Ternyata Jodohku

Ternyata Jodohku
Episode 76


__ADS_3

Selamat membaca 🌷🌷🌷


Ehem!


Mendengar deheman seseorang sontak membuat keduanya kaget. Saking terkejutnya, Riska gelagapan sampai mendorong keras dada Aldi hingga terjungkal ke belakang. Akibat dorongan itu, Aldi harus merelakan pantatnya mendarat tak nyaman di tanah yang beruntung terlapisi rumput.


"Kalo mau berbuat mes*m dikamar kan bisa? Nggak harus ditempat terbuka kan? Tolong hargai yang jomblo!" Sentak Renata sarkasme. Setelah melontarkan kalimat sindiran, yang sialnya menyentil dirinya sendiri, Renata kembali masuk.


"Kamu sih Mas, nggak tau tempat banget! Malu tau!" Protes Riska dengan tangan bersedekap di dada.


Aldi tak langsung menjawab, setelah berdiri dia kebas bagian belakang celananya yang sedikit kotor, terkena noda tanah. Kemudian menatap Riska yang sedikit merajuk.


"Jangan salahin aku aja dong, Yang! Kamu juga mau kan tadi? Doyan juga kan?" Aldi dengan sengaja menjentik dagu Riska menggoda.


Riska salah tingkah, pipinya merona. Yang Aldi ucapkan itu fakta, yang tak terbantahkan! Riska hempas tangan Aldi, kemudian ikut masuk ke dalam rumah.


Sudah kurang lebih 3 Minggu sikap Aldi cenderung aneh. Mulai dari suka makanan yang sebelumnya tidak dia sukai, sering mengantuk dikantor kadang pun dia tidur saat tengah bekerja. Lalu sekarang, pagi sekali sudah terdengar suara orang muntah di kamar mandi.


Hoekk .. Hoekk ..


Riska yang masih terlelap perlahan mulai terusik. Dia mengerjap perlahan sambil mengucek matanya.


Hoekk ..


Riska terlonjak, lekas dia menyikap selimut ditubuhnya dan menuju kamar mandi. Riska terbelalak melihat Aldi yang sudah terkulai lemas dekat kloset.


"Astaghfirullah .. Mas kenapa? Ayo berdiri, aku bantu." Riska bantu Aldi berdiri dan memapahnya keluar. Namun baru tiga langkah, Aldi kembali mual. Aldi langsung mendekati dan berpegangan erat pada wastafel. Tenaga sudah habis terkuras, tubuh sangat lemah, bahkan untuk berdiri dia harus memegang sesuatu sebagai sangahan.


Kembali Aldi muntahkan cairan bening. Riska bantu dengan memijat tengkuk Aldi. Setelah redah mualnya, Riska bantu Aldi berbaring ditempat tidur.


"Sini Mas, biar aku oleskan minyak kayu putih." Ucap Riska setelah mengambil botol minyak kayu putih dari tempat obat.


Aldi langsung menutup hidungnya ketika Riska membuka tutup minyak kayu putih. "Nggak mau, Yang! Bau! Jauhin! Baunya bikin mual!" Sentak Aldi sambil menggoyang tangannya, menolak!


Riska melongo, namun dia ikuti kemauan Aldi. Dia juga tak ingin Aldi semakin sakit, dia kasihan.


"Aku buatkan bubur yah? Sebentar, aku mau panggil dokter juga."


"Nggak mau bubur, Yang. Enek! Mau soto ayam aja, Yang." Rengek Aldi seperti anak kecil, sambil menggoyang tangan Riska.

__ADS_1


"Hah?"


Kenapa Aldi jadi aneh begini? Pikirnya.


"Iya, aku buatkan sotonya dulu yah .. kamu istirahat dulu." Riska memilih mengalah. Dia menutup tubuh Aldi sampai dada dengan selimut, lalu ke dapur.


Melihat Elsa yang sedang menata sarapan dimeja, Riska lekas dekati.


"Ma, Riska minta nomor ponsel dokter keluarga?"


"Siapa yang sakit, nak? Kamu?" Elsa panik sampai menepelkan telapak tangannya di dahi Riska.


Riska terenyuh, Elsa sekarang sosok Mama yang baik. "Bukan aku, Ma. Mas Aldi, yang sakit. Dia muntah-muntah tadi."


"Astaga! Ya udah, Mama telepon dokter Adrian dulu."


***


Hari ini, sidang putusan gugatan cerai antara Clara dan Rian. Clara hadir didampingi Rafka, Revan dan anaknya Leandro.


Dua sidang sebelumnya Rian tak pernah hadir, dan Clara tak peduli. Yang dia pikirkan, semoga semua berjalan dengan baik dan hak asuh anaknya, jatuh padanya.


