
Selamat membaca 🌷🌷🌷
Drtt.. drtt..
Ponsel Aldi yang berada dalam saku celananya bergetar, tak mau menganggu tidur istrinya. Lekas dia merogoh ponselnya dalam saku, melihat id pemanggil segera Aldi berdiri lalu berjalan mendekat ke jendela lalu menggeser layar ponselnya.
"Iya Pa, ada apa?" Sapa Aldi kepada Raka diseberang telepon.
"Riska kenapa, Al? Papa baru diberi tau oleh sekertaris papa, apa keadaannya baik-baik saja? kandungannya bagaimana, Al?" Rentetan pertanyaan terlontar dari mulut Raka, dari seberang telepon. Aldi sangat paham betul jika Papa sangat kawatir sekarang.
"Satu-satu dong Pa, nanyanya. Perasaan kalo Aldi sakit, Papa nggak panik kayak gini. Berasa jadi anak tiri.." Protes Aldi
"Haiss, anak ini. Jawab aja, cepat."
"Iya. Riska sudah di pindahkan ke ruang rawat, Papa nggak usah khawatir. Kata dokter Riska dan kandungannya baik-baik aja, cucu Papa kuat." Terang Aldi menjelaskan sambil melirik Riska yang masih setia tertidur.
"Alhamdulillah.. Jagain istri kamu, Al. Jangan dulu mikir hal lain, fokus dulu sama kondisi Riska dan calon anak kalian." Raka menasehati
"Iya, Pa. Aldi tutup dulu, teleponnya."
Setelah diiyakan Raka, Aldi segera mematikan sambungan teleponnya kemudian kembali duduk disamping brangkar.
Aldi kemudian menyilangkan kedua tangannya diatas brangkar mengengam sebelah tangan Riska yang tidak diinfus, kemudian menelungkup kan wajahnya diatas tangannya, ikut memejamkan matanya.
Sekitar setegah jam, Aldi merasakan ada pergerakan dari bawah tangannya. Mengadah hingga kedua netra mereka saling beradu, tangannya setia mengengam tangan istrinya. Sempat dia rasakan, jika tadi Riska berusaha melepaskan tangannya.
"Sudah bangun, hm?" Tanya Aldi dengan pandangan yang tak berpaling dari mata Riska, yang juga sedang menatapnya.
Riska hanya menganggukkan kepala, mengiyakan.
"Laper nggak? Atau ada yang lain, yang kamu butuhkan?" Aldi mengusap punggung tangan Riska dengan jari jempolnya.
"Pengen minum, haus." Setelah berucap Riska langsung menunduk.
Aldi berdiri menuangkan air dalam gelas bening, lalu menyerahkan kepada istrinya yang sudah duduk bersandar dikepala ranjang.
"Ini minumnya." Selesai gelasnya berpindah tangan, Aldi duduk kembali.
"Makasih." Lekas Riska meneguk airnya hingga tandas. Dan dengan cekatan Aldi kembali mengambil gelas dan diletakkan kembali ke meja samping.
Aldi kembali mengengam tangan kiri Riska, setelah selesai meletakan gelas.
Suaminya kok romantis banget yah? kejedot tembok, atau apa gitu?
__ADS_1
Tuh kan pipi Riska merah, ciee.. Pak suami kok manis banget gitu, yah?
***
"Kayak mau nyebrang aja, gandengan segala." Celetuk Bian saat berada didepan pintu ruang rawat Riska.
Dasar tukang perusak suasana nih sih Bian, datang tak jemput pulang tak diantar. Kelakuannya mirip jelangkung aja, nggak pake ketuk pintu langsung nyelonong aja.
Riska yang malu kepergok ingin menarik tangannya, namun ditahan oleh Aldi. Akhirnya memilih menunduk, malu dua kali dipergoki oleh orang yang sama.
"Waktu sekolah, nggak belajar tentang attitude yah? Budeg kayaknya gue, sampe nggak dengar suara ketukan pintu." Aldi tak menggubris godaan Bian, namun lebih memilih mengeluarkan semburan kata pedas.
Bian santai duduk disofa menatap dua orang di hadapnnya, sudah biasa dia dengan kata pedas Aldi. Sudah kebal dia, nggak mempan, di bawah santai aja..
"Dasar nggak ada malunya, untung sahabat kalo bukan udah gue tendang keluar jendela." Lanjut Aldi
"Malunya gue tinggal dirumah, Al. Nggak dibawah, gimana dong?" Balas Bian dengan Ledekan
"Pengen gue tendang beneran elu, yah.." Aldi mulai terpancing emosi.
"Malu pak sama anak, dia dengar itu. Jahat banget ck'.. ck'.."
