Ternyata Jodohku

Ternyata Jodohku
Episode 74


__ADS_3

Selamat membaca 🌷🌷🌷


Pagi sekali Clara sudah berkecimpung dengan alat masak. Mentari bahkan masih malu-malu untuk menampakkan cahayanya. Dengan semangat dan seutas senyum Clara membuat nasi goreng dengan telur mata sapi sebagai pelengkap.


Hari ini, hari yang sangat Clara nantikan. Hari pertama sidang perceraiannya, dengan agenda mediasi. Dia harap semoga sang calon mantan suami tak akan mempersulit proses tersebut. Dia ingin bebas, lepas dari ikatan penyiksaan yang berkedok pernikahan.


Cukup! Dulu dia pernah keliru, dengan menganggap jika Rian akan menjadi sosok pendamping hidup dan sosok ayah terbaik. Ternyata dia keliru! Bodoh! Dia rela melepas cinta tulus Aldi, demi laki-laki se-breng**k Rian.


Helaan napas keluar dari mulutnya. Entah helaan kegusaran atau kelegaan. "Semoga semua berjalan dengan lancar. Amin." Pintanya dengan kepala mengadah keatas.


Selesai menata hidangan sarapan dimeja makan bentuk persegi dengan 4 buah kursi, disebelah kiri terdapat jendela kaca setinggi 2 meter dengan tirai putih, yang menampakkan pemandangan langit dan gedung tinggi. Sungguh indah design apartemen ini, Clara amat mengangumi.


Ting .. Tong ..


"Astaga! Apa dia sudah tiba? Masih pukul 7, aku bahkan belum mandi." Ucap Clara kaget dengan bunyi bel pintu.


Meski sedikit malu karena belum mandi, dan sedikit bau bawang, Clara dekati dan membuka pintu.


Ceklek!


"Hai .." Sapa Rafka meringis karena tiba terlalu pagi.


"Silakan masuk, Raf." Ajak Clara sedikit canggung.


"Silakan duduk. Mau aku buatkan kopi atau teh?" Tanya Clara setelah tiba diruang tamu.


"Kopi saja." Jawab Rafka setelah duduk disofa single.


Clara lekas ke dapur dan menyeduh secangkir kopi. Dia letakkan dinampan, lalu diantarkan.


"Silakan diminum. Aku siap-siap dulu, sebentar." Clara letakkan cangkir dimeja depan Rafka, kemudian masuk ke dalam kamar.


***


"Udah danteng bulum, ma?" Tanya Andro setelah dipakaikan jaket jeans oleh Clara.


"Wah, ganteng sekali. Anak Mama memang ganteng kok." Jawab Clara sambil menyisir rambut Andro, sebelumya dia pakaikan hair lotion balita.


Andro tersenyum dengan menampakkan deretan gigi susunya. Sangat manis!


"Hadiah buat Mama, mana? Sudah Mama buat ganteng loh ini." Tuntut Clara dengan wajah dibuat merajuk.


Cup! Cup!


Dua kecu**n basah diterima Clara, sebagai hadiah.

__ADS_1


Clara tuntun Andro ke ruang tamu. Melihat ada Rafka, Andro langsung melepas genggaman tangan Clara dan berlari.


"Halo paman danteng .. " Sapa Andro pada Rafka. Dia lekas ambil tempat duduk dipangkuan Rafka. "Tapi lebih danteng Andlo yah .." Bisik Andro ditelinga Rafka, dengan bahasa khas-nya yang belum bisa mengucapkan huruf R.


Sontak Rafka tertawa mendengarnya. "Iya, gantengan Andro kok." Rafka peluk gemas balita dipangkuannya.


"Mama mau siap-siap dulu. Andro jangan nakal." Titah Clara.


"Siap Mama." Jawab Andro layaknya prajurit memberikan hormat. Namun caranya salah, telapak tangannya bukan dipelipis namun diatas kepala.


"Wah, Andro hebat, sudah seperti prajurit. Tapi, kayaknya tempatnya salah deh. Paman bantu benarkan yah." Rafka ajari. Dia pindah telapak tangan Andro.


Clara tertohok melihat bagaimana perlakuan Rafka. Harusnya perlakuan itu Andro dapatkan dari ayahnya. Namun, sampai detik dia akan berpisah, tak pernah Andro rasakan.


Clara gigit bibir bawahnya menghalau air matanya yang hampir tumpah. Kepalanya dia dongakan keatas dengan helaan napas, dadanya terasa sesak. Cepat dia pergi.


Lupa Clara beritahu, bahwa sudah beberapa hari Rafka sering menelepon dan mampir ke apartemen, dengan alasan mengunjungi Andro. Dan ya, mereka sangat akrab.


***


Hoamm ..


Riska kucek matanya tanpa merubah posisi, masih tetap berbaring dengan selimut menutupi tubuh polosnya sebatas dada.


Cup!


"Badan aku kayak nggak enak mas, rasanya lemas. Kamu udah mau berangkat? Maaf yah, nggak sempat siapin pakaian kamu, mas." Riska merasa bersalah karena bangun terlambat, dan Aldi sudah siap dengan pakaian kerjanya.


