Ternyata Jodohku

Ternyata Jodohku
Episode 61


__ADS_3

Selamat membaca 🌷🌷


.


.


"Halo."


Aldi memilih menjawab panggilan tersebut, siapa tau penting.


"Aldi .." Sahutan dengan nada lirih diseberang.


Suara itu ..


Dia mengenalinya ..


'Clara.' Batinnya


Aldi menjauhkan ponselnya sebentar, menatap sang istri di sampingnya. "Yang, sebentar yah, aku jawab telepon dulu." Ucapnya kemudian mengecup kening Riska.


Cup


Aldi beranjak berdiri samping jendela, menempelkan kembali ponselnya ke telinga.


"Ada apa?" Sahut Aldi dingin.


"Al, bisa ketemu? Aku Clara." Balas Clara diseberang dengan suara lirih.


"Untuk apa?"


"Aku mau minta tolong, kamu mau kan kita bertemu sebentar?"


"Aku izin dulu sama Istriku, lihat nanti." Aldi sengaja menekan kata istriku, bukan untuk membuat Clara cemburu, namun dia ingin Clara menghargai jika dia sekarang sudah ada seseorang yang harus dia jaga perasaannya.


"Baik, kabari aku Al, jika bisa."


Kalimat terakhir dari pembicaraan itu, sebelum Aldi memutuskan sambungan, tanpa repot menjawab.


Aldi diam sejenak, 'Aku harus jujur sama Riska, hubungan kami baru dimulai, aku nggak mau semua hancur.' Pikirnya.


Setelah selesai bergulat dengan pikirannya, Aldi lekas kembali duduk di sofa samping istrinya.


Riska langsung mengadah, ketika Aldi sudah duduk di sampingnya lagi. Riska tak bertanya, siapa yang menghubungi, dia hanya menampilkan senyum terbaik untuk suaminya.


Melihat senyum tulus yang istrinya berikan, hati Aldi menghangat.


"Yang, aku mau bicara." Aldi menatap serius.


"Lah, udah ini udah bicara kan?" Riska mengerit, lalu kembali tersenyum.

__ADS_1


"Serius, Yang." Protes Aldi


"Oke, mau bicara apa?"


"Gini, kamu dengerin dulu cerita aku, jangan dipotong, yah?" Tutur Aldi dengan suara lembut.


Riska balas mengangguk.


"Jadi gini, dulu waktu masih kuliah, aku pernah pacaran sama gadis, namanya Clara. Kita pacaran udah 2 tahunan, aku cinta banget sama dia waktu itu, sempat mingkir buat dijadikan pendamping hidup. Waktu itu juga, sambil kuliah, aku mulai kerja di perusahan ini, walau baru jadi staf biasa. Selama pacaran, kita baik-baik aja, nggak pernah ada bertengkar. Aku selalu berusaha jaga perasaan dia, hingga pada suatu hari .." Aldi berhenti bicara, diam sejenak, seakan menerawang kembali ke masa itu.


" ... Sampai ketika, kami tidak sengaja ketemu disebuah restoran. Aku sama Bian dan Revan, dan Clara bareng cowok, mereka berdua mesra banget. Penasaran, akhirnya aku samperin. Aku tanya cowok itu siapa, dan jawaban Clara; Dia calon suamiku, dia lebih mapan dari kamu. Dia wakil direktur, sedang kamu hanya staf biasa kan? Aku nggak mau hidup susah, Al. Orang tau aku juga udah setuju, bulan depan kita mau tunangan. Al, kita putus!"


Riska masih menyimak, kemana kira-kira arah pembicaraan ini?


"Aku sakit hati, aku benci, marah, tapi susah untuk lupain dia. Sampai akhirnya, aku ketemu kamu. Tidak aku sadari, semenjak tabrakan kita didepan lift, kamu mulai mengusik hati dan pikiran aku. Clara lah, perempuan yang aku maksud waktu aku bilang, masih ada perempuan lain dihati aku. Tapi sekarang, harus kamu tau. Kamu satu-satunya perempuan yang ada dihati aku sepenuhnya, walaupun dia hadir, percayalah .. Dia tak akan mampu menggoyahkan bahkan menggeser tempat kamu dihati aku, aku sangat mencintai kamu."


Riska masih larut dalam pemikiran, apa maksud Aldi? Apa tujuan dia mengatakan Semua? Apakah ada sangkut pautnya dengan Clara itu?


Aldi menoleh, menatap Riska. Terlihat raut wajah istrinya, seperti sedang berpikir. Alis yang saling bertautan, dan tatapan menerawang.


"Sekarang ke intinya." Ucapan Aldi, membuat Riska kembali sadar.


"Apa?" Jawaban singkat Riska, namun dia juga penasaran.