"Serah.. mending lu keluar aja, balik ke kantor, kerja." Aldi berdiri hendak menyeret Bian, namun tangannya dicegat Riska.
Luluh sudah Aldi, lalu duduk kembali. Namun, tingkahnya itu memberikan bian satu bahan ledekan lagi.
"Tunduk banget sama pawangnya, bos." Dasar Bian kompor meleduk, panas banget.
"Lu pilih deh Yan. Tetap disini tapi diam, atau banyak bacot gue tendang keluar?" Tanya Aldi memberikan pilihan.
"Iya, gue diam. Lanjut aja ngebucin berdua, gue mau tidur aja, nggak kuat hati." Selesai berbicara Bian langsung membaringkan tubuhnya terlentang disofa, dan menutup kedua matanya dengan tangan kiri, sedang tangan kanan dijadikan bantalan.
Tok.. tok..
"Permisi, kita periksa dulu yah." Suara Dokter Aulia bersama satu orang suster
Riska dan Aldi hanya mengangguk, kemudian Aldi berdiri memberikan akses kepada Aulia dan perawat. Berputar ke samping kanan dan berdiri disana.
"Sus tensinya?" Selesai menulis rekam medis, suster menjawab, " 100/90 Dok."
"Lumayan rendah yah tensinya. Masih ada yang sakit?"
"Enggak Dok, saya sudah boleh pulang nggak, Dok?" Riska bosan berada terlalu lama dirumah sakit.
__ADS_1
"Malam ini nginap dulu, besok baru bisa pulang. Jangan lupa obat sama vitamin diminum, terus susunya juga yah." Terang Dokter Aulia.
"Besok pagi nanti saya cek lagi, permisi." Riska dan Aldi memberikan anggukan, kemudian Dokter dan suster keluar.
Setelah kepergian Dokter, keadaan mendadak sunyi.
"Bosen Al, pengen pulang aja." Riska bersuara dengan sendu.
"Sabar yah sayang, besok udah bisa pulang kok." Aldi mengusap puncak kepala Riska sebentar.
Bukan Riska tak menyadari, tapi dia berusaha menutupi agar mereka tidak canggung. Bohong jika dia tak bahagia, dia amat bahagia. Sayang? Satu kata yang berjuta arti. Kata itu diucapkan berulang kali oleh ayah bayinya, dan dia menyukainya.
"Hm." Riska hanya bergumam, menutupi bahagianya.
***
Sepeninggalnya Aldi yang membopong Riska dalam gendongannya, lobby kantor heboh seketika.
"Aku nggak salah dengarkan tadi? istrinya pak Aldi?" Perempuan berblouse putih dengan celana baggy coklat
"Iya, aku juga dengarnya gitu." Sahut perempuan berkacamata disampingnya
"Pak Aldi marah banget loh tadi, aku belum budeg sampe nggak dengar kata pak Aldi bayinya. Artinya istrinya lagi hamilkan? Nggak akan lolos pasti mereka semua tadi yang nyinyir istri pak bos." Timpal laki-laki berkemeja hitam.
"Iya, apalagi sih Siska. Dia berani banget sampe ngedorong, sok berkuasa banget." Selahan perempuan berkacamata
"Heran juga mereka, sok yang paling benar hidupnya. Lihatnya karena hanya pake seragam OG, ditindas." Sahut sih perempuan blouse putih.
"Nggak taunya istri CEO dong. Mampus! nggak akan lolos pasti mereka, apalagi Siska." Timpal lagi laki-laki kemeja hitam.
Tanggapan para karyawan yang ikut menyaksikan kejadian tadi, mereka yang kebanyakan tak menyukai tingkah Siska dan teman-temannya ikut geram. Mereka merasa Siska sudah keterlaluan, memangnya apa hak dia sehingga berlaku seperti itu?
Teman-teman Siska yang ikut dalam aksi perundungan, langsung pucat pasi. Mereka ketakutan, mata pencaharian mereka sedang terancam. Sedang Siska tetap tenang, sifat iri dan bencinya kepada Riska bertambah setelah mendengar teriakkan pengakuan dari Aldi.
Siska mengepalkan kedua tangannya, dengan wajah geram menahan emosi. "Lihat aja, aku nggak akan tinggal diam. Aldi akan tetap jadi milik aku, akan aku singkirkan semua kerikil yang menghalangi. Termasuk kamu perempuan murahan, dan bayimu." Batinnya.
***Bersambung..
See you next chapter, bye***...
...Jangan lupa tinggalkan jejak like, komen, vote dan hadiah yah.....
...biar lebih semangat menulis.....
__ADS_1
...Terima kasih...