"Nggak apa-apa, sayang. Mau aku antar ke Dokter?" Tanya Aldi khawatir. Padahal semalam hanya 1 ronde, pikir Aldi.


"Nggak usah. Cuma kecapekan aja mungkin." Riska ambil pakaian yang berserakan dilantai lalu dimasukan ke keranjang pakaian kotor, dengan keadaan polos. Buat apa malu lagi? Toh, Aldi sudah sering melihatnya.


"Aku mandi dulu, nanti ke bawah sama-sama." Ujar Riska setelah mengambil pakaian.


***


Riska istirahat dirumah, Aldi yang meminta karena khawatir dengan kondisi Riska. Elsa turut menemani Riska dirumah, dia tidak ada agenda arisan dan sebagainya.


Sedangkan Aldi tengah dibuat pusing. Pasalnya setelah tiba dikantor dia mendapatkan kabar, jika proyeknya disenopati dihentikan sementara. Para pekerja mogok dan demo menuntut upah kerja mereka selama 1 bulan. Lebih dari 50 orang perkerja tak mendapatkan upah, karena bos kontraktornya mengelapkan dana.


"Bian, adakan rapat segera." Titah Aldi.


"Baik." Sahut Bian keluar dari ruangan Aldi.


15 menit kemudian Aldi masuk ke ruang meeting dengan didampingi Bian dan Citra. Melihat kedatangan atasan mereka, semua perserta rapat berdiri.

__ADS_1


Bian membuka rapat terlebih dahulu, kemudian semua duduk kembali.


"Bima, bisa jelaskan? Kenapa bisa kita kecolongan dengan merekrut kontraktor yang salah?" Tanya Aldi dengan tatapan tajam kepada manager perencanaan.


"Begini Pak, kita memakai kontraktor itu atas rekrut dari Pak Niko. Dia sebelumnya sudah beberapa kali menangani proyek seperti ini, dan perkerjaannya bagus. Namun, entah kenapa saat diproyek kita ini, dia berlaku curang." Jawab Bima.


"Pak, menurut keterangan dari beberapa pekerja disana, dalam dua bulan terakhir upah yang mereka terima tidak sesuai dengan kesepakatan awal. Upah mereka dikurangi 25 persen, dan bulan ini mereka sama sekali tidak menerima upah." Bian ikut menjelaskan, karena dia sudah turun lapangan, mengecek kekacauan yang terjadi.


"Astaga! Lalu dimana Niko? Kenapa dia tidak ikut rapat?" Sentak Aldi.


"Pak Niko sudah 2 hari ini tidak masuk, Pak." Jawab Bima.


Brak!


Aldi mengebrak meja, emosinya mulai tak terkendali. "Cari dan bawah dia keruangan saya! Dan jangan lupa dengan kontraktor itu juga. Cari dia! Mereka berdua seperti bersekongkol. Mereka harus bertanggung jawab!"


"Bian itu tugas kamu! Cari mereka berdua! Dan untuk para pekerja, nanti akan saya temui secara langsung. Citra bagaimana jadwal saya untuk besok?" Lanjut Aldi memberi titah pada Bian.


"Untuk besok, pagi sampai sore bapak free, nanti akan ada pertemuan dengan Pak Ridwan dipukul 3 sore." Jawab Citra membaca jadwal Aldi dalam iPad.


Aldi mengangguk. "Berapa kerugian perusahaan kita?" Tanya Aldi.


"Sekitar 30 persen, Pak. Karena setelah tanda tangan kontrak, 40 persen dana dari jumlah yang disepakati sudah kita cairkan, Pak." Jelas Dean, manager keuangan.


***


Aldi menyentak tubuhnya ke sofa. Kepala terasa ingin pecah, dia sampai memijit pelipisnya. Kurang lebih 3 jam mereka melakukan rapat, dan sekarang sudah pukul 11 siang.


Sudah jam makan siang, pikirnya. Lalu pikirannya melayang ke segarnya rujak buah nanas yang banyak dan diberi cabe yang banyak. Aldi menelan liurnya setelah membayangkan betapa nikmat camilan itu.


Entah kebetulan atau kontak batin yang kuat, Bian masuk ke ruangannya tanpa dia perintahkan.


"Yan, beliin gue rujak 1 porsi. Tapi ingat nanasnya dibanyakin, sama cabenya juga banyak biar pedas." Pinta Aldi dengan wajah berbinar.


"Oke. Nanti gue suruh OB beliin." Bian yang baru akan berbalik, dia urungkan, seperti ada kejanggalan.


"Bukannya Lu nggak suka nanas yah, Al?" Tanya Bian dengan tatapan heran.


Dia sangat kenal Aldi luar dan dalam, mereka bersahabat sejak SMA. Dan Bian sangat tau, Aldi sangat tidak menyukai buah berpori-pori itu. Karena jika mereka makan rujak, Aldi akan meminta agar rujaknya tidak dimasukan nanas.


Bersambung ...


See you next chapter, bye ..


...Jangan lupa tinggalkan jejak like, komen, vote dan hadiah...

__ADS_1


...Agar lebih semangat menulis...


__ADS_2