Rian ternyata hadir, namun ada yang berbeda. Matanya nampak sayu, tubuhnya terlihat sedikit kurus.


Tok! Tok! Tok!


Hakim akhirnya mengetuk palu, tanda berakhirnya kapal batera rumah tangga Clara dan Rian. Kapal mereka karam diterjang badai, tak mampu lagi di selamatkan dan akhirnya tengelam.


"Hakim memutuskan hak asuh atas anak Leandro Andara Juanda, jatuh kepada saudari Clara Helena, selaku ibu kandung. Dan saudara Rian Juanda harus memberikan tunjangan nafkah sebesar 10 juta rupiah perbulan, dan sebuah rumah dikawasan Green Lux."


Mendengar bacaan keputusan hakim tersebut, sontak membuat Clara kaget dan langsung menoleh kepada Rian disampingnya. Yang Rian balas tatapan heran Clara dengan sebuah senyuman tulus, yang entah kapan terakhir kalinya Clara lihat.


Dia tidak memasukan pembagian harta gono-gini dalam tuntutannya, lalu kenapa dalam putusan ada sebuah rumah yang dibacakan?


Usai sidang Clara berjalan keluar sambil mengendong Andro, Revan dan Rafka berjalan didepannya.


"Clara ...."


Clara hentikan langkahnya, hatinya berdesir mendengar panggilan lirih itu. Panggilan dengan suara lembut, yang entah kapan terdengar dan terganti dengan suara penuh bentakan.

__ADS_1


Dia balikan tubuhnya menatap Rian dibelakangnya.


"Clara .. walau terkesan terlambat, tapi aku sungguh mau minta maaf. Maaf pernah menyakitimu secara fisik dan batin, maaf pernah merendahkan mu bahkan tak segan aku menghina kamu. Maaf tak pernah menjadi sosok suami yang baik. Maaf tak pernah menjadi sosok ayah terbaik untuk anak kita. Sungguh aku sadar sekarang, aku minta maaf." Ucap Rian lirih lalu menunduk.


"Aku sudah maafin kamu, Mas. Maaf juga jika selama ini Clara tidak pernah menjadi istri yang baik. Dan .. Soal rumah itu?" Clara gantungkan kalimatnya.


Rian mendongak. "Aku tau kamu tidak menuntut apa-apa, tapi tolong terima lah. Jika bukan untuk mu, maka terima lah itu untuk Lean, anak kita."


Clara mengangguk. "Baik lah, Mas, rumahnya aku terima. Jangan telat makan, nanti magh kamu kambuh. Makan yang banyak, kamu kurusan sekarang."


Mendengar kalimat perhatian dari Clara langsung membuat air mata Rian luruh. Bagaimana bisa matanya tertutup selama ini? Kenapa baru sekarang dia menyadari semuanya? Ketika dia tak bisa lagi mengengamnya?


"Iya. Aku akan ingat pesan kamu." Rian usap air matanya. Kemudian dia tatap anaknya.


"Lean, maafin papa yah, nak. Papa bukan Papa yang baik. Papa nggak pernah ada saat Lean sakit, saat Lean main, saat Lean belajar jalan. Maafin Papa yah? Tolong, jangan benci Papa! Papa sayang Lean."


Rian sentuh pipi anaknya, hatinya Rian rasanya tercabik melihat raut ketakutan yang Leandro tunjukan.


"Mama takut, Mama ..."


Ya Tuhan ... Ingin sekali Rian benturkan kepalanya ke tembok, mendengar kalimat anaknya itu.


"Nggak kok. Ayo cium Papa dulu, Papa nangis loh gara-gara Andro." Bujuk Clara.


"Nda mau! Jahat! Nakal! Papa nakal!" Protes Andro menjerit.


Astaga! Bunuh saja dia! Rian tak kuat melihat dan mendengar kata anaknya.


"Nggak usah Clara. Kamu baik-baik yah sama Lean. Eum .. Nanti aku boleh kan nengokin Lean?"


Clara merasa tak enak. "Maaf yah atas sikap Andro, Mas. Bisa kok, kapan pun Mas mau nengok Andro, datang saja."


"Aku pamit yah. Kalian hati-hati yah."


Begitu lah, penyesalan selalu hadir dibelakang. Guna untuk kita membenahi diri, menilik semua kesalahan lalu merubahnya. Jadikan itu pelajaran, untuk hidup kedepannya.


Bersambung ...


See you next chapter, bye ...

__ADS_1


...Jangan lupa tinggalkan jejak like, komen, vote dan hadiah...


...Agar lebih semangat menulis...


__ADS_2