Ternyata Jodohku

Ternyata Jodohku
Episode 47


__ADS_3

Selamat membaca 🌷🌷🌷


"Aku udah telfon kamu tadi, tapi nggak aktif. Terus kirim pesan ke kamu, nggak baca?"


Aldi lekas merogoh sakunya, mencari keberadaan ponselnya. Dan membuka aplikasi pesan berwarna hijau.


Duarr ....


Malunya sampai ke tulang ...


Wife~


[Al, aku izin ke kost-an Jihan pengen makan bakso bareng.]


"Haduhh .. Udah kayak orang gila, kenapa juga ini pesan tadi nggak keliatan? ketutup jin apa gimana?" Batin Aldi


"Oh anu- ini pesannya tengelam, ketutup sama pesan lain, Yang." Kilah Aldi menutupi rasa malunya.


"Yaudah yuk, pulang. Udah malam banget ini, ibu hamil nggak baik keluar malam gini." Lanjut Aldi lagi.


"Iya. Han aku pulang dulu yah ... Makasih udah temenin makan tadi." Pamitan Riska


"Iya, apa sih yang enggak buat calon ponakan." Balasan Jihan yang berdiri didepan pintu, tak beranjak.


Aldi mengandeng tangan kanan Riska, mungkin takut hilang lagi. Sampai pintu mobil pun, Aldi bukakan.


"Kamu belum ganti pakaian, Al?" Riska sedari kost-an Jihan memperhatikan penampilan Aldi.


"Belum, aku panik banget tadi. Lihat kamu nggak ada dikamar, aku takut kamu pergi sama anak kita, ninggalin aku." Jujur Aldi tak menutupi apapun, karena itulah yang sebenarnya.


"Kamu aja yang bodoh, makanya itu ponsel diaktifkan. Punya ponsel mahal, nggak ada gunanya, pesan aja bisa tengelam kayak lagi renang aja." Celotehan Riska tanpa menatap Aldi.


"Kamu ngatain suami kamu, bodoh?"


"Lah, emang kan?"


Wah mulut Riska kayaknya pengen banget disumpal dengan ******n manja.


"Untung sayang .. Kalo nggak, udah ku lempar keluar." Gumam Aldi berbisik.


"Kamu mau lempar aku keluar? Iya?" Emang dasarnya pendengaran Riska tajam, semut bicara aja dia dengar.


"Nah kan .. masalah baru." Batinnya. "Enggak Yang .. Kan aku sayang kamu, masa tega sih aku lempar. Kamu salah dengar .." Bujuk Aldi


"Bohong, aku tadi dengar."


"Kamu salah dengar Yang, ya ampun." Elak Aldi.


"Bener?" , Aldi gemas dengan bibir Riska yang manyun. "Bener Yang, udah yah jangan cemberut lagi." Balasan Aldi lalu mengacak rambut Riska.


***


Dikamar, selesai menemani Aldi makan.


"Sini dulu, duduk. Aku mau ngomong." Aldi menarik dan mendudukkan Riksa disofa sampingnya.


"Apa?"

__ADS_1


"Aku minta maaf atas perkataan aku semalam, aku sadar .. Aku sayang sama kamu, aku mau memperbaiki semuanya. Menjalankan pernikahan yang sebenarnya, bukan karena bentuk tanggung jawab aku pada kehamilan kamu. Kita mulai semuanya dari awal, kamu mau kan?" Tutur Aldi memegang kedua tangan Riska


"Lalu dia? Bagaimana dengannya?"


"Dia hanya masa lalu, sudah sepantasnya aku melupakannya sejak dulu. Aku janji, meskipun dia hadir kembali, aku tetap milih kamu."


"Aku nggak mau janji kamu, Al. Karena sebuah janji masih bisa diingkari."


"Lalu?"


"Buktikan! Buktikan, jika aku satu-satunya. Meski nanti dia hadir, kamu nggak akan buat aku masuk dalam sebuah pilihan antara aku dan dia."


"Akan aku buktikan. Meski dia hadir, pilihan itu nggak akan pernah ada, karena kamu tetap akan jadi satu-satunya." Riska menatap dalam mata Aldi, melihat adakah kejujuran dibalik ucapannya itu.


"I love you, my wife."


"I love you too"


Cup!


Aldi mencium kening.


Cup!


Aldi mencium pipi kanan.


Cup!


Aldi mencium pipi kiri.


Cup!


Tak puas hanya dengan kecupan, Aldi naik tingkat dengan memberikan lu****n, dan umpan disambut baik.


"Boleh yah, Yang?" Ucap Aldi disela lu****nnya.


Anggukan Riska sebagai lampu hijau, membuat Aldi langsung mengendongnya lalu membaringkan diranjang.


