Ternyata Jodohku

Ternyata Jodohku
Bab 78. Riska hamil


__ADS_3

Riska keluar dari kamar mandi setelah 10 menit kemudian. Wajahnya nampak murung, dengan kedua tangan mengengam alat tes kehamilan yang di berikan Adrian tadi.


"Apa hasilnya, Sayang? Nggak apa-apa kok kalau belum, mungkin belum rejeki." Bukan Aldi, tapi Elsa yang bertanya. Elsa paham bungkusan yang di berikan Adrian pada Riska tadi. Aldi hanya diam, lemas sekali badannya.


"Iya, Ma. Tapi .. Tuhan kasih kepercayaan lagi sama Riska dan Bian buat punya anak lagi." Rawut wajah Riska langsung berubah cerah dengan senyum mengembang setelah berucap.


"Maksudnya?" Tanya Aldi yang sepertinya otaknya lambat merespon.


"Riska hamil lagi." Seru Riska hampir menjerit, akibat sangat bahagia.


"Alhamdulillah .."


"Selamat Sayang. Harus banyak istirahat sama makan makanan yang sehat. Terus jangan kecapekan, nggak usah kerja yang berat-berat, jangan dulu ke dapur takut lantainya licin, biar bibi aja yang masak. Sama minum air putih rutin, sama --" Ujar Elsa penuh semangat. Kentara Elsa sangat menyayangi menantunya ini. Bukan karena rasa bersalahnya dulu, namun dia sadar Riska terlalu baik untuk ia benci dan jahati.


"Mama udah kayak Dokter kandungan aja." Sela Aldi, memotong ucapan Mama Elsa. Walau lemas Aldi paksa kan berdiri dan mendekati Riska.


"Selamat Sayang, kita akan jadi Mama sama Papa." Ujar Aldi lalu mencium kening Riska. "Sehat-sehat di dalam perut Mama yah, sampai nanti ketemu Mama sama Papa." Dengan susah Aldi berjongkok kemudian mengelus perut Riska tak lupa dia berikan kecupan di perut Riska yang di lapisi baju. Tak terasa matanya memanas, sudut matanya menitihkan air yang ia seka dengan ibu jarinya.


Suasana di kamar itu nampak mengharukan. Riska tak mampu membendung air matanya ketika melihat Aldi yang amat begitu menyayangi dan menantikan buah cinta mereka. Setelah sebelumnya, anak mereka yang pertama harus Tuhan panggil pulang sebelum melihat dunia.


"Duh, harus telepon Papa ini. Ngabarin Papa kabar bahagia ini." Celetuk Elsa yang mulai sibuk sendiri.


"Pa .." Pekik Elsa ketika panggilannya di angkat.


"Oh iya, maaf. Assalamualaikum Papa." Elsa meringis kecil karena di tegur suaminya.


"Jangan galak-galak dong, Pa. Mama mau kasih kabar gembira ini." Seru Elsa memberengut kesal.


"Kita bakalan punya cucu, Pa. Riska hamil lagi." Rawut kesal Elsa tadi langsung berubah ceria ketika mengucapkan kabar bahagia.


"Iya, Pa. Walaikumsalam." Elsa menarik ponsel yang tadi ia tempelkan di telinga.

__ADS_1


"Selamat, Al, Riska, Tante. Semangat buat Aldi juga, karena kayaknya kehamilan Riska ini kehamilan simpatik. Makanya Aldi yang ngalamin gejala morning sickness sama ngidam, bukannya Riska." Ujar Adrian yang sedari tadi diam, kini menimpali.


"Nggak apa-apa aku aja yang ngalamin, biar Riska boleh istirahat dan calon anak kami sehat." Seru Aldi yang kini sudah kembali berbaring di tempat tidur. Lemas sekali badannya.


"Nanti sore kita periksa ke Dokter Aulia." Sambung Aldi.


"Tapi badan kamu lemas begitu, emang sanggup?" Tanya Riska lirih.


"Bisa kok. Demi kalian, aku akan selalu berusaha untuk tetap sehat biar bisa jagain kalian." Riska sampai tersipu mendengar perkataan manis Aldi.


"Mas ih! Nanti aku diabetes loh." Protes Riska dengan wajah merona dan malu-malu mau.


"Hah?"


