matanya nggak sakit melotot gitu?" Jujur Bian takut, tapi tidak mungkin Aldi berbuat lebih karena ada Raka disini.


"Cari bini sana, biar bisa rasain gimana kalo udah nggak tahan." Ledekan Aldi membuat wajah Bian pias lesu seketika.


"Saya masih ingat dengan status jomblo abadi saya, tidak usah diperjelas. Mohon pengertiannya."


"Baguslah kalau ingat, bye.. Mau lanjut dirumah, nanggung." Aldi langsung menaikan kaca jendela dan melajukan mobilnya.


***


"Kenapa sih mukanya cemberut? Marah karena nanggung? Ayo kita lanjut." Ujar Aldi saat sudah berada dalam kamar, dan mendapati wajah Riska yang cemberut.


"Ya ampun yang, guling mana bisa dimasu**n? Tuh kan jadi pengen.." Aldi merasakan sang juni*r yang mulai mengeras.


"Bodoh! Main aja sama guling sampe lemes, aku mau mandi."


Riska lekas mengambil pakaian ganti dan masuk ke kamar mandi, sedang Aldi terduduk lesu diranjang.


Aldi menatap ke bawah, "Sabar dulu yah, puasa dulu. Sih mama belum jinak.." Monolognya.


Selesai makan malam, Riska memilih langsung ke kamar. Malu jika terus bertatap muka dengan papa mertuanya, karena kejadian tadi sore.


"Ssttt.. yang.. " Aldi mencolek bahu punggung Riska yang sedang berbaring miring diranjang.


"Ngapain tidur disini? pindah." Riska berbalik badan dan mendapati Aldi tengah berbaring dibelakangnya.


"Bobo bareng yah yang, boleh? nanti nggak macam-macam suer.. kalo nggak khilaf " Kalimat terakhir hanya Aldi ucapkan dalam hati, bisa ditendang dia kalo sih setan betina dengar.


"Hm, awas berani macam-macam, aku tendang." Ancaman Riska


"Tuh kan, ancamannya ditendang. Prediksi gue jitu banget." Batin Aldi


"Iya.. kalo peluk boleh kan?" Melihat pelototan Riska, "Iya.. iya.. enggak, ini mau tidur." Aldi mengalah.


Dikantor aku yang ditakuti, dirumah malah aku yang takut ke bini. Nasib para suami yang takut jatahnya hilang..

__ADS_1


***


"Kenapa mukanya lesu, bagai tanaman yang tak disirami air? ada apakah gerangan? Nggak dapat jatah surgawi yah?" Bagai cenayang, tebakan Bian tak meleset.


Aldi menghempaskan tubuhnya ke sofa. Ya dia sudah berada diruangan kantornya, bersama asisten menyebalkan tapi sayangnya sangat kompeten.


"Elu kalo ngomong suka bener." Balasan Aldi mengiyakan celotehan Bian


"Ck'.. ck'.. Sabar aja, paling juga senjatanya cuma karatan dikit karena nggak jadi tempur." Ledek Bian


"Apa kabar dengan belum pernah tempur? Full karatan pasti." Tak mau kalah, Aldi balas menyinggung status jomblo Bian.


"Kampr*t lu.." Bian meleparkan bantal sofa ke perut Aldi, kemudian keduanya tertawa bersama.


Sementara dilobby suasana sedang panas terjadi ketegangan, perang dingin sedang terjadi bagaikan penduduk pribumi melawan penjajah.


"Stt.. ituu kan perempuan yang kemarin sama pak Aldi? " bisik perempuan berkemeja putih


"Iya deh, dia kayaknya." Balas perempuan rambut pendek disampingnya.


"Ganjen banget dia godain bos, sok cantik." Sindiran dari perempuan berkemeja nafi kuat sengaja agar terdengar kepada karyawan lain dan Riska juga tentu saja.


"Cuma OG ternyata.. pantes, pengen naik kelas rupanya." Balas lagi perempuan berblouse maroon.


Bisik-bisik tetangga dari para karyawan yang melihat kejadian kemarin hari, merasa tersaingi. Sebagian mereka sangat menyukai Aldi, namun dilirik saja tak pernah.


"Dasar ganjen, berani banget dia godain pak Aldi. Aku nggak akan tinggal diam, lihat aja." Geram Siska staf accounting yang amat sangat mendamba bersanding nyaman dengan Aldi. Namun merasa ditikung oleh OG, batin nya.


Melihat Riska berjalan bersama jihan selesai membuang sampah, dengan langkah tegas dia menghampiri keduanya.


Bruk!


Awhh..


Riska jatuh terduduk dilantai akibat sengolan Siska dengan sengaja. Riska lekas memegang perutnya, yang sedikit keram.


Jihan lekas berlari, menuju seseorang. Dengan ngos-ngosan, tanpa mengetuk Jihan langsung masuk.


"Pak, Riska jatuh didorong. Dia ngeluh perutnya sakit."


Aldi langsung melompat lari diikuti Bian dan Jihan. Aldi lari kesetanan, pikiran kalut memikirkan janin dan mama sih janin.


"Pak dilobby..." Jerit Jihan, saat Aldi akan berbelok ke arah pantri.


***


"Ris, kamu nggak apa-apa?"


***Bersambung...


See you next chapter, bye***..

__ADS_1


__ADS_2