Udah tau kan lanjutnya? Skip! Skidipapap ala setan j*ntan sama setan betina, bayangkan sendiri aja.


***


Dibalik pintu kamar, seorang gadis mematung tak jadi mengayunkan tangannya mengetuk pintu. Suara laknat, bagai sangkakala menguncang dunia.


"Pelan-pelan ..."


"Iya, aku ingat kok kata dokter."


"Eunghh .."


"Argghhh .. Sem-pit yang .."


"Ahhh .."


Tercemar sudah otaknya Renata, jadi treveling kan pikirannya. "Besok harus bilang kak Aldi, kamarnya pake peredam suara. Nggak kuat dengernya .." Bantinnya. Tak jadi meminta bantuan sang kakak yang sedang asik berjelajah, lebih baik dia kembali ke kamar. Tak kuat akan godaan.


Saat sarapan, mata Renata memicing jeli menatap Riska dan Aldi bergantian. Dan, gotcha! Tanda merah dileher sang kakak ipar tak tertutup rambutnya. "Jago juga kak Aldi, buatnya ditempat yang tersembunyi. Besok kalo nikah, harus berguru sama Kak Aldi nih .." Batinnya kemudian terkikik geli akan pikiran ngawurnya.

__ADS_1


"Kenapa ketawa kayak gitu, ada yang lucu?" Aldi menatap heran adiknya, mulai sinting kah?


"Enggak, cuma ingat waktu tuan crep ngedate sama nyonya pufh aja. Lucu aja gitu .." Renata menahan tawa, geli ..


"Ingat umur dek, nontonnya kok sih spoon kuning." Aldi menimpali.


"Udah, stop. Waktunya makan sekarang, nggak usah rebutan, ayam gorengnya banyak." Sela Raka.


"Lah .. Upin Ipin dong?" Ucap Aldi dan Renata bersamaan.


Lainnya langsung tertawa, Riska hanya memberikan senyuman dan Elsa diam tak merespon sama sekali.


***


Didalam ruangan Aldi.


"Berseri amat bos kita yang satu ini, dapat jatah yah?" Bian masuk untuk memberitahukan jadwal Aldi.


"Duduk Yan. Aku mau ngomong."


Mereka berdua pun duduk disofa, bersebelahan. "Apa?" Bian kepo maksimal.


"Aku udah katakan keputusan aku ke Riska. Aku terima dia sepenuhnya jadi istri aku, dan menjalankan pernikahan sesungguhnya bukan lagi karena tanggung jawab saja."


Bian tercengang, nasehatnya begitu langsung dilaksanakan oleh Aldi?


Bian tetap diam belum merespon, dia tetap mendengarkan kata demi kata curhatan sahabatnya.


"Aku sadar, dia penting buat aku." Aldi diam sejenak, lalu menceritakan kepanikan sekaligus kebodohannya tadi malam. Namun karena kebodohannya itu, akhirnya dia sadar, Riska begitu berarti dalam hati dan hidupnya.


"Meski nanti, jika dia hadir, aku nggak bisa berpaling. Dia hanya masa lalu, sudah waktunya mengubur semua tentangnya. Iya kan, Yan?"


Bian senang jika Aldi sudah move on, dan menutup kisah semunya dimasa lalu. Tapi, bisakah mengetesnya?


"Meskipun nanti Clara kembali, Al? Hati kamu hanya untuk Riska?"


"Iya, hanya Riska dan anak kami." Jawaban lantang Aldi tanpa perlu waktu untuk berpikir.


"Kamu yakin?" Pertanyaan ambigu Bian lontarkan.


"Yah, Aku nggak pernah bawah Riska masuk dalam sebuah pilihan. Antara masa lalu dan masa depan." Aldi dengan mantap menjawab tanpa keraguan.


Bian mengangguk, dia juga lebih setuju jika Aldi mempertahankan Riska dan melanjutkan masa depan mereka bersama-sama. Bian rasa, kejadian lalu yang membuat Aldi harus menikahi Riska, sudah menjadi skenario Tuhan. Mereka mungkin sudah ditakdirkan berjodoh, namun dengan cara yang salah.


"Clara ada disini ... " Bian menjeda kalimatnya, dilihatnya respon Aldi. "... Aku tidak sengaja bertemu dengannya tadi malam." Lanjutnya melengkapi kalimatnya.


Aldi mematung dalam duduknya, terdiam mencerna kalimat yang di ucapkan Bian ..


Kenapa secepat ini?


Inikah cara Tuhan menguji akan bukti dari janjinya?


Bersambung ...


see you next chapter, bye ...


...Jangan lupa tinggalkan jejak like, komen, vote dan hadiah.....

__ADS_1


...Agar semakin semangat menulis...


__ADS_2