Ternyata Jodohku

Ternyata Jodohku
Bab 82. Keras kepala


__ADS_3

Riska berjalan mendekati Mama mertuanya yang sedang duduk di sofa sambil membaca majalah.


"Ma .."


Elsa berbalik menatap menantunya, "Kenapa sayang? Sini duduk sama Mama."


Riska masih berdiri tak berani menatap wajah mertuanya. Ia masih merasa malu, perihal masalah inisial 'R' yang mereka bahas tadi pagi. Yang ujung-ujungnya membuat dirinya terjebak sendiri. Mengingat itu, ingin sekali ia memukul kepalanya karena otaknya mendadak jadi bodoh.


Riska menggeleng atas ajakan Elsa, "Itu Ma .. Riska mau minta izin keluar." Ujarnya.


"Mau kemana? Sama siapa?" Cecar Elsa yang menatap serius menantunya.


"Anu Ma .. mau ke kantornya mas Aldi, pengen makan siang bareng." Jawab Riska.


Entah kenapa Riksa tiba-tiba ingin sekali makan siang bersama dan disuapi langsung oleh suaminya.


"Gitu toh. Mama anterin aja yah?" Elsa tersenyum, ia paham mungkin bawaan bayi, yang ingin dekat-dekat ayah si bayi.


"Nggak usah Ma, Riska bisa kok pergi sendiri. Riska nggak mau ngerepotin Mama." Tolak Riska menggelengkan kepalanya.


"Mama merasa nggak di repotin kok. Nggak apa-apa, Mama anterin aja yah." Elsa tetap berkeras tidak ingin menantunya pergi sendirian. Takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.


"Riska pergi sendiri aja, Mama jangan khawatir. Riska pasti akan hati-hati." Riska juga tetap menolak.

__ADS_1


Elsa menghela napasnya, menantunya keras kepala sekali. "Baiklah, nanti perginya diantar sama supir. Nggak boleh naik taksi, apalagi ojek." Pungkasnya.


"Baik Ma. Riska pergi sekarang yah. Mama hati-hati dirumah." Riksa pamitan.


"Kamu yang harus hati-hati sayang. Nanti kalau sudah sampai, kabari Mama yah." Balasan Elsa yang jawab Riska dengan anggukan juga senyuman.


Ibu hamil dengan dress Lilac itu akhirnya berangkat dengan diantar oleh supir keluarga. Sepanjang jalan matanya bergerak ke kanan-kiri menatap pemandangan disepanjang jalan yang dilalui. Terkadang ia menelan ludah saat melewati beberapa penjual makanan, yang aromanya sempat tercium. Karena memang Riska sedikit menurunkan kaca mobil agar bisa merasakan hembusan angin dari luar, alasannya juga karena ia merasa mual jika AC mobil dinyalakan.


***


Sedang diruang kerjanya, Aldi tengah duduk di sofa berhadapan dengan Bian. Mereka sedang membahas beberapa pekerjaan.


"Masih lemes?" Tanya Bian yang merasa ikut prihatin dengan bos sekaligus sahabatnya ini.


Dari saat tiba di kantor, Aldi kebanyakan memilih berbaring di sofa. Hanya saat Bian masuk saja, Aldi kembali duduk karena ada hal yang harus mereka bahas.


"Iya, aku dengar kemarin dari Om Raka. Selamat yah Al, aku ikut senang. Semoga dilancarkan sampai lahiran." Ujar Bian turut mendoakan.


"Amin" Seru Aldi, " Terus mana laporan yang mau kita bahas?" Lanjutnya.


Bian pun menyerahkannya beberapa map kepada Aldi. "Coba kamu baca Al, kayaknya ada yang janggal. Sekilas mungkin tidak kentara, tapi jika di teliti dengan cermat, laporan ini sudah di manipulasi."


Aldi tak langsung menjawab, ia membuka satu persatu lembar laporan tersebut. "Kamu benar, Yan, laporan ini sudah di manipulasi oleh seseorang. Tenyata ada tikus kecil yang ingin main-main, kita harus gerak cepat menyelidiki siapa tikus itu."

__ADS_1


"Benar Al, saat ini aku sudah mulai menyelidiki, sepertinya ada keterlibatan pihak luar dalam kasus ini, Al. Sepertinya mereka sengaja menjadi orang dalam pabrik sebagai pion dalam menjalankan aksinya. Lihat saja, mereka mainnya begitu rapi dan halus sekali." Aldi mengangguk membenarkan.


"Benar, sepertinya sudah lama mereka beraksi, tapi kita baru menyadarinya sekarang. Kerja mereka begitu halus hingga kita tidak bisa mencium kejanggalannya. Cepat cari tau dan tangkap tikus itu!"


"Segera Al!"


Ponsel Aldi diatas meja berdering, "Ibu bos," Ucap Bian memberitahukan, karena memang posisi ponsel itu dekat dengannya.


"Halo sayang" Aldi lekas menggeser layar ponselnya.


Bian mencibir sapaan Aldi. Dulu saja tidak mau, sok-sok menolak, sekarang bucin.


"Oke, tunggu disitu, aku kesana sekarang." Aldi panik langsung mematikan panggilan, dan langsung bergegas keluar dengan cepat.


"Tadi aja lemes kayak puding kelebihan air, giliran dapat telepon dari bini langsung kayak Hulk." Gumam Bian menatap Aldi yang berlari keluar.




**Nanti malam kayaknya bakal update lagi ..


__ADS_1


Babaiiđź‘‹


Sampai ketemu di chapter selanjutnya** ..


__ADS_2