"Iya. Habisnya kalimatnya, Mas Aldi, mengandung banyak gula sih!"


Andrian tergelak menertawakan wajah Aldi yang tiba-tiba memerah, karena di gombali Riska.


"Eh, ada apa ini?" Tanya salah satu karyawan divisi pemasaran.


"Iya. Katanya dari Pak Raka. Nggak tau dalam rangka apa, Pak Raka sampe ngasih makanan gratis buat seluruh karyawan, sampe OB dan satpam juga dapat."


"Dengar dari Citra, sekertarisnya Pak Aldi, katanya istrinya Pak Aldi hamil lagi. Mungkin ungkapan syukur mereka, dengan bagi-in makanan gratis buat karyawan. Bantu doa saja, semoga kandungan sama istrinya Pak Aldi sehat, dan di lindungi oleh orang jahat dan iri hati."


"Amin. Ini kehamilan kedua kan? Yang pertama keguguran karena ada yang sengaja menabrak. Untung Bu Riska nggak baik-baik aja, walau harus kehilangan calon anak mereka. Semoga kali ini selamat dan sehat sampai lahiran."


"Iya. Kasihan yah. Di buta kan sama cinta, sampai nekat menghalalkan segala cara."


"Bukan cinta itu namanya, tapi obsesi. Obsesi ketinggian!"


Obrolan-obrolan dari para karyawan yang kaget, tiba-tiba di beritahu jika tak perlu makan siang di luar karena atasan mereka akan membagikan makanan gratis. Jelas mereka bertanya-tanya dalam rangka apa? Namun mendengar kabar burung karyawan dari lantai tempat para petinggi perusahaan, yang mengatakan karena istri dari CEO mereka ternyata sedang hamil lagi. Mereka turut senang dan mendoakan.

__ADS_1


Ya, setelah mendapatkan telepon dari istrinya Elsa, Raka langsung menyuruh Bian untuk memesan makanan untuk seluruh karyawan tanpa terkecuali. Rasa bahagianya mendengar kabar kehamilan Riska lagi.


Tak hentinya Raka mengucapkan syukur kepada yang Maha Kuasa, karena sudah memberikan berkat lagi untuk keluarga mereka, dengan kembali di percayakan Riska untuk mengandung.


Tak jauh beda dengan Raka, kabar ini sudah di dengar oleh Jihan, Ayu, dan Intan. Mereka nampak antusias dan ikut bahagia, tak lupa mereka mendoakan segala yang terbaik untuk Riska serta bayi dalam kandungannya.


"Alhamdulillah ya, akhirnya Riska hamil lagi." Seru Intan.


"Iya, dia sempat down banget pas keguguran yang kemarin itu. Bisa nggak ya, kita jenguk ke rumah Pak Aldi?" Timpal Ayu.


"Kayaknya bisa deh. Mereka orang kaya tapi beda dengan orang kaya lain. Mereka nggak anti sama kamu rakyat jelata kayak kita. Walaupun sebelumnya ibu Elsa kayak gitu, tapi sekarang sudah berubah. Dia udah sadar, buktinya dia jadi sayang banget sama Riska kan?" Ujar Jihan.


"Nanti gue hubungi Riska deh, buat tanya kita bisa jenguknya kapan. Kalo udah valid infonya, gue kabarin elo-elo pada." Tambah Jihan lagi.


"Eh, kalo mau pergi jenguk Riska, gue ikut yah?" Tanya Dodi ikut menimpali.


"Jangan ngadi-ngadi deh Lo, Dodi .. Lo lupa Pak Aldi kayaknya kesal sama Lo gara-gara sempat deketin bini-nya?" Sentak Jihan garang.


"Iya, jangan dulu deh. Takutnya gara-gara Lo ikut, terus di lihat sama pak Aldi, nanti kita nggak di izinin lagi. Nggak usah dulu deh." Sambung Ayu.


Huhh ...


Dodi membuang nafas pelan.


'Nasib kok gini amat yah? Giliran suka sama lawan jenis, malah suka sama istri orang.' Jerit Dodi dalam hati.


Bersambung ...


See you next chapter, bye ..


...Jangan lupa tinggalkan jejak like, komen, vote dan hadiah....

__ADS_1


...Agar lebih semangat menulis...


__ADS_2