"Tadi yang nelpon itu, Clara. Aku nggak tau dia dapat dari mana nomor telepon aku. Tapi dia tapi ngajak buat ketemuan, katanya mau minta tolong."


"Aku bilang harus izin dulu ke kamu." Balas Aldi dengan was-was.


"Aku nggak mau ada kesalahpahaman, makanya aku langsung jujur ke kamu, Yang." Lanjut Aldi.


"Aku senang kamu jujur dan terbuka sama aku, aku merasa kamu menghargai aku sebagai istri. Kamu boleh kok temui Clara, aku izinkan. Dalam rumah tangga, saling percaya itu penting. Aku percaya sama kamu."


Mendengar jawaban Riska, semakin membuat Aldi yakin, jika dia tidak salah pilih. Riska perempuan yang baik, istri yang baik, dan pendamping yang tepat untuknya.


"Makasih sayang, aku udah kasih aku kepercayaan yang begitu besar. Aku janji, aku akan jaga kepercayaan kamu."


Aldi langsung memeluk istrinya, lalu di kecupnya kening istrinya, lama.


Banyak istri yang akan tak nyaman, jika suaminya bertemu kembali dengan mantan. Apalagi, dia pernah begitu mencintainya. Namun, Riska berusaha mengenyahkan pikiran buruk itu. Tidak salahkan, jika memberikan kepercayaan? Ini juga sebuah bentuk ujian, mampu kah seorang suami menjaga sebuah amanah, mempertahankan pernikahan.


[Besok, dicafe rainbow jam 12 siang.]


Begitulah pesan yang dikirimkan kepada Clara, yang juga dia perlihatkan kepada sang istri.


"Aku lanjut kerja dulu yah, abis itu kita pulang." Aldi mengusap rambut Riska, lalu beranjak ke meja kerjanya.


Riska mengangguk, "Iya."


***

__ADS_1


Pukul 5 sore, Aldi langsung mengajak Riska pulang.


Aldi mengendarai mobilnya, di sampingnya ada Riska yang sedang main game cacing.


"Serius amat, Yang. Bagusan juga cacing aku, bisa berubah jadi ular." Celetuk Aldi, melirik istrinya sebentar.


Riska menjeda gamenya. Memutar kepalanya, mengadah kepada Aldi yang sedang menyetir. "Masa sih? Coba lihat." Jawab Riska polos.


Yang Riska pikir, Aldi mempunyai game yang mirip game cacingnya. Yang jika sudah makan banyak, bisa berubah menjadi ular.


Tapi otak Aldi yang terlampau mesum, jelas maksud Aldi lain.


'Masa sih? Coba lihat.' Aldi menyeringai, otak mesumnya mulai berandai. Bagaimana jika .. Ahh otak Aldi mesum kuadrat.


Aldi menepikan mobilnya dijalan yang sepi, jauh dari perkampungan. Hanya ada banyak pohon pisang, mungkin kebun warga.


Aldi melepas seatbelt nya. Lalu berputar, menghadap istrinya. "Beneran? Pengen lihat?" Tanya Aldi dengan senyum mesum.


Namun, Riska yang polosnya kelewatan. Mengangguk antusias, bagai anak kecil, yang senang akan diberikan balon. "Mauuuu ..."


Aldi terkekeh melihat ekspresi Riska yang sangat lucu dan menggemaskan, menurutnya. Namun, rencana mesumnya, mendapat lampu hijau.


Aldi merasa seperti menang, lotre.


"Oke, kalo kamu maksa. Aku lihatin ke kamu, sebentar." Ujar Aldi, kemudian memulai aksinya. Dimulai dari membuka sabuk yang mengancing pinggangnya, lalu membuka kancing celana, perlahan menurunkan resleting celana ..


Riska sedari tadi memperhatikan, otaknya mulai mencerna. Cacing apa yang dimaksud suaminya, ini?


Aldi mengelus sebentar, yang tadinya cacing kini mulai berubah, membesar menjadi ular ganas. Sesak! Itu yang sekarang sih ular rasakan, ingin keluar dari sarang yang berupa ****** *****.


Merasa kasihan, Aldi pun menurunkan sedikit ****** ********, dan menarik keluar sih ular ganas itu.


Glek!


Riska menelan ludah melihatnya. Aldi tengah mengurut pelan sih ular, yang sepertinya sudah siap turun ke Medan pertempuran.


Riska merasa pasokan udara mulai menipis.


Riska melotot. Aldi mengambil tangan kirinya, lalu ikut memegang ular yang Aldi maksud.


"ALDI MESUMMMM ..." Jerit Riska. Namun tidak berusaha melepaskan tangannya.


Bersambung ...


See you next chapter, bye ...


...Jangan lupa tinggalkan jejak like, komen, vote, dan hadiah...


...Agar lebih semangat menulis...

__ADS_1


__